Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Bertaruh Nyawa di Jalan Raya

Batam Pos, Batam

Ancaman kecelakaan lalu lintas terus mengintai pengguna jalan di Batam. Tak terhitung lagi nyawa yang melayang sia-sia di jalan raya. Bahkan, beberapa di antaranya terjadi di lokasi yang sama. Padahal potensi ini bisa ditekan jika pemerintah tak menutup mata.

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.

Kalimat itu tertuang dalam Pasal 1 Ayat 4 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Sayangnya, tidak semua jalan di Batam memiliki sarana dan prasarana yang lengkap.

Seperti yang ada di Jalan R Soeprapto (Bukit Daeng) dan Jalan Gajah Mada, tepatnya di depan kawasan Southlinks Tiban.

Kedua jalan tersebut sering memakan korban alias rawan kecelakaan. Namun, pemerintah seperti abai dengan kondisi tersebut. Tidak ada solusi atas kecelakaan-kecelakaan yang selama ini terjadi.

”Pemerintah sudah harus memprioritaskan jalan-jalan seperti itu,” kata Teddy Tambunan, dosen Teknik Sipil Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Sabtu (30/1/2016).

Menurut Teddy, ketika di sebuah jalan telah terjadi lebih dari tiga kali kecelakaan, jalan tersebut dapat ditetapkan sebagai black spot. Dan pemerintah harus turun tangan untuk itu.

Setidaknya ada 22 kejadian kecelakaan lalu lintas yang terjadi di dua ruas jalan tersebut sepanjang tahun 2015 lalu. Laka lantas tersebut didominasi kendaraan berat yang kehilangan kendali baik saat mendaki maupun menuruni jalan. Para supir mengaku, rem kendaraannya blong.

Polisi dan sejumlah saksi mata menyatakan, kendaraan-kendaraan tersebut memiliki muatan yang besar. Sopir truk trailer mengaku membawa 28 ton besi saat mendaki tanjakan Southlink, akhir Januari setahun silam. Ia gagal membawa truknya mendaki.

”Rem putus. Jadi terpaksa saya ikutin saja kemana arah mobilnya turun,” kata Heri di lokasi kejadian.

Kendaraan dengan beban yang melampaui batas ini harus ditertibkan. Satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melengkapi sarana dan prasarana jalan. Seperti, pagar pembatas, lampu jalan, dan rambu-rambu lalu lintas. Kalau perlu, menerbitkan satu peraturan lalu lintas terkait penggunaan jalan.

”Misalnya, di jam-jam sibuk, kendaraan berat tidak boleh lewat,” tuturnya.

Kendaraan berat yang mengalami kecelakaan di jalan-jalan tersebut kerap menyebabkan kemacetan panjang. Sebab, badannya melintang memenuhi jalan. Bukan sebentar waktu yang dibutuhkan untuk membuat arus lalu lintas kembali normal. Polisi setidaknya membutuhkan waktu hingga 2,5 jam untuk mengurai kemacetan.

Kondisi Jalan R Soeprapto dan Jalan Gajahmada sebenarnya sangat mulus. Tidak berlubang seperti di daerah-daerah lain. Namun, kedua jalan ini memiliki tanjakan yang cukup curam. Selain itu juga dipadukan dengan belokan (Jalan R Soeprapto) dan turn over (Jalan Gajah Mada). Kedua belokan ini ditengarai kerap menjadi penyebab terjadinya kecelakaan dan memicu kemacetan berkepanjangan.

”Pemerintah sebenarnya bisa memasang rambu kecepatan minimum di kawasan tersebut. Misalnya, 30 atau 40 km per jam,” ujarnya.

Belum lagi penerangan jalan yang terbatas di wilayah tersebut. Dua jalan tersebut gelap gulita ketika malam tiba. Padahal, di kanan-kiri jalan tersebut jurang dan hutan.

Kejadian pada 23 Juni tahun lalu menjadi satu bukti minimnya penerangan di Jalan R Soeprapto. Daihatsu Terios Hitam (BP 1041 IY) yang dikendarai Wico Hendra Putra tanpa sadar menabrak Honda Jazz Silver (BP 1503 EY) yang berhenti di kanan jalan lantaran kehabisan bensin. Nurul Cipta, pengemudi Honda Jazz, mengaku panik sehingga tak sempat menyalakan lampu mobil.

”Nggak ada tanda-tanda (ada mobil). Lagian di sini juga gelap,” ujar Wico.

Kedua jalan tersebut memang memiliki pagar pembatas. Namun, di beberapa titik, pagar pembatas itu pun telah banyak yang bengkok. Itu tanda di titik tersebut pernah terjadi kecelakaan.

”Di tikungan juga setidaknya ada mirror. Itu tanggung-jawab pemerintah,” katanya.

Teddy menambahkan, Pemerintah, dalam hal ini Dinas Perhubungan, untuk segera membuat kajian terhadap titik-titik rawan kecelakaan di Batam. Supaya dapat dicari solusinya. Sehingga angka kecelakaan dapat ditekan.

”Pemerintah harus memperhatikan kebutuhan masyarakatnya,” ujarnya.

Rawannya jalan tanjakan di depan Southlink, Tiban ini dibenarkan Konsultan Jalan dan Jembatan, Januarto. ”Tanjakan di dekat Southlink itu cukup berbahaya. Perlu ada tindakan cutting,” kata Januarto, Minggu (31/1).

Ia mengatakan kadang pemerintah tak terlalu mau melakukan tindakan ini. Sebab akan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Namun bila dibiarkan, tanjakan maut ini akan terus memakan korban.

”Tanjakannya sangat panjang, lalu ada belokan lagi di sana. Alignment vertikal sangat tinggi,” ungkapnya lagi.

Dosen Universitas Kepulauan Riau (Unrika), Supriyanto, mengungkapkan hal senada. Sebagai orang yang mengenai kontur jalan dan bangunan, Supriyanto mengatakan bahwa pemetaan geometrik jalan salah. Sehingga terjadilah kecelakaan berulang kali tanjakan depan Southlink itu.

”Jalan itu tak hanya menanjak, tapi juga miring ke kiri. Ini kesalahan perencanaan,” ucapnya.

Namun dia menampik, kondisi jalan ini merupakan satu-satunya penyebab kecelakaan. Penyebab lainnya yakni pengendara tak menguasai kendaraan dan pengetahuan mengenai jalan tersebut. Ia mengatakan tanjakan di Southlink sebenarnya masih kalah berbahaya dengan tanjakan-tanjakan yang ada di Pulau Sumatera dan Jawa. Jalan di kelok 44, Sumatera Barat, kata Supriyanto lebih tinggi tanjakannya. Namun di sana jarang terjadi kecelakaan.

”Padahal di sana lebih curam lagi,” ujarnya.

Namun di Sumatera Barat, menurut Supriyanto, pengemudi mahir. Selain itu, di sana juga menggunakan jasa kernet.

”Bisa dilihat di sana. Bila ada mobilnya tak kuat mendaki, sang kernet langsung turun dan menganjal bannya. Di sini saya tak melihat itu,” tuturnya.

Tapi Supriyanto tetap berharap, pemerintah segera mengatasi tanjakan di Southlink tersebut. Dengan merendahkan kemiringan jalan, dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan.

Selain itu, dia juga berharap pemerintah memperhatikan kondisi jalan di kawasan Bengkong. Menurut dia, jalan di kawasan itu sudah terlalu padat. Volume jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan. Selain kerap macet, kondisi ini tentu turut memicu terjadinya kecelakaan.

Mengenai tanjakan Southlink itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Batam Yumasnur mengatakan bahwa tanjakan maut bukan tanggungjawab Pemerintah Kota Batam. Namun kata dia, tanjakan tersebut akan segera dibenahi. ”Itukan jalan nasional, jadi pihak kementrian akan melakukan perbaikan terhadap jalan itu,” ungkapnya.

”Saya hanya tahu, tanjakan itu mungkin akan direndahkan. Tapi nantinya seperti apa, saya kurang tahu. Kami ini hanya mengurus jalan perumahan saja.”

Jalan Brigjen Katamso Batuaji juga dinilai sangat rawan terjadi kecalakaan lalu lintas. Hampir setiap hari kecelakaan terjadi di ruas jalan dari Tanjunguncang hingga Simpang Kabil, Batamcenter. Sudah tak terhitung korban nyawa melayang sia-sia di jalan utama tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan dan informasi dari masyarakat pengguna jalan di lokasi jalan raya tersebut, penyebab utama kecalakaan lalu lintas karena kurang disiplinnya para pengguna jalan itu sendiri.

”Yang paling banyak melanggar aturan lalu lintas itu angkutan umum. Mereka sepertinya tak punya aturan lagi saat berada di jalan, suka-suka hati mereka,” kata Irwanmuddin, salah satu warga dan pengguna jalan di Batuaji.

Kata Irwan, angkutan umum kerap menerobos lampu lalu lintas meskpiun lampu kuning menyala dan yang parahnya lagi adalah memotong jalur jalan untuk menurunkan atau menaikan penumpang tanpa memperhitungkan pengendara di samping atau belakangnya. Sehingga kerap terjadi tabrakan, senggolan hingga kecelakaan yang parah.

”Kalau sudah ada penumpang di depan, meskipun angkot itu di lajur kanan langsung main potong saja ke lajur kiri sekalipun jalannya lagi padat,” katanya.

Tidak itu saja, aksi ugal-ugalan angkot yang berebut penumpang serta tidak memiliki perlengkapan kendaraan seperti lampu rem dan lampu sign kerap menjadi pemicu terjadinya kecelakaan.

Selain itu, knalpot angkutan umum di Batam kebanyakan mengeluarkan asap tebal yang menggangu pengguna jalan lainnya. Sehingga kelayakan angkutan ini dipertanyankan.

”Nggak tahu mungkin nggak pernah uji emisi angkot-angkot di Batam ini. Jangan-jangan KIR nya sudah mati,” keluh Suparno warga Tembesi Raya.

Kecelakaan Meningkat

Beragam persoalan di jalan raya ini sepertinya memang perlu ditanggapi segera. Sebab data di Polresta Barelang mencatat, angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Batam terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sepanjang Januari 2016 ini misalnya, Unit Laka Lantas Polresta Barelang sudah mendata 66 kasus kecelakaan lalu lintas. Sebanyak 13 orang meninggal dunia, 22 luka berat, dan 78 luka ringan.

”Dibandingkan awal tahun lalu, laporan atas laka lantas meningkat. Laporan itu termasuk laporan lambat. Maksudnya, misalnya kejadian Desember namun laporan masuk Januari,” kata Kanit Laka Lantas Polresta Barelang, Iptu Arman.

Padahal, pada tahun 2014 lalu pihaknya hanya mendata 39 kasus laka lantas namun yang meninggal dunia lebih banyak yakni 17 orang serta yang luka berat 13 orang.

Tahun 2015, angka laka lantas meningkat menjadi 45 kasus. Kecelakaan itu menyebabkan 16 orang meninggal dan luka berat 19 orang.

”Dari data tersebut. Bisa dilihat jumlah laka lantas di Batam terus meningkat. Jumlah korban meninggal dunia berkurang, namun yang luka parah bertambah untuk tahun ini,” sebut Arman.

Jika melihat rasio, rata-rata korban yang meninggal adalah pengendara sepeda motor. Hal itu diduga karena kekurang hati-hatian para pengendara saat berada di jalan raya.

”Bisa dikatakan, 99 persen korban yang meninggal adalah pengendara roda dua. Untuk itu, kita harap kehati-hatian pengendara saat berada di jalan raya,” terangnya.

Arman menyebutkan beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Yang pertama kesalahan manusia atau human error, Sarana dan prasana  yang minim, hingga faktor cuaca seperti hujan yang menyebabkan jalananan licin.

”Namun di antara beberapa faktor, human error yang menjadi penyebab kecelakaan paling tinggi. Rata-rata kalau kita lihat kesadaran pengendara saat berada di jalan raya semakin berkurang,” jelas Arman.

Atas banyaknya kecelakaan yang terjadi karena faktor kelalaian manusia, pihaknya meminta agar pengguna jalan lebih berhati-hati, ikuti rambu-rambu lalu lintas, saling hormat-menghormati antar pengguna jalan hingga melengkapi antribut kendaraan saat berad di jalan raya. Dan jika hal itu diterapkan, tentunya akan mengurangi kecelakaan lalu lintas karena semua pengendara mengikuti aturan bersikap sopan di jalan raya.

”Jika semuanya diikuti, saya yakin, kemungkinan kecelakaan akan semakin kecil,” sebutnya.

Arman juga menjelaskan aksi tabrak lari bisa terjadi karena kurangnya kesadaran dari pengguna jalan. Mereka yang menabrak dan menyebabkan korban meninggal sudah takut duluan dengan rasa bersalah. Padahal, lanjut Arman, belum tentu mereka bersalah karena menabrak dan menyebabkan korban meninggal. Bisa jadi, korban yang ditabrak itu melakukan kelalaian sehingga menyebabkan kecelakaan. Dan bagi yang takut berhenti di TKP karena sudah membuat orang meninggal dunia, bisa mendatangi kantor polisi terdekat.

”Seharusnya tak perlu lari. Belum tentu salah. Menentukan tersangka itu tak mudah. Polisi harus olah TKP dan mensinkronkan semua keterangan saksi. Kita polisi tak mungkin asal-asalan dalam menentukan tersangka. Ada prosedur hukumnya,” jelas Arman.

Arman juga mengakui, beberapa korban yang meninggal adalah korban tabrak lari. Diantaranya ada yang ditabrak truk dan trailer. Dikatakannya, hal yang membuat pihaknya kesulitan mengungkap pelaku tabrak lari adalah kurangnya keterangan saksi. Dimana, tak ada yang mau menjadi saksi yang mengaku melihat kecelakaan yang menewaskan korban.

Selain tak ada tanggungjawab pengendara yang menyebabkan korban tewas, kata dia, minimnya saksi menjadi penghalang polisi. Untuk itu dia meminta siapapun takut jadi saksi, karena polisi menjamin kerahasiaan identitasnya.

”Menjadi saksi, secara tak langsung kita mengedapankan rasa kemanusiaan. Karena kita tak akan pernah tahu, apa yang bakal dihadapi ke depannya,” ungkapnya. (ceu/she/ska/eja)

February 1, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: