Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Korban DBD Meninggal Bertambah, Dinkes Batam Dinilai Gagal

Pasien Membeludak

Batam Pos, Batam

JUMLAH pasien demam berdarah dengue (DBD) di Batam terus bertambah. Hampir seluruh rumah sakit dan puskesmas di kota ini dibanjiri penderita penyakit yang disebabkan virus dengue itu. Umumnya, mereka menjalani rawat inap karena kondisinya sudah masuk fase kritis.

 

DBD Demam1

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah.

Pantauan Batam Pos di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam, jumlah pasien DBD terus meningkat. Sepanjang Januari 2016 saja tercatat ada 250 pasien yang didominasi usia balita dan anak-anak. Bahkan ruang rawat inap anak di rumah sakit itu penuh akibat maraknya kasus DBD ini.
Kepala Bidang Medis RSBK, Anjari Wahyu Wardhani, mengatakan dari 250 pasien DBD itu sebanyak 199 orang dengan pasien rawat inap dan 51 orang menjalani rawat jalan.

”Itu merupakan data kami bulan Januari,” ucap Anjari, Kamis (4/1/2016).

Menurut dia, kasus DBD ini didominasi dari kalangan balita dan anak-anak, karena kekebalan tubuh mereka masih rendah. ”Oleh karena itu masyarakat harus lebih waspada terhadap balita dan anak-anak,” ujarnya.

Anjari mengatakan, pencegahan dengan 4M (menguras, mengubur, menutup, dan memantau lingkungan) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan langkah pencegahan yang umum dilakukan.

“PSN di tempat-tempat seperti genangan air dispenser, pot bunga, tampungan kulkas dan gantungan baju,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Perawat Ruangan Anak dan Balita RSBK, Friska mengatakan saat ini memang pasien DBD khususnya anak-anak memang penuh, satu ruangan terdapat sekitar 7 pasien.

“Ruang Teratai saja ada tiga ruang rawat inap, dan ruang Lotus ada dua kelas masing-masing punya dua dan tiga ruangan,” jelasnya.

Dia mengatakan jika ruangan sedang penuh, maka pasien DBD yang datang sementara akan dirujuk di IGD terlebih dahulu.

“Jika ruangan ada yang kosong, selanjutnya pasien akan diarahkan menuju ruangan rawat inap,” jelasnya.

Orangtua pasien DBD, Alfia mengatakan anaknya, Kaffi, 13 bulan, telah dirawat dari 30 Januari lalu. “Sore ini (4/2), kami sudah diperbolehkan pulang,” kata Alfia.

Dia mengatakan cukup trauma dengan DBD ini. Karena pada 2012 lalu, anak pertamanya, Faqih, 3, meninggal akibat DBD.

“Tempat tinggal kami memang kotor sekali karena bawah rumah itu selokan juga,” paparnya.

Di Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB/RSBP) Sekupang, jumlah pasien DBD juga mengalami peningkatan. Sepanjang Januari 2016 saja tercatat ada 69 pasien yang terdiri dari 11 balita, 21 anak-anak, dan 37 pasien dewasa.

“Kebanyakan pasien berasal dari Pulau Kasu, Belakangpadang, Sekanak, dan dari kawasan mainland (Batam),” kata Kasi Pelayanan RSBP, dr Rian, Kamis (4/2).

Maraknya kasus DBD ini, Rian mengimbau masyarakat untuk melakukan antisipasi dengan gerakan 4M. Warga juga diminta banyak minum air putih, istirahat cukup, dan segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi selama lebih dari tiga hari.

“Karena di rumah sakit penanganannya juga dengan infus, makanya banyak lah minum air putih,” jelasnya.

Korban Meninggal Bertambah

Selain membanjiri rumah sakit, korban demam berdarah dengue (DBD) juga terus berjatuhan. Di Kecamatan Sagulung misalnya, selama kurun waktu Januari hingga awal Februari 2016 saja terdapat tiga pasien DBD yang meninggal. Sebelumnya, mereka berobat di Puskesmas Seilangkai dan Seilekop, Kecamatan Sagulung.

Sedangkan jumlah pasien DBD yang dirawat di dua Puskesmas itu sebanyak 37 orang yang didominasi baita.

“Yang meninggal usia enam bulan,” kata Kasubag Tata Usaha Puskesmas Seilangaki, Nurliyasman.

Menurutnya, pasien DBD yang berobat ke Puskesmas Seilangkai sebanyak 9 orang

“Yang terkena DBD kebanyakan anak-anak usia 6 bulan ke atas dan ada juga beberapa orang dewasa,” ujarnya.

Kata Nurliyasman, dibanding pada tahun 2015, dalam bulan yang sama kasus DBD di wilayah kerjanya cenderung meningkat. Pada Januari 2015 pasien positif DBD hanya dua orang. Sementara pada Januari 2016 ini sudah 9 yang positif.

“Dalam satu tahun 2015 ada sebanyak 22 orang positif DBD,” ungkapnya.

Peningkatan jumlah pasien DBD juga terjadi di RS Awal Bros Batam. Namun sayang, hingga kemarin RS tersebut belum mendata secara keseluruhan.

“Biasanya data itu selesai pada tanggal 10 di bulan berikutnya,” kata Humas RS Awal Bros Batam, Cyntia Latuma.

Namun Cyntia mengakui, jumlah pasien DBD yang dirawat di RS Awal Bros Batam cukup banyak dan cenderung meningkat.

Sementara itu, menurut data dari Puskesmas Seilekop, saat ini sudah ada 4 orang yang positif DBD. Sementara menurut laporan dari masyarakat ada 24 orang yang gejala DBD, telah berobat di klinik maupun tempat lain.

“Saat ini sudah ada yang meninggal dua orang, keduanya  perempuan usia tiga tahun,” ujar Fungsional Sanitarian Puskesmas Seilekop, Dewi Pangastuti.

Dewi mengatakan, pemeriksaan DBD di Puskesmas Seilangkai melalui alat IGG sudah terdekteksi tiga hari ke atas. Sedangkan melalalui alat NS1 demam hari pertama bisa langsung terdeteksi. Kemudian pasien atau penderita DBD langsung dirujuk ke rumah sakit.

“Karena DBD harus dirawat. Pemantauannya harus memiliki peralatan yang lengkap harus di rumah sakit,” Bebernya.

Lanjut Dewi, setiap Januari memang selalu terjadi peningkatan kasus DBD. Sebab, pada bulan itu sedang terjadi masa pancaroba yang merupakan musimnya nyamuk berkembang biak.

Ketiga pasien DBD di Sekupang yang meninggal dunia itu adalah Nabila Destri Laksmana usia 3 tahun 1 bulan, warga Kavling Seibinti blok J nomor 30 A. Dia meninggal pada 10 Januari lalu.

Korban berikutnya adalah Bilkit, 3 tahun, warga Perumahan PJB, blok AY, Sagulung dan Angila Yeni Ramandhani, usia 6 bulan, warga Taman Cipta Asri blok H nomor 46, Tembesi.

Kartika, 24, orang tua Nabila mengatakan, anaknya mulai diserang demam panas pada Rabu (6/1) sekitar pukul 16.00 WIB, dan dibawa berobat ke salah satu klinik di daerah Sagulung. Saat diperiksa, saat itu suhu tubuhnya mencapai 39,6 derajat Celcius.

“Setelah minum obat dari dokter panasnya turun, tiga jam setelah itu panasnya muncul lagi,” ujar Kartika.

Pada Kamis (7/1) pagi, anaknya sempat bermain bersama anak-anak lainya, sekitar pukul 12.00 WIB, ankanya kembali panas, pukul 17.00 WIB, dibawa lagi berobat, saat itu panas naik hingga 39,8.

“Setelah minum obat sembuh lagi,” kantanya.

Kartika mengatakan pada Jumat (8/1)  anaknya tidak mengalami panas, tetapi saat itu kondisi anaknya mulai lemas tidak bisa bangun dari tempat tidur.

“Makan nggak mau, maunya merem terus di tempat tidur,” bebernya.

Sabtu (9/1) pukul 17.00 WIB anaknya kembali diserang demam panas dan dibawa berobat ke klinik, saat itu panasnya capai 37,2 derajat Celcius. Karena kondisi anaknya muntah-muntah, kemudian dirujuk ke rumah sakit.

“Awalnya dirawat di Rumah Sakit Charis Medika, dan Kemudian di rujuk ke RSUD Embung Fatimah,” terangnya.

Namun sayang, kondisi Nabila sudah sangat kritis. Hingga akhirnya dia meninggal dunia pada Mingu (10/1).

“Saya berpesan kepada orang tua lain yang memiliki anak, kalau anak sudah panas tinggi segera bawa berobat, kalau sudah tiga hari tidak turun panas segera melakukan cek darah,” pesannya.

Warga Panik

Mewabahnya penyakit DBD ini membuat warga cemas, terutama bagi warga yang tetangganya positif DBD atau bahkan meninggal akibat penyakit tersebut. Seperti yang dirasakan warga RT 02 RW XVI Ruli Pasir Putih Mentangor Kelurahan Kibing, Sagulung. Mereka merasa was-was tertular penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

“Kami takutlah, apalagi yang kena kemarin depan rumah ku,” ujar warga yang mendiami rumah nomor 72, Isdiani Dewi, Kamis (4/2) sekitar pukul 11.30 WIB.

Di ruli tersebut warga yang terkena DBD yakni kakak beradik penghuni rumah nomor 128, namun kini sudah pindah.

“Kami gak tahu pindahnya ke mana,” tambahnya.

Hal serupa disampaikkan warga lain yang tak mau disebutkan namanya. Dia berharap lingkungannya agar segera di-fogging.

“Kalau bisa disemprot saja (fogging),” katanya.

Ketua RT setempat, Ahmad Legimun membenarkan bahwa warganya terserang DBD. Dia mengatakan tidak hanya di tempatnya, ruli yang bersebelahan dengan lokasi yang dipimpinnya yakni Ruli Pasir Putih Persada juga terdapat penderita DBD.

“Kemarin di kami dua, tapi sudah pindah. Sekarang ada juga di Persada, tapi mereka lagi di rumah sakit sekarang,” ujar Ahmad.

Informasi yang didapat Ahmad, pemerintah akan turun melakukan fogging dilingkungannya tersebut.

“Katanya kalau gak hari ini (kemarin) atau besok (hari ini),” ujarnya.

Dia juga mengakui jika ruli kerap diserang DBD. “Dulu di ruli yang dekat Fanindo itu, pokoknya banyak di ruli,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala UPT Puskesmas Batuaji, dr Harri Fajri Zisoni. Menurutnya bukan tanpa alasan ruli kerap jadi “surga” DBD lantaran kondisi lingkungan yang kumuh.

“Memang (banyak) di ruli, karena di ruli kita pahamlah kondisinya, air kebanyakan nampung lalu gak di kuras selain itu sampah berserakan,” terang Harri.

Namun dia menampik jika warga ruli saja yang diserang DBD. “Di rumah Sukajadi bisa saja. Siapa yang berperilaku tidak sehat akan kena,” katanya.

Menurut Harri, jenis penyakit ini ditularkan oleh jenis nyamuk Aedes, yang paling bahaya yakni Aedes Aegepty , nyamuk jenis ini sangat suka pada tempat tempat yang gelap juga lembab dalam rumah.

“Contonhya, banyak masyarakat kita yang suka gantung baju, Aedes Aegepty ini suka,” ujarnya. Selain suka lembab dan gelap, baju yang digantung juga kadang ada bekas keringat.

“Keringat manusia, dia (Aedes Aegepty) juga suka,” katanya.

Nyamuk penyebab DBD, kata Harri, tak hanya oleh Aedes Aegepty namun juga disebabkan nyamuk jenis Aedes Albopictus.

“Yang paling bahaya memang Aedes Aegepty tapi Aedes Albopictus juga bisa jadi faktor penyebab DBD selain dia sebabkan Cikungnya,” katanya.

Dia mengatakan Aedes Aegepty suka dalam rumah berkembang biak di bak-bak mandi, serta genangan air lainnya dalam rumah sementara Aedes Albopictus suka di luar rumah dan berkembang biak pada pot-pot yang tak terpakai, botol serta benda-benda lain yang dapat menampung air.

“Harus dua-duanya diberantas, di luar maupun di dalam,” harapnya.

Dinkes Dinilai Gagal

DPRD Kota Batam meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi wabah DBD. Sehingga penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti itu tak menyebar ke kawasan atau masyarakat lainnya. “Mengambil langkah sporadis. Dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran,” kata Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Fauzan.

Menurut Fauzan, maraknya penderita DBD di Batam saat ini merupakan bukti kegagalan pemerintah dalam menjalankan program kesehatan.

“Padahal anggaran untuk Dinkes selalu diprioritaskan, minimal 10 persen dari APBD,” kata Fauzan. Namun hasilnya, jauh dari harapan. Setiap tahun, banyak korban berjatuhan.

Indikator kegagalan program Dinkes terlihat dari ketidakmampuan merealisasikan progam kesehatan dalam rancangan pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2011-2016. Dinas yang dipimpin Chandra Rizal ini hanya mampu merealisasikan 50 persen.

“Sangat kecil sekali presentasinya. Terbukti Dinkes gagal menjalankan programnya,” ungkapnya lagi.

Fauzan menyebutkan, DBD merupakan penyakit tahunan, yang terjadi setiap musim hujan.

“Harusnya Dinkes bisa memprediksi dan mengantisipasi jauh hari, menginjak musim hujan,” kata Fauzan.

Dengan cara mensosialisasikan dan menggalakan kembali program tiga M. Yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan, serta mengubur barang bekas yang ada di sekitar rumah yang dapat menampung air hujan.

“Atau melakukan fogging di tempat rawan penyebaran DBD,” ungkap politisi PKB Kota Batam ini.

Hal tersebut, lanjutnya dilakukan sebelum, bukannya setelah banyak  yang terjangkit DBD.

“Ini yang dikeluhkan, dan membuat masyarakat kecewa. Ada program setelah muncul korban,” katanya.

Seperti halnya fogging, bisa dilakukan setelah adanya surat dari rumah sakit ke klinik. “Programnya bertele-tele,” ungkapnya lagi.

Permintaan Darah Meningkat

Meningkatnya jumlah kasus DBD di Batam saat ini turut berimbas pada naiknya permintaan darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Batam. Anggota Pokja Pembangunan Markas dan Layanan Unit Donor Darah (UDD), Yandri Nisa Fardi mengatakan saat ini permintaan darah mencapai 30 kantong darah per hari.

“Hari ini, (4/2), ada permintaan 10 kantong darah dari RSOB,” ucap Yandri.

Kata dia, pasien DBD yang kadar trombositnya turun memang sangat membutuhkan donor trombosit.

“PMI meminta bantuan masyarakat khususnya keluarga dan kerabat pasien untuk membantu donor trombosit tersebut,” harapnya.

Setelah dilakukan donor darah, darah tersebut selanjutnya harus langsung diberikan kepada pasien DBD.

“Jadi tidak bisa distok begitu saja,” ucapnya.

Dia mengimbau jika ada yang ingin mendonorkan darahnya untuk pasien DBD bisa langsung datang ke kantor PMI Kota Batam, Jalan Imam Bonjol, Komplek Sakura Anpan Blok A nomor 1, Nagoya.

Sementara Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat hanya ada 149 kasus DBD selama Januari 2016, tiga diantaranya meninggal dunia. Hal ini disampaikan Kepada Dinas Kota Batam, Chandra Rizal didampingi Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Sri Rupiati, Kamis (4/2).

Chandra mengatakan, angka tersebut lebih banyak dari yang ia sampaikan sehari sebelumnya, yakni 120 kasus. Perubahan jumlah ini karena belum masuknya data dari beberapa rumah sakit. Saat ini wilayah dengan penderita terbanyak adalah Kecamatan Sagulung, Batuaji, Seibeduk, Bengkong, dan Sekupang. Namun tetap saja data tersebut tidak sesuai dengan angka dan fakta di lapangan yang ternyata jauh lebih banyak lagi jumlahnya.

Candra mengklaim, pihaknya sudah banyak melakukan upaya pencegahan DBD ini dengan cara turun langsung ke lapangan untuk melakukan penyuluhan door to door. Memberikan akses informasi kepada masyarakat tempat yang menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk Aedes Agepty.

Dinkes Batam, kata Candra, juga melakukan gebrakan pencegahan berdasarkan karakteristik wilayah. Seperti yang dilakukan di Belakangpadang, karena kebanyakan masyarakat di sana menampung air, maka dilakukan gerakan tutup wadah penampungan air, dan pengurasan secara rutin, dan fogging di wilayah yang telah ditemukan kasus DBD.

“Karena radius 100 meter itu sudah endemik, makanya dilakukan fogging. Tapi ideal memang biasakan 4M, dan juru pemantau jentik (Jumantik). Akan tetapi itu tidak bisa dilakukan di semua wilayah,” katanya.

Lebih Berbahaya

Selain DBD, warga kini juga dihantui oleh penyakit yang disebabkan virus zika. Sebab penyakit ini juga ditularkan oleh nyamuk yang sama, yakni Aedes Aegypti. Namun menurut Analis Kesehatan Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Dr. Willy A.I Wullur, Sp.PK, M.Min, DBD jauh lebih berbahaya dibandingkan zika.

“Menurut saya, DBD lebih berbahaya daripada virus Zika,” kata Willy, kemarin.

Umumnya, kata Willly, penderita virus Zika mengalami gejala yang sama dengan penderita DBD. Seperti demam, lemas serta nyeri pada otot dan sendi.

“Tapi Zika berbeda dengan DBD,” kata Willy.

Tidak seperti DBD, Zika tak menyebabkan komplikasi fatal pada penderita dewasa dan anak-anak. Zika justru berbahaya bagi janin. “Contohnya di Brasil, ditemukan ratusan kasus kelahiran bayi dengan otak mengecil (microcephaly) setelah sang ibu terinfeksi virus itu,” ungkap Willy. (ceu/hgt/cr13/cr14/cr/16/cr17/cr18)

February 5, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: