Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Suka Duka Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Berkali-kali Dibom Israel, Layani 600 Orang Per Hari

AHMAD BAIDHOWI, Jakarta

Puluhan relawan Indonesia yang mengawal pembangunan rumah sakit di Gaza harus bertahan melewati dua serangan besar Israel. Pernah harus berlindung tujuh pekan di dalam bangunan rumah sakit tanpa sekali pun keluar.

RS Indonesia

Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.

Jet-jet tempur Israel melesat membelah langit Gaza, raungan mesinnya memekakkan telinga. Tak lama berselang, ”duaaaarrrrrr”, dentuman keras terdengar. Bangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia pun bergetar, kaca-kaca pecah, plafon runtuh, tembok retak, dan pintu utama dari besi tebal langsung menganga. Rupanya, bom itu menghantam bangunan mortuary atau kamar jenazah.

Kejadian itu masih tertanam kuat dalam memori Nur Ikhwan Abadi, pemimpin proyek pembangunan RS Indonesia di Gaza.

”Itu terjadi pada 23 Juli 2014, saat agresi Israel ke Gaza. Kami para relawan pembangunan rumah sakit hanya bisa bersembunyi di basement sambil terus berdoa,” katanya kepada Jawa Pos (grup Batam Pos).

Insinyur teknik sipil asal Lampung tersebut merupakan relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), lembaga bantuan kemanusiaan yang menjadi inisiator dan pelaksana pembangunan RS Indonesia di Gaza. Dari awal proses persiapan pembangunan RS pada 2010 hingga selesai 2015, Nur Ikhwan berada di Gaza selama tiga periode dengan total 4 tahun 7 bulan.

Selama di sana, pria kelahiran 30 Juni 1982 itu pun akrab dengan suara tembakan dan ledakan bom atau rudal. ”Saat agresi Israel, tiap menit terdengar ledakan bom,” kenangnya.

Bapak empat anak tersebut pada 31 Mei 2010 juga sempat ditangkap dan ditahan. Tepatnya saat kapal Mavi Marmara yang ditumpanginya bersama lebih dari 500 relawan dari berbagai negara disergap tentara Israel.

RS Indonesia di Gaza yang pembangunannya menyedot biaya Rp 126 miliar  tak hanya menjadi monumen kepedulian masyarakat Indonesia dalam menyumbangkan harta. Tapi juga menjadi saksi kuatnya nyali 43 relawan.

”Yang mengagumkan, total dana Rp 126 miliar itu 100 persen dari sumbangan masyarakat. Tak ada dana pemerintah atau bantuan asing,” ungkap Ketua Presidium MER-C, Henry Hidayatullah.

Henry adalah sosok penting di balik pembangunan RS Indonesia di Gaza. Selain mengomandani penggalangan dana, dokter yang kini menjadi direktur salah satu RS swasta di Lampung itu jugalah yang mencetuskan ide pembangunan RS di Gaza.

Awalnya, MER-C memang hanya mengirim relawan tenaga medis ke Gaza. Serta membeli dua mobil ambulans dan obat-obatan membantu warga Gaza yang menjadi korban serangan membabi buta Israel pada Desember 2008.

Ketika itu, hingga gencatan senjata pada Januari 2009, ada lebih dari 1.500 korban jiwa jatuh, sepertiganya anak-anak dan perempuan. Korban terbanyak jatuh di wilayah Gaza Utara dan Gaza Selatan yang paling banyak digempur Israel.

Sayang, fasilitas medis di wilayah tersebut masih kurang. Di Gaza Utara hanya ada RS Kamal Udwan dengan kapasitas 90 tempat tidur pasien untuk melayani 600 ribu jiwa. Adapun di Gaza Selatan ada RS Eropa dengan 150 tempat tidur pasien untuk populasi 200 jiwa.

”Dengan pertimbangan kebutuhan, kami putuskan membangun rumah sakit di Gaza Utara,” kata Henry.

Nota kesepahaman (MoU) pun langsung diteken Joserizal Jurnalis sebagai perwakilan MER-C dengan Menteri Kesehatan Palestina, Bassim Naim pada 23 Januari 2009. Pemerintah Palestina memberikan lahan 1,6 hektare di Beit Lahia untuk lokasi RS.

Dalam proses desain, ditentukan bentuk RS Indonesia berupa bangunan segi delapan. Inspirasinya datang dari bentuk Qubbatul Sakhrah, masjid kubah emas di wilayah Al Quds, Palestina.

”Sedangkan namanya ditetapkan Rumah Sakit Indonesia, bukan Indonesia Hospital, supaya kental nuansa Indonesianya,” ucap Henry.

Proses selanjutnya, tim konstruksi MER-C yang diketuai Faried Talib melakukan tender yang kemudian dimenangi kontraktor First Company. Pada 28 April 2011 pembangunan tahap I dimulai dengan tujuh orang relawan asal Indonesia ikut mengawasi langsung prosesnya.

Tepat satu tahun, 28 April 2012, konstruksi struktur bangunan dua lantai plus basement selesai.

Menurut Henry, RS Indonesia yang terdiri atas dua lantai dibangun dengan standar konstruksi lima lantai sehingga sangat kuat.

”Untuk jaga-jaga kalau terjadi serangan Israel sehingga tak mudah rusak,” ujarnya.

Sepanjang proses pembangunan itulah, beberapa kali Israel melancarkan serangan ke Gaza. Dua yang paling parah terjadi pada November 2012 dan Juli 2014. Nur Ikhwan menjelaskan, pada November 2012 situasi di Gaza memanas saat serangan Israel merenggut korban pimpinan militer Hamas Ahmad Al Jabari. Pertempuran pun pecah.

Saat itu Kedutaan Besar Indonesia di Jordania sudah mengimbau seluruh warga Indonesia yang ada di Gaza untuk segera keluar menuju Mesir. Demikian juga pemerintah Gaza yang meminta para relawan dari berbagai negara keluar dari wilayah konflik terlebih dahulu.

Menurut Nur Ikhwan, lokasi RS Indonesia yang di Beit Lahia adalah bangunan besar yang paling dekat dengan perbatasan Israel. Jaraknya hanya 2,5 kilometer. Sehingga jika terjadi perang darat, bakal menjadi lokasi pertama yang dihantam tentara Israel.

”Kami 30-an orang relawan lalu rapat dan akhirnya memutuskan tetap bertahan di bangunan rumah sakit sambil mengerjakan pekerjaan seperti mengecat atau membersihkan sisa-sisa bahan bangunan,” katanya.

Juli 2014 Israel kembali melancarkan agresi. Kali ini lebih masif selama 51 hari. Nur Ikhwan menyebutkan, pada saat damai, lokasi di seberang jalan RS Indonesia memang sering digunakan pejuang Hamas untuk latihan tempur. Karena itu, tiap ada serangan Israel, wilayah tersebut selalu menjadi incaran dan dibombardir jet-jet tempur maupun drone (pesawat tanpa awak) Israel.

Bahkan, pada agresi 2014 itu, Israel sempat melancarkan serangan darat. Nur Ikhwan mengisahkan, puluhan tank Israel sudah bergerak menyeberangi perbatasan dan masuk wilayah Palestina. Dari dalam bangunan RS, Nur Ikhwan bisa melihat tank-tank tersebut terus memuntahkan pelurunya. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari RS.

Namun, perlawanan sengit para pejuang Palestina dengan roket, senapan, dan senjata lainnya berhasil memukul mundur konvoi tank Israel. Nur Ikhwan mengatakan, salah satu hal yang paling ditakuti tentara Israel adalah aksi bom syahid dari pejuang Palestina.

Selama hampir tujuh pekan agresi itu, lebih dari 2.200 warga Palestina menjadi korban meninggal dan 9.886 lainnya mengalami luka-luka. ”Selama itu pula kami tak pernah keluar dari bangunan rumah sakit. Stok beras dan lauk memang sudah disiapkan jangka waktu dua sampai tiga bulan,” ujarnya.

Setelah agresi selesai, lanjut Nur Ikhwan, baru mereka keluar dan mendapati ratusan selongsong peluru tank-tank Israel bertebaran di sekitar lokasi RS. Beberapa bangunan RS berlubang atau retak lantaran terkena bom atau serpihan rudal.

”Tapi alhamdulillah, tidak terjadi kerusakan besar,” ujarnya bersyukur.

Ketika relawan MER-C di Gaza berlindung dari serangan Israel, relawan di Indonesia berjibaku dengan tenggat pengumpulan dana. Henry mengatakan, awalnya MER-C berencana menyerahkan bangunan RS saja dan meminta otoritas Palestina melengkapi fasilitas alat-alat kesehatan.

Tapi, setelah melihat keadaan, pihaknya tidak tega memberikan bangunan kosong. Sebab, pihaknya tahu pemerintah Palestina sedang kesulitan keuangan.

”Jadi, daripada bangunan nanti telantar, kami putuskan sekalian melengkapinya dengan fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Namun, konsekuensi tekad itu tak mudah. Setelah menghabiskan dana sekitar Rp 51 miliar untuk konstruksi dan bantuan awal, MER-C harus mengumpulkan setidaknya Rp 20 miliar lagi untuk sekadar mendirikan dan menjalankan fasilitas unit gawat darurat (UGD).

Semua dana tersebut dikumpulkan dari masyarakat tanpa melibatkan bantuan dari pemerintah Indonesia maupun asing. Tapi, tentu saja mewujudkannya tak semudah membalik telapak tangan.

Namun, kata Henry, Allah punya jalan lain. Agresi Israel pada 2014 tanpa dinyana langsung membangkitkan semangat persaudaraan masyarakat Indonesia. Sumbangan yang semula seret langsung melonjak signifikan.

”Bahkan, dalam satu hari, kami pernah menerima sumbangan lebih dari Rp 200 juta,” katanya sambil geleng-geleng kepala.

Kampanye penggalangan dana kian masif karena MER-C ikut menggandeng beberapa selebriti seperti Slank, Vidi Aldiano, Naif, Wali, hingga (almarhum) Didi Petet dan Jihan Fahira.

”Dalam waktu tiga bulan, terkumpul donasi Rp 70 miliar untuk menyelesaikan pembangunan dan membeli alat-alat kesehatan,” ucapnya.

Kini RS Indonesia sudah berdiri megah di Gaza. Berbagai fasilitas tersedia, mulai UGD berkapasitas 8 tempat tidur, instalasi bedah dengan 4 kamar operasi, ICU berkapasitas 10 tempat tidur, laboratorium, sampai radiologi. Ada pula ruang perawatan berkapasitas seratus tempat tidur, poliklinik, serta ruang rehabilitasi medis.

Berdasar data yang diterima MER-C, sepanjang 24 Desember 2015 sampai 18 Januari 2016, RS Indonesia sudah melayani 381 pasien rawat inap, 4.668 pasien di UGD, serta 75 pasien operasi. Untuk rawat jalan, setiap hari rata-rata ada 400 orang yang dilayani.

”Bahkan, pada 3 Januari sempat mencapai rekor 1.595 pasien dalam satu hari,” ungkapnya.

Upacara seremonial serah terima dari Indonesia kepada otoritas Palestina juga telah dilakukan pada 9 Januari 2016 di Jakarta. Otoritas Palestinalah yang selanjutnya mengelola RS, termasuk penyediaan dokter dan tenaga medis. (*/c9/ttg/jpgrup)

February 7, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: