Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Perjuangan Sriani dan Zaimardi Merawat Anaknya yang Lumpuh Otak

Setiap Bulan Terapi, Pernah Berobat ke Ponari

Sriani tak pernah tahu, kapan Diki bisa sembuh dari penyakitnya. Kalau ada bagian tubuhnya yang bisa ditukar, ia rela memberikannya. Asal anaknya bisa sembuh dan tumbuh selayaknya anak normal.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Diki tengah berbaring di atas kasur busa setebal lima sentimeter di ruang tamu rumahnya. Sriani duduk di sampingnya. Menggenggam kedua lutut yang tertaut. Lalu menarik kedua tungkainya saling menjauh, menahannya setengah menit, dan mengembalikannya ke posisi semula.

”Eeeergh,” erang Diki.

Bocah itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Matanya membelalak. Pupil matanya bergerak-gerak tanpa henti. Tubuhnya menggeliat-geliat.

Kedua tangannya lekat ke dada. Kaku, keras tak bergerak. Tak ubahnya tangan, kedua tungkai kakinya pun seakan membatu. Jari jemari semua terkatup.

”Mungkin ia merasa sakit tapi dokter menyarankan saya untuk tetap melakukannya. Setiap malam dan pagi ketika bangun tidur,” kata Sriani, Ibunda Diki, Minggu (7/2/2016).

Diki Satria, nama lengkap bocah itu. Usianya sebenarnya sudah sembilan tahun. Tapi kondisinya tak ubahnya bayi tiga bulan. Hingga detik ini, ia belum bisa berjalan atau bahkan berlari. Menegakkan kepala sendiri pun tak mampu.

Kondisi ini bermula pada sebuah demam di pertengahan bulan keempat sejak kelahirannya di Tanjungbatu, Balai Karimun, 18 Mei 2007. Demam itu berlangsung semalaman. Sriani memberinya obat penurun panas yang ia beli di warung.

Obat itu bekerja. Panas Diki menghilang di malam itu. Namun, ketika pagi, badannya kembali memanas. Hingga siang, panasnya tak kunjung turun. Sriani dan suaminya, Zaimardi, segera melarikan Diki ke Rumas Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjungbalai Karimun.

“Demamnya 40 derajat. Tapi tidak ada step,” kata wanita asal Kediri tersebut.

Mendapat perawatan dokter, demam itu akhirnya berhenti. Pasangan yang telah memiliki satu anak sebelumnya itu lega. Namun, ada yang aneh dengan anak bungsunya sejak saat itu.

Anaknya seperti lemas tak berdaya. Tidak ada perkembangan apapun pada tubuhnya. Diki tak bisa menggerakkan tubuhnya. Jika bayi normal bisa tengkurap di bulan kelima, ia tidak. Ia juga belum bisa memegang sesuatu.

Takut terjadi apa-apa dengan bayinya, Sriani kembali membawa Diki ke RSUD Karimun. Diki mendapatkan pemeriksaan. Dokter memvonisnya menderita kelainan otak. Ada penyempitan pembuluh darah di otak kecil.

Sriani dan suaminya tak kunjung percaya dengan hasil pemeriksaan tersebut. Keduanya kembali ke Batam dan memeriksakan putera bungsunya itu ke RS Budi Kemuliaan (RSBK) Batam. Namun ternyata hasil pemeriksaannya sama.

“Waktu itu sarannya hanya terapi dan diberi obat. Diki sempat terapi sebulan sekali di RSBK,” kata Sriani.

Perjuangan Sriani dan Zaimardi tidak berhenti di sana. Sriani yang asli Kediri mendengar ada pengobatan alternatif Ponari di kampungnya. Ia bersikeras membawa Diki ke sana. Wajah Diki sempat dibasuh dengan air Ponari. Ia mengulangnya hingga tiga kali.

Ketika berada di Kediri, Sriani juga menyempatkan membawa Diki ke sebuah rumah sakit swasta di sana. Dan, hasil pemeriksaan tak berubah. Ada penyempitan pembuluh darah di otak kecil.

Sriani pasrah. Mereka membawa Diki kembali ke Batam. Menjalankan terapi sebulan sekali dari dokter dan rutin meminum obat. Namun, tahun lalu, Sriani kembali membawa Diki ke tanah Jawa. Ini karena kaki kanan Diki menempel satu sama lainnya.

Seperti ada lem yang dioleskan di paha dan tungkai bocah itu hingga kedua bagian tersebut saling menempel. Sungguh tak bisa dipisahkan. Kulit bagian yang saling menempel itu membusuk, menimbulkan bau tak sedap. Diki hanya bisa ber-hmmm..hmmmm.. Tapi Sriani tahu ia kesakitan.

“Saya pernah bawa ke shinse tapi shinse nggak sanggup,” kata wanita 57 tahun itu lagi.

Sriani tak tahu lagi harus membawa Diki kemana. Saat ini, ia hanya bergantung pada pertolongan medis. Sebulan sekali, Sriani membawa Diki kontrol ke RS Budi Kemuliaan.

Di dalam formulir pendaftaran, tertulis penyakit yang diderita Diki itu Cerebral Palsy. Dalam dunia kesehatan, Cerebral Palsy disebut juga dengan lumpuh otak. Ini kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan dan kemampuan berpikir.

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Penyebabnya pun bahkan belum diketahui. Para ahli medis sepakat menyarankan terapi sebagai pengobatan terbaik.
Beruntung saat ini, perawatan Diki sudah ditanggung BPJS Kesehatan. Sehingga untuk kontrol dan obat, Sriani tak lagi harus merogoh kantong sendiri. Diki menjadi satu dari seratusan ribu masyarakat Batam yang tergabung dalam kelompok penerima bantuan iuran (PBI).

“Baru tujuh bulan ini pakai kartu BPJS Kesehatan. Sebelumnya pakai biaya sendiri,” ujar Sriani.

Zaimardi membiayai pengobatan Diki hanya dari berdagang bakso keliling. Sriani dan Zaimardi mengaku tak pernah meminta-minta bantuan orang. Keduanya berusaha melunasi sendiri biaya pengobatan Diki. Termasuk biaya perjalanan.

Pasangan baya itu menempati sebuah petak di kawasan Baloi Indah, RT 04 RW 05. Di rumah semi permanen itu, keduanya tinggal bersama anak sulung yang telah duduk di bangku SMP dan Diki Satria. Sriani mengaku, rumahnya pernah kedatangan tiga petugas yang mengaku dari Dinas Sosial dan Pemakaman Batam.

“Mereka minta fotokopi akte kelahiran dan kartu keluarga juga KTP. Katanya untuk pendataan, tapi sampai sekarang, nggak ada kabarnya lagi,” tutur Sriani.

Sriani khawatir, salinan dokumen milik keluarganya itu disalahgunakan. Ia tak ingin, ketidak-berdayaan anaknya ‘dijual’. Sebab, hingga saat inipun, ia mengaku tak pernah meminta belas kasih orang.

“Jangan sampai kondisi kami ini dimanfaatkan untuk keuntungan mereka,” katanya lagi.

Airmata Sriani rasanya telah benar-benar habis. Namun, semangatnya untuk membahagiakan Diki tak luntur. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri untuk membawa Diki berjalan-jalan keluar rumah. Berkendara melintasi rumah-rumah warga.

Diki tampaknya menyukai hal itu. Senyumnya tersungging di bibir. Menampakkan deretan gigi yang putih dan rapi. Sriani mengatakan, gigi Diki sudah lengkap.

Kemanapun Sriani pergi, ia selalu menggendongnya. Ia juga mengenalkan Diki ke tetangga-tetangganya. Banyak anak tetangga yang sengaja main ke rumahnya dan menengok Diki.

“Mungkin karena sudah sering ketemu jadi tumbuh rasa sayang di hati mereka,” ujarnya.

Diki jarang terlihat sedih. Ia juga tidak susah makan, meskipun hanya susu formula dan bubur bayi. Sriani berharap, Diki bisa tumbuh normal seperti anak-anak di usianya. Ia ingin anak-anaknya bisa menikmati hidupnya dengan bercanda dan berkawan.

“Kalau ada bagian tubuh saya yang bisa ditukar, tukarlah. Saya ikhlas asal anak saya bisa tumbuh normal lagi,” katanya. ***

February 8, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: