Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

20 Rumah Hilang, 47 Rusak di Batam

Badai Terburuk dalam 16 Tahun Terakhir

BATAM POS, Batam

AMUKAN gelombang laut dan badai angin utara menyapu kawasan pemukiman warga Batumerah, Kecamatan Batuampar, Batam, Minggu (7/2/2016) sekitar pukul 22.00 WIB. Sebanyak 20 rumah hancur dan hilang tak berbekas. Sementara 47 rumah lainnya rusak parah. Beruntung tak ada korban jiwa dalam bencana alam tersebut.

Peristiwa ini menjadi mimpi buruk bagi para korban. Tak terkecuali bagi Rusni. Wanita berusia 50 tahun ini hanya bisa meratapi rumahnya yang roboh dan hanyut terbawa arus air laut.

”Rumah saya hilang. Hancur tak berbekas,” kata Rusni sambil menghela napas panjang.

Padahal, rumah yang sudah ia tempati sejak 20 tahun silam itu baru saja direnovasi, sebulan lalu. Sebelum badai datang, Rusni mengaku sedang mengerjakan rutinitasnya. Yakni membuat nasi lemak, membuat donat, dan aneka kue lainnya.

Namun sekitar pukul 21.30 WIB, dia mendengar angin berhembus kencang di luar rumahnya. Namun dia tak terlalu menghiraukannya karena badai musim angin utara sudah sering dirasakan warga Batumerah setiap tahunnya. Hanya, badai tahun ini jauh lebih parah.

”Saya jual makanan ringan. Dan saya masak mulai sore dan lepas magrib angin memang kecang. Namun itu sudah makanan kami sehari-hari, jadi tak takut,”terang wanita beranak empat ini.
Namun saat sedang asyik membersihkan perlengkapan memasak, angin kembali bertiup kencang.

Ombak juga terdengar mulai mendobrak dinding rumahnya. Tiba-tiba, ia mendengar bunyi hantaman keras. Air laut masuk ke rumahnya. Dindingnya pun mulai roboh.

”Ada yang berteriak keluar rumah. Panik, saya keluar rumah. Saat keluar rumah, rumah saya langsung roboh. Dan kemudian hancur dihempas angin,” ungkap Rusni.

Meski begitu, Rusni mengaku masih bersyukur karena nyawanya selamat. Walaupun seluruh harta bendanya ikut hanyut terbawa arus laut. Termasuk surat-surat berharga lainnya.

”Semuanya hilang. Baju hanya sisa di badan,” katanya lagi.

Akan tetapi kini dia mengaku bingung. Sebab dia tak tahu lagi harus tinggal di mana. Sementara untuk memulai usahanya kembali, dia mengaku tak punya modal. Sebab saat keluar rumah, dirinya tak sempat membawa apapun.

”Habis semua. Entah kemana, nanti saya pikirkan,” ujar wanita ini terus mengais perlengkapan dapur di antara puing-piung kayu itu.

Nasib serupa dialami Usmiati. Bersama suami dan anaknya, wanita berusia 26 tahun ini harus merangkak keluar rumah ketika badai mengamuk. Namun Usmiati kaget bukan kepalang karena begitu keluar rumah, pelantar kayu di depan rumahnya sudah tak ada di tempatnya.

Untung saja, ada kayu balok di rumahnya. Kayu tersebut kemudian ia gunakan sebagai jembatan untuk menyeberang ke rumah tetangganya dan kemudian menuju ke bibir pantai.

”Kejadiannya sangat cepat. Jam 10 malam. Awalnya saya pikir angin biasa, ternyata badainya luar biasa. Pertama hantaman, rumah yang didepan saya hilang, kemudian rumah saya,” terang wanita yang akrab disapa Teteh itu.

Menurut dia, saat keluar dari rumah ia hanya bisa menyelamatkan tas dan beberapa dokumen penting keluarga. Namun surat nikahnya hilang. Begitu juga dengan seluruh perabotan rumah tangganya.

”Jadi pas angin kencang saya ambil tas. Sementara yang lainnya sudah hilang,” terangnya.

Sementara Eva, korban amukan badai lainnya mengaku rumahnya hanya mengalami rusak. Dinding rumahnya jebol, namun posisi rumah panggung tetap masih ada.

”Ini bencana besar sejak beberapa tahun belakangan. Kejadian lebih parah pernah terjadi tahun 1999. Baru ini 16 tahun badai terparah. Dan ini termasuk parah sejak saya tinggal di sini,” kata Eva.

Kapolres Barelang Kombes Helmy Santika turut prihatin atas musibah yang menimpa warga Batumerah itu. Dia berharap agar korban yang terkena musibah bisa diberi kekuatan.

”Mudah-mudahan bangunan yang telah hancur bisa kita bangung kembali. Dan yang mengungsi bisa beraktivitas seperti biasa,” terang Helmy.

Dikatakan Helmy, pihaknya akan melakukan pengamanan, khususnya yang dievakuasi dari rumah-rumah rusak. Pihaknya juga telah mendirikan posko kesehatan untuk korban yang terkena musibah.

”Kita akan siaga 24 jam melakukan pengamanan. Untuk posko kesehatan akan tetap ada hingga keadaa normal kembali. Yang pasti, kita akan lakukan semaksimal mungkin,” tegas Helmy.

Dia juga menghimbau agar warga tidak kembali ke rumah panggung pada malam hari. Hal itu untuk menghindari terjadinya korban, karena angin utara diduga masih akan terjadi.

”Kita hanya bisa mengimbau, semuanya kita kembalikan ke warga. Namun untuk keselamatan, hindari berada di dalam rumah panggung di malam hari,” pesan Helmy.

Camat Batuampar, Leo Putra, mengatakan dari data sementara ada 20 rumah yang hilang atau roboh. Sementara yang rusak ringan hingga parah ada sekitar 47 rumah.

”Itu masih data sementara. Total kerugian belum bisa kita hitung,” terang Leo.

Menurut dia, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan institusi terkait seperti Dinas Sosial Batam. Sementara untuk beberapa bantuan dari warga sekitar juga telah diterima dan akan disalurkan kepada korban.

”Kita membuka posko bantuan di mesjid. Belum ada tenda, masih posko. Korban juga masih membutuhkan bantuan, terutama sembako,” kata Leo.

Dua Restoran Roboh di Batubesar

Badai angin utara juga menerjang kawasan di Batubesar, Nongsa. Bahkan sebuah restoran yang posisinya menjorok ke laut di  kawasan itu roboh terkena amukan badai.

”Selain dia, tidak ada lagi warga yang membangun rumah di atas laut. Makanya, hanya Cahaya Baru yang kena,” kata Syamsuri, Camat Nongsa.

Syamsuri memastikan, kondisi yang sama juga berlangsung di wilayah Teluk Mata Ikan dan Ngenang. Rumah warga di dua lokasi tersebut masih tegak berdiri.

”Saya terus berkoordinasi dengan para lurah untuk melaporkan kondisi di saat musim angin utara ini,” katanya.

Gelombang pasang yang tinggi disertai dengan angin kencang sejatinya telah menjadi ciri musim angin utara. Masyarakat pesisir dipastikan telah mengetahui kondisi tersebut.

Dua tahun sekali pasti terjadi gelombang pasang yang tinggi. Bahkan, menurut penuturan warga, gelombang pasang yang terjadi Minggu (7/2) malam lalu masih belum besar.

”Katanya, justru besok (hari ini, red) ada gelombang yang lebih besar,” kata Syamsuri lagi.

Mantan petugas Satuan Polisi Pamong Praja itu menghimbau masyarakat untuk waspada. Terutama bagi masyarakat yang memiliki rumah berdekatan dengan laut.

”Kalau perlu mengungsi dulu di rumah kerabat yang ada di darat,” tambahnya lagi.

Meski ada bangunan yang runtuh di Batubesar karena gelombang pasang, Syamsuri lega jumlahnya hanya satu saja. Tidak seperti yang terjadi di Batumerah, Batuampar. Jumlah rumah yang hancur akibat terjangan pasang mencapai 40-an lebih.

Syamsuri mengatakan, tragedi Batumerah sebaiknya dijadikan pelajaran bagi masyarakat di wilayah lain. Terutama yang masih memiliki rumah di atas laut.

”Carilah tanah di darat. Itu salah satu antisipasinya karena kodrat alam tidak bisa dilawan,” ujarnya.

Selain itu, belasan rumah kayu yang berada di tepi pantai Batubesar, Kecamatan Nongsa juga roboh dihantam gelombang air pasang setinggi tiga meter pada Senin (8/2) dini hari. Bahkan rumah warga yang berada sekitar 50 meter dari bibir pantai terendam air setinggi lutut orang dewasa.

Pantauan Batam Pos, hampir seluruh bangunan berupa rumah kayu rata dengan tanah, ditambah dua restoan sea food bernama Hankang dan Cahaya Baru. Di lokasi hanya tersisa puing-puing bangunan. Pemilik bangunan juga terlihat sibuk mengais dan mencari barang berharga yang tersisa.

”Ini lagi nyari barang-barang yang bisa diselamatkan. Tadi malam air pasang tinggi sekali,” ujar Pak Cik, warga Kampung Melayu, Nongsa di lokasi.

Ia menjelaskan selain gelombang air pasang tinggi, kondisi diperparah dengan terjangan angin kencang. ”Angin juga sangat kencang sampai atap rumah hampir lepas,” jelasnya.

Menurut Pak Cik, gelombang air pasang yang tinggi tersebut sudah terjadi dan melanda perkampungan sebanyak dua kali. Sebelumnya, pada tahun 2000 air pasang juga merendam rumah warga.

”Tapi yang terparah kali ini. Karena angin sangat kecang,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Dini, warga lainnya. Ia mengaku sempat mengungsi saat air laut merendam rumahnya.

”Saya selamatkan barang-barang elektronik. Suami menyelamatkan motor dan anak-anak,” tuturnya.

Sementara itu Atek, pemilik restoran Cahaya Baru mengaku lokasi usahanya itu dihantam gelombang setinggi 4 meter. Menurutnya, kerugian yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah.

Atek menjelaskan hanya sedikit barang-barang direstorannya yang tersisa. Banyak barang di lokasi usahanya itu terbawa air laut yang kembali surut.

”Hanya sedikit yang terelamatkan. Tadi juga dibantu warga,” katanya.

Peristiwa ini membuat sebagian besar warga yang tinggal di kawasan pesisir di Batam merasa was-was. Terutama mereka yang tinggal di rumah panggung berbahan kayu yang posisinya berada di atas laut.
Seperti yang dirasakan warga Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, Asep.

”Kami merasa was-was juga. Masyarakat tetap hati-hati, Itu jelas,” kata Asep, kemarin.

Lanjut dia, air kini mengalami pasang hingga dua meter dan menggenangi jalan aspal di pulau tersebut. Namun beruntung air tak masuk rumah warga lantaran pelantaran rumah yang tinggi.

”Gak ada rumah yang terendam, dulu mungkin ia karena pelantaran rendah,” jelas Asep

Rasa waspada juga disampaikan warga lainnya, Muhammad. Menurutnya sudah jauh hari dari tokoh masyarakat serta perangkat RT yang ada di pulau Buluh sudah menghimbau warganya, seperti contoh himbauan agar dapat mengawasi anak-anak untuk tidak mandi di laut.

”Dari RT 01 sampai 11 sudah menghimbau ke warganya. Karena ditakutkan anak-anak mandi waktu pasang begini akan tenggelam,” kata Muhammad.

Menurutnya air pasang sudah lumrah terjadi dan warga pulau Buluh sudah terbiasa menhadapi suasana tersebut.

”Rutin ini (air pasang), biasanya terjadi di Januari hingga Februari,” kata Muhammad.

Potensi Badai Masih Tinggi

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam, Philip Mustamu memprediksi angin kencang masih akan melanda Batam dalam waktu dua hari ke depan. Selain angin, Batam juga masih akan diguyur hujan deras.

”Perkiraan dua hari ke dapan masih dengan kondisi sama (angin kencang),” ujar Philip, kemarin (8/2).

Ia menjelaskan saat ini seluruh wilayah di Pulau Sumatra mengalami kelembapan udara yang tinggi. Peningkatan kelembapan udara ini mencapai 95 persen.

Ia menjelaskan angin kencang yang melanda dua hari ke depan bisa membahayakan bagi warga yang berada dipesisir pantai. Dimana air pasang yang tinggi akan mengenai rumah warga yang disebabkan terjangan angin kencang.

”Itu (gelombang air pasang tinggi) disebabkan angin kencang. Jadi air terbawa angin ke pemukiman warga,” jelasnya.

Philip menambahkan kondisi saat ini tetap membahayakan bagi pelayaran. Hal itu disebabkan gelombang air laut yang tinggi mencapai 3 meter.

”Tetap berhati-hati bagi pelayaran karena bisa mengancam keselamatan,” tegas Philip.

Ia juga menghimbau kepada warga pesisir pantai untuk bersiaga dalam terjangan gelombang air pasang dan angin kencang. ”Hal itu (hantaman gelombang air pasang) bisa saya mungkin terjadi lagi setiap air pasang. Tetapi setelah air surut tidak masalah lagi,” katanya.

Pemko Siapkan Dana Darurat

Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan menyatakan prihatin atas musibah bencana robohnya rumah-rumah warga yang diterjang ombak laut di daerah Batumerah, Batuampar, kemarin. Dahlan juga meminta masyarakat, terutama yang tinggal di tepi laut agar mewaspadai perubahan cuaca yang terjadi akhir-akhir ini.

”Karena cuaca belum bagus, maka kepada mereka yang tinggal di tepi laut, agar terus waspada,” kata Dahlan, kemarin.

Wali Kota katakan, Pemerintah Kota (Pemko) Batam telah melakukan langkah-langkah penanganan bencana yang dibutuhkan. Termasuk, berkoordinasi dengan semua pihak, baik internal Pemko Batam sendiri maupun dengan instansi lain terkait.

”Kita akan pakai anggaran darurat untuk meng-cover (menutupi) kebutuhan (penanganan bencana),” terang Wali Kota dua periode itu.

Dahlan juga mengungkap, pihaknya telah mengintruksikan Camat Batuampar, Leo Putra untuk menyiapkan langkah penanganan segera di lokasi bencana.

”Saya sudah arahkan camat untuk melakukan tindakan cepat, membantu korban, terutama makanan pokok serta tempat penampungan sementara,” kata Dahlan.

Wali Kota yang akan segera purna jabatan itu juga meminta masyarakat, terutama yang terkena bencana tersebut agar tetap tenang dan berupaya untuk kembali beraktivitas seperti biasa.

”Anak-anak juga harus tetap sekolah,” ujar dia. (she/ceu/opi/rna/cr13)

February 9, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: