Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Batam Dikepung Rumah Liar

Pengusaha Mengeluh Lahan Diduduki

BATAM (BP) – Pertumbuhan rumah liar (ruli) di Batam kian tak terkendali. Seperti jamur di musim hujan, pemukiman ilegal ini terus bermunculan di sejumlah titik di penjuru kota.

Di Batuaji misalnya. Saat ini sudah berdiri ribuan ruli yang tersebar di empat kelurahan di wilayah itu.

”Setiap kelurahan ada, paling banyak memang (kelurahan) Buliang sama (kelurahan) Tanjunguncang,” ujar Camat Batuaji, Rinaldi MP, Kamis (11/2/2016) siang.

Keberadaan ruli ini kian merepotkan karena umumnya menempati right of way (row) jalan serta lahan yang sudah dialokasikan untuk pengusaha. Selain itu, ada beberapa ruli yang dibangun berdekatan dengan pemukiman resmi. Seperti ruli Pasir Putih Mentangor dan ruli Pasir Putih Persada yang terletak di antara Perumahan Taman Lestari dan Buana View Batuaji.

Menurut Rinaldi, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya pencegahan untuk menekan perkembangan ruli. Termasuk dengan melakukan imbauan.

”Kami bilang bahwa tindakannya ini ilegal, seperti contoh di badan jalan kan milik negara,” katanya.

Berdasar data yang direkap Kecamatan Batuaji, di Kelurahan Buliang sebanyak 1.301 unit, Kelurahan Bukit Tempayan 683 unit, dan Kelurahan Tanjunguncang 2.493 unit. Sementara di Kelurahan Kibing tak ada data pasti. Padahal di wilayah itu terdapat sejumlah titik ruli, seperti di Tembesi Buton.

Namun angka-angka tersebut merupakan data pada 2012-2013. Pihak Kecamatan Batuaji belum memperbarui data ruli di wilayah Batuaji. Namun diperkirakan, kini jumlahnya jauhlebih banyak lagi.

”Datanya hanya itu saja,” ujar seorang pegawai kantor Kecamatan Batuaji yang enggan menyebutkan namanya, kemarin.

Data yang dihimpun Batam Pos ribuan ruli tersebut di antaranya tersebar di Kampung Rawa Indah, Kampung Jawa, Pasir Putih Mentangor, Pasir Putih Persada, Bukit Permai, Cunting, Seibinti, serta Tembesi Buton.

Sementara pantauan di lapangan, aktivitas pembangunan unit ruli terus dilakukan. Seperti yang terjadi Kampung Rawa Indah Buliang, tampak tiga rumah baru yang berdinding batako sedang dibangun.

Keberadaan ruli ini tidak semuanya dihuni sendiri oleh pemiliknya. Namun diduga, sebagian ruli sengaja dibangun untuk dikomersilkan.

Seperti Ruli Cunting yang berada di ruas Jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang. Beberapa ruli di kawasan itu disewakan dengan tarif Rp 400 ribu per rumah per bulan.

”Kalau mau tinggal di sini boleh kurang, Rp 350 ribu saja,” ujar Anas pemilik ruli, kepada Batam Pos, Kamis (11/2/2016).

Namun Anas mengatakan, uang sewa sebesar Rp 350 ribu itu belum termasuk biaya listrik dan air.

”Kalau air, warga di sini beli semuanya. Air bersih belum masuk ke sini soalnya,” kata Anas.

Rumah Anas memiliki dua kamar, satu ruang tamu, dan dapur.

”Ada kamar mandi di dalam,” ucapnya.

Saat ini, kata Anas, tidak ada ruang atau lahan lagi untuk membangun rumah karena sudah penuh penghuni. ”Dulu tinggal bangun saja, sekarang tidak ada lagi,” ungkapnya.

Anas menuturkan, Ruli Cunting sudah berdiri sejak tahun 2000. Terkait rencana penggusuran yang akan dilakukan Tim Terpadu Kota Batam, kata dia, warga Cunting sudah siap mempertahankannya.

Selain di Batuaji, ruli juga tumbuh subur di wilayah Kecamatan Seibeduk. Sekretaris Camat Seibeduk, Novi Handyastuti mengakui ada beberapa titik ruli di wilayahnya, seperti ruli Kampung Aceh, Kampung Salak, Kampung Selayang, di Kelurahan Mukakuning, Ruli Kebun Sayur di Kelurahan Duriangkang, dan masih banyak lagi.

”Banyak lah ruli di sini. Di Mukakuning saja sudah tiga ada kampung, belum lagi lainnya,” ujar Novi, kemarin.

Kata Novi, ruli tersebut sudah lama berdiri. Penghuninya mencapai ribuan orang. Namun pihaknya mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mengatasi kondisi ini.

”Biar Tim Terpadu yang akan mengatasi permasalahan rumah liar itu,” ungkapnya.

Sementara Hendri, 31, warga Piayu Blok Z mengatakan untuk mengatasi permasalahan ruli yang semakin menjamur di Batam perlu ada kebijakan yang tegas dari pemerintah. Namun penertiban ini harus dibarengi relokasi tempat untuk warga yang sudah tinggal bertahun-tahun di ruli tersebut.

”Jangan asal gusur aja, harus jelas juga tempat relokasinya, jadi tidak ada yang dirugikan,” ujar Hendri.

Pantauan Batam Pos, ribuan ruli berdiri tak beraturan di Kelurahan Mukakuning, Seibeduk. Uniknya, ruli tersebut dibangun tepat di depan rumah susun (rusun) milik Pemko Batam.

Pengusaha Dirugikan

Keberadaan ruli ini sangat merugikan kalangan pengusaha dan investor, khususnya di bidang properti. Sebab kebanyakan ruli di Batam berdiri di atas lahan yang sudah dialokasikan untuk pengusaha sektor properti.

”Ini memang miris. Ruli sekarang ini terus bertambah, seakan tidak ada antisipasi dari BP Batam untuk mencegah ini,” kata Onward, anggota DPRD Provinsi Kepri, yang juga aktif sebagai pengusaha properti.
Kata Onward, harusnya BP Batam bisa mencegah dan menekan pertumbuhan ruli. Ketika dalam satu wilayah jumlah rulinya masih sedikit, maka harus ditertibkan.

”Kalau dibiarkan maka jumlahnya akan terus bertambah. Kalau sudah banyak akan lebih sulit untuk menertibkannya. Dan lagi-lagi pengusaha yang diberatkan karena harus membebaskan ruli-ruli itu,” katanya.

Ketua DPD Rei Khusus Batam Djaja Roeslim menegaskan bahwa pertumbuhan ruli di lahan pengembang menghambat pembangunan properti. Menurutnya pemerintah pusat harus berperan dalam menertibkan rumah liar yang ada di Batam.

”Saudara-saudara kita yang tinggal di ruli ini pun harus diberikan peluang tempat tinggal. Dicarikan tempat atau misalnya rusun dan sebagainya,” harapnya.

Tetapi setelah ada solusi itu, ia berharap BP Batam dan Pemko melakukan penegakan hukum atau law enforcement. Kepastian harus ada demi kesinambungan pembangunan di Batam.

Sementara pakar tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayan Supriatna mengatkan keberadaan ruli ini benar-benar menjadi ancaman bagi perkembangan ekonomi Batam. Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam dituntut tegas untuk segera menertibkannya, agar tidak menimbulkan polemik sosial di kemudian harinya.

”Permasalahan ruli berasal dari kelalaian para pengusaha yang tidak segera membangun di tanah miliknya,” ungkap Yayan, kemarin (11/2).

Memang, kata dia, ruli bukan hanya menjadi masalah di Kota Batam, namun juga di kota-kota besar lainnya, seperti Jakarta. Inti permasalahannya sama, yakni pembiaran. Banyak pengusaha yang sudah mendapatkan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dari BP Batam, namun tidak segera melakukan pembangunan sehingga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

”Istilahnya banyak preman yang memantau lahan-lahan terlantar, apalagi jika tidak diawasi dan dipagari maka akan segera dimanfaatkan untuk disewa-sewakan,” katanya lagi.

Yayan juga menduga ada oknum dari aparat yang ikut bermain dalam hal ini, seharusnya menertibkan, namun malah ikut bermain, maka ledakan ruli terjadi di Batam.

”Istilahnya Double Agent, sehingga pertumbuhan ruli semakin tak terbendung,” ujarnya.

Untuk menghindari hal ini agar tidak semakin meluas, Yayan menyarankan agar pemerintah setempat segera mengeluarkan peraturan daerah yang mengatur tentang hal ini, dan harus mendesak pengusaha yang mendapat lahan agar segera membangunnya.

”Dan jika tidak diindahkan, maka HPL-nya bisa dicabut,” katanya.

Direktur Humas BP Batam, Purnomo Andiantono mengatakan masalah ruli sudah disampaikan ke Direktorat Pengamanan (Ditpam) BP Batam. Terkait banyaknya ruli di atas lahan yang dialokasikan BP Batam, Andi tidak mau berkomentar banyak.

”Saya sudah sampaikan ke pihak terkait, yakni Ditpam. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita sudah beberapa kali melakukan penertiban bangunan bermasalah seperti di Duriangkang dan daerah lain,” katanya berkilah.

Pindah ke Rusun

Terkait marakanya pembangunan ruli ini, Pemerintah Kota (Pemko) Batam telah lama menggodok rencana untuk memindahkan seluruh warga yang tinggal ruli ke rumah susun (rusun). Bahkan, Pemko Batam pernah membuat kajian untuk membangun 725 rusun twin block (blok kembar) pada 2025 mendatang di seluruh Batam. Namun, jumlah itu kemudian dikoreksi jadi setengahnya, 326  blok kembar lantaran harus berkaca pada pendanaan dan juga mempertimbangkan aspek sosial.

Namun, ratusan rusun itu bisa terwujud dengan catatan Pemko Batam mendapatkan lahan untuk membangunnya. Sayangnya, rencana itu selalu mentok akibat tak adanya lahan yang diberikan oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk dibangun rusun.

Tak patah arang, Pemko Batam kemudian memutar otak agar bisa merealisasikan target jumlah twin block itu, setidaknya mendekati. Salah satunya, dengan memanfaatkan lahan fasilitas sosial (fasos) di pelbagai perumahan atau kawasan lain yang diberikan oleh pengembang (developer) pada pemerintah untuk kemudian dibangun rusun.

”Fasos boleh digunakan untuk rusun yang disewa masyarakat dengan biaya murah, bisa dengan disubsidi,” kata Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Pemko Batam, Gintoyono Batong, Kamis (11/2).

Gagasan itu dinilai lebih realistis ketimbang terus mengharap lahan pada BP Batam namun tak kunjung terwujud. Bahkan, beberapa rusun juga telah dibangun Pemko Batam di lahan fasos yang diberikan oleh pengembang. Misalnya, kata dia, rusun di belakang Top 100 Tembesi yang berdiri di lahan seluas kurang lebih satu hektare (Ha).

”Juga rusun yang di Tanjunguncang dengan luas lahan kurang lebih sama, di sana itu sudah dipakai dan terisi (warga),” katanya.

Solusi pembangunan rusun untuk memindahkan warga ruli itu mesti dikebut oleh pemerintah. Pasalnya, jumlah warga yang tinggal di ruli tercatat terus meningkat saban tahun.

Menurut Gintoyono pada 2007 lalu, jumlah Kepala Keluarga (KK) yang menghuni ruli sekitar 42 ribu. Namun, beberapa pekan lalu, Wakil Wali Kota Batam, Muhammad Rudi sempat menyebut jumlah ruli di Batam sudah mencapai sekitar 150 ribu.

Jika tak kunjung ada solusi, bukan tak mungkin warga ruli lebih dominan ketimbang warga yang tinggal di rumah atau bangunan resmi.  (ian/rna/leo/cr13/cr18/cr20)

February 12, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: