Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

137 Mantan Gafatar Asal Kepri Dipulangkan

Jalani Karantina Tiga Hari di Asrama Haji Batam

BATAM (BP) – Sebanyak 137 eks pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Kepri dipulangkan dari Jakarta melalui Batam, Jumat (12/2/2016). Selanjutnya, 106 diantaranya akan menjalani karantina selama tiga hari di Asrama Haji Batam.

”Setelah dikarantina, mereka akan dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, Usman Ahmad yang didapuk sebagai ketua pertaubatan eks Gafatar asal Kepri ini, Jumat (12/2).

Kata Usman, proses karantina ini akan diawali dengan pertaubatan. Mekanismenya disesuaikan dengan agama masing-masing. Sebab, eks pengikut Gafatar asal Kepri ini memiliki latar belakang agama yang beragam. Rencananya, proses pertaubatan ini akan digelar hari ini, Sabtu (13/2).

”Tidak semuanya dari agama Islam. Yang sebelumnya beragama Nasrani juga ada,” katanya.

Proses pertaubatan ini, lanjut Usman, penting dilakukan. Karena organisasi Gafatar telah dinyatakan sesat. Sehingga para pengikutnya dianggap telah murtad, atau keluar dari ajaran agama semula. Sehingga mereka harus dikembalikan ke keyakinan sebelumnya.

”Karena ajaran Gafatar ini menggabungkan ajaran Islam, Kristen, dan Yahudi,” katanya.

Selain pertaubatan, selama tiga hari karantina para eks Gafatar akan mendapatkan pembekalan. Materinya beragam, mulai dari materi keagamaan, kenegaraan, dan lain sebagainya.

Setelah dikarantina dan dikembalikan ke daerah masing-masing, MUI Batam mengaku masih akan memantau para eks Gafatar itu. Khususnya eks Gafatar yang tinggal di Batam.

”Kami akan melihat perkembangannya di masyarakat nantinya,” kata Usman.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Batam, Zulkifli Aka mengatakan sebagian dari mantan anggota Gafatar telah dijemput keluarga sesaat sampai di Bandara Hang Nadim Batam. Dan hanya 106 orang yang diinapkan selama tiga hari di Asrama Haji Batam.

”Ada yang pulang mandiri. Namun 106 orang akan kita bina dan beri penyuluhan,” kata Zulkifli saat ditemui di Asrama Haji, kemarin malam.

Menurut dia, pembinaan dan penyuluhan dirasa sangat berguna untuk mengubah cara pandang para mantan anggota Gafatar. Apalagi semejak bergabung dengan Gafatar mereka tak pernah menjalankan ibadah dengan baik. Sehingga mereka tak punya keimanan yang kuat terhadap agama yang dianut.

”Kita akan selamatkan iman mereka. Kita akan ajak mereka untuk beribadah. Karena setahu kita, selama ini mereka tak pernah beribadah dan berpuasa. Nah, itulah yang akan kita luruskan,” tegas Zulkifli.

Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja, Pdt Albert Aritonang mengatakan pihaknya menunggu pendataan jumlah mantan anggota Gafatar yang menganut agama nasrani.

”Kita kembalikan ajaran seperti semestinya. Supaya kedepannya mereka tak menyimpang lagi,” terang Albert.

Sementara itu, Kabid Perlindungan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial Kepri ,Sulastri mengatakan pihaknya telah menyusun materi untuk 106 mantan anggota Gafatar selama tinggal di Asrama Haji. Dimana ada empat materi yang akan diberikan mulai dari materi Kemenag, Kesbangpol, Kejaksaan hingga Korem.

”Ada 4 materi, mulai agama, pertahanan hingga aspek hukum. Kita juga menyiapkan ruangan khusus untuk anak. Mereka bisa bermain, melukis dan bermain game,” terang Sulastri.

Menurut dia, setelah tiga hari, mantan anggota Gafatar akan diserahkan ke pemerintah dari daerah masing-masing.

”Tindaklanjut akan ditangani pemerintah daerah masing-masing anggota.  Merekalah yang lebih tahu. Tugas kita hanya menjemput dan membina mereka,” terang Sulastri.

Sulastri juga mengakui para mantan Gafatar mengajukan tiga tuntutan yakni jaminan kemanan jika mereka dikembalikan ke daerah asal dan tak mendapat intervensi dari warga sekitar, jaminan tempat tinggal karena mereka tak punya tempat tinggal lagi dan yang terakhir jaminanan biaya hidup.

”Mereka minta jaminan tersebut selama tiga bulan. Dan itu akan kita serahkan ke pemerintah masing-masing,” pungkas Sulastri.

Staf Teknik Asrama Haji Batam, Junaid mengaku pihaknya telah menyiapkan kamar untuk menampung eks Gafatar asal Kepri. Namun dari total 137 eks Gafatar yang dipulangkan, hanya 106 orang yang ditampung di Asrama Haji Batam, sisanya akan langsung dijemput keluarganya.

”Kami menyiapkan 15 kamar,” kata Junaid.

Sementara ke-137 eks Gafatar asal Kepri tiba di Bandara Hang Nadim Batam tadi malam sekitar pukul 18.50 WIB. Mereka naik pesawat Sriwijaya Air dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Kepala Kesbangpol Kota Batam Rudolph Napitupulu mengatakan proses pemulangan eks Gafatar ini dikawal oleh petugas dari Dinas Sosial Kepri, Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol) Kepri, Kemenag Kepri, Polda Kepri, serta Intel Korem 033/WP.

Dijelaskan Rudolf, setibanya di Batam warga eks Gafatar langsung menuju Asrama Haji Batam untu didata ulang. Rudolf mengakui, di Batam Gafatar resmi terdaftar di Kesbangpol Kota Batam pada tahun 2011 dengan nomor skt: 149/LSM-KESBANG/XI/2011. Organisasi ini beralamat di Jalan Hang Nadim Raya, Ruko Odessa Blok A-16 No. 12B Kelurahan Belian, Kecamatan Batamkota.

Kapolresta Barelang, Komisaris Besar Helmy Santika mengatakan kepolisian saat ini hanya bisa memantau dan mengawasi pergerakan eksGafatar.

”Dokumen yang ditemukan itu belum bisa mengarah ke tindak pidana. Tapi kita tetap mengawasinya,” kata Helmy, kemarin.

Camat Sekupang, Zurniati, mengaku pihaknya akan berkoordinasi dengan perangkat RT/RT untuk mengawasi eks Gafatar tersebut. Sebab dari 137 eks Gafatar yang dipulangkan ke Batam kemarin terdapat warga Sekupang. Zurniati tak ingin keberadaan eks Gafatar membuat masalah baru di wilayahnya. Sehingga perlu ada perjanjian tertulis.

”Tak bisa asal masuk, harus buat perjanjian dulu,” katanya.

Dalam perjanjian itu, kata Zurniati, akan diatur hal-hal yang beraitan dengan paham Gafatar. Misalnya, warga eks Gafatar tak boleh mengadakan kegiatan, di wilayah Sekupang khususnya, terutama kegiatan penyebaran paham Gafatar.

Zurniati mengatakan, nantinya ia akan meminta kepada perangkat RT/RW dan lurah memantau dan mengawasi para eks Gafatar ini. Bila eks Gafatar berbuat atau melanggar perjanjian yang disepakati, maka dirinya akan melakukan tindakan tegas.

Harta Benda Habis

Para eks Gafatar mengaku bingung bagaimana memulai hidup baru setelah dipulangkan pemerintah. Sebab, umumnya mereka telah menjual semua aset yang mereka milik sebelum memutuskan untuk bergabung dengan Gafatar dan pindah ke Kalimantan Barat.

Seperti yang diceritakan pasangan suami istri eks Gafatar, Sopanda dengan Etik Rusmiyati. Mereka mengaku sudah menjual semua barang yang dimiliknya. Termasuk satu unit rumah yang berdiri di atas tanah kaveling di bilangan Sagulung. Sehingga kini mereka tak punya apa-apa lagi di Batam.

”Kami jual semua dapat Rp 22 juta, sudah tak ada lagi sekarang (harta),” ujarnya.

Selama tinggal di Desa Limau Manis Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara Kalimantan Barat wanita 49 tahun tersebut mengaku damai. ”Dibanding di sini jauh, lebih enak di sana. Ada rasa kesal juga (dibawa pulang), orang-orang pada nangis kami tinggalin,” tuturnya.

Dia membantah jika Gafatar sesat. ”Sesatnya dimana? ibadah masing-masing,  Islam ya Islam, Kristen ya Kristen,” tambahnya.

Sementara itu sang suami, Sopanda mengatakan selama di Kalimantan Barat, mereka hidup dari bercocok tani. Sistemnya, semua anggota patungan seadanya untuk membeli tanah, dikelola bersama lalu hasilnya pun dinkmati bersama. ”Rp 10 juta kalau beli tanah ada dapat 3 hektare, kadang ada juga Rp 12 juta sampai Rp 13 juta. Kami damai hidup di sana,” ujar pria 68 tahun tersebut.

Keduanya mengaku ikut Gafatar lantaran rasa kebersamaan di organisasi tersebut tinggi. ”Kami dikenalin (pada Gafatar) oleh kawan. Kami suka sosialnya, kayak gotong royongnya itu,” katanya.

Sementara pihak keluarga eks Gafatar mengaku senang kini kerabatnya sudah kembali. Syamsul Anwar, 62, misalnya. Dia mengaku senang karena anak, menantu, dan tiga cucunya sudah kembali ke Batam.

”Senang sekali, harapan saya jangan lagi seperti ini. Aku takut terjadi apa-apa sama mereka,” ujarnya sambil menimang cucunya yang masih berumur 5 tahun, Arini.

Perihal anak serta menantunya ikut Gafatar, awalnya Syamsul tak tahu, hingga dia menelepon dan mendapat pengakuan bahwa mereka gabung Gafatar.

”Mereka bilang mau pulang kampung, karena suaminya pindah tugas,” katanya. (rng/she/ska/cr13)

February 14, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: