Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kini Nikah Sejenis Sangat Mudah di Indonesia

Ganti Kelamin Hanya Rp 1 Juta

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

SENIN 18 Februari tahun 2036, ketika sedang duduk minum kopi susu di rumah saya, di Santa Barbara County, California, Amerika Serikat, datang Choi Si Won.

pasangan_gay

Pasangan gay.

Sayangnya, kedatangan kawan akrab yang berasal dari Korea Selatan itu bukan membuat saya tertawa dan senang.

homo lesbi image 2

Pasangan sejenis melangsungkan pernikahan.

Kedatangannya kali ini, malah membuat dada saya sesak. Saya menjadi begitu jijik. Sosonya bagaikan seekor lintah, sangat memuakkan di mata saya.

‘’Tolong antarkan saya ke Jakarta. Saya ingin nikah dengan kawan sejenis saya, Kambiengaie Lee. Kami sudah lama pacaran. Sudah cocok satu sama lain. Kami ingin hubungan percintaan kami ini diresmikan dan disahkan secara hukum,’’ kata Choi Si Won.

‘’Lha apa-apaan ini? Kenapa kamu berkata demikian? Saya tidak akan antar kamu ke Indonesia,’’ sebut saya dengan sangat marah kepadanya.

Choi Si Won tanpa rasa bersalah malah membela diri. ‘’Lha memang begitu keadaan di Indonesia sekarang kan? Apa kamu sudah buta dengan informasi?’’ katanya tanpa beban dan tanpa rasa bersalah.

Lelaki ganteng berkulit putih itu menyebutkan, Amerika Serikat (AS) sejak Jumat 26 Juni 2015 melegalkan pernikahan sejenis.

Sebelumnya, sudah ada Belanda yang melegalkan hal serupa sejak tahun 2001 lalu, Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia (2009).

Namun itu dulu kata Choi Si Won. Sekarang roda berputar. Aturan sudah berubah. Indonesia dulu sangat anti dengan pernikahan sejenis antara lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Orang Indonesia dulu hanya tertawa ketika mendengar ada gerakan kaum intelektual, para artis, budayawan, birokrat, dan politisi yang mencoba memasukkan budaya LGBT, free seks, video porno, narkoba, pemakaian bikini, G-String, saling bunuh, free seks, pertentangan SARA, teror, miss world, miss universe di tengah masyarakat.

”Akh budaya-budaya asing itu tidak akan mungkin bisa menjadi budaya Indonesia, dan akan mengalahkan budaya Indonesi yang cinta norma agama, norma susila, penuh etika,” sebut sebagian besar bangsa Indonesia ketika itu sambil tertawa lepas dan menepuk dada bangga dengan budaya Indonesia yang terhormat.

Benarkan demikian jadinya? Tidak. Kebanggaan itu hanya sebentar saja. Dalam 20 tahun, sejak 2016 sampai 2036, kebanggaan dan budaya Indonesia yang katanya tidak suka dengan free sex, LGBT itu te;aj berubah.

Indonesia ternyata malah menjadi gudangnya pakar-pakar LGBT, free sex, tingkat dunia.

Keahlian orang Indonesia tentang LGBT, free sex, dan lainnya mengalahkan negara asalnya sepertinya Amerika Serikat (AS), Canada, Belanda, dan lainnya.

Kecerdasakan orang Indonesia tentang LGBT, free sex, dan lainnya malah menjadi referensi bagi dunia internasional.

Indonesia kini menjadi sorga bagi kaum LGBT. Pernikahan sejenis dibolehkan demi mendatangkan wisatawan mancanegara, dan menarik investor asing yang kebanyakan berperilaku dan mendukung LGBT.

Masih kata Choi Si Won, negara asing, negara yang saya tinggali ini (Amerika Serikat), yang kerap memberikan sumbangan dan bantuan dana ke Indonesia, telah berlaku sewenang-wenang.

Dengan kekuasaan dan uang, mereka menekan tokoh masyarakat, tokoh agama, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Wali Kota, Bupati, Gubernur, Menteri, bahkan Presiden Indonesia.

Kalau pemimpin bangsa tadi melawan, maka bantuan luar negeri dikurangi, di-stop. Kerja sama bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan apapun dihentikan. Produk Indonesia tidak boleh beredar di dunia internasional.

Pemimpin negara Indonesia diajak, sebenarnya dipaksa untuk melegalkan nikah sejenis, LGBT, free seks, video porno, narkoba, pemakaian bikini, G-String. Pembunuhan, free seks, pertentangan SARA, teror antar sesama dianggap sebagai dinamika kehidupan bermasyarakat.

Anak punk, pelacuran, lidah bibir telinga pusat dan kemaluan ditindik, seluruh badan ditato dianggap sebagai kenakalan remaja dan bukan dosa. Jadi dibiarkan saja. Kalaupun ada razia untuk mereka. Itu hanya temporer.

Kalaupun ada yang ditangkap saat razia, hukumannya cuma nasehat. Satu jam kemudian dilepas lagi. Tidak ada kesungguhan pemerintah dan tim terpadu menertibkan penyakit masyarakat ini.

Paham radikalisme dihidupkan dan dibiayai. Isu Suku Agama dan Antar Golongan (SARA) diangkat dan dihembus-hembuskan. Agama dipecah-pecah. Satu agama dibuat lima sampai sepuluh aliran. Aliran sesat.

Perbedaan agama dan suku diperuncing. Teror-teror diciptakan dan dibiayai. Akhirnya, hanya dengan satu kata saja, perang antara anak bangsa ini terjadi, dan kerap terjadi.

Kata Choi Si Won, awalnya, orang Indonesia menolak, marah, benci dengan budaya asing tersebut. Tidak satu jalan ke Roma. Orang asing sangat pintar. Mereka main uang.

Tokoh masyarakat, LSM, birokrat, politisi, mereka sogok. Diberi uang, dan perempuan, rumah, pekerjaan, dan mobil.

Jika masih ada yang menantang, tokoh masyarakat, LSM atau siapapun dibunuh. Dikarungi. Mayatnya dibiarkan tergelatak di tepi jalan. Tak tahu siapa pembunuhnya. Teror dan ketakutan diciptakan untuk meredam perlawanan masyarakat.

Perlahan-lahan, paham dan budaya itu terus dimasukkan ke dalam hati dan pikiran orang Indonesia, terutama generasi mudanya.

Budaya itu dimasukkan melalui tingkah lalu artis, pembawa acara TV diisi orang LGBT, penyiar TV orangnya lemah gemulai (gay).

Penyanyi, birokrat, tontonan di televisi, informasi di buku, video dan lainnya adalah orang LGBT dan berisikan paham LGBT.

Budaya ini semakin kental hadir di tengah masyarakat melalui iming-iming utang, bantuan dana, bantuan luar negeri, investasi, kerja sama luar negeri, pemilihan miss universe, miss world, dan lainnya.
.
.
.
Akibatnya, pelan tapi pasti keluar juga aturan Perda, Permen, Kepmen, Kepres, UU.

Semua itu melegalkan pernikahan sejenis, LGBT, free sex, video porno, pelacuran, minuman ber-alkohol, narkoba. Pemakaian bikini, G-String saat ajang miss universe dan miss world sudah normatif, tak ada yang aneh, dan tidak perlu dipertentangkan lagi.

Anak punk, lidah ~ bibir telinga pusat dan kemaluan ditindik, dan kebiasaan seluruh badan ditato tumbuh subur di jiwa generasi muda. Semua dianggap sebagai kenakalan remaja dan bukan dosa.

Pembunuhan, free sex, pertentangan SARA, teror antar sesama dianggap sebagai dinamika kehidupan bermasyarakat.

Koran, majalah, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, birokrat, politisi tidak lagi ragu menyebutkan mereka suka dengan LGBT. Mereka mengaku sebagai salah seorang dari penyuka LGBT tersebut.

Subhanallah.
.
~~~~~~~
.
Lesbian, perempuan suka dengan perempuan
.
Gay, happy, homo, lelaki suka dengan lelaki
.
Biseksual, seseorang yang suka dan bisa berhubungan dengan wanita dan pria sekaligus
.
Transgender adalah istilah yang dipakai buat orang yang cara berperilaku atau berpenampilan berbeda atau tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Lelaki bersikap seperti perempuan, perempuan bersikap seperti lelaki.
.
~~~~~~~
.
Ironinya, akan terasa ganjil jika orang Indonesia tidak menyukai
LGBT, free sex, video porno, aborsi, pelacuran, minuman ber-alkohol, narkoba, bikini, G-String, ajang miss universe dan miss world. Paham radikalisme, ajaran sesat ada dimana-mana dan dibiarkan saja.

Anak punk, lidah ~ bibir telinga pusat dan kemaluan ditindik, dan kebiasaan seluruh badan ditato harus dilakukan. Itu sebagai wujud identitas diri sebagai masyarakat modern. Semua serba bebas, serba boleh di negeri beradat itu (Indonesia).

Akibatnya, orang-orang asing banyak datang ke Indonesia. Alasannya macam-macam. Dari mulai jalan-jalan, travel, berinvestasi. Bahkan yang kini marak adalah datang untuk mengganti kelamin dari lelaki menjadi perempuan, dan sebaliknya. Indonesia surga bagi mereka.

Lalu, kenapa Choi Si Won ingin nikah sejenis di Indoesia? Alasannya sederhana saja. Murah. Cukup dengan uang Rp 500 ribu, buku nikah sudah didapat.

Kalau di Amerika Serikat, biayanya lebih mahal. Jadi, dia datang ke Indonesia untuk nikah, sekalian jalan-jalan.

Bukan hanya masalah nikah sejenis yang diobral oleh Choi Si Won. Dia juga menghina bangsa saya sangat cinta dengan bedah plastik. Ganti kelamin.

Menurut Choi Si Won, dulu di tahun 1986, memang ada seorang biksu perempuan meminta dokter Kim Seok-kwun, 61 tahun, melakukan bedah plastik, dan menganganti kelaminnya menjadi lelaki. Waktunya hanya 11 jam.

Dokter Kim adalah ahli bedah plastik di Rumah Sakit Dong-A University, bagian tenggara kota pelabuhan Busan, Korea Selatan.

Spesialisasinya semula adalah memperbaiki kelainan bentuk wajah.

Tapi kemudian ia malah dijuluki sebagai “bapak kaum transgender Korea Selatan”. Sepanjang 28 tahun berkarir, ia telah menangani 320 pasien untuk menjalani operasi perubahan alat kelamin. Dari jumlah itu, 210 operasi di antaranya mengubah pria menjadi perempuan.

Untuk perempuan yang ingin menjadi lelaki harus mengeluarkan biaya 10.210 dolar AS atau Rp 153.150.000 sampai 13.920 dolar AS atau Rp 208.800.000 dengan asumsi 1 dolar AS sekitar Rp 15.000.

Kemudian, untuk lelaki yang ingin menjadi perempuan harus mengeluarkan dana 28.760 dolar AS atau sekitar Rp 431.400.000. Itu dulu biaya pada Minggu 14 Februari 2016.

Kini, teknologi kedokteran Indonesia mengalahkan Korea Selatan dan Thailand dalam bidang bedah plastik. Terutama sekali dalam mengganti jenis kelamin dari lelaki ke perempuan, atau dari perempuan ke lelaki. Waktu operasi hanya 11 jam.

Soal biaya? Jangan ditanya. Sangat-sangat murah. Hanya memiliki Rp 1 juta saja, seseorang sudah bisa mengganti kelamin di negeri ini.

Jadi kalau ada uang Rp 2 juta. Maka hari ini anda jadi lelaki, lusa anda sudah bisa jadi perempuan. Mudah dan murah sekali. Malah, ketika menjelang Tahun Baru, dan hari besar, ada diskon besar untuk para pasien yang ingin operasi.

Informasi ini tersebar ke seluruh dunia tentang kecanggihan dunia kedokteradan Indonesia, dan murah dan cepatnya mengganti kelamin di negeri ini.
.
Waktu yang dibutuhkan dokter Indonesia adalah 1 jam saja. Sementara Thailand dan Korea Selatan butuh waktu 11 jam untuk operasi. Bayangkan. Betapa hebatnya dokter Indonesia.

Luar biasa, Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia mengalahkan gurunya di bidang bedah plastik, yaitu Korea Selatan, dan Thailand.

‘’Kamu jangan banyak cerita Choi Si Won. Tutup mulut bau-mu itu,’’ bentak saya kepada lelaki itu.

Bagi saya, kata-kata, dan informasi Choi Si Won sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Entah dengan dasar apa dia berkata seperti itu? Salahkah saya. Berdosakah saya selama ini dengannya?

Atau ada kesalahan satu orang Indonesia kepadanya, sehingga dia sedemikian marah dan mengeluarkan informasi buruk tentang negara saya.

Itu sangat menghina harga diri saya sebagai anak bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kami, orang Indonesia jangan dihina.

Informasi dan Teknologi (IT) kami boleh saja lemah dan kurang. Tapi jangan sekali-kali usik harga diri kami. Kami telah mengalami sejarah panjang nan patih. Selama 350 tahun kami mengusir penjajah dari negeri kami. Kami tidak takut siaapun, kami tidak takut mati demi harga diri, kehormatan, dan kemerdekaan.

‘’Diaaaaaaaaaaaam. Stop kamu bersuara. Saya sudah menganggap kamu bukan lagi sebagai kawan. Kamu adalah musuh saya. Putus hubungan persahabatan kita sampai disini,’’ papar saya marah, sekaligus sedih dengan penghinaan itu.

Choi Si Won saya usir dan saya maki-maki. Saya meminta dia untuk tidak lagi datang ke rumah saya. Hari itu adalah hari terakhir saya melihat wajah busuknya.

Terakhir saya mendapat informasi, Choi Si Won meninggal dunia karena Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS).

Syukurlah. Mati lah kamu Choi Si Won. Terkutuklah kamu tukang fitnah. Dajjal dunia. Tinggalah kamu nanti di dalam kerak neraka jahanam bersama setan dan iblis.

Keluarganya sempat mengirim SMS dan menelpon, namun saya terlanjur marah. Saya tidak datang ke pemakamannya.

Sebagai orang yang mengutamakan logika, musyarawarah, dan kenyataan. Saya akan datang besok ke Indonesia. Saya ingin melihat langsung bagaimana kondisi Indonesia saat ini. Saya ingin membuktikan bahwa informasi yang disampaikan Choi Si Won tidak benar adanya.

Senin 18 Februari 2036, menggunakan pesawat pertama, American Airlines, saya berangkat menuju Indonesia, tanah tumpah darah saya. Sejak Senin 15 Februari 2016, baru Senin 18 Februari 2036 saya datang lagi ke negeri tercinta.

Selama 20 tahun saya tinggalkan negeri kelahiran, merantau ke Amerika Serikat. Banyak suka, sedikit duka hidup di Amerika. Walaupun banyak suka, yang namanya Indonesia tetap saya cintai. Tidak akan terlupakan.

Membutuhkan waktu 30 jam untuk sampai ke Indonesia. Agak lama. Tak apa. Saya sudah lama merantau. Lama tidak melihat Indonesia dan merasakan segarnya udara di negeri tercinta.

Dari atas pesawat, saya melihat ke bawah melalui jendela. Hanya warna putih (awan) dan hijau (pegunungan) benua Amerika yang terlihat.

Hijau hutan benua Amerika dan segarnya udara saa itu, tidak bisa membendung marah saya kepada Choi Si Won. Saya berangkat dengan hati membara. Emosi. Saya sangat tidak percaya apa yang disebut oleh Choi Si Won. Negeri saya diburuk-burukkan.

Mata ini ingin membuktikan dan melihat langsung, bahwa bangsa Indonesia, masih menghormati agama, menjujung tinggi budaya dan susila, menghargai sopan santun, kebersamaan, musyawarah yang telah dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada Jumat 17 Agustus 1945 lalu.

Saya masih percaya kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, birokrat, politisi, dan aparat keamanan untuk menjaga norma agama, budaya, susila di negeri ini.

Baru 10 jam di pesawat, mata sudah mengantuk. Saya tertidur lelap. Ketika bangun, saya berhadap sudah berada di Bandara Soekarno Hatta.

Ketika itulah, akan saya buktikan bahwa ucapan Choi Si Won tidak betul. Itu hanya omong kosong dia semata. Sedikitpun saya tidak percaya dengan mulut busuknya itu.

Saya sangat cinta Indonesia, baik saya bangun maupun sedang tidur. Itu terbukti. Dalam tidur saya sempat berdoa.

”Ya Allah, tolong lindungi negeri saya. Tunjukkan pemimpin bangsa saya tentang kebenaran dan kesalahan. Tetapkan iman dan Islam itu selalu ada di hati dan pkiran saya, bangsa saya, dan keturunan kami sekarang dan nanti.”

Mendadak bahu saya digoncang-goncang oleh seorang pramugara. Rupanya saya tertidur sangat nyenyak.

”Pak Suprizal Tanjung’s Surau, bangun Pak Suprizal Tanjung’s Surau. Bangun. Kita sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta,” kata pramugara itu dengan kalimat sangat sopan namun dengan gaya yang sangat gemulai.

Hoek. Kenapa saya menjadi sangat jijik dan merasa mau muntah dengan pembawaan lelaki seperti itu kini? Ketika melangkah menyusuri jalan di dalam pesawat, lagi-lagi mata saya bersirobok dengan lelaki yang menatap saya dengan birahi. Lelaki itu lemah gemulai. Senyumnya membuat saya sakit perut.

Cepat-cepat saya melangkah keluar dari pesawat itu. Pusing kepala ini.
.
~~~~~~ bersambung ~~~~~
.
.
.
Batam, Minggu 15 Februari 2016
.
.
.
http://ningsihtobing.blogspot.co.id/…/murahnya-biaya-operas…
https://id.answers.yahoo.com/question/index…
http://news.liputan6.com/…/pernikahan-sesama-jenis-dilegalk…
https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Candu_Pertama
http://rozikinmuafa.lecture.ub.ac.id/…/hukum-waria-dalam-i…/
http://islamiwiki.blogspot.co.id/…/hadits-sodomi-terhadap-i…
https://ilmuislam2011.wordpress.com/…/tafsir-surat-al-baqa…/ http://rul-sq.blogspot.co.id/…/istri-sebagai-kebun-suami-ad… http://darussalam-online.com/etika-dan-adab-suami-istri-di…/
http://earning-news.blogspot.co.id/…/pulau-terpencil-trista…

 

 

 

 

gay

Pasangan gay. Foto ilustrasi.

February 14, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: