Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Batam Cocok Jadi Kawasan Industri Penerbangan

SINGAPURA (BP) – Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perawatan dan Pemeliharaan Pesawat Terbang Indonesia (IAMSA), Richard Budihadianto, menilai Batam sangat cocok untuk dijadikan kawasan industri penerbangan terpadu (Aerospace Park) nasional dan kawasan Asia Pasifik. Selain Batam, Bintan dan Karimun juga dianggap memiliki potensi sama besar untuk industri ini.

Richard mengatakan, saat ini sekitar 70 persen pesawat terbang nasional dirawat dan dipelihara di Singapura.

”Indonesia ingin pasar itu ada di Tanah Air,” kata Richard di sela Singapore Air Show 2016, di Changi, Singapura, Kamis (18/2) lalu.

Pria yang juga Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility ini menyatakan Batam, Bintan, dan Karimun memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan Aerospace Park.

”Pak Habibie menyatakan dulu, nilai bisnis perawatan dan pemeliharaan pesawat terbang itu 10 kali lipat ketimbang nilai pesawat terbangnya semata,” katanya.

Padahal Indonesia, kata dia, memiliki peluang besar untuk berkiprah secara signifikan dalam bisnis ini di kawasan karena beberapa hal. Di antaranya jumlah dan kualitas SDM Indonesia yang berkiprah di bidang ini cukup besar.

“Kita perlu kapasitas dan kapabilitas untuk menyerap yang 70 persen ini. Menyangkut infrastruktur dan didukung undang-undang dan peraturan yang berlaku untuk itu. Kami sudah bicarakan hal ini dengan pemerintah agar segera menentukan kawasan industri penerbangan terpadu alias Aerospace Park,” kata dia.

Kata “terpadu”, menurut dia, sangat penting karena semua aspek industri penerbangan ada di sana. Mulai dari industri komponen, pemeliharaan dan perawatan, pusat pelatihan, pusat logistik, riset dan pengembangan, dan pabrik pesawat terbangnya sekalian.

Pemerintah juga diuntungkan dengan ada Aerospace Park ini. “Pengawasan ekspor-impor jadi mudah dan lain sebagainya,” kata dia.

Akan tetapi, kawasan ini harus diberi sejumlah perlakuan khusus, terutama tentang kemudahan birokrasi dan insentif pajak dan lahan. Praktik seperti ini lumrah terjadi di dunia penerbangan internasional.

Dia mencontohkan Singapura, Malaysia, Thailand, dan bahkan Filipina yang telah memiliki kawasan khusus itu. Namun Indonesia sebagai “negara senior” di bidang penerbangan di ASEAN justru belum punya.

Bintan, Batam, dan Karimun itu berposisi sangat dekat dengan Singapura yang terlanjur menjadi pusat keunggulan di industri penerbangan kawasan. Hampir semua industri penerbangan dunia atau yang terkait memiliki perwakilan tetap di Singapura.

“Saya kira ini peluang yang harus kita ambil. Logistik yang paling lengkap ada di Singapura. Kalau kami dekat dengan dia akan lebih mudah, lagi pula di sana mulai ada keterbatasan lahan, jumlah SDM, dan harga yang tinggi,” katanya.

Indonesia, katanya, bisa bekerja sama dengan Singapura tentang ini.

“Paling tidak, sebagian pekerjaan bisa dikerjakan di Bintan, yang memang kawasan industrinya sudah berstandar dunia,” kata dia. (antara) 

February 21, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: