Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Orang Palestina Kuasai Bahasa Indonesia

Masyarakat Palestina Akrab dengan kata Indonesia

Siang itu, Sabtu (20/9/2014), rombongan delegasi DPR baru saja tiba di Tepi Barat, Palestina dari Yordania, melalui King Husein Bridge (versi Yordania) atau Allenby Bridge (versi Israel). Meski wilayah Palestina, penjagaan perbatasan dan pemeriksaan keimigrasian dilakukan sepenuhnya oleh Israel.

Setelah melalui serangkaian proses pemeriksaan dokumen dan barang selama 2 jam, rombongan keluar dari bangunan itu. Di pintu keluar seorang pria Arab berperawakan besar, berkulit putih dengan hidung mancung, berkacamata serta rambut tipis agak botak sudah menunggu.

“Dari Indonesia? Ahlan wasahlan! Selamat Datang! Apakah semua sudah berkumpul?” ujar pria yang belakangan memperkenalkan dirinya bernama Firaz Badran.

“Kalau sudah, ayo Bapak Ibu, selamat datang di Palestina! Mari ikut saya ke bus,” tambahnya. Kami lalu menggikuti langkahnya menuju bus.

Firaz adalah salah satu warga Palestina di Tepi Barat yang fasih berbahasa Indonesia. Semula kami tak terkejut dengan kosakata bahasa Indonesia yang diucapkan Firaz. Dugaan kami, hanya kosakata itu yang mampu dituturkannya. Namun di dalam bus selama perjalanan hingga rombongan meninggalkan Tepi Barat keesokan harinya, Firaz benar-benar menunjukkan dirinya sebagai salah satu dari sekian warga Palestina yang mampu berbahasa Indonesia.

Dia mampu menjelaskan panjang lebar soal sejarah Islam, sejarah para nabi, sejarah Al Aqsha, hingga konflik Palestina-Israel. Bagi Firaz, Indonesia memang tak asing di telinga orang Palestina. Selain karena hubungan historis, seringnya bantuan dari masyarakat Indonesia dan juga keberadaan RS Indonesia di Gaza membuat masyarakat Palestina makin akrab dengan kata ‘Indonesia’.

Saat berbincang dengan detikcom, Firaz mengungkapkan kecintaannya kepada Indonesia. Bagi pria yang sama sekali belum ke Indonesia ini, nama Indonesia sangat melekat di warga Palestina. Ungkapan Firaz sepertinya benar. Saat rombongan mampir di Mount of Temptation, kota Jericho yang berjarak sekitar 40 menit dari Ramallah, beberapa warga terdengar fasih mengajak bicara anggota rombongan dengan bahasa Indonesia. Mereka menjajakan souvenir dengan bahasa Indonesia.

Suasana keakraban berbahasa Indonesia yang sama juga dialami saat rombongan tiba di kota tua (old city) Yerusalem, tepatnya di kompleks Al Aqsha. Anak-anak kecil dan remaja Palestina sedang asyik bermain bola di lapangan kecil, persis di halaman samping Masjid Kubah Kuning Al Aqsha. Beberapa anak kecil menyapa rombongan yang baru tiba.

“Assalaamualaikum…apa kabar? Indonesia,” teriak beberapa anak itu sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Menurut Firaz, orang Indonesia tidak banyak yang berziarah ke Al Aqsha. Setahun, muslim Indonesia yang ziarah ke Al Aqsha sekitar 10 ribu orang. Sementara umat nasrani Indonesia mencapai 300 ribu orang. Sedikitnya umat muslim yang ziarah ke Al Aqsha, menurut Firaz, karena ketatnya kontrol Israel yang cenderung menyulitkan dan penuh kecurigaan.

“Padahal Al Aqsha adalah tanah suci umat Islam sedunia, setelah Makkah dan Madinah. Al Aqsha adalah kiblat pertama. Masjid suci setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi,” tutur pria yang dilahirkan di Yerusalem 35 tahun lalu ini.

Firaz menuturkan, ketertarikannya menguasai bahasa Indonesia karena banyak muslim Indonesia yang datang ke Al Aqsha tapi salah faham soal sejarah Islam di Palestina dan Al Aqsha lantaran ketidakmampuan mereka memahami bahasa Inggris, apalagi bahasa Arab.

“Pertama kali, karena saya bawa banyak orang Indonesia yang tua-tua. Saya mau mereka mengerti sejarah di Al Aqsha, tapi mereka tidak mengerti apa-apa karena saya dalam bahasa Inggris. Menyedihkan,” kata pria yang mengaku menguasai 5 bahasa dunia ini.

Tidak hanya Firaz, di Yordania, pemandu rombongan bernama Mazdi (35) juga sangat fasih berbahasa Indonesia. Berbeda dengan Firaz, Mazdi sempat mempelajari bahasa Indonesia selama dua bulan di Yogyakarta. Pria berdarah Yordania-Palestina ini sudah sering berkunjung ke Indonesia. Bagi dia, muslim Indonesia sangat moderat dan mempunyai solidaritas tinggi terhadap rakyat Palestina. Mazdi punya cukup alasan atas pemikirannya itu. Meski tinggal di Yordania, negara yang bersebelahan dengan Palestina, Mazdi tidak pernah mendapat visa dari Israel untuk mengunjungi keluarganya di Yerusalem. Ayah Mazdi asli Yordania, sementara ibunya berasal dari Yerusalem. 70 Persen rakyat Yordania berasal dari Palestina.

“Sejak lahir, seumur hidup saya tidak pernah diizinkan masuk Palestina. Saya ingin sekali salat di Al Aqsha. Israel memang takut dengan pemuda-pemuda Arab yang ingin masuk ke Yerusalem. Sementara saya dengan mudah ke Indonesia,” tuturnya. (rmd/gah)

http://news.detik.com/berita/2697579/ketika-bahasa-indonesia-tak-lagi-asing-di-palestina

February 28, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: