Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Ahmad Dahlan Takkan Terjun Lagi ke Dunia Politik

Hari Terakhir sebagai Wali Kota Batam

Senin (29/2/2016) ini merupakan hari terakhir Ahmad Dahlan sebagai wali kota Batam. Ia mengemban jabatan itu sejak 10 tahun lalu, dengan dua pendamping berbeda. Apa saja, dan bagaimana Dahlan akan bersikap selepas tak menjabat?

RATNA IRTATIK, Batam

Mata Dahlan sembab, meskipun bibirnya terus menyunggingkan senyum. Ia duduk bersandar di kursi sofa, sambil sesekali merapikan peci hitam di kepalanya. Dahlan menarik napas dalam sebelum bersuara.

”Apa kabar, mau tanya apa?” parau, suara serak Dahlan menyambut wartawan yang mengerumuninya.

Hari itu, Jumat (26/2/2016) sore, Dahlan baru saja usai memimpin rapat yang dihadiri kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) berikut kepala badan, kepala bagian, dan kepala seksi di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Momen itu adalah rapat SKPD terakhir yang ia pimpin.

Tak heran, suasana rapat yang dipusatkan di lantai 4 Kantor Wali Kota Batam di Batamcenter itu berlangsung haru. Ketika rapat pengarahan berakhir, pertemuan ganti diisi dengan testimoni dan harapan dari beberapa kepala dinas yang akan melepas purna tugas sang Wali Kota dua periode tersebut.

Bahkan, ada beberapa kepala dinas yang menangis tersedu saat menyampaikan pesan dan kesannya.
Suasana itu sepertinya turut mengaduk-aduk perasaan Dahlan, membuat matanya berkaca-kaca sepanjang wawancara.

“Saya tidak menyangka saja (mendapat testimoni dari peserta rapat), tapi ya mungkin wajar karena 10 tahun kami bekerja bersama,” ujar Dahlan, menjelaskan momen perpisahan tak resmi dengan para bawahannya tersebut.

Masa jabatan Ahmad Dahlan sebagai Wali Kota Batam akan resmi berakhir terhitung pada 1 Maret, besok. Dahlan telah menduduki kursi nomor wahid di Pemko Batam sejak 1 Maret 2006 lalu, kala itu ia berpasangan dengan Ria Saptarika sebagai wakilnya. Kepemimpinan Dahlan berlanjut pada periode kedua, yang dimulai pada 1 Maret 2011 silam bersama wakilnya, Muhammad Rudi, yang kini jadi Wali Kota Batam terpilih pada Pilkada serentak, 9 Desember 2015 lalu. Hari ini (29/2/2016), adalah hari terakhir ia menjabat sebagai Wali Kota Batam.

Selama 10 tahun masa kepemimpinannya, tak bisa dipungkiri Batam telah banyak mengalami perubahan. Sebagai kota industri yang diberi pelbagai fasilitas dan kemudahan investasi oleh pemerintah pusat, laju pertumbuhan Batam juga tak bisa dibilang buruk. Infrastruktur berkembang, ekonomi dan investasi tumbuh terjaga, serta tatanan sosial kemasyarakatan yang mulai tertib dan teratur.

“Dinamikanya tinggi, tapi secara keseluruhan Batam ini tenang dan damai, tetap jadi incaran pencari kerja, dan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Dahlan, merangkum kilasan 10 tahun masa kepemimpinannya.

Penyandang gelar doktor dari Universitas Malaya, Malasyia itu tak menampik banyak persoalan di Batam. Antara lain terkait tingginya arus pendatang ke Batam dari pelbagai daerah lain di Indonesia. Di sisi lain, jumlah lapangan kerja yang tersedia makin menipis.

Belum lagi, persoalan infrastruktur, terutama terkait dengan penyediaan layanan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, air, listrik dan sebagainya. Tak hanya itu, fasilitas penunjang lainnya seperti layanan kesehatan dan pendidikan juga wajib disediakan.  Kondisi itu, kata Dahlan, menuntut langkah cepat pemerintah daerah untuk mengatasinya.

“Kita tidak boleh tertinggal, dan kita yang harus memikirkan semuanya agar terpenuhi. Tapi alhamdulillah, rata-rata kebutuhan itu bisa terpenuhi untuk masyarakat,” katanya.

Tantangan lain, sambung Dahlan, ia juga mengaku harus memikirkan agar Batam tetap jadi destinasi investasi yang menarik. Pasalnya, Batam telah ditetapkan sebagai kota industri yang digadang jadi andalan Indonesia untuk menggenjot ekonomi, terutama di wilayah barat. Begitu juga dari sisi perdagangan.

“Batam memang dirancang agar bisa menyerupai Singapura, sebagai daerah perdagangan dan jasa yang ramai,” paparnya.

Selain itu, Batam juga mesti bersolek agar jadi penggaet wisatawan mancanegara (wisman) terbanyak se-Indonesia, yang saat ini posisinya hanya kalah dibanding Bali dan Jakarta.

“Tiga bidang, industri, perdagangan dan pariwisata itu sebetulnya berhasil, tapi yang belum hanya satu, yaitu transhipment atau alih muat kapal,” ungkap mantan Kepala Biro Humas dan Pemasaran Otorita (kini BP Batam) tersebut.

Menurut dia, posisi Batam yang berada di jalur pelayaran strategis internasional belum dapat digarap maksimal. Keterbatasan kapasitas pelabuhan dan infrastruktur penunjang lainnya membuat transhipment Batam masih kalah jauh dibanding negara tetangga, Singapura yang telah menggarap sektor menggiurkan itu sejak puluhan tahun silam. Alhasil, mimpi Batam jadi kota transhipment yang besar dan ramai masih harus ditunda.

“Itu yang belum terwujud, masih jadi salah satu tugas Wali Kota berikutnya,” kata Dahlan.

Ia juga menitip pesan, agar rencana pembangunan pelabuhan bongkar muat (container port) di Batam bisa diwujudkan dengan menggandeng Negeri Singa. Pasalnya, selama ini ada indikasi Singapura turut cawe-cawe menghambat pembangunan fasilitas bongkar muat skala internasional tersebut di Batam.

“Evergreen asal Taiwan batal karena Singapura banting harga, begitu juga CMA-CGM asal Perancis yang sepertinya sudah mau setuju tapi akhirnya tak jadi juga. Makanya, sebaiknya gandeng saja Singapura,” Dahlan menganjurkan.

Ke depan, kata Dahlan, meski tak lagi berada di pemerintahan namun dirinya mengaku terbuka jika ada yang ingin mengajak diskusi, berkonsultasi atau meminta nasehatnya untuk turut mewarnai pembangunan Batam.

“Tentu saja, karena membangun Batam kan bisa dengan berbagai cara, salah satunya turut memberikan masukan dan saran agar Batam lebih baik ke depan,” kata suami Mariana Djohan itu.

Dahlan juga menyatakan, selepas tak lagi jadi Wali Kota, ia ingin terus berkontribusi dan menyumbangkan ilmu serta pengetahuannya bagi masyarakat luas. Di antaranya, dengan jadi pengajar atau dosen.

“Saya ngajar S2 (magister) di Uniba (Universitas Putera Batam), tapi Unrika (Universitas Riau Kepulauan) juga minta (dia jadi dosen),” ungkap pria yang hobi membaca tersebut.

Disinggung peluang untuk kembali terjun ke politik yang telah mengantarkan namanya berkibar, Dahlan menepis. Begitu juga, ketika ditanya peluang dirinya masuk lagi ke pemerintahan dan lembaga lain sejenis, Dahlan menampik.

“Saya tidak akan terjun ke politik lagi, meskipun saya masih di partai tapi saya tidak jadi ketua partai lagi, toh, pengabdian ke masyarakat tidak harus melalui lembaga struktural,” argumen Dahlan.

Tak lupa, Dahlan juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih pada semua pihak yang telah bekerjasama dengannya dalam mengawal pembangunan Batam selama 10 tahun terakhir.

“Juga kepada masyarakat, terimakasih dan mari kita jaga Batam kita ini makin maju dan bagus ke depannya,” tutpnya. ***

February 29, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: