Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Melihat Perayaan Imlek di Maha Vihara Duta Maitreya Batam

Sediakan 30.000 Porsi Makanan Vegetarian Gratis

Ini tahun ke-9 Vihara Maitreya menggelar jamuan makan vegetarian gratis. Aturannya sederhana: makanan yang sudah diambil harus dihabiskan.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Barisan mobil yang mengular di ujung Jalan Bukit Beruntung, Batamcenter itu menimbulkan tanya di benak Ainul, Senin (8/2/2016) siang itu. Perempuan yang tengah mengemudikan sepeda motor itu melongokkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari sumber kemacetan.

Puluhan mobil tersebut ternyata mengantre masuk ke gerbang satu bangunan besar di kiri jalan. Maha Vihara Duta Maitreya nama bangunan itu. Ainul melaju di samping kiri antrean. Ia ikut masuk ke dalam gerbang vihara dan memarkirkan kendaraannya di kelompok kendaraan roda dua.

Perempuan muda itu mengikuti rasa penasarannya. Ia melangkahkan kakinya memasuki kompleks vihara. Di sana, kelompok-kelompok manusia telah berjejal.

Sebagian mereka berjalan hilir mudik di sekitar ruangan altar sembahyang. Di dalam altar tersebut sejumlah umat tengah berdoa.

Pandangan Ainul kemudian tertuju pada sebuah ruangan besar di tengah vihara. Nama ruangan itu, Ariya Maitreya Vegetarian Restaurant.

Teras depan resto vegetarian itu telah penuh dengan manusia. Sebagian besar mengenakan busana berwarna merah. Suasananya ramai, seperti lebah-lebah yang tengah berada di sarangnya.

”Ternyata ada jamuan makan vegetarian. Karena sudah di sini, ya saya coba makan juga,” kata Ainul.

Maha Vihara Duta Maitreya memang tengah menggelar jamuan makan, Senin (8/2) itu. Acara ini telah menjadi tradisi tahunan ketika Hari Raya Imlek tiba. Tahun ini menjadi tahun kesembilan.

”Ini bentuk rasa syukur Vihara Maitreya atas berkah Tuhan,” kata Alvin Oei, Humas Vihara Duta Maitreya.

Jamuan ini terbuka untuk siapa saja. Tua muda, besar kecil, perempuan ataupun laki-laki. Serta tidak memandang suku maupun agama.

Makanya, dalam jamuan makan itu, tidak hanya etnis Tionghoa yang tengah merayakan Imlek saja yang nampak. Tetapi juga masyarakat pribumi. Mereka sama-sama mengantre ketika mengambil makanan.

***

Panitia jamuan makan menyediakan dua ruangan untuk mengambil makanan. Dua meja prasmanan di ruangan pertama. Dan lima meja prasmanan di ruangan kedua. Ruangan kedua inilah yang menempati lokasi Resto Vegetarian Ariya Maitreya.

Panitia telah menyiapkan piring rotan yang telah dialasi kertas nasi sebagai alas makanan dan sendok di bagian depan meja prasmanan.

Lalu berturut-turut, pengunjung mendapati nasi putih, sayur, dan lauk-pauk. Menu sayur dan lauk yang dihadirkan beragam. Beberapa contohnya, kari kentang, tumis sawi, ikan masak tauco, semur tahu, kering tempe, ikan sambal pedas, juga ikan sambal hijau.

Begitu beragamnya menu yang disajikan, Kepala Chef A Kun tak bisa mengingatnya. Di dalam dapur yang sibuk dan panas di bagian belakang restoran itu, Akun menginstruksikan seluruh tukang masak untuk memasak bahan yang ada.

”Istilahnya, masak sampai habis,” kata pria yang telah berusia 68 tahun itu dengan tegas.

A Kun selalu menjadi Kepala Chef dalam acara jamuan makan Imlek di vihara tersebut. Ia tak pernah menghitung berapa banyak bahan makanan yang telah dihabiskan dalam sekali acara tersebut.
Namun ia memastikan, setiap tahun pasti ada penambahan jumlah bahan makanan. Yang artinya, akan ada penambahan jumlah porsi makanan. Tahun ini, Vihara menargetkan menyediakan 30.000 porsi makan.

”Kalau beras, hitungannya sudah ton-ton-an,” ujar pria yang seluruh rambutnya telah memutih itu.

Akun tidak sendiri dalam menyiapkan makanan-makanan tersebut. Ia dibantu banyak relawan. Sebagian besar relawan itu umat Vihara Duta Maitreya. Mereka mulai memasak pada pukul 06.00 WIB. Tapi persiapan sudah dilakukan di malam sebelumnya.

”Supaya hidangan bisa disajikan pukul 08.00 WIB,” ujarnya.

Jamuan makan gratis ini berlangsung selama 12 jam hingga pukul 20.00 WIB. Humas Vihara Alvin Oei mempersilakan seluruh masyarakat untuk datang dan menyantap makanan.

”Mau makan berapa kali pun boleh asal makanan itu dihabiskan,” ujar Alvin.

Peraturan itu bukan saja disampaikan secara lisan melalui pengeras suara yang dipasang di sudut-sudut vihara. Tetapi juga ditempel di setiap meja makan yang tersebar mengelilingi dua ruang makan tadi.

Alvin mengatakan, jamuan makan ini sekaligus menjadi edukasi bagi masyarakat untuk lebih menghargai makanan. Bahwa masih ada manusia di belahan bumi lainnya yang kelaparan. Membuang nasi sama saja dengan membuang rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan.

”Jadi sebenarnya, makan itu secukupnya saja,” ujarnya.

***

Semua menu yang disajikan dalam acara jamuan makan Imlek itu menu vegetarian. Artinya, menu itu tidak memasukkan unsur bahan makanan yang disembelih atau dibunuh. Juga tidak menyertakan bawang sebagai bumbunya.

”Kami pakai semua bumbu, seperti masakan-masakan biasanya. Hanya saja, selain bawang,” kata A Kun, Kepala Chef Jamuan Makan Imlek.

Hal yang sama juga diakui A Huo, koki pao syukur. Ia tidak menggunakan telur dalam adonan paonya. Adonan itu hanya terbuat dari terigu, gula, dan pengembang kue.

”Telur sebenarnya boleh dalam vegetarian tapi kami memang tidak memakainya,” kata pria bernama lengkap Min Hao ini. Setiap tahun, A Huo diberi tanggung-jawab membuat pao ini. Tahun ini, ia membuat 15.000 pao.

Rasanya bermacam-macam. Ada rasa cokelat, kacang hijau, kacang merah, juga kelapa. A Huo mengaku membuat kudapan ini sejak sebulan lalu. Ia kemudian menyimpannya di dalam kulkas. Nah, baru di hari H, kue itu cukup dipanaskan dengan cara dikukus.

A Huo memiliki kukusan raksasa. Kukusan itu dapat memuat 200 lebih pao dalam sekali masak. Kukusan itu bertingkat lima.

”Kalau kue pao ini dibuat ketika hari H ini, ah, tidak akan bisa. Lihat saja banyak yang mengantri begini,” kata A Huo.

Pao ini menjadi kudapan yang tidak pernah absen dalam jamuan makan Imlek. Pao buatan A Huo hanya sebesar kepalan tangan. Bentuknya segitiga yang gendut. Warna pink berada di bagian punuknya.

”Pao ini dibentuk seperti buah persik. Ini buah dari langit yang menjadi simbol keberkahan,” kata Alvin Oei, Humas Vihara.

Pao ini banyak diminati masyarakat. Buktinya, sudut pao ini selalu dipadati masyarakat. Panitia membagikan dua pao untuk setiap orang.

Dua itu berarti ganda. Maknanya, supaya keberkahan menjadi berlipat ganda. ”Untuk yang memberi dan juga yang menerima,” kata Alvin.

***

Jamuan makan itu sepertinya akan terus berlanjut di tahun-tahun yang akan datang. Beginilah cara Vihara Duta Maitreya merayakan Imlek. Imlek memang harus dimaknai dengan cara bersyukur.
Dalam acara ini, Vihara juga melibatkan sejumlah umat sebagai relawan. Tugas mereka bermacam-macam. Ada yang bertugas mengantar makanan, memasak, hingga membersihkan piring dan gelas air mineral yang telah kosong.

Ribuan umat itu sejatinya datang dengan pakaian rapi dan berdandan. Namun mereka rela berpeluh demi membantu melayani.

”Menjadi kebahagiaan bagi saya juga bisa membantu di sini,” kata Suryati yang baru saja selesai sembahyang Imlek.

Pandita Taslim dan Pandita Wiracandra berharap, Imlek tahun ini dapat membawa kesehatan, kedamaian, dan kesuksesan bagi semua umat. Terutama bagi negara Indonesia.

”Pandita Taslim dan Pandita Wiracandra ikut mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2567,” pungkas Alvin Oei. ***

February 29, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: