Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Rosnah, Vokalis Grup Band Melayu Pancaran Senja Batam

Punya 14 Cucu, Sanggup Bernyanyi 3 Hari 2 Malam

Seperti nama grup band itu, Pancaran Senja. Rosma, sang vokalis, tetap mampu memancarkan pesonanya meski usianya sudah senja.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Biduanita itu berlenggak-lenggok di atas bale-bale bambu di Pantai Melayu, Batubesar. Sepasang matanya terlindung kacamata hitam nan besar. Sementara tubuhnya terbalut gamis panjang berwarna hijau-kuning terang. Warna yang sama untuk hijab yang membungkus kepalanya.

Hanya ia yang berdiri di bale-bale itu. Di belakangnya para pria duduk sambil memainkan alat musik. Bass, gitar, biola, accordion, drum, gong, hingga kencrengan. Alat musiknya sendiri telah tertanam di dalam tubuhnya: pita suara.

Ia menggenggam mikrofon dengan tangan kanan. Bukan untuk menyanyi saja, tetapi juga berbincang dengan pengunjung-baik yang dekat maupun yang jauh. Supaya yang jauh mendekat dan yang dekat merapat.

”Kami ini kan diundang untuk memeriahkan acara. Kalau tak ada yang ikut berjoget, tak meriah acara itu,” katanya.

Rosnah nama biduanita itu. Ia vokalis tetap grup band melayu Pancaran Senja. Band itu biasa bermain secara marathon hingga 3 hari 2 malam. Ia mampu mengikutinya tanpa serak. Sekalipun usianya sudah 55 tahun.

***

Wanita kelahiran Daik, Kabupaten Lingga itu tergopoh-gopoh membukakan pintu rumahnya di RT 001 RW 001 Kavling Senjulung, Kabil, siang itu.

Ia masih membenahi kerudungnya setelah mempersilakan tamunya masuk dan duduk. Ia ikut duduk sejenak sebelum kemudian bangkit lagi membereskan barang-barang di atas meja tamu.

”Ah.. anak-anak ini baru siap melukis semalam,” katanya sambil mengangkat kertas-kertas sketsa itu menjauh.

Di rumah bercat hijau tua itu Rosnah tinggal bersama lima anak dan seorang cucu. Suaminya, Aminan, sudah lama meninggal – sejak 1999 silam. Jadilah ia melihat perkembangan 12 anaknya seorang diri. Kini, ia memiliki 14 cucu dan 2 cicit.

”Satu anak sudah meninggal,” ujarnya.

Rosnah memang tak bisa lagi dibilang muda. Namun, jiwa entertain-nya masih ada. Maklum, ia sudah melakoni pekerjaan menyanyi itu sejak muda. Lebih tepatnya, sejak ia menjadi istri Aminan.

Aminan memang seorang pemusik. Ia pemain gitar gambus, zapin, dan qasidah. Ia sering diundang main dalam acara-acara kawinan dan keramaian lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Rosnah seringkali ikut menyumbangkan suaranya.

”Kadang kalau memang diundangnya berdua ya main berdua. Bapak gitar, saya nyanyi,” ujarnya.

Lokasi bernyanyi tak melulu di Lingga. Keduanya juga sering bermain di Malaysia. Sebab, di sana mereka punya banyak kerabat. Bermain di Batam juga beberapa kali.

Rosnah waktu itu masih tinggal di Daik, Lingga. Ia resmi pindah ke Batam pada tahun 2005. Ia menempati sebuah rumah di daerah Punggur Dalam.

Di sana, ia sempat menjadi guru mengaji. Hingga kemudian pindah rumah ke Kavling Senjulung, ia tak lagi menjadi guru mengaji. Ia murni mengurus rumah, anak, dan cucu.

”Tapi kalau ada acara kawinan, saya biasa nyanyi,” ujarnya.

Kebiasaan menyanyi di acara-acara pesta itulah yang kemudian mempertemukan Rosnah dengan Grup Band Melayu Pancaran Senja. Adalah Marni, puteri Rahman – pendiri Pancaran Senja, yang mengajak Rosnah bergabung. Waktu itu, Pancaran Senja memang tengah mencari vokalis.

Vokalis-vokalis wanita sebelumnya tak pernah lama bergabung dengan grup itu. Masalahnya, asmara. Ada yang cemburu.

”Nah, kalau Bu Ros ini kan, maaf ya, sudah tidak ada suami. Anak-anaknya pun mendukung kegiatannya ini,” tutur Marni.

Lagipula, kemampuan Rosnah dalam olah vokal terbilang mumpuni. Ia menguasai banyak lagu Melayu. Saat ini saja, ia mengaku sudah hafal 90 lagu Melayu. Apakah itu jenis musik joget ataupun slowrock.

Rosnah akhirnya pun menyanggupi pada tahun 2010, tak lama setelah grup band itu muncul. Bergabung dengan sebuah grup band mampu membangkitkan memori lamanya. Ia dapat menyalurkan hobi bernyanyi, mendapat kawan baru, sekaligus dapat menghibur orang banyak.

Meski terbilang terlambat masuk, Rosnah mudah beradaptasi dengan anggota grup yang semuanya laki-laki itu. Mungkin ini bawaan usia. Semua anggota grup musik tradisional Melayu itu memang tak lagi muda.

”Makanya, namanya itu ‘Pancaran Senja’. Yang senja-senja itulah yang memancarkan cahaya,” tutur Rosnah.

Grup Pancaran Senja berlatih sekali seminggu. Yakni, setiap Selasa malam. Kalau sudah dekat dengan waktu tampil, mereka akan menambah jadwal latihan menjadi dua kali seminggu.

Mereka berlatih di kediaman Rahman di Kampung Tua Pantai Melayu, Batubesar. Seluruh alat musik dan soundsystem telah menunggu di rumah itu. Mereka bisa saja berlatih lagu baru atau mengulang lagu yang lama.

Setiap kali latihan, Rosnah biasa dijemput Anwar-suami Marni. Anwar juga ikut dalam grup band itu. Ia sebagai pengisi vokal pria sekaligus juga pemantun. Anwar juga menjadi teman duet Rosnah.

Rosnah akan kembali ke rumah saat tengah malam. Kalau sedang ada pesta tiga hari dua malam, berturut-turut ia akan pulang malam. Sering, hal ini menjadi bahan gunjingan masyarakat. Terutama yang tidak suka dan tidak tahu apa yang sebenarnya Rosnah lakukan. Sempat Rosnah merasa tertekan dengan gunjingan itu.

”Ya saya bilang saja sama Mak Rosnah, ‘kan memang tak berbuat sesuatu yang memalukan, kenapa harus takut?’” timpal Marni.

Lambat laun, wanita yang menjuarai lomba menyanyi Melayu di tahun 2014 itu tak terlalu peduli dengan gunjingan masyarakat. Ia melalui hari-harinya seperti biasa. Ia melatih kemampuan vokal dan memorinya dengan berkaraoke di rumah. Ia cukup memasukkan usb berisi lagu-lagu karaoke ke home theatre-nya dan berlatih sendiri.

Sebisa mungkin, Rosnah menjaga makan. Ia pantang mengonsumsi makanan berminyak dan pedas. Ia akan memilih makanan yang direbus ataupun dibakar. Ia juga mengurangi minum es. Inilah rahasia ia mampu bernyanyi marathon hingga tiga hari penuh.

Kalau soal kostum, wanita ini tak bingung-bingung lagi. Anak menantunya sudah terbiasa memilihkan baju untuknya. Baju-baju itu sudah dilengkapi dengan hijab langsung pakai. Ia pun tak perlu repot membuat gaya-gaya tertentu untuk hijabnya.

”Lagipula saya sudah tua. Kalau pakai yang begitu, kalau siap salat, bingung lagi pakainya,” katanya sambil tertawa.

Beruntung, anak-anak dan semua cucunya mendukung hobinya. Anak bungsunya yang laki-laki bahkan selalu memasangkan bulu mata palsu setiap kali ia hendak naik panggung. Rosnah sangat bersyukur atas dukungan mereka.

Ketika ditanya hendak sampai kapan Rosnah menyanyi dan berkeliling bersama Pancaran Senja, wanita berkulit putih itu hanya diam saja. Ia lalu menjawab,” Selama saya masih kuat menyanyi, saya akan terus menyanyi.” ***

March 1, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: