Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Gempa Susulan di Samudera Hindia

Gempa di Mentawai Menjadi Perhatian Presiden Joko

JPGRUP, Jakarta

Gempa susulan masih terjadi pasca terjadinya gempa 7,8 skala richter (SR) di Samudera Hindia, Rabu (2/3/2016) malam. Seharian kemarin, sebagian besar warga di sekitar lokasi gempa memilih tetap tinggal di shelter pengungsian. Mereka tampaknya trauma dengan peringatan dini terjadinya gelombang tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada 14 gempa susulan yang terekam hingga Kamis (3/3) petang. Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, kekuatan gempa susulan tidak terlalu besar. Magnitude tidak lebih dari 6 SR.

“Tapi trennya makin kecil kekuatannya,” kata Daryono kepada koran ini, kemarin (3/3).

Menurut dia, gempa susulan normal terjadi pasca kejadian gempa dengan kekuatan besar. Karena, sedang terjadi proses kesetimbangan tektonik setelah terjadi patahan. Meski begitu, Daryono memastikan, gempa susulan tidak akan lebih besar dari gempa utamanya. Diperkirakan, gempa susulan masih akan terus dirasakan hingga seminggu ke depan.

”Gempa susulan tidak berbahaya. Karakter patahan dengan arah mendatar pada gempa utama tidak akan menyebabkan tsunami,” paparnya.

Oleh karenanya, imbuh dia, masyarakat diimbau untuk tidak perlu khawatir. Mereka sudah bisa kembali ke rumah masing-masing.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pun mengamini kondisi tersebut.

Dia mengakui, saat ini sebagian masyarakat Mentawai, Sumatera Barat, memang mengungsi di kawasan perbukitan. Mereka takut adanya gempa susulan dan risiko tsunami.

“BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) bersama pemda sudah menyampaikan terkait berakhirnya peringatan tsunami oleh BMKG. Tapi mereka masih enggan turun,” tutur Sutopo, kemarin (3/3).

Dia menyampaikan, dari koordinasi dengan BNPB daerah terdampak, dipastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan. Hal ini memang disebabkan karena pusat gempa cukup jauh dari 64 kabupaten/kota yang beresiko terdampak gempa Rabu (2/3) malam.

“Kita juga sudah kontak Mentawai. Rabu malam memang tidak bisa dihubungi, karena ternyata sinyal sudah mati dari tiga hari sebelumnya. Tapi sudah berhasil dan semua aman,” paparnya.

Meski telah dinyatakan aman, tim reaksi cepat BNPB yang dipimpin langsung oleh Kepala BNPB Willem Rampangilei telah berada di Mentawai. Tim bersama BPBD dan Pemda telah menyiapkan rangkaian penanggulangan bencana di sana.

Sementara itu, gempa di Mentawai juga menjadi perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hanya saja, Presiden belum mengagendakan untuk datang langsung ke kepulauan tersebut.

”Presiden mendapatkan laporan malam itu ketika di Medan, dan langsung memerintahkan kepala BNPB mengambil langkah,” terang Juru Bicara Presiden Johan Budi SP di kompleks istana kepresidenan kemarin (3/3).

Presiden, lanjut Johan, juga meminta masyarakat Mentawai dan Sumbar tetap tenang dan waspada pascagempa.

”Kalau ingin meminta informasi sebaiknya langsung ke Instansi atau pihak yang resmi berkaitan dengan gempa,“ lanjut mantan juru bicara KPK itu.

Sebab, kejadian gempa acapkali dimanfaatkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk membuat kepanikan.

Kepala BNPB diminta melakukan langkah taktis untuk mengatasi dampak gempa tersebut. meskipun demikian, Johan menyatakan hingga saat ini belum mendapatkan laporan adanya korban akibat gempa berkekuatan 7,8 skala richter itu.

Disinggung mengenai alat-alat deteksi tsunami yang diklaim rusak, Johan menyarankan agar mengonfirmasi langsung ke instansi terkait. Hingga saat ini, pihak istana belum mendapatkan laporan mengenai kerusakan tersebut. ***

Masterplan Tidak Jalan
Sebagai negara kepulauan yang diapit dua samudra, menjadikan Indonesia rawan tsunami. Dari data BNPB, ada empat kawasan yang menjadi kawasan rawan tsunami, yakni Megathrust Mentawai, yang meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu, bagian dari zona penunjaman Sumatera yang merupakan pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.
Kemudian, kawasan Selat Sunda dan Jawa Bagian Selatan yang meliputi Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur, yang terletak pada kawasan transisi antara segmen Sumatera dan segmen Jawa dari Busur Sunda, serta penujaman di selatan Jawa. Disusul, Bali dan Nusa Tenggara yang meliputi Bali, NTB, dan NTT serta kawasan Sulawesi, Maluku Utara dan Papua Barat.
Melihat begitu luasnya daerah resiko terdampak, sangat miris saat diketahui ternyata masterplan pengurangan resiko bencana tsunami tidak berjalan. Program yang disusun tahun 2012 lalu harus mandek .terkendala dana. “Hanya jalan dari tahun 2013-2014,” tutur Sutopo.
Dia mengakui, penyediaan dana ini cukup penting. sebab, dengan dana memadai maka pemenuhan sirine tsunami bisa dilakukan. Saat ini, di Indonesia baru terpasang 55 unit sirine BMKG dan 200 unit sirine berbasis komunitas yang diupayakan BNPB. Jumlah inii masih jauh dari kebutuan 1000 unit, mengingat satu unit sirine hanya bisa menjangkau sejauh 2 Kilometer saja.
Selain masalah sirine, persoalan alat deteksi tsunami atau buoy tsunami  juga sama. kurangnya pembiayaan untuk pengadaan dan biaya operasional membuat 22 buoy milik Indonesia tidak berfungsi. Kondisi ini tentu menyulitkan untuk memastikan apakah tsunami terjadi di lautan atau tidak. “Saat ini Indonesia hanya mengandalkan 5 buoy tsunami internasional yang ada disekitar wilayah kita,” keluh Sutopo.
Melihat kondisi ini, Sutopo meminta agar masterplan bisa kembali dijalankan. Banyak rangkaian yang harus dicapai agar resiko bencana tsunami bisa diperkecil. Untuk mengerjakan masterplan ini, dibutuhkan dana hingga Rp 11 triliun untuk jangka waktu lima tahun. (mia/byu/agm)

March 4, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: