Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Gerhana Matahari Bakal Tertutup Awan

Presiden Belum Pasti Saksikan Langsung

JAKARTA (BP) – Antusiasme masyarakat menyambut fenomena gerhana matahari total (GMT) pada 9 Maret ini sangat besar. Namun suka cita ini bisa berubah menjadi kekecewaan massal, karena cuaca pada hari itu diprediksi kurang cerah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar langit di Indonesia akan penuh awan pada 9 Maret 2016 nanti.

Dari sisi cuaca, kedatangan GMT tahun ini  memang kurang pas. Sebab datang di saat Indonesia memasuki musim basah. Sehingga banyak lokasi yang langitnya, meskipun pagi hari, banyak gumpalan-gumpalan awan. Berbeda ketika GMT terjadi di musim kering, potensi tertutup awan sangat kecil. Karena setiap hari langit cerah.

Kepala Sub-Bidang Informasi BMKG Harry Tirto Djatmiko mengatakan, pihaknya memetakan prakiraan cuaca saat GMT di delapan lokasi. Yakni di Bengkulu, Palembang, Tanjung Pandan, Pangkalan Bun, Palangka Raya, Balikpapan, Ternate, dan Palu.

”Dari semuanya itu hanya dua titik yang ideal untuk pengamatan GMT,” katanya.

Kedua titik itu adalah di Tanjung Pandan dan Ternate. Sebab di kedua lokasi ini, diperkirakan 25 persen langitnya bakal tertutup awan. Sementara itu di Palembang, Pangkalan Bun, Balikpapan, dan Palu kemungkinan 50 persen turtutup awan. Sedangkan di Bengkulu dan Palangka Raya, kemungkinan tertutup 75 persen. Harry mengatakan setiap 30 menit BMKG selalu memperbaharui data prakiraan cuacanya.

Dari Istana, hingga saat ini baru Wapres Jusuf Kalla yang memastikan hadir di Palu menyaksikan GMT. Di ibu kota provinsi Sulawesi Tengah itu, JK tidak hanya sebatas menyaksikan GMT. Dia juga dijadadwalkan meresmikan monumen GMT. Monument itu didirikan di area anjungan Nusantara Pantai Talise, teuk Palu.

Sementara, Presiden Joko Widodo hingga kemarin belum memastikan apakah akan menyaksikan langsung GMT atau tidak.

”Belum ada jadwal yang pasti,” ujar Juru Bicara Presiden Johan Budi SP saat dikonfirmasi kemarin.

Presiden juga belum berbicara secara khusus mengenai GMT dan dampaknya bagi pariwisata Indonesia.

Salat Gerhana

Momen GMT bukan hanya dimanfaatkan kaum peneliti dan para wisatawan. Organisasi keagamaan juga telah menyiapkan peristiwa langka itu sebagai sarana mendekatkan diri kepada sang pemilik alam. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, pihaknya sudah menerbitkan surat edaran kepada jajarannya, khsusnya wilayah yang mengalami GMT untuk melakukan salat gerhana.

“Sudah menyampaikan tuntunannya, yang isinya menjelaskan secara keilmuan dan tuntunan agama terkait gerhana sesuai hadis yang kita anggap shahih,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (6/3).

Pemahaman terkait keilmuan dan tuntunan agama itu, kata Mu’ti, diperlukan untuk menghindari adanya pemahaman yang salah di tengah anggota perserikatan.

“Misalnya menganggap gerhana sebagai kemarahan tuhan, atau mitos ilmiah yang menyebut bisa membuat kebutaan, itu kita jelaskan,” imbuhnya.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) juga tak ketinggalan ikut merespon fenomena alam gerhana matahari total yang diprediksi bakal terlihat di sejumlah daerah. Bukan saja anjuran melaksanakan shalat gerhana, PB NU juga telah mengeluarkan himbauan kepada warga NU untuk ikut serta melakukan pengamatan.

Anjuran dan himbauan itu dituangkan lewat surat yang telah dikeluarkan Lembaga Falakiyah PB NU kepada pengurus wilayah dan cabang seluruh Indonesia, jauh-jauh hari.

“Setelah melakukan pengamatan, baru kemudian kami anjurkan kepada warga NU bersama-sama untuk mengajak seluruh masyarakat melakukan shalat gerhana di tempat masing-masing,” ungkap Ketua Lembaga Falakiyah PB NU KH Ghozali Masruri, saat dihubungi, kemarin.

Dia menyatakan, anjuran ikut melakukan pengamatan fenomena gerhana tersebut agar seluruh masyarakat dapat menarik pembelajaran. Bukan semata menambah pengetahuan dan keilmuan, tapi juga menambah kadar keimanan.

”Kewajiban kita semua untuk belajar, termasuk ilmu falak, sesungguhnya jadi jalan untuk meningkatkan iman. Karena itu, sepatutnya ditutup dengan melakukan shalat gerhana dan memperbanyak zikir,” beber Ghozali, kembali.

Perlunya melakukan pengamatan, lanjut dia, juga sejalan dengan pandangan NU terkait model hisab dan rukyat. Bahwa, prediksi tentang waktu dan tempat terjadinya gerhana mataharo total dan sebagian juga perlu ditunjang dengan pengamatan langsung.

“Sejak enam tahun lalu, kami (Falakiyah PB NU) juga telah umumkan prediksi bakal terjadinya gerhana matahari total besok (9 Maret, red). Nah, pengamatan menjadi instrumen menguji kesahihan ilmu hisab atau perkiraan astronomi yang sudah dilakukan,” katanya.

Karena itu pula, PB NU juga telah menyebar tim di sejumlah daerah  untuk turut melakukan pengamatan. Tentu, juga dibekali sejumlah peralan astronomi. (far/dyn/byu/wan/jpgrup)

March 7, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: