Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Berburu Foto Gerhana Matahari Maret 2016 di Pulau Putri, Batam

Tak Semua Kamera Bisa Membidik dengan Jelas

Dari Batam, fenomena alam gerhana matahari hanya
terjadi sebagian. Meski
demikian, sebagian besar masyarakat bersemangat merayakan dan mengabadikan momen langka tersebut.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Langit ufuk timur belum juga merona merah, Rabu (9/3/2016) pagi itu, saat sekelompok pemuda memarkir kendaraan mereka di sekitar Tugu Kampung Tua Nongsa. Mereka menjinjing tas ransel yang menggembung. Ada juga yang menenteng tripod.

Kehadiran mereka disambut seorang pria. Ia mengenakan jaket, bercelana pendek, dan bersandal jepit. Kepalanya tertutup topi rajut.

”Berangkat sekarang kita? Itu perahunya sudah siap,” katanya.

Ia menunjuk sebuah perahu kayu bermuatan 15 orang yang terapung-apung di laut pesisir pantai. Semua kepala menengok ke arah pantai. Karena gelap, perahu itu tak nampak.

Seorang pemuda menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Personel belum lengkap. Jangan dulu berangkat.

Sepuluh menit berlalu dari waktu itu. Seorang pria datang mengendari sepeda motor besar.

Di punggungnya juga tersandang tas ransel. Ia berlari kecil setelah memastikan kendaraannya terparkir dengan teguh.

”Ayo, bang!” teriaknya.

Kelompok itu mulai berjalan ke arah perahu kayu. Air pasang waktu itu. Tingginya sebetis. Refleks, sebagian mereka melepas sepatu dan melipat ujung celana panjangnya.

Perahu itu melaju ke arah barat. Menuju ke sebuah pulau dengan rimbun pepohonan dan sebuah menara suar menjulang tinggi. Pulau Putri, namanya. Pulau ini termasuk pulau terluar Batam. Hanya sejengkal jaraknya dari perairan asing.

”Pukul 06.12 WIB. Masih bisa nggak nih kita dapat gerhananya,” ujar seorang pemuda sambil bergegas melintasi batu-batu pemecah gelombang sesaat setelah kapal merapat.

Kaki-kaki itu menyusuri rangkaian batu pemecah gelombang hingga ujung. Berkecipak di antara batu-batu karang yang terendam air laut. Dan melompati batu-batu karang yang besar. Hingga kemudian, mereka sampai di bagian terujung. Kelompok yang terdiri hingga 12 orang itu lalu berpencar.

Tiga pemuda, di antaranya, meletakkan tas ranselnya. Dari dalamnya, mereka mengeluarkan kamera tipe DSLR berbaterai ganda. Masing-masing lalu mengeluarkan lensa tele dan memasangnya ke tubuh kamera. Gerakan mereka cepat. Pandangannya berganti-ganti dari kamera ke arah matahari yang kini telah naik.

”Wah, ini nih. Dari sini malah terlihat jelas begini,” kata satu di antaranya.

M Noor nama pria itu. Ia memasang kamera dengan moncongnya ke arah matahari. Wajahnya telah menghilang di balik topi ketika ia membidik. Tangannya memencet tombol-tombol dalam kamera tanpa henti.

”Aduh, tertutup awan pula!” teriaknya.

Dua pria lain yang menemaninya langsung mengangkat kamera. Mencoba melihat matahari dari celah kamera masing-masing. Mereka lalu membalas teriakan itu dengan nada kecewa yang sama.
Keduanya menunggu. Menikmati angin laut yang berhembus. Merasai nyanyi riak gelombang saat membentur pantai. Hingga perlahan, awan gelap itu berlalu dari sang surya. Dan mereka pun kembali membidik.

”Gerhana matahari di Batam memang tidak total. Tapi Batam kena 90 persennya,” kata Kanwa tanpa melepas pandangannya dari celah bidikan.

Kanwa dan sebelas pemuda lainnya itu memang sengaja datang ke Pulau Putri untuk mengabadikan momen gerhana matahari. Bagi pria yang berprofesi sebagai pewarta foto lepas itu, momen ini sangat bersejarah. Sebab, hari inilah, pertama kalinya gerhana matahari dapat dilihat dari wilayah Indonesia. Momen ini akan terulang setelah 350 tahun lagi.

Namun, ternyata, mengabadikan pertemuan matahari dan bulan itu tak semudah yang dibayangkan. Tidak semua kamera bisa membidiknya dengan jelas. Setidaknya, kamera harus dilengkapi dengan alat penyaring cahaya atau yang biasa disebut filter. Semakin gelap filternya semakin bagus.

Kanwa membawa sejumlah filter. Ia memasangkan filter ND18 ke kamera Nikon 1DX-nya. Sebelumnya, ia mencoba-coba dengan kaca film untuk piranti las.

“Kalau sudah dapat filter, sudah gampanglah. Karena memang terik betul,” tuturnya.

Masalah filter ini memang menjadi kendala bagi sejumlah pemuda lainnya. Agung Dedi, salah satunya, tak pernah tahan membidik matahari lebih dari lima detik. Ia langsung menutup matanya rapat-rapat begitu selesai membidik.

Eliza Gusmeri, pemburu gerhana lainnya, juga mengakui hal itu. Tiga senjata yang sudah ia siapkan untuk mengabadikan momen pertemuan itu seakan tak berfungsi. Semuanya tak mampu meredam cahaya yang berpendar begitu kuat.

“Memang harus pakai filter,” katanya sambil mengangguk-angguk.

Gerhana matahari di atas langit Batam berlangsung mulai pukul 06.36 WIB hingga 08.35 WIB. Gerhana ini hanya sebagian saja. Puncaknya terjadi pada pukul 07.25 WIB dengan rupa tak ubahnya bulan sabit. Warna merah samar terlihat di sisa bagian matahari yang tertutup bulan.

Gelap sempat terjadi sesaat. Hanya seperti langit yang mendung saja. Lalu dalam hitungan menit, langit mulai terang kembali. Meski gerhana belum sepenuhnya selesai.

“Memang tidak bisa melihat dengan mata telanjang, tapi rasanya senang bisa menikmati gerhana matahari ini,” kata Teguh, pemuda lainnya.

Pulau Putri bukan satu-satunya lokasi yang pas untuk mengabadikan momen itu di Batam. Beberapa pemburu gerhana juga mengabadikan momen bersejarah tersebut di Tugu Elang Bundaran Bandara Hang Nadim, teras Masjid Raya Batam, Jembatan Barelang ataupun atap Gedung Graha Pena.

Namun, di mana pun lokasinya, peristiwa langka tersebut pasti akan menggoreskan kesan. Ini peristiwa sekali seumur hidup. ***

March 10, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: