Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Irwansyah Putra, Fotografer Pemko Batam

Tiga Wali Kota, Satu Fotografer

RATNA, Batam

TERHITUNG sejak tahun 2001 lalu, kursi Wali Kota Batam telah diduduki oleh tiga orang berbeda. Namun, fotografer yang mengabadikan aktivitas pemimpin wilayah ini tetap sama. Siapa dia?

Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan berdiri di pusat podium yang berada di Lapangan Engku Putri Batamcenter, Selasa (13/10) malam lalu. Pada momen pergantian tahun baru hijriah itu, wali kota tengah berpidato, menyampaikan pesan agar masyarakat Batam menjaga diri dan meningkatkan kualitas keagamaan.

Di saat bersamaan, satu sosok pria berdiri kira-kira tiga meter di depan wali kota. Ia memegang kamera, membidikkan lensa kameranya ke arah pemimpin daerah yang masih asyik berpidato tersebut.

Jepret, jepret!

Beberapa kali kilat lampu kamera menerpa wajah wali kota. Sejurus kemudian, pria tadi mundur beberapa langkah. Jemarinya memutar tombol di belakang kameranya tersebut. Tiba-tiba, senyumnya tersungging.

”Sudah dapat,” katanya bahagia.

Itulah momen saat Irwansyah Putra, fotografer atau kameramen foto yang tengah bertugas mengabadikan gambar wali kota Batam. Irwan, begitu ia akrab disapa, merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Malam itu, ia gembira lantaran hanya dengan beberapa kali jepretan kamera, ia sudah mendapatkan ekspresi dan gaya yang pas dari Dahlan, Wali Kota dua periode yang baru akan berakhir jabatannya pada Maret, 2016 mendatang itu.

Hampir setiap hari, ia bertugas mengabadikan gambar dari aktivitas wali kota Batam. Tugas, yang kadang menyita hari liburnya lantaran kegiatan pemimpin daerah tak berhenti meski akhir pekan datang. Namun, tugas itu pula yang telah ia lakoni sejak 2001 lalu.

”Sudah tiga Wali Kota Batam, sejak masa Pak Nyat Kadir, lalu Pak (Alm) Manan (Sasmita, Plt Wali Kota Batam), dan kini Pak Dahlan,” kata Irwan.

Irwan memulai karir di Pemko Batam sebagai tenaga honorer di Badan informasi, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat pada 2001 lalu. Awalnya, ia mengaku, hanya diperbantukan untuk beberapa hal kecil, seperti menduplikat lembaran data (foto copy). Namun, lambat laun ia diminta membantu kegiatan peliputan berbagai kegiatan wali kota maupun wakil wali kota.

”Tapi, karena tidak ada kameramen, maka saya diminta pegang kamera, padahal sebelumnya saya tidak bisa, akhirnya belajar otodidak,” kata pria kelahiran Aceh Timur, 35 tahun silam itu.

Saat itu, Irwan bercerita, ia harus mengoperasikan kamera manual yang menggunakan rol film. Pernah suatu ketika, ia bertutur, harus mengabadikan momen kegiatan Nyat Kadir, wali kota Batam yang menjabat 2001-2004 lalu. Saat itu, sang wali kota harus menghadiri acara di hinterland, tepatnya di Pulau Air Raja. Ia ingat, saat itu hari Jumat, medio 2003 silam.

Terburu-buru, Irwan mencomot kamera di meja, memasukkan ke tas, dan ikut naik pompong, kapal kecil untuk menyeberang ke pulau-pulau penyangga tersebut. Tiba di sana, ia mengeluarkan kameranya, memotret tiap momen wali kota. Lampu blitz menyala, menyapu senyum wali kota dan warga yang larut dalam gempita kegiatan tersebut. Lama-lama, Irwan menyadari ada yang ganjil dengan kamera di tangannya.

”Kok ringan, rasanya beda. Setelah saya buka, duh, ternyata tak ada rol filmnya,” ujar pria yang hobi melukis dan membuat karikatur tersebut.

Meski mengaku cemas, ia tetap melanjutkan pekerjaannya, mengambil foto bermodal kilat lampu blitz semata.

”Yang penting ada blitz-nya, toh, yang difoto kan jarang mengecek hasilnya,” tutur alumni Nikon School Indonesia itu.
Hal yang kurang lebih sama juga terjadi saat ia tak dapat momen foto yang bagus. Atau bahkan, ia tak dapat mengambil foto sama sekali. Itu, kata ia, terjadi ketika harus mengikuti acara wali kota di level yang lebih tinggi. Pasalnya, ada aturan protokoler yang menyertai, sehingga ajudan atau fotografer yang menyertai pejabat daerah sedikit kesulitan bergerak.

”Misalnya saat di Istana Negara, karena dibatasi, kita gak bisa masuk dan ambil gambar, tapi kita bisa juga minta dari fotografer istana,” jelas pria yang menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik tersebut.

Dari tiga Wali Kota Batam yang pernah ia ambil gambarnya, Irwan menilai masing-masing punya karakter berbeda. Terutama, saat berhadapan dengan kamera.

”Pak Nyat Kadir lumayan sadar kamera, kalau (Alm) Pak Manan kurang begitu, sedangkan Pak Dahlan paham dan langsung menempatkan diri,” komentarnya tentang ketiga wali kota Batam tersebut.

Hampir lima belas tahun menjadi fotografer untuk Pemko Batam, Irwan mengaku kadang-kadang perasaan jenuh mulai timbul. Namun, perasaan itu kadang lenyap lantaran dunia fotografi tak bisa dipisahkan dari hidupnya.
”Itu sudah jadi hobi, jadi ya senang saja melakoninya,” kata dia. ***

March 10, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: