Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Menanti Gebrakan 100 Hari Bupati Lingga, Alias Wello

Mimpi Jadi Lumbung Padi Kepri

SEJAK dilantik menjadi Bupati Kabupaten Lingga 17 Februari 2016, Alias Wello dan M Nizar, segera tancap gas. Apa saja yang akan dilakukannya dalam 100 hari pertama jadi orang nomor satu di negeri Bunda Tanah Melayu itu?

SOCRATES, Dabo

Gaya bicaranya lugas dan bersemangat. Aktivis berbagai organisasi, pengusaha dan mantan Ketua DPRD Lingga 2004-2009 itu, kini berpasangan dengan M Nizar, mantan ketua DPRD 2014-2015. Usia keduanya terpaut 20 tahun.

socrates-selasa-23-april-2013-suprizal-tanjung-8 image

Socrates di Graha Pena, Batam Kota, Batam, Selasa (23/4/2013). F Suprizal Tanjung

Kabupaten Lingga yang terletak paling utara di Provinsi Kepri ini, meski sudah 12 tahun menjadi daerah otonom, masih tertinggal dibanding daerah lain, Padahal, kabupaten yang memiliki 531 pulau ini, tercatat dalam sejarah sebagai daerah yang makmur dan kaya, pada era kejayaan timah.

‘’Saat ini, Kabupaten Lingga termiskin di Kepri. APBD-nya hanya 754 Miliar dan masih defisit sekitar 40 Miliar,’’ kata Alias Wello, dalam perbincangan Selasa (8/3) lalu. Namun, Bupati yang akrab disapa Awe ini, tetap optimis.

Belum sampai dua pekan dilantik, ia meresmikan pencetakan lahan sawah dan tambak di Desa Sungai Besar Kecamatan Lingga Utara. Lahan tidur yang dipenuhi semak belukar dan jadi sasaran kebakaran tiap tahun itu, akan digarap menjadi sawah dan tambak. Desa Sungai Besar berpotensi memiliki 732 hektar sawah dan 500 hektare tambak.

‘’Target awal, kami akan mencetak 100 hektar sawah dan 100 hektar tambak udang dan bandeng. Satu hektar sawah, bisa menghasilkan padi 3 sampai 4 ton,’’ kata Awe seraya menyebutkan, ia bermimpi Lingga akan menjadi lumbung padi Kepri di masa depan.

Proyek pencetakan sawah ini, diharapkan akan membuka lapangan kerja bagi warga Lingga.

Enam bulan ke depan, Awe berharap bisa panen perdana. Ia mendatangkan ahli pencetakan sawah dari Palu dan ahli tambak dari Makassar.

Kenapa proyek cetrak sawah sebelumnya gagal?

‘’Itu karena salah alokasi lahan lantaran tingkat keasaman sangat tinggi dan irigasi tidak lancar. Tanah di Sungai besar cocok untuk bertanam padi dan kami datangkan bibit unggul dari Karawang,’’ katanya.

Belajar dari kegagalan sebelumnya, Alias  Wello melihat peluang. Lingga bakal menyuplai kebutuhan beras diri sendiri, tapi juga untuk Batam, Tanjungpinang dan Karimun yang selama ini tergantung dengan beras impor. Sejak distopnya kran beras impor, harga beras dari Jakarta naik 30 persen.

Tanggal 1 April mendatang, Alias Wello mencanangkan gerakan menanam. Sebuah pulau kosong di Senayang, akan disiapkan untuk para pegawai negeri sipil di Kabupaten Lingga dan ditanami kelapa hibrida. ‘’Kegiatan ini akan dikelola koperasi pegawai. Satu pegawai menanam 10 batang kelapa hibrida,’’ katanya.

Kabupaten Lingga yang terdiri dari 9 kecamatan dan 82 desa itu, akan melibatkan seluruh warganya dalam gerakan menanam ini. Setiap rumah tangga, diwajibkan menanam pohon yang bernilai ekonomis seperti mangga, jeruk, pisang dan papaya. Setiap desa, juga akan menyediakan 1 hektar lahan untuk menanam Kaliandra merah.

Saat pencanangan gerakan menanam Kaliandra Merah di Ciklatip Januari 2015 lalu, Alias Wello dan M Nizar ikut hadir dan menanam pohon kaliandra. Saat ini, lahan yang ditanami kaliandra di Ciklatip Kecamatan Singkep Barat itu sudah menghijau dan tumbuh subur.

Kaliandra adalah tanaman energi yang mudah tumbuh, dan menyuburkan tanah. Daunnya untuk pakan ternak, bunganya untuk beternak lebah madu dan pohonnya untuk wood pellets kadar kalorinya sama dengan batu bara sehingga bisa digunakan untuk pembangkit listrik. Di Cirebon, kaliandra merah sudah diolah jadi pellet pengganti bahan bakar gas dan minyak tanah. Di Lingga, kaliandra bisa menjadi tanaman untuk reklamasi bekas tambang timah.

Awe berencana memperluas budidaya kaliandra merah di Lingga. Caranya, setiap desa menyiapkan lahan 1 hektar sehingga ada 82 hektar lahan untuk menanam kaliandra. Setahun lebih menanam kaliandra, Ridwan, General Manager PT Sosiopreneur Demi Indonesia Lingga siap menjadi mentor dan memberi contoh menanam kaliandra.

Selain memanfaatkan batang kaliandra merah yang kandungan energinya sama dengan batubara, daunnya bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak seperti sapi dan kambing, bunganya bisa digunakan untuk beternak lebah madu seperti yang dilakukan di Sukabumi.

Cukup? Belum. Alias Wello setiap bulan akan memulai gebrakan baru. Tanggal 1 Mei ia akan memulai gerakan peduli pendidikan. Di kecamatan yang masih tertinggal, ia akan menggalakkan pemberian bea siswa dan anak asuh. Momen hari kebangkitan nasional 20 Mei juga akan dijadikan sebagain hari kebangkitan Lingga.

Peluang lain yang dikembangkan Bupati Lingga ini adalah potensi air bersih di Lingga.

‘’Di Daik ada tujuh air terjun sedangkan di Dabosingkep ada empat air terjun sehingga sumber air bersih di Lingga itu melimpah. Sementara, waduk di Batam dan Tanjungpinang tadah hujan. Kami bercita-cita membangun pipanisasi air bersih dari Lingga ke Batam dan Pinang,’’ katanya.

Meski investasi yang dibutuhkan cukup besar, Awe menyebutkan, dana besar itu hanya sekali, namun manfaatnya jangka panjang. Apalagi, jika dibangun pipa bawah laut, jarak dari Dabo ke Pinang hanya 90 mil dan dari Daik ke Batam lebih dekat lagi, 60 mil.

‘’Jumlah penduduk terus bertambah dan kebutuhan air bersih terus meningkat,’’ katanya. Batam dan Pinang belakangan memang sering mengalami krisis air bersih, terutama saat kemarau panjang.

Pertanyaannya, bagaimana Pak Bupati mengubah kultur dan budaya masyarakat Lingga, terutama Dabosingkep yang terbiasa menggantungkan harapan dari tambang?

‘’Kultur masyarakat Lingga memang ada yang terbiasa dengan tambang timah dan bauksit, nelayan dan agraris. Nekayan diajak bertani belum siap mental. Merubah mindset ini memang tidak mudah. Tapi, dengan contoh, semangat dan kebersamaan, pasti bisa,’’ kata Awe, optimis.

Sebagai Bupati, Alias Wello menjamin, investor yang datang ke Lingga tidak dipungut biaya dan selama 100 hari ini, tidak ada mutasi pegawai.

‘’Ini memang mimpi, menjadikan Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu yang terbilang. Tapi, kalau mimpi ini jadi mimpi bersama, akan lebih mudah mewujudkannya,’’ ujarnya. ***

March 11, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: