Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Limas Potong, Satu-satunya Rumah Adat Khas Melayu di Pulau Batam

Obyek Wisata yang Kurang Promosi, Sepi Pengunjung

Di Pulau Batam Rumah Melayu Limas Potong hanya tersisa satu, yakni di Kampung Melayu Batubesar. Namun sayang kini rumah yang didaulat sebagai obyek wisata tersebut sepi pengunjung.

ADIANSYAH, Batam

Semilir angin berhembus lembut di Kampung Melayu Batubesar, Batam, Senin (7/3) siang. Pohon kelapa menjadi komoditas yang mudah ditemui, puluhan, ratusan dan bahkan ribuan.

Berbeda dengan pohon kelapa yang jumlah bejibun, Rumah Melayu Limas Potong tersisa hanya satu di kampung itu, bahkan satu-satunya di Pulau Batam. Bak ‘Sebatang Kara’, rumah itu berdiri di ujung RT 01 RW VIII, hanya satu, tak ada yang lain.

”Kalau mau ke sana (Rumah Limas Potong, red), langsung saja temui yang punya, Pak Rasyid namanya,” ujar seorang warga memberi petunjuk. Warga itu lantas menunjuk rumah batu bercat hijau, jaraknya tak jauh dari posisi si ‘Sebatang Kara’.

Wartawan koran ini bergegas menyambanginya. Tak lama bersalam, jawaban terdengar dari dalam rumah nomor 19 itu.

”Waalaikumusalam,” suara itu terdengar parau khas lelaki tua, Ya, lelaki itu adalah Abdul Rasyid, salah satu ahli waris rumah Limas Potong itu. Pada 10 Maret 2016 umurnya akan genap 67 tahun.

Batam Pos lantas menyampaikan keinginan untuk melihat Rumah Limas Potong, anggukan tanda setuju lantas menyambut.

”Sebentar ya, beresin dulu ini,” katanya, Rasyid kala itu sedang asyik membuat Perahu Jong. Jong adalah miniatur perahu layar, permainan khas Melayu.

Mengendarai sepeda motor Honda Astrea Grand, Rasyid menuntun ke Rumah Limas Potong.

”Inilah rumah itu, sepi,” kata Rasyid sambil membuka gembok yang agak usang pada pintu utama rumah itu, di atas pintu tertera angka 111959 yang berarti tahun selesai rumah limas potong itu dibangun yakni 1 Januari 1959.

Satu per satu isi rumah diperkenalkannya, dari pajangan foto tokoh Melayu hingga transkrip sejarah singkat Raja Nong Isa serta catatan sejarah rumah limas itu. Tak terlewatkan dia menunjukkan stell-an busana pengantin khas Melayu yang terpajang di ruang tengah.

Di dapur dia menunjukkan alat-alat dapur khas Melayu. Kata Rasyid semua barang itu dipajang pemerintah, diapun memilih tak banyak menjelaskan tentang isi rumah tersebut.

”Tak terlalu mengerti saya, untuk ini mungkin yang lebih paham saja,” tuturnya.

Tak demikian dengan bagian-bagian rumah. Rasyid lumayan paham. Dari dialah, wartawan koran ini tahu bagian umum rumah itu, ada yang namanya Sengkuap (teras), rumah ibu (ruang utama) serta Bandong (ruang tambahan) juga dapur.

Lebih lanjut, dia juga menunjukkan bagian spesifiknya. Ada Dinding Tindih Kasih, Tingkap (jendela), Salo (Talang Air), Bendol, Kasau, Alang, hingga Sokong Temberang.

Namun sayang kini rumah tradisional khas Melayu itu sepi pengunjung, kontras dengan salah satu tujuan rumah tersebut sebagai tujuan wisata. Hematnya, pengunjung bisa dihitung jari. Padahal keberadaan rumah yang sempat mau dirobohkan pihak keluarga itu sering diliput beberapa media.

”Ada sebulan (sampai) dua bulan tak ada yang datang (berkunjung, red),” ucapnya, kecewa.

Rasyid mencoba mengingat, jari-jarinya dijadikan instrumen. Dalam benaknya hanya anak-anak sekolah yang mengunjungi rumah itu.

”Yang agak sering anak sekolah, kalau mahasiswa baru sekali ku ingat,” ucapnya.

Pemerintah pun, kata Rasyid, akan mengunjungi rumah itu jika ada kegiatan-kegiatan besar yang berkaitan dengan adat Melayu saja.

”Penutupan Kenduri Melayu pemerintah datang,” tambahnya.

Dia berharap pemerintah lebih giat menginformasikan ke masyarakat. ”Supaya ramai,” ujarnya.

Dikonfirmasi, Pemerintah Kota Batam mengatakan tujuan utama keberadaan Rumah Limas Potong itu guna melestarikan adat budaya, namun tak menutup kemungkinan untuk menjadi salah satu destinasi wisata yang menyuguhkan kearifan lokal.

”Memang itu bisa jadi destinasi wisata, tapi tujuan utama pelestarian adat budaya, karena sudah hampir sulit rumah asli Batam ditemui,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Batam, Yusfa Hendri, Kamis (10/3).

Tujuan lain, kata Yusfa, rumat adat itu diharapkan jadi tempat pelajar yang ingin mengetahui tentang rumah asli Melayu pesisir. Untuk itu selain bangunan rumah yang bisa nampak dari luar, bagian dalam rumah juga diisi berbagai peralatan asli Melayu, dari pakaian pernikahan Melayu hingga peralatan dapur khas Melayu.

”Sewaktu-waktu mereka dapat mengunjungi tempat itu,” ungkap pria kelahiran Dumai 13 September 1969 ini.

Dia mengatakan akan tetap melakukan usaha penambahan koleksi barang khas Melayu, agar koleksi lebih beragam. Selain itu pihaknya mengajak Dinas Pendidikan (Disdik) agar sekolah dapat melakukan kunjungan wajib ke objek wisata yang sarat budaya Melayu, tak terkecuali ke Rumah Limas Potong.

”Jadi tak seharusnya keluar Batam,” katanya.

Di Batam, menurutnya tipikal wisatawan yang berkunjung adalah wisatawan weekend (hanya datang di akhir pekan, red).

”Banyak yang ke Batam, shopping, refreshing melihat pantai, kecuali yang memang tertarik mengunjungi tempat wisata tersebut,” bebernya.

Namun pihaknya akan tetap mengarahkan wisatawan agar tetap berkunjung, seperti yang ingin melihat kehidupan masyarakat Melayu pesisir akan diarahkan.

”Yang banyak seperti ini, asal Korea dan China,” ujarnya.

Selain itu upaya pengenalan juga dilakukan pada acara-acara besar seperti pada acara dialog selatan yang merupakan rangkaian Kenduri Seni Melayu 2015 yang juga hadir Gabungan Penulis Negara (Gapena) Malaysia.

”Kemarin ada, kita lakukan dialog selatan keesokan paginya ke sana (Rumah Limas Potong),” katanya.

Seiring dengan bertambahnya wisatawan yang ke Batam pihaknya berkomitmen terus lakukan inovasi. Ke depan ada harapan wisatawan yang ke Batam tak hanya shoping, menikmati pantai ataupun ke Jembatan Barelang.

”Ini (Rumah Limas Potong) juga bisa jadi alternatif. Semakin banyak destinasi, semakin besar peluang untuk orang tinggal lebih lama,” pungkasnya. ***

March 13, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: