Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kisah Naas Maulana, Bocah yang Tewas di Ujung Kaki Sang Ayah

Disembunyikan Dalam Koper Sebelum Dibuang ke Kolam

Sepandai-pandai menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga. Itulah pepatah yang tepat untuk perbuatan M Ei. Usai menghabisi nyawa anak kandungnya, Muhammad Maulana, ia menyembunyikan jasad sang bocah dan berdalih kepada istri, warga serta polisi bahwa anak tersebut tewas tenggelam.

YOFI YUHENDRI, Batam

Tangisan Muhammad Maulana di dalam rumah berukuran 2 x 3 meter per segi itu tak menyurutkan niat Suwanti pergi ke Pasar Tos 3000, Jodoh pada 12 Februari lalu. Wanita 30 tahun itu tetap melangkah dari rumahnya mengais rezeki sebagai pemulung tanpa ditemani Maulana.

Maulana bersama adiknya Andika Saputra lantas ditinggal bersama ayahnya M Ei sekitar pukul 08.00 WIB. Andika tertidur dalam ayunan, sementara bocah berusia 2,7 tahun itu terus mengeluarkan air mata. Ia telungkup di atas kasur tipis dan kumal.

Posisi Maulana berada di hadapan sang ayah atau di bagian kaki Ei. Tetapi, tangisan dan air mata yang keluar itu tak menyentuh rasa kebapakan Ei.

Ia malah menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah menggunakan guling dan melihat tayangan televisi tabung berukuran 14 inci.

”Saya nonton, dia (Maulana) masih menangis. Saya biarin saja,” ujar Ei di dalam rumahnya saat rekontruksi pembunuhan di kawasan rumah liar (ruli) Tanjunguma RT003/RW004, Kecamatan Lubukbaja, Selasa (15/3/2016), tanpa rasa penyesalan.

Tangisan Maulana yang berlangsung selama 10 menit kemudian memancing kekesalan Ei. Pria 33 tahun itu bangun dari tidurnya. Ia mengubah posisi Maulana dari telungkup ke pangkuannya.

Namun, niat Ei untuk menghentikan tangisan Maulana berubah seketika menjadi emosi. Ia mencium bau busuk dari arah bokong Maulana. Ya, bocah itu buang air besar di celana.

”Dia berak di celana dan saya bawa ke kamar mandi,” tutur pria asal Riau tersebut.

Ei kemudian bergegas membawa anaknya menuju kamar mandi yang berada di samping rumah. Selang lima menit membersihkan kotoran, Ei ke luar dari kamar mandi yang berbatas seng dari rumahnya. Ia kemudian mengganti pakaian Maulana dan menidurkan kembali di atas kasur.

Emosi Ei kembali memuncak saat Maulana buang air besar di celana untuk kedua kalinya. Ditambah tangisan yang tak kunjung berhenti. Ia langsung menghantam dada Maulana. Sontak bocah itu terpental sejauh 2 meter dan tubuhnya terbentur dinding rumah yang terbuat dari triplek tersebut.

”Saya hantam di dada. Dia mengarah ke TV (dinding rumah),” sambung Ei yang mengenakan pakaian tahanan Mapolsek Lubukbaja nomor 07.

Suasana berubah menjadi hening dan tangisan dari bocah itu berhenti. Kemudian Ei memeriksa detak jantung Maulana, dan hasilnya nihil. Bocah itu ternyata langsung tewas di kaki sang ayah.

Tetapi Ei sama sekali tidak merasa bersalah dan tetap bersikap seperti biasa saja. Ia mengambil sehelai kain panjang dari tumpukan pakaian yang ada di sudut rumah. Kain itu dibalut ke tubuh Maulana.

Usai membalut, Ei mengangkat jasad Maulana dan menaruhnya di dalam koper atau berada di bawah meja yang berukuran 1 x 1 meter. Di atas meja itu merupakan tempat keluarga menaruh televisi dan dispenser.

”Saya taruh di sini. Dan saya pergi menjemput istri ke pasar menggunakan becak motor Pak De (tetangga). Pintu rumah tidak saya kunci,” kenang Ei.

Sekitar pukul 13.00 WIB, pasangan suami istri (pasutri) ini kembali ke rumah. Seperti biasanya, Suwanti langsung melihat anak bungsunya Andika di ayunan. Namun, ia tak menemukan keberadaan Maulana.

Di saat itu, Ei mengaku kepada istrinya telah meninggalkan Maulana di dalam rumah yang sedang menonton. Kemudian pasutri melapor kepada RT setempat bahwa anak mereka telah menghilang.

”Saya pegang bahunya dan tanya dimana Maulana. Dia (Ei) bilang mungkin Maulana pergi main,” ujar Suwanti.

Sejumlah warga yang mengetahui informasi kehilangan itu mencoba membantu mencari keberadaan Maulana. Pencarian dimulai dengan menyisir lokasi Maulana bermain di wilayah Pasar TOS 3000, kemudian di kolam pencucian plastik bekas yang berada di depan rumah. Kolam itu berisi air setinggi paha orang dewasa.

Pencarian terus dilakukan warga hingga larut malam. Sementara Ei menunggu istrinya tertidur sambil memantau situasi di luar rumah. Ia berencana mengangkut jasad Maulana ke dalam kolam pencucian bekas di depan rumah.

”Saya angkut ke kolam dan meletakkan di dalam air. Setelah basah saya beri tahu Pak RT dan warga kalau ditemukan di dalam kolam,” kata Ei lagi.

Penemuan jasad Maulana di dalam kolam langsung menimbulkan kecurigaan warga. Padahal sebelumnya, warga setempat telah menyisir kolam itu sebanyak tiga kali.

Tak hanya itu, kecurigaan warga bertambah dengan kejanggalan pada tubuh bocah tersebut. Di tangan dan dada Maulana ditemukan bekas memar.

”Saya sendiri masuk ke kolam sebanyak tiga kali. Tidak ketemu apa-apa. Tapi tiba-tiba ada di sana,” tutur Mukhlis warga setempat.

Kecurigaan dan kejanggalan itu kemudian dilaporkan ke Mapolsek Lubukbaja. Pihak kepolisian langsung mendatangi lokasi dan menginterogasi pasutri tersebut. Sementara jasad Maulana dibawa ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) untuk divisum. Hasilnya, tim forensik Polresta Barelang memastikan Maulana tewas dengan kekerasan.

”Karena ada kejanggalan kita lakukan visum. Dari hasilnya diketahui korban tewas dianiaya,” ujar Kapolsek Lubukbaja, Kompol I Dewa Nyoman ASN.

Nyoman menjelaskan setelah diinterogasi, Ei mengakui perbuatannya. Ia ditetapkan tersangka atas kasus pembunuhan yang sudah direncanakan. Pelaku sendiri dijerat pasal 80 ayat 3 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

”Pelaku menjalani 24 adegan dalam rekontruksi pembunuhan ini,” tegas Dewa.

Sementara Suwanti mengaku tak menyangka suaminya tega menghabisi nyawa anaknya tersebut. Namun, ia mengaku Ei kesehariannya dikenal ringan tangan kepada anak-anak. Terlebih perbuatan itu kerap dilakukan suaminya dalam waktu dua bulan belakangan.

”Dua bulan ini suami di rumah karena tidak ada proyek. Memang ada mukul anak-anak. Saya sama sekali tak curiga dia membunuh dan menyembunyikan jasad Maulana,” aku wanita asal Medan ini.

Di mata warga setempat sendiri, pasutri ini dikenal sebagai orangtua yang kejam terhadap anak. Suwanti kerap terdengar mengeluarkan sumpah serapah, sementara Ei sering terlihat memukul Maulana.

”Udah sering mukul gitu. Hari-hari lihat anaknya nangis. Kadang kami larang, tetapi dia jawab jangan ngurus orang,” ujar Susi salah seorang warga.

Penganiayaan juga diketahui dilakukan Ei terhadap anak bungsunya Andika. Balita berusia 3 bulan tersebut mengalami memar di bagian mata.

”Anak kecilnya juga dipukul. Bukan manusia lagi mereka. Istrinya juga dibiarkan saja,” gerutu Susi lagi.

Susi sendiri berharap perbuatan keji Ei bisa dijerat dengan hukuman setimpal. Termasuk memberi ajaran kepada para orang tua untuk tidak berbuat kekerasaan kepada anak-anak. ***

March 16, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: