Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Di Kepri Terdapat 40.025 Pecandu Narkotika

Anak-Anak Konsumsi Narkoba

BATAM POS, Batam

Peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Batam dan Kepri sudah sangat mengkhawatirkan. Bukan hanya usia dewasa, barang haram tersebut juga banyak dikonsumsi anak-anak dan pelajar.

”Kita akui peredarannya narkotika sangat luas. Sekarang peredarannya mulai dari pejabat sampai dengan anak-anak,” ujar Kapolresta Barelang, Kombes Pol Helmy Santika, Jumat (18/3/2016).

Untuk itu, kata Helmy, pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan peredaran narkoba di kota ini, khususnya di kalangan remaja dan anak-anak. Selain gencar sosialisasi bahaya narkotika ke sekolah-sekolah, pihaknya juga meminta para orang tua dan guru ikut perang melawan narkotika.

Selain itu, sambung Helmy, pihaknya meminta seluruh instansi pemerintahan untuk bekerjasama memberantas barang haram tersebut.

”Perhatian khusus dari orang tua itu sangat penting. Perhatian orang tua harus mendalam,” tuturnya.

Dia juga menegaskan sudah berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Batam dan Kepri untuk melakukan pemeriksaan penggunaan narkotika di kalangan anak usia sekolah. Pemeriksaan itu direncanakan akan dilakukan rutin di setiap sekolah.

Helmy menambahkan, narkoba masuk ke Batam dan Kepri melalui beberapa jalur. Namun umumnya barang haram tersebut masuk melalui pelabuhan resmi dan 51 pelabuhan tikus di Kepri. Kata dia, pelabuhan tikus tersebut tersebar di Batam, Tanjungpinang, dan Karimun.

Seperti pada Kamis (17/3/2016) lalu, jajaran Satres Narkoba Polresta Barelang membekuk tiga orang bandar narkotika asal Malaysia di wilayah Karimun.

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa sabu seberat 200 gram yang disimpan di dalam perut.

Kata Helmy, penangkapan pelaku berdasarkan pengembangan jaringannya di Batam. Pelaku selama ini memasok barang haram itu kepada sipir Lapas bernama Muhammad Azizul, Zulkifli dan Abubakar.

”Orang ini bandarnya dan memasok barang kepada oknum sipir. Oknum sipir kemudian mengedarkannya kepada narapidana,” ujar Helmy.

Kabid Rehabilitasi BNNP Kepri, Nurlis, juga mengakui penyalahgunaan narkoba di Batam sudah masuk kalangan anak-anak. Dari hasil pemeriksaan di sekolah-sekolah, diketahui banyak siswa yang sudah terbiasa mengkonsumsi narkoba. Umumnya mereka mulai mencoba-coba mengonsumsi narkoba sejak usia 13 hingga 14 tahun.

”Awalnya dari merokok, lalu lanjut ke minuman beralkohol. Karena sering kumpul-kumpul sama teman, akhirnya mulai coba-coba narkoba,” kata Nurlis, kemarin (18/3).

Ia mengatakan, jenis narkoba yang kerap dikonsumsi remaja belasan tahun ini adalah ganja.

”Mereka kan merokok, mulai diganti isinya dengan ganja,” ucapnya.

Menurut Nurlis, usia remaja atau anak baru gede (ABG) ini memang sangat rentan akan pengaruh hal-hal yang negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba. Sehingga perlu adanya pengawasan dari orang tua. Bila tidak, maka niscaya anaknya akan terikat jeratan barang haram tersebut. Nurlis mengatakan, anak-anak yang tergabung dalam kelompok geng motor juga paling rentan akan pengaruh narkoba.

Parahnya lagi, kata Nurlis, penyalahgunaan narkoba di Batam tak lagi di daerah mainland saja. Tetapi beberapa kawasan di hinterland juga menjadi kantung-kantung peredaran narkotika.

”Contohnya Pulau Jala. Di sana banyak orang dewasa menjadi pecandu. Kami takut hal ini berpengaruh pada anak-anaknya,” ujarnya. Oleh sebab itu, menurut Nurlis pihaknya dengan gencar melakukan sosialisasi di pulau tersebut.

Namun Nurlis mengungkapkan, para pecandu yang diamankan oleh pihaknya sepanjang tahun 2015 lalu kebanyakan sudah dewasa.

”Rentang umurnya dari 20 sampai 30 tahun,” katanya.

Ketua Ikatan Pelajar Nahdhlatul Ulama (IPNU) Kepulauan Riau, Muhammad Irfan, juga mengakui peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan pelajar kian mengkhawatirkan. Mereka memang tidak menggunakannya secara massal di dalam lingkungan sekolah. Tetapi secara diam-diam setelah jam belajar sekolah usai.

IPNU gencar menyosialisasikan bahaya narkoba di kalangan pelajar, sejak bulan Oktober lalu. Bersama Yayasan Cinta Anak Bangsa, mereka berkeliling ke 20 SMA-SMK sederajat di Batam. Mereka mengusung program yang dinamai Indonesia Without Drugs.
Program ini program pusat. Hanya berlangsung di tiga kota se-Indonesia. Yakni, Jakarta, Surabaya, dan Batam.

”Batam dipilih karena memang peredaran narkoba di sini sangat marak dibanding daerah lainnya,” ujarnya lagi.

Dalam program tersebut, mereka melatih satu guru untuk menjadi koordinator di setiap sekolah. Selanjutnya, sosialisasi digelar untuk 45 siswa.

”Memang kami tidak bisa menjamin, sekolah yang kami kunjungi itu bersih narkoba karena sosialisasi kami hanya ke 45 anak. Tapi harapan kami, 45 anak itu bisa melanjutkan kembali ke teman-teman mereka,” kata Irfan lagi.

Pelajar merupakan golongan yang paling rentan terkena pengaruh narkoba. Sebab di usia ini, mereka senang mencoba-coba hal baru. Selain itu, ada juga anggapan yang beredar di antara mereka. Bahwa, narkoba dapat mendongkrak rasa percaya diri mereka ketika tampil di depan umum.

”Padahal narkoba itu bisa merusak,” katanya.

Sementara data Ditresnarkoba Polda Kepri menyebutkan, sepanjang 2015 lalu terdapat beberapa jenis narkoba yang diamankan. Terdiri dari 43,515 Kg sabu, 119,954 Kg ganja, 1.846 butir ekstasi, 518 happy five, dan 1.55 gram heroin. Selain barang bukti, Polda Kepri juga menangkap 586 orang tersangka.

”Itu keseluruhannya ada 457 kasus,” kata Dir Ditresnarkoba Polda Kepri, Kombes Pol Wiyarso pada Batam Pos, kemarin.

Sementara tahun ini, kata Wiyarso, kasus narkoba di Batam dan Kepri juga cenderung masih tinggi. Sepanjang Januari hingga pertengahan Maret ini saja Ditresnarkoba Polda Kepri sudah menangani 115 kasus narkoba dengan tersangka sebanyak 157 orang.

”BB (barang bukti, red) nya 7,3 kilogram ganja, 10,5 kilogram sabu, 1.854 butir ekstasi, dan 50 butir happy five,” sebutnya.

Wiyarso menegaskan pihaknya tak mau main-main dalam memerangi ancaman narkoba di Kepri dan Batam khususnya. Tak hanya satuan Ditresnarkoba saja, tapi juga melibatkan Brimob, Shabara dan satuan lainnya.

”Hal ini dilakukan agar Kepri bebas dari narkoba,” ungkapnya.

40 Ribu Pecandu

Kapolda Kepri, Brigjen Pol Sam Budigusdian mengungkapkan akan segera memberantas seluruh bandar narkoba. Menurutnya, wilayah Kepri saat ini dan untuk waktu ke depan masih akan menjadi jalur transit dan tempat bagi penyelundupan dan peredaran gelap narkoba.

”Prediksi ini dibangun dengan asumsi adanya trend peningkatan kejahatan Narkoba di Provinsi Kepulauan Riau dari waktu ke waktu,” katanya.

Dia menyebutkan, kasus narkoba yang berhasil diungkap aparat selama ini bak fenomena gunung es. Artinya, sebenarnya masih jauhlebih banyak kasus yang belum terungkap aparat.

Kapolda menambahkan, data nasional menyebutkan, pada 2015 lalu terdapat 4,1 juta orang menjadi pecandu narkoba dengan kerugian materi diperkirakan sebesar lebih kurang Rp 63 triliun. Sementara di Kepri dari data BNNP Kepri, tercatat sebanyak 40.025 orang pencandu nakroba.

Satgas Narkoba di Sekolah

Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) harusnya terus digalakkan. Tidak hanya di lingkungan masyarakat, pemberantasan peredaran gelap narkoba juga harusnya dilakukan di lingkungan sekolah.

Namun dari hasil penelusuran Batam Pos, beberapa sekolah di Batam tidak memiliki satgas narkoba guna menekan angka penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba demi menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari narkoba.

Jessica, salah satu siswi SMA Yos Sudarso menyatakan tidak pernah mengetahui tentang satgas sekolah. ”Di sini tidak ada organisasi atau satgas narkoba, tidak pernah ikut juga,” ungkapnya.

Hal tersebut dibenarkan Ketua OSIS SMA Yos Sudarso, Yitro Samuel. Dia mengaku sekolahnya tidak memiliki organisasi khusus atau satuan tugas (Satgas) narkoba. Namun, sekolahnya selalu mengutus perwakilan untuk mengikuti penyuluhan yang diadakan BNN atau pihak lainnya.

Demikian pula di Sekolah Menengah Kejuruan Batam Business School (SMK BBS) dan SMK Kolose Batam. Hingga saat ini belum ada satgas narkoba di sekolahtersebut. melakukan penyuluhan untuk sekolah-sekolah yang ada di Batam.

Sementara anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Suardi Tahirek, mengatakan pengawasan aparat juga harus ditingkatkan untuk wilayah hinterland. Terutama pelajar hinterland (pulau).

”Arahnya ke sana. Pelajar marak yang menggunakan narkoba, sudah sangat meresahkan,” kata Suardi, kemarin.

Karenanya, Suardi meminta mitra kerjanya di Dinas Pendidikan (Disdik) menggandeng BNN melakukan tes urin di sekolah.

Pelajar yang terbukti mengonsumsi narkoba diberikan pembinaan dan pengarahan.

”Bila perlu direhabilitasi,” sarannya. (opi/ska/ceu/hgt/cr13/Julita Sari/Chyntya)

March 20, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: