Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Jembatan Barelang Tak Seimbang

Korea Sorot Jembatan Tengku Fisabilillah

EUSEBIUS SARA, Batam

Jembatan Tengku Fisabilillah atau yang dikenal Jembatan Satu Barelang mendapat sorotan dari Korea International Cooperation Agency (KOICA). Jembatan yang menjadi ikon Kota Batam ini terdeteksi mulai karatan dan perlu perawatan serius dengan segera.

KOICA melalui Korea Infrastruktur of Safety and Technology Corporation (KISTEC), yang mendapat proyek pengembangan kapasitas manajemen keselamatan infrastruktur Indonesia, bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menemukan bahwa kabel-kabel utama sebagai penyangga kekuatan jembatan Tengku Fisabilillah mulai karatan dan tidak seimbang satu sama lainnya.

Sudah tiga bulan belakangan ini KISTEC dan pihak Kementerian PUPR melakukan inspeksi di jembatan satu Barelang itu.  Meskipun belum menyimpulkan hasil penelitian itu secara detail, namun menurut Presiden KOICA, Kim Byung Gwan, kondisi fisik Jembatan Satu Barelang perlu perawatan yang lebih.

“Untuk hasil kajian tim (kekuatan dan kelayakan jembatan) belum bisa disimpulkan, tapi secara kasat mata ya memang terlihat mulai karatan pada kabel-kebal utamanya. Perlu perawatan yang rutin, minimal lima tahun sekali,” ujar Kim Byung kepada wartawan, Rabu (23/3/2016).

Tidak hanya karatan, kabel-kebel utama atau seling penyangga jembatan itu tidak memiliki daya topang yang merata.

“Ada sebagian yang kendur dan ada yang menahan beban, jadi memang perlu diperhatikan kondisi ini, jika ingin jembatan ini awet,” ujarnya.

Selain masalah kondisi fisik jembatan, kondisi lingkungan jembatan juga disorot oleh KOICA. Sebab sampah yang berserahkan cukup mengganggu pandangan mata pengunjung.

“Pemandangannya bagus, jembatan ini punya peran penting, tapi sayang sampahnya berserakan,” ujarnya.

Sehingga Kim menyarankan pemerintah harus peran aktif untuk merawat jembatan tersebut.

“Bangunan apapun itu pasti ada masanya untuk rusak, tapi sebelum rusak, kita haru tetap ada perawatan yang rutin,” imbau Kim.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementrian PUPR, Penani Kesai, juga berpendapat yang sama. Jembatan satu yang menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Galang itu memang membutuhkan perhatian yang lebih.

“Kondisi jembatan masih sangat layak, cuma memang ada masalah-masalah kecil seperti karatan kabel itu, makanya memang perlu adanya penambahan biaya perawatan ke depannya,” ujar Penani.

Kata dia, selama ini seluruh jembatan yang tergolong rumit seperti Jembatan Satu Barelang itu memang mendapat alokasi biaya perawatan dari pemerintah. Namun jumlah biaya perawatan tergolong sangat kecil sehingga berimbas pada kondisi seperti itu.

“Idealnya 5 persen ke atas dari total biaya pembangunan jembatan untuk biaya perawatan, tapi kenyataan selama ini di bawah 5 persen, bahkan ada yang hanya satu persen,” ujarnya.

Beranjak dari pengalaman itu, kata Penani, ke depan perlu ada kajian dan pembahasan lagi terkait biaya perawatan jembatan di seluruh Indonesia.

“Bukan di Batam saja, beberapa jembatan besar lain di Indonesia juga perlu dilakukan evaluasi lagi mulai dari soal biaya perawatannya, tim (pakar) perawatan dan peralatan pendukungnya,” tutur Penani.

Meskipun diakui sudah ada karatan pada kabel dan sambungan beton jembatan, namun ditegaskan Penani, bahwa kondisi Jembatan Satu Barelang masih sangat layak untuk digunakan.

“Inikan untuk antisipasi jangka panjang, kalau saat ini belum berpengaruh,” ujarnya.

Dijelasakan Penani, proyek pengembangan kapasitas manajemen keselamatan infrastruktur Indonesia ini merupakan kerjasama Indonesia dan KOICA untuk mendorong pembangunan infrastruktur. Sehingga infrastruktur juga menjadi salah satu pilar strategis dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Salah satunya adalah manajemen keselamatan infrastruktur. Indonesia mengalami beberapa kasus kegagalan konstruksi dalam beberapa tahun terakhir, antara lain robohnya Jembatan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur (November 2011), dan runtuhnya hanggar Bandara Udara Sultan Hasanudin (Maret 2015) yang menimbulkan kerugian dan korban jiwa, harta benda, serta kerugian lingkungan yang besar.

Dengan fakta itu, Kementerian PUPR pada tahun 2014 bekerjasama dengan KOICA sebagai konsultan pelaksana dalam Manajemen Keselamatan Infrastruktur Indonesia untuk sama-sama meneliti kondisi fisik bangunan di Indonesia termasuk jembatan.

“Sehingga Indonesia bisa mengadopsi manajemen keselamatan infrastruktur Korea yang selama ini sudah bagus,” kata Penani.

Untuk mencapai tujuan tersebut, KISTEC mengadakan training dan workshop peralatan inspeksi jembatan dan pelaksanaan inspeksi pada Jembatan Tengku Fisabilillah. Proyek ini akan diselenggarakan selama dua tahun, sampai dengan Desember 2016. ***

March 24, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: