Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Anak Cucu Perantau Minang di Kancah Politik

Oleh, M. Jaya Nasti

ORANG Minangkabau di perantauan banyak yang aktif di dunia politik. Sepertinya dunia politik menjadi pilihan kedua setelah dunia bisnis.

Sudah sejak permulaan abad ke-20, orang-orang Minang sudah mulai terlibat dalam dunia politik. Misalnya Tan Malaka, tokoh yang dikagumi Bung Karno, meskipun ia menjadi pelarian di luar negeri.

Tulisan-tulisan Tan Malaka ditunggu-tunggu oleh Bung Karno sebagai bahan inpirasi bagi pidato-pidato politiknya di tahun 20-an.

Lalu pada 1928, sewaktu dilangsungkan acara Sumpah Pemuda, tampil Muhammad Yamin dari Talawi, Sawahlunto, mengajukan konsep sumpah pemuda yang akhirnya disetujui oleh seluruh peserta rapat. Itulah konsep sumpah pemuda yang selalu kita baca pada upacara peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober, setiap tahun.

Pada masa menjelang dan awal kemerdekaan banyak sekali politisi Indonesia yang berasal dari Minang. Di sana ada Muhammad Hatta atau Bung Hatta yang menjadi salah satu dari dua proklamator kemerdekaan RI, bersama Bung Karno.

Lalu pada masa sulit, beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, para pemimpin Indonesia sepakat untuk mengubah system kenegaraan menjadi parlementer, sebagai upaya untuk menangkis tuduhan Indonesia merdeka sebagai negara boneka Jepang.

Maka ditunjuklah Sutan Syahrir yang berasal dari Koto Gadang sebagai Perdana Menteri. Ia ditemani H. Agus Salim yang juga berasal dari Koto Gadang. Lalu muncul nama-nama seperti Muhammad Natsir, Assaat, Khairul Saleh, dan sebagainya. Pada setiap generasi, selalu muncul politisi dari Minangkabau. Tidak pernah ada kabinet yang menterinya tidak ada orang Minangnya.

Pada Kabinet Kerja Jokowi sekarang, setidaknya ada 3 menteri dari Minangkabau atau merupakan anak cucu orang Minang. Ada Rizal Ramli, Nila Muluk, dan Sofyan Djalil. Lalu ada Irman Gusman, Ketua DPD, Osman Sapta Odang, Wakil Ketua MPR, dan Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif.

Selain itu ada pula sejumlah tokoh politik nasional yang merupakan anak-cucu atau cicit orang Minangkabau yang berkiprah di dunia politik. Mereka sudah campuran, hanya sebagian dari darahnya mengalir darah Minangkabau, dari pihak ayah atau dari ibu saja.

Yang paling terkenal adalah Syafruddin Prawiranegara, Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada saat para pemimpin Indonesia ditangkap Belanda dan ditawan di Pulau Bangka. Ia pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia dan menjadi ahli moneter Indonesia. Syafruddin adalah cucu orang Minang dari pihak ayah, sedangkan ibunya dari Banten.

Lalu ada politikus dari PKS, mantan presiden partai dan mantan menkominfo, Tifatul Sembiring. Dari ayahnya yang asli Batak ia mendapatkan nama marga Sembiring. Karena nama marga itu terpasang pada namanya, maka ia lebih terkesan sebagai orang Batak. Tetapi ia lahir dan bersekolah sampai SMA di Bukitinggi lalu merantau ke Jawa.

Ibunya adalah orang Minang dari Nagari Tabek Sarojo, sekampung dengan Irman Gusman, Ketua DPD RI yang asli Minang, Dari sukunya dari garis ibu, ia mendapatkan gelar datuk, yaitu Datuk Tumangguang.

Siapa sangka, mantan Presiden Megawati Soekarno Puteri adalah juga cucu atau cicit perantau Minang. Berdasarkan penuturan Megawati sendiri, ia berdarah Minangkabau dari pihak ibu (Fatmawati) yang berasal dari Bengkulu, merupakan keturunan dari keluarga kerajaan Indrapura, salah satu kerajaan kecil di Kabuparen Pesisir Selatan.

Raja Indrapura tunduk kepada raja Minangkabau di Pagaruyung. Orang Bengkulu memang banyak berasal dari Minangkabau. Mereka merantau ke Bengkulu, mungkin satu setengah abad yang lalu. Pada tahun 1800-an, banyak orang Minang meninggalkan kampung halaman karena terjadi Perang Paderi.

Mereka menjauhi kampung halaman mereka yang menjadi pusat peperangan. Ada yang pergi ke utara, menyeberangi wilayah Batak dan sampai di Aceh. Sampai sekarang, sekitar 30% penduduk di Aceh Selatan dan Aceh Barat berasal dari Minangkabau. Mereka masih menggunakan bahasa Minang dalam percakapan sehar-hari.

Lalu ada yang merantau ke wilayah Selatan Sumatera, termasuk Bengkulu dan Palembang. Bahkan ada pula yang menyeberang ke Pulau Bangka dan Belitung. Sedangkan Taufiq Kemas, suami Megawati Soekarno Puteri, yang berasal dari Palembang, ternyata juga berdarah Minang.

Neneknya berasal dari sebuah nagari di Tanah Datar. Taufiq Kemas yang waktu itu menjabat Ketua MPR mendapatkan penghormatan dari sukunya dengan memberikan gelar datuk, yaitu Datuk Basa Batuah. Acara helat pengangkatan Taufiq Kemas menjadi datuk diadakan di Rumah Adat Istana Pagaruyung.

Di Pulau Belitung, ada dua tokoh politik nasional cucu orang Minang. Keduanya menjadi ketua partai politik. Yang pertama adalah DN Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), memimpin kudeta yang dikenal dengan sebutan Gestapu (Gerakan September Tigapuluh).

Ia mengakhiri hidupnya sebagai pelarian dan mati terbunuh pada 1966. Ayahnya bernama Abdullah Aidit, pendiri ormas Islam Nurul Islam yang berafiliasi dengan Muhammadiyah. Sewaktu masih kecil di kampung, ia bernama Ahmad Aidit. Di kampungnya ia rajin sembahyang dan menjadi muazin di mesjid karena suaranya yang lantang.

Pada umur 13 tahun ia pergi merantau ke Jawa dan mulai tertarik membaca buku-buku beraliran sosialis dan komunis, lalu ia menjadi komunis. Ia mengganti nama Ahmad menjadi Dipa Nusantara dan mempopulerkannya dengan singkatan DN Aidit. Tapi kadang-kadang dia menyebutkan DN adalah singkatan Dja’far Nawawi, karena dari kakek neneknya ia berdarah Minang.

Tokoh politik kedua dari Belitung anak cucu orang Minang adalah Yusril Ihza Mahendra. Ia Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) dan menduduki jabatan menteri pada era Presiden Gusdur dan Megawati. Ia juga menjadi ahli Hukum Tata Negara dan mendirikan kantor pengacara bersama adiknya Yusron Ihza Mahendra.

Yusril mengaku berdarah Minangkabau dari pihak ibu yang berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota. Untuk itu, sukunya di nagari ibunya memberikan penghormatan berupa pemberian gelar datuk, yaitu Datuk Maharajo Palinduang. Sedangkan ayahnya berasal dari keluarga kerajaan Johor di Malaysia.

Ada lagi dua tokoh politik berdarah Minangkabau yang berlatar belakang artis. Yang pertama adalah Rano Karno, Gubernur Banten. Ayahnya adalah Soekarno M. Noer, yang berasal dari Bonjol, Kabupaten Pasaman. Bersama adiknya, Ismet M. Noer, mereka menjadi aktor film. Sedangkan Ibu Rano, Lily Istiarti berdarah Sunda dari Bogor.

Rano Karno terkenal sebagai pemain film sejak usia kanak-kanak. Filmnya yang terkenal adalah “Si Dul Anak Betawi”. Pada usia dewasa, ia menjadi produser sekaligus pemain utama pada serial film sinetron “Si Dul Anak Sekolahan”.

Lalu, karena kepopulerannya, ia meloncat menjadi wakil Bupati Tangerang, dan menjadi wakil Gubernur Banten. Sewaktu Gubernur Banten Ratu Atut terkena kasus korupsi, Rano Karno naik pangkat menjadi Plt Gubernur dan akhirnya menjadi Gubernur Banten.

Aktor film berikutnya yang sekaligus politisi berdarah Minang adalah Dede Yusuf. Ayahnya bernama Ir. Tammi Effendi, orang Minang, dan ibunya Rahayu Effendi, berdarah Sunda.
Sekarang Dede Yusuf anggota DPR fraksi Partai Demokrat. Sebelumnya ia menjabat Wakil Gubernur Jawa Barat mendampingi Gubernur Aher.

Tokoh politik lainnya berdarah Minang yang terkenal di DI Yogyakarta adalah Idham Samawi, sekarang anggota DPP PDIP. Ia menjabat dua periode Bupati Bantul dan jabatan itu sekarang digantikan oleh isterinya.

Idham adalah anak H. Samawi yang berasal dari Nagari Magek, Kabupaten Agam. H. Samawi adalah salah satu pendiri dan pemilik Harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta, dan masih eksis sampai sekarang. Sedangkan ibu Idham Samawi berasal dari Cirebon Jawa Barat.

Pada masanya, Idham Samawi tercatat sebagai salah satu bupati yang paling berhasil di Indonesia. Ia dicintai rakyat Bantul, sehingga waktu selesai periode kedua, rakyat Bantul memilih isterinya menjadi pengganti. Idham Samawi termasuk orang yang “tidak lupa kacang dengan kulitnya”.

Ia selalu hadir dalam acara-acara orang Minang di Yogyakarta. Ia juga beberapa kali menengok kampung halaman ayahnya di Nagari Magek, sekitar 10 km dari kota Bukittinggi.
Sekarang adalah era anak cucu orang Minang yang menjadi politisi. Yang asli Minang, yaitu yang lahir di ranah Minang dan mempunyai kedua orang tua asli Minang, sudah sedikit jumlahnya.

Memang masih ada Andrinof Chaniago, yang lahir di Padang dan merantau ke Jawa, lalu sempat menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas.

Ada juga Rizal Ramli yang lahir di Padang. Begitu pula, Irman Gusman, orang Bukittinggi yang merantau ke Jakarta. Tapi selebihnya adalah merupakan anak-cucu orang Minang yang darah keminangannya tinggal separo atau kurang.

Misalnya Armida Alisyahbana, ayahnya Muchtar Kusumaatmaja (Sunda) dan ibunya dari Minang.

Sofyan Djalil yang mengaku dari Aceh tetapi kakek-neneknya berasal dari Pariaman. Muhammad Lutfi, mantan Menteri Perdagangan dan Ketua BKPM adalah anak orang Minang.

Sedangkan Mahendra Siregar, mantan Wakil Menteri Perdagangan berdarah Minang dari pihak ibu. Begitu pula halnya dengan Linda Agum Gumelar (mantan Menteri PPW) berdarah Minang dari pihak ibu.

Demikianlah, orang-orang Minang, terutama anak-anak mereka yang lahir dan besar di perantauan telah benar-benar menjadi orang Indonesia. Mereka menjadi Indonesia, lalu sebagiannya menjadi politikus.

Mereka mengikuti langkah para bapak pendiri republik Indonesia yang sebagiannya adalah orang-orang Minang, bahkan salah satunya menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia, Muhammad Hatta. ***

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mjnasti/anak-cucu-perantau-minang-di-kancah-politik_55dbdca7b493739b04ef92fd

March 25, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

2 Comments »

  1. Tapi ; mereka banyak yang lupa kampung halaman . Namun syukur alhamdulilah, rasa patriotisme & nasionalisme mereka patut di puji dan di teladani

    Comment by zulheldimz | March 25, 2016 | Reply

  2. Masukan yang baik Zulheldimz. Namun tidak semua masyarakat Minang seperti itu. Masih banyak yang masih cinta dengan budaya, agama Islam sebagaimana jati diri orang Minang.

    Comment by Suprizal Tanjung SS | March 27, 2016 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: