Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Izin Gelper Langgar Perda

Biaya Urus Izin hingga Rp 100 Juta

BATAM POS, Batam

Pemberian izin usaha gelanggang permainan ketangkasan elektronik (gelper) di pusat perbelanjaan dan ruko oleh Badan Penanaman Modal (BPM) PTSP Kota Batam bertentangan dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kepariwisataan di Kota Batam.

Di dalam Perda yang dikenal dengan Perda KWTE (kawasan wisata terpadu eksklusif) itu, dinyatakan gelper adalah permainan yang bersifat khusus, sehingga hanya boleh ditempatkan di kawasan khusus.

Pasal 6 Ayat 2 Perda KWTE berbunyi: Pengusahaan jasa rekreasi dan hiburan yang bersifat khusus yangditempatkan di kawasan wisata terpadu eksklusif, terdiri dari: a. gelanggang bola ketangkasan; b. gelanggang permainan mekanik/elektronik; c. panti pijat; d. panti mandi uap; e. klab malam; f. diskotik; g. musik hidup; h. karaoke.

Kenyataannya, izin usaha gelper yang diterbitkan BPM PTSP Kota Batam mayoritas berlokasi di tempat-tempat yang bisa diakses umum seperti mall, ruko, dan sejenisnya -bukan di tempat khusus sebagaimana yang diamanatkan Perda.

Ketua Komisi I DPRD Kota Batam, Nyanyang Haris Pratimura membenarkan banyak lokasi usaha gelper tak sesuai peruntukannya.  ”Bahkan GOR Karate pun dijadikan tempat gelper. Anehnya kok diberikan izin,” ungkapnya, Jumat (25/3/2016).

Selain itu, seluruh mesin gelper harus diverifikasi dan diregistrasi sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 30 tahun 2014 tentang Standar Usaha Arena Permainan.

”Harusnya diverifikasi dan terus dipantau. Tapi ini tak dilakukan,” kata Nyanyang.

Anggota DPRD Provinsi Kepri, Ruslan Kasbulatov, mengatakan DPRD Batam sudah memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk melokalisasi arena gelper jauh dari pemukiman warga.

”Sepuluh tahun setelah dikeluarkannya Perda, tak juga Pemko Batam berbenah,” kata mantan anggota DPRD Batam ini.

Bahkan makin parah, arena gelper yang berdekatan dengan pemukiman banyak yang diizinkan. ”Ini sudah tidak benar,” katanya.

Bahkan menurut mantan Wakil Ketua DPRD Kota Batam ini, pengusaha yang memohon izin usaha gelper tak gratis, mereka harus membayar Rp 50 hingga Rp 100 juta.

”Banyak pengusaha yang mengeluh dan mengadu kepada saya,” ungkapnya lagi.

Berkaitan dengan keberadaan gelper, penutupan dan penyegelan oleh aparat kepolisian Kamis lalu dinilai belum efektif. Buktinya, beberapa arena permainan anak di kawasan mal tetap mengoperasikan mesin ketangkasan tersebut.

Di arena permainan Dunia Fantasi 2, misalnya. Arena permainan yang berada di lantai 3 Nagoya Hill Mall tersebut sekilas hanya merupakan lokasi permainan anak. Namun di dalamnya tampak mesin ketangkasan seperti Fish Hunter.

Mesin tersebut dimainkan orang dewasa. Tak hanya pemain, lokasi itu juga dipadati beberapa pengunjung yang menonton, termasuk anak-anak. Mirisnya, lokasi tersebut juga dipenuhi asap rokok meski banyak anak di sekitarnya.

”Dari dulu sudah ada mesin itu (Fish Hunter). Di sini tidak pernah ada razia. Makanya main lebih terasa nyaman,” ujar Romi, salah seorang pengunjung yang menyaksikan permainan mesin ketangkasan tersebut, Jumat (25/3/2016).

Dia menyebutkan, permainan dengan mesin Fish Hunter ini memang tidak memperebutkan hadiah langsung berupa uang tunai atau benda berharga lainnya. Kata dia, pemenangnya hanya akan mendapatkan koin. Namun koin tersebut bisa ditukar dengan rokok atau minuman di konter Dunia Fabtasi 2.

”Kalau tidak mau rokok, bisa diuangkan kok,” tuturnya lagi.

Sementara itu, Yanti pengunjung lainnya menolak dengan keberadaan orang dewasa yang bermain mesin ketangkasan tersebut. Ia mengaku aktivitas itu mengganggu kenyamanan anak-anak bermain.

”Di sini permainannya lengkap. Anak saya lebih senang main ke sini. Tapi jangan ada asap rokok juga,” kata ibu tiga anak ini di lokasi.

Dia berharap pemilik arena permainan tersebut bisa memberikan kenyamanan permainan kepada anak-anak.

”Kalau bisa permainan anak-anak, ya khusus anak-anak. Apalagi kalau ada judi ya harus ditangkap dong,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolresta Barelang, Kombes Pol, Helmy Santika menegaskan akan menyegel mesin-mesin ketangkasan  yang dimainkan orang dewasa tersebut.

”Permainan orang dewasa disegel. Untuk anak-anak tidak,” tegas Helmy.

Dia menjelaskan Pemerintah harus memeriksa dokumen dan izin permainan anak tersebut. Diduga pemilik lokasi telah menyalahi aturan izin, dimana lokasi hiburan anak mengoperasikan mesin ketangkasan.

”Untuk izin harus sesuai prosedur. Dan mari kita sama-sama mengawasi,” tegasnya lagi.

Helmy juga menampik adanya aparat kepolisian yang terlibat aktif membekingi usaha perjudian di Batam.

Sebelumnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) mengatakan jenis usaha ini perlu diberikan standarisasi. Sehingga keberadaanya tidak menimbulkan keresahan dan menjadi sarana hiburan menarik. Tidak terkesan ada permaianan terselubung

Standarisasi mesin permainan, melibatkan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU) Kementerian Pariwisata serta dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Kemenaker untuk kalangan wasit.

Dukungan penutupan arena judi berkedok gelper ini juga datang dari para orang tua. Mereka khawatir arena judi tersebut berdampak buruk bagi anak-anak.

”Takutnya ini jadi sekolah judi bagi anak-anak,” kata Semi, seorang warga saat ditemui di lokasi gelper De Zone, Batuaji, Batam.

Sebab kata Semi, umumnya lokasi judi di Batam jadi satu dengan arena permainan anak-anak. Ini karena para pengusaha ingin menutupi usaha mereka dengan kedok permainan anak-anak.
Selain dikhawatirkan akan terdampak dan terpengaruh oleh aktivitas judi, Semi juga cemas anak-anak akan terpapar asap rokok di lokasi gelper.

”Karena anak saya suka main di sini (De Zone) makanya kalau bisa dipisahkan ruangan orang dewasa dan anak-anak,” ujar Semi lagi.

Terkait langkah polisi menutup sejumlah gelper yang terindikasi kegiatan judi, Semi mengaku sangat mendukung. ”Kalau bisa ditutup semuanya,” pintanya.

Pengusaha Gelper Tiarap
Sementara itu, sejumlah arena gelper di kawasan Batuaji mendadak tutup, Jumat (25/3). Menurut informasi di lapangan, para pengusaha sengaja menutup usahanya karena takut dirazia polisi.

”Sejak kemarin siang, saat tahu di Nagoya ada penggerebekan, buru-buru langsung tutup di sini,” ujar Syamsudin, salah satu petugas kebersihan di lokasi gelper e-Zone lantai II Mitra Mall, Batuaji, kemarin.

Tidak saja di e-Zone Mitra Mall, gelper De Zone di lantai III Pasar Fanindo juga mengambil langkah yang sama. Ketimbang disegel polisi, gelper yang biasa ramai dikunjungi anak-anak dan orang dewasa itu memilih tutup, kemarin (25/3/2016).

Begitu juga Studio Zone, arena gelper di Ruko Tunas Regency terlihat digembok rapat hingga siang kemarin. Di kawasan Sagulung, gelper di SP Plaza dan Top 100 juga tutup.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Yoga Buanadipta Ilafi, yang memimpin operasi penertiban gelper di Batuaji dan Sagulung pun harus pulang dengan tangan kosong. Pasalnya, sebelum polisi tiba di sana, semua arena gelper sudah tutup rapat dan digembok.

”Lokasi-lokasi yang disampaikan warga saat didatangi sudah tutup. Tapi akan tetap diawasi ke depannya sesuai perintah atasan kami,” ujar Yoga.

Sementara Pemko Batam mengaku mendukung langkah kepolisian menutup semua arena gelper yang terindikasi praktik judi.

”Selagi memang gelper itu dinilai menyalahi aturan, kita dukung langkah yang diambil Polda Kepri dan Polresta Barelang (menutup gelper, red),” ujar Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemko Batam, Ardiwinata, kemarin. (opi/hgt/eja/rna)

March 27, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: