Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Cina Ingin Caplok Natuna

TANJUNGPINANG (BP) – Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana (Purn) Marsetio menilai konflik Cina-Indonesia di Laut Natuna pada Sabtu (19/3/2016) lalu bukan sekedar persoalan pencurian ikan atau illegal fishing. Namun dia melihat ada upaya Cina untuk unjuk kekuatan dan keinginan menguasai wilayah yang kaya sumber daya alam itu.

Hal ini, kata Marsetio, dilihat dari latar belakang permasalahan di kawasan itu yang sejak awal memang melibatkan Cina. Marsetio mencatat, sejak 2010 Cina kerap unjuk kekuatan di Laut Natuna dengan memamerkan kapal perang dengan persenjataan moderen.

Bahkan Cina juga pernah mengklaim wilayah teritorial Indonesia di Laut Natuna. Klaim ini juga diajukan ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

”Sehingga kita harus tegas, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Provinsi Kepri dalam menjaga Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Laut Cina Selatan,” jelas Marsetio di sela-sela kegiatan Forum Konsultasi RPJMD Kepri 2016-2021 di Aula Kantor Gubenur Kepri, Dompak, Tanjungpinang, Senin (28/3/2016).

Pria yang kini menjadi Staf Khusus Pemprov Kepri Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya mengatakan pentingnya Kepri memiliki basis pertahanan militer khusus. Sehingga riak-riak konflik di perbatasan dapat segera ditangani.

”Pertahanan maritim untuk di Kepri berbeda dengan daerah lain. Sekarang sedang hangat dibicarakan, karena masuknya kapal patroli Cina ke wilayah teritorial Indonesia itu,” ujar Marsetio.

Marsetio mengatakan, Natuna harus menjadi benteng pertahanan terdepan Provinsi Kepri. Pemerintah harus tegas terhadap setiap aksi penangkapan ikan ilegal, meskipun kapal nelayan asing tersebut dikawal kapal perang sekalipun.

”Yang jelas Indonesia-Cina tidak ada terikat dalam perjanjian UNCLOS dan tidak mengenal istilah traditional fishing area,” terangnya.

Sebagai Staf Khusus Pemprov Kepri, dirinya sudah memberikan masukan-masukan untuk kebaikan Pemprov Kepri untuk menjaga Natuna dari penjarahan asing. Sebab selain memiliki sumber daya laut yang melimpah, laut Natuna juga menyimpan kekayaan sumber daya alam berupa minyak bumi dan gas alam yang cukup besar. Bahkan voluemnya termasuk yang terbanyak di dunia.

”Kita juga sama-sama mengenal yang namanya hukum nasional dan internasional. Masing-masing negara harus tunduk  dan hormat pada peraturan yang ada,” tegasnya.

Ditambahkannya, dalam pilar kemaritiman yang digagas Presiden adalah menyangkut budaya maritim, sumber daya maritim, deplomasi maritim, dan pertahanan maritim. Dengan pilar ini, daerah harus bersinergi dengan pusat.

”Pertahanan khusus kemaritiman harus totalitas. Ini yang perlu digagas bersama baik pemerintah pusat dengan daerah. Kita juga sepakat dengan pernyataan tegas yang disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Bu Susi, dan Menteri Luar Negeri terkait konflik yang terjadi belakangan ini,” kata pria yang mendapat gelar Dato’ Wira Lela Segara dari LAM Kepri tersebut.

Di tempat yang sama, Gubernur Kepri Muhammad Sani menegaskan kalau batas teritorial Kepri di Laut Cina Selatan adalah kedaulatan Indonesia. Ia juga sepakat, di Natuna dibangun pangkalan militer khusus untuk daerah terdepan. Ia berharap kekuatan militer yang ada di Pulau Sekatung, Natuna, diperkuat dengan alutsista yang moderen.

”Yang namanya wilayah kedaulatan kita, harus kita jaga dan pertahankan. Persoalan ini akan terus kita koordinasikan dengan pusat,” ujar Gubernur.

Selain Laut Natuna, perairan Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, ternyata juga menjadi target penjarahan oleh kapal-kapal nelayan asing. Seperti halnya Natuna, Pulau Tambelan yang dihuni 5.066 jiwa ini juga berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan menyimpan kekayaan laut yang melimpah.

”Kecamatan yang memiliki 60 pulau juga sering dijadikan lokasi illegal fishing. Kami khawatir Tambelan menjadi wilayah rawan konflik seperti Natuna,” ujar Camat Tambelan, Hasan Basri, Senin (28/3).

Pertengahan Maret lalu, Hasan mengaku mendapat laporan dari para nelayan tentang adanya kapal asing yang menangkap ikan di Tambelan. Bahkan kapal asing tersbut melemparkan peledak ke kapal nelayan lokal.

Sejauh ini, Hasan mengaku sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk melakukan antisipasi. Di antaranya dengan TNI AL, Satpol PP, dan tokoh masyarakat. Mereka sepakat melakukan patroli rutin untuk menghalau kapal asing yang menangkap ikan secara ilegal di Laut Tambelan.

”Kami akan lakukan patroli secara rutin. Karena kami tak mau insiden 2014 lalu terjadi lagi, dimana nelayan dan anggota TNI AL diculik, dibunuh dan dibuang jasadnya ke laut oleh nelayan asing asal Thailand,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri, Raja Hariza, mengaku sudah berkoordinasi dengan para penegak hukum dalam menanggapi konflik yang sering terjadi antara pemerintah Indonesia dengan negara-negara asing di Laut Cina Selatan.

Dalam koordinasi tersebut, penegak hukum di bidang perikanan sepakat akan melakukan tindakan secara cepat dan tepat waktu. Mulai dari proses penyidikan sampai dengan adanya putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

”Penegak hukum sepakat akan meningkatkan pemberantasan illegal fishing di seluruh perairan Kepri,” katanya.

Kata dia, perairan di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kepri ini memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang besar. Sehingga sering terjadi illegal fishing di daerah perairan tersebut, khususnya di Laut Natuna dan Tambelan yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan.

Berdasarkan Perjanjian Internasional UNCLOS tahun 1982, sebagaian Laut Cina Selatan telah ditetapkan sebagai Alur Laut Kepulauan Indonesia. Namun alur ini sering digunakan sebagai jalur pelayaran bebas yang dapat dilalui oleh kapal-kapal niaga, bahkan sebagai pintu gerbang masuk dan keluarnya kapal-kapal nelayan asing ke wilayah laut indonesia.

”Jika nelayan asing mengambil potensi sumber daya ikan secara ilegal di perairan Kepri, maka hal ini mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi negara kita,” jelasnya. (jpg/ary)

March 29, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: