Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Pertunjukan Teater Bumi Batam di Hari Air se-Dunia

Berharap Tontonan Bisa Jadi Tuntunan

Memperingati Hari Air se Dunia, Teater Bumi Batam, Minggu (27/3/2016) menggelar pertunjukan untuk menggugah kesadaran masyarakat pentingnya menjaga lingkungan dan mempertahankan sumber air.

WAHYUDIN NUR, Batam

Ruangan gelap, bias cahaya berwarna kuning dari lampu yang menyorot ke arah panggung dengan layar putih besar menampilkan suasana kekeringan. Suara dari pemain teater terdengar menembus senyap. Dialog antar-pemain terasa hidup layaknya menonton film di layar digital. Para pemain bergantian keluar dan masuk dari sisi panggung dengan memerankan tokohnya masing-masing.

Malam itu, Teater Bumi Batam (TBB) menampilkan pertunjukan teater Dialog Semesta Air Mata Bumi, jika bumi adalah ibu, air adalah tangisnya, dan semesta adalah masa depanmu. Bagaimana jika tanah tidak lagi menyemburkan mata air?

Bagaimana jika air tidak turun lagi dari langit? Dan bagaimana jika air yang ada, sudah tidak bisa dikonsumsi lagi? Lalu bagaimana manusia harus bersikap, pada siapa manusia harus bergantung?

”Air, di mana aku harus mencari air lagi,” ucap tokoh petani. Tertatih-tatih berjalan sambil meracau dan mencari mata air. Pandangannya terhenti ketika melihat profesor yang sedang memegang sebotol air.

”Prof, bolehkah aku meminta air yang kamu pegang itu,” tanya petani itu.

Profesor itu berpikir sejenak lalu mengatakan akan memberi air tersebut.

”Boleh, tapi kamu hanya boleh meminum air ini satu tutup botol saja,” ucapnya.

Petani itu menghampiri profesor lalu mengambil air dalam tutup botol itu. Ia langsung meneguk airnya. ”Segar sekali, kalau sekarang aku bisa kembali ke ladangku, terima kasih prof,” ucapnya sambil bersyukur.

Belum sempat petani itu menuturkan terima kasih lebih lagi, profesor langsung menimpal dengan kata-katanya.

”Berladang, sudah pasti ladangmu sudah kekeringan, tidak ada yang bisa kamu panen,” ujar profesor.

Hal ini tentu saja menjadi renungan bagi petani itu, ia lantas pergi dengan penuh tanda tanya. Pameran lain datang, ia memerankan tokoh peternak. Langkah yang hampir sama, ia juga sedang kehausan dan mencari sumber air untuk ternaknya. Lagi, profesor memberikan air dengan syarat hanya satu tutup botol saja.

Peternak itu langsung meminumnya, namun ia bertanya-tanya dari mana profesor mendapatkan air bersih yang bisa diminum, sedangkan air di lautan sudah tidak bisa diminum lagi. Lantas air ini berasal dari mana? Apa guna alat yang berada di dekat profesor? Hal itu pun dijawab profesor, dengan mengatakan kekeringan ini karena ulah manusia.

”Kembalilah kepada Tuhan agar semesta ini diberikan jalan keluar dari kekeringan ini,” ungkap profesor.

”Tuhan, apakah Tuhan bisa memberikan air? Jawab Prof, apakah Tuhan bisa?” tanya peternak itu sambil meninggalkan panggung teaternya.

Tidak berselang lama, tokoh berbaju merah yang bernama Komplotan Negara Api datang ke hadapan profesor dan memberikan emas kepada profesor.

”Ini benar emas, emas dan air sekarang harganya sama mahalnya, tapi tetap saja lebih mahal air,” ungkap profesor yang dilanjutkan mengucapkan terima kasih kepada tiga orang tersebut.

Komplotan Negara Api tidak memberinya secara cuma-cuma, profesor harus memberikan alat suling air kepada mereka secara ikhlas atau kekerasan. Tentu saja profesor tua itu kalah dalam hal tenaga. Tidak hanya alat suling air itu yang diambil, profesor pun dihajar hingga tersungkur di atas tanah.

Peternak itupun datang kembali, ia kaget melihat profesor sudah tidak bergerak.

”Prof, bangun Prof. Nggak usahlah kau pergi menghadap Tuhan untuk jawab pertanyaanku prof,” ujarnya yang diiringi tawa penonton.

Profesor itu lantas ditinggalkan pergi, ia baru terbangun setelah petani datang.

”Kemana alat profesor? Bagaimana bisa hidup kita selanjutnya tanpa alat itu Prof? Apakah ada jalan keluar dari kekeringan ini?” tanya petani itu.

Kekeringan mulai bertambah parah, kini jalanan penuh dengan mayat manusia yang mati karena kehausan. Manusia saling memperebutkan satu tetes air.

Pertunjukan teater itu tidak hanya disuguhkan lewat sudut pandang manusia. Elemen semesta seperti tanah, api dan udara pun ikut berdialog untuk mencari air. Kepada kometlah satu-satunya manusia dan semesta berharap.

Mesin yang dirampas oleh komplotan negara api pun sudah rusak, karena mereka menggunakan darah untuk disuling menjadi air. Sedangkan darah manusia itu cepat membeku, seharusnya mereka menyuling air laut yang asin.

Pada akhirnya, profesor mati. Komet yang telah jatuh ke bumi tidak kunjung memberikan air, justru manusialah jalan keluarnya. Tidak ada yang bisa membantu selain manusia itu sendiri.

Rona wajah puas jelas terlihat dari penonton yang hadir. Panitia pun bersuka cita atas suksesnya pertunjukan teaternya. Ketua Teater Bumi Batam, Putri Wijaya Kusuma berharap teater ini bisa menjadi tontonan yang ditunggu masyarakat.

”Kita harap tontonan ini menjadi tuntunan bagi kita semua,” ucap Putri usai pertunjukan.

Ia juga berharap suatu saat nanti, Batam bisa memiliki gedung teater sendiri.

”Kita masih belajar tapi dengan adanya gedung teater sendiri kita lebih semangat juga,” harapnya.

Putri juga mengucapkan terima kasih kepada dukungan masyarakat. ”Terima kasih juga kepada panitia, Fajri Andika selaku sutradara, Dwi Setianto selaku pembina dan produser,” tutupnya. ***

March 30, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: