Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Warga Batam Disandera di Filipina

Pemerintah Siapkan Lima Kapal Perang untuk Pembebasan

EUSEBIUS SARA, Batam

KEUARGA besar Rene Deskartes di Perumahan Villa Paradise Blok J/8, Batuaji, Batam sedang gelisah. Pasalnya Peter Tonsen Barahama, 30, adik kandung Rene, merupakan satu dari 10 warga Indonesia yang disandera kelompok radikal Abu Sayyaf di perairan Filipina.

Peter merupakan kapten tugboat Brahma 12 yang menarik tongkang pengangkut batubara dari Banjarmasin ke Filipina sejak tanggal 11 Maret 2-16 lalu. Kapal mereka kabarnya dibajak oleh kelompok Abu Sayyaf di perairan Languyan di Provinsi Tawi-Tawi Filipina, 25 Maret 2016.

Sampai saat ini Peter dan sembilan anak buah kapal (ABK)-nya masih disandera.

”Kami dapat kabar tanggal 26 (Maret) malam. Itupun dari salah satu saudara yang bekerja se-PT (dengan) Peter,” ujar Hendrik Sahabat, adik sepupu Peter saat ditemui di rumah Rene, Selasa (29/3/2016).

Kabar ini sempat membuat keluarga besar Peter syok. Termasuk orang tua Peter yang berada di Sangir, Sulawesi Utara.

Namun belakangan mereka mulai tenang sambil tetap menanti kabar dari Peter.
”Sempat syok awal dapat kabar itu. Apalagi berita-berita kelompok radikal itu cukup sadis,” kata Hendrik.

Diceritakan Hendrik, Peter yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Utara itu merupakan karyawan PT Patria Maritime Lines yang beralamat di Jalan Jababeka XI Blok H30-40 Industri Cikarang Bekasi sejak tahun 2014 lalu. Oleh perusahaan, lajang 30 tahun itu  dipercayakan untuk menakhodai Tugboat Brahma 12 yang menarik tongkang bermuatan batubara dari Banjarmasin ke Filipina. Peter beberapa kali sudah berhasil membawa tongkang ke tempat tujuan dengan selamat.

”Yang terakhir ini dia berangkatnya tanggal 15 Maret langsung dari Banjarmasin,” ujar Hendrik.

Saat itu, sambung Hendrik, Peter berangkat bersama tugboat lain yang dikapteni oleh sepupu Peter bernama Aking Manudang. Kedua tugboat itu sama-sama menarik tongkang bermuatan batubara milik perusahaan.

”Dua kapal mereka berangkat bersamaan,” katanya.

Keluarga mengaku mendapat kontak terakhir dari Peter pada tangga 23 Maret lalu. Saat itu Peter mengabarkan ke keluarganya bahwa dia akan memasuki peraiaran Filipina dan kemungkinan tidak bisa dihubungi lagi melalui via telepon sebab memasuki zona tanpa jaringan seluler atau telepon.

”Itu saja kabar terakhir Peter ke abangnya (Rene). Dia bilang mau memasuki lokasi yang tak ada sinyalnya,” ujar Hendrik.

Sabtu (26/3), sambung Hendrik, pihak keluarga baru dapat kabar tak baik itu. Salah satu rekan kerja Peter menginformasikan ke keluarga Rene bahwa tugboat Peter dibajak. Peter dan sembilan ABK-nya juga disandera.

”Kabar itu dari teman kerjanya Peter,” ujar Hendrik.

Rene sendiri yang juga menggeluti profesi yang sama dan sedang perjalanan ke Malaysia langsung mengontak keluarganya yang di Batam dan di Sanger untuk mencaritahu kebenaran informasi itu.

”Abang (Rene) juga masih di laut,” kata Hendrik.

Setelah konfirmasi ke perusahaan tempat kerja Peter, pihak perusahaan membenarkan informasi tersebut bahwa dua tugboat yang jalan beriringan itu memang dibajak oleh kelompol Abu Sayyaf. Namun tugboat yang dinahkodai oleh Aking dilepaskan.

”Katanya yang ditahan dan disandera Peter dan 9 ABK-nya saja,” ujar Hendrik.

Meskipun informasi penyanderaan itu sudah beredar kemana-mana, namun Hendrik mengaku bahwa keluarga besar Peter belum mendapat informasi atau kepastian upaya penyelamatan apapun dari pihak pemerintah.

”Yang datang tadi baru dua orang polisi dari Polresta (Barelang), hanya nanya-nanya gitu,” kata Hendrik.

Hendrik yang mewakili Rene, sangat berharap agar pemerintah dan aparat keamanan di negara ini segera bertindak untuk menyelamatkan Peter dan rekan-rekannya.

”Karena katanya kelompok yang menyandera itu minta tebusan sampai Rp 15 miliar. Kami mau ambil dari mana uang sebanyak itu,” tutur Hendrik.

Saat ini diakui Hendrik, keluarga besar Peter belum bisa berbuat banyak selain mengharapkan bantuan pemerintah untuk mengatasi aksi penyanderaan dari kelompok Abu Sayyaf itu.

”Kami hanya bisa berdoa semoga Peter cepat pulang dengan selamat,” ujarnya.

Anak Baik

Hendrik menuturkan, Peter merupakan sosok pemuda yang baik dan penurut di mata keluarga besarnya. Pria kelahiran tahun 1985 itu, tergolong pemuda yang ulet dan tekun. Sehingga tak lama setelah tamat kuliah tahun 2010 silam, Peter langsung terjun ke dunia kerja.

”Hanya beberapa bulan dia nganggur,” ujar Hendrik.

Saat awal menyelesaikan pendidikannya, Peter memang sempat tinggal di Batam untuk mencari kerja. ”Makanya KTP-nya memang KTP Batam,” ujar Hendrik lagi.

Di Batam Peter sempat bekerja di sejumlah perusahaan pelayaran sebelum bekerja di PT Patria Maritime Lines tempat kerjanya saat ini.

”Untuk urusan berlayar sudah cukup lumayan pengalamannya. Dia dipercaya sebagai kapten bukan kali ini saja. Sebelumnya dia sudah bolak balik bawa kapal,” kata Hendrik.

Meskipun tergolong mapan di usianya, namun Peter diakui Hendrik bukan tipe pemuda yang sombong. Dia tetap rendah hati dan perhatian terhadap keluarga.

”Anaknya memang baik. Makanya belum beristri karena masih mikir dengan keluarganya yang lain,” kata Hendrik.

Meskipun sudah memiliki kekasih hati, namun Peter belum menikah. Itu karena bungsu dari tiga bersaudara itu masih ingin membahagiakan kedua orangtua dan keluarga besarnya.

”Kami bangga sama dia. Dia anak yang penurut. Kami sangat berharap agar pemerintah bisa mengatasi masalah ini secepatnya. Takut terjadi kenapa-kenapa dengan Peter dan teman-temanya,” tutur Hendrik.

Pemerintah Akan Bebaskan

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi mengaku pihaknya mengerahkan seluruh konsentrasi untuk menyelesaikan kasus ini. Termasuk berkoordinasi secara langsung Menlu Filipina Jose Rene Dimataga Almendras.

”Prioritas kami saat ini adalah keselamatan 10 WNI yang disandera,” tegasnya.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Ryamizard Ryacudu menjelaskan, pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dengan pihak Menhan Filipina. Sebab, saat ini, posisi tahanan berada di wilayah kedaulatan Filipina. Sehingga TNI tidak bisa masuk begitu saja.
Menhan memastikan, TNI dalam posisi siap siaga, jika sewaktu-waktu diperlukan Filipina untuk melaku kan pembebasan.

Sementara terkait negosiasi, dia menegaskan jika hal tersebut menjadi domain Kementerian Luar Negeri. Termasuk kemungkinan melakukan penebusan atau tidak.

”Kalau kita bisa lepas tanpa bayar ya buat apa bayar,” imbuhnya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mensinyalir, perompak memanfaatkan ketegangan Laut Cina Selatan untuk melakukan aksinya.

”Sudah saya sampaikan dari dulu, harus ada patroli bersama. Kalau ada patroli bersama tak akan ada perompak pencuri ikan,” tuturnya.

Kepala Penerangan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Letkol Inf Joko Tri Hadimantoyo menyampaikan hal yang sama. Anggota Kopassus berada dalam keadaan siap siaga.

”Setiap waktu diminta siap. Itu kan kewenangan pemerintah. Kalau Danjen kita disuruh siap,” ujarnya saat dihubungi.

Untuk peristiwa khusus, lanjutnya, selain Kopassus, satuan lainnya adalah Paskhas dan Denjaka.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Edi Sucipto menambahkan, ada atau tidak ada penyanderaan, KRI TNI AL sudah siaga di berbagai lokasi di sekitar perairan utara Indonesia.

’’Kami selalu siap, kalau ada perintah,’’ terangnya saat dihubungi Jawa Pos (grup Batam Pos).

Sementara Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Ketut Untung Yoga menuturkan bahwa saat ini sedang koordinasi bersama untuk mengetahui lokasi kapal yang telah disandera tersebut. Pemerintah Indonesia tentu akan berupaya keras menemukannya.

”Yang pasti harus ada melindungi WNI,” terangnya.

Teknisnya, TNI dan Polri juga ikut terlibat di lapangan untuk ikut membantu. Upaya itu tentunya didukung dengan informasi intelijen.

”Saat ini semuanya masih dalam proses,” terang jenderal berbintang dua tersebut.

Soal lokasi pencarian, hingga saat ini juga masih belum diketahui. Yang pasti, kapal itu tentu disandarkan di pulau yang ada di Filipina.

”Kan semuanya masih proses ini,” ujarnya mantan Kasespimti Lemdikpol Polri tersebut.

Dia menuturkan, sebenarnya semua saat ini masih cukup rancu. Misalnya, soal apakah ada kru yang dilepaskan dari Kapal Brahma 12, mengingat kapal tersebut sudah ditangan pemerintah Filipina.

”Ya, semua ini masih dalam klarifikasi, belum pasti,” paparnya.

Apakah memungkinkan dilakukan operasi pembebasan? Dia mengatakan bahwa terkait rencana tindakan semua yang terjadi di perbatasan itu pasti ditangani TNI.

Bagian lain, Kadivhumas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan mengatakan, Polri telah berkomunikasi dengan Interpol untuk bisa melakukan langkah-langkah selanjutnya.

’’Kan ada jalur diplomatik,’’ jelasnya.

Namun begitu, Polri akan siap bila sewaktu-waktu diminta bantuannya untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait masalah penyanderaan kapal tersebut.

’’Densus 88 Anti Teror dan Brimob siap untuk dikerahkan,’’ tegasnya.

Sementara itu, Seskab Pramono Anung memastikan bahwa pemerintah bakal mengupayakan pembebasan sandera sesegera mungkin. Sekaligus juga menangkap para penyandera.

”Bagaimanapun mereka telah melakukan tindak kriminal did wilayah NKRI,’’ terangnya usai pencanangan Zona Integritas did lingkungan Sekretariat Kabinet kemarin (29/3).

Disinggung apakah bakal mengerahkan TNI untuk membebaskan sandera, Pramono mengiyakan. Saat ini, Menlu sedang mengumpulkan data-data terkait penyanderaan tersbeut selengkap mungkin.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon meminta kepada pemerintah untuk segera mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya terkait penangkapan ini. Pemerintah diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah dan angkatan bersenjata Filipina, untuk menyelamatkan para sandera WNI tersebut.

”Pemerintah harus mengirim negosiator lah, karena kelompok Abu Sayyaf ini jumlahnya sedikit, tapi cukup militan,” kata Fadli.

Sementara Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menilai, penyanderaan dan pembajakan yang dialami para ABK WNI, menunjukkan kelompok ini makin terdesak dan kesulitan dalam hal pendanaan. Karena itu, mereka melakukan aksi itu dalam rangka mencari perhatian dan menambah sumber pendanaan.

”Pemerintah tidak perlu merespon, tidak perlu bernegosiasi,” kata Mahfudz.

Sedikitnya lima kapal perang yang berpangkalan di Kota Pahlawan digeser ke perairan perbatasan Tarakan-Filipina. Misi khusus diemban komando utama operasi TNI-AL membebaskan WNI yang ditengarai disandera gerombolan teroris Abu Sayyaf. Armada yang ditugaskan antara lain, kapal fregat KRI Ahmad Yani, kapal patroli cepat KRI Ajak dan KRI Badau, kapal cepat rudal KRI Mandau, dan kapal markas KRI Surabaya.

Kepala Dinas Penerangan Koarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman menegaskan, armada kapal perang tersebut didukung beberapa unsur yang mobile. Mereka berada di bawah kendali Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim Laksma TNI I Nyoman Gede Ariawan yang sudah siaga di Tarakan. ‘

”Pasukan khusus seperti Satkopaska Kormatim dan unsur Penerbangan TNI-AL yang onboard di KRI dalam posisi standby,” ungkap Maman kemarin (29/3). (bil/far/idr/byu/bay/jpgrup)

March 30, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: