Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Sehat dan Segar Setelah Membuat Darah Kotor Menyumbat

Keajaiban Terapi Darah

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

BANYAK penyakit bersarang di badan. Penyebabnya sederhana saja. Darah yang kita miliki kotor harus dibuang.

Terapi Darah 2, Raja, Suprizal,

Raja Bakhtiar (kiri), Rodjikhi Bin Kusen dan penulis di ruko Batam Centre, Sabtu (29/4/2016).

Logika saya, wajar penyakit banyak bersarang di badan. Kepala, badah, kaki, pinggang dan lainnya sering sakit. Lha bagaimana tidak sakit. Ibarat got (darah), maka got dalam tubuh kita itu sudah tersumbat karena berbagai kotoran yang wujudnya berupa minum obat-obatan kimia, makanan, minuman, dan lainnya. Lewat terapi ini, got tadi dibersihkan dari darah kotor yang menyumbat.

Ibaratnya lagi, ingus harus dikeluarkan dari hidung, darah mens harus dikeluarkan dari rahim, dahak harus dikeluarkan dari kerongkongan ~ mulut, nanah di bisul, duri di daging, kutu di rambut, kotoran di perut, semua harus dikeluarkan. Kalau tidak apa yang akan terjadi. Semua kotoran itu sudah mengendap beberapa hari, bahkan puluhan tahun.

Lantas, dimana membuang darah tersebut? Tempatnya di Miracle of Blood Therapy, atau Keajaiban Terapi Darah, di lantai dua, Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam Center.

Praktek setiap hari kecuali Jumat. Pelayanan dimulai pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Minggu (3/4/2016) saya untuk pertama kalinya datang berurusan dengan hal yang berbau darah dan mengeluarkan darah manusia. Ketika tiba di lantai satu, seorang petugas mendata nama saya.

Saat itu, kita hanya membayar uang pendaftaran Rp 20 ribu. Sangat murah. Kita juga diberi satu amplop, yang (harus) diisi bantuan ala kadarnya. Nantinya, bantuan itu kita masukkan ke dalam kotak usai berobat di lantai dua.

Petugas tadi meminta saya naik ke lantai dua. Di lantai dua, seorang petugas bertanya lagi. ‘’Mau terapi apa,’’ kata tim pengobatan Miracle of Blood Therapy, atau detoksifikasi (tim ahli terapi).

‘’Badan saya kurang sehat,’’ ujar saya singkat.

Tensi darah saya pun diperiksa. ‘’Normal. Bapak silakan duduk. Tunggu giliran ya,’’ katanya.

Beberapa menit kemudian, giliran saya pun datang.

Seorang bapak berkopiah bernama Isman Maulana, duduk di lantai, sementara saya duduk di bangku sofa. Memang begini sistem pengobatannya. Bukan pasien tidak menghormati orang tua dan orang yang mengobati.

Dia lalu mengambil satu gelar air mineral kecil, membacakan doa, lalu menyerahkan kepada saya air tadi.

‘’Silakan diminum,’’ kata Isman Maulana yang banyak bergurau dalam kerjanya ini.

Gurau ini mungkin dilakukan detoksifikasi ini untuk menghilangkan kesan angker, seram, dan sadis karena harus mengeluarkan darah. Sebab, bagi sebagian orang, mengeluarkan darah itu mengerikan, dan sulit diterima hati. (Padahal setelah saya coba, pandangan itu tidak benar adanya).

Kemudian, tangan saya dituangi air dingin, sejenis alkohol mungkin? Isman Maulana kemudian mencari urat saya. Dapat. Mata saya pejamkan. Kepala saya arahkan ke belakang. Tak mau saya melihat muka paka itu, tangannya, atau jarum yang akan masuk ke tangan saya.

Bapak itu tertawa. Mungkin mengerti apa yang saya rasakah. Ha ha.
‘’Sudah ya?’’ tanya saya ketika ada sedikit pedih, seperti gigitan semut di tangan saya.

‘’Lha tak sakit kan?’’ kata bapak tadi.

Saya pun lega. Hahhhh. Tak mati saja. Insya Allah, tak akan mati saya hanya karena jarum ini.

Darah yang keluar dari tangan saya cukup lancar mengalir. Warnanya juga masih merah. Darah itu ditampung di atas koran. Jadi, pasien akan melihat langsung hitam, normal, atau tersendatnya darahnya saat keluar.

Sekitar 10 menit kemudian, terapi saya selesai. Saya santai sejenak.
Pasien lain seorang ibu duduk di samping saya. Kondisi ibu ini membuat saya harus bersyukur dengan kondisi tubuh dan kesehatan saya. Saya tidak tahu apa penyakit ibu itu. Cuma yang saya lihat, tim kesehatan itu kesulitan mencari urat nadi itu.

‘’Jarum ini lebih besar daripada urat nadi ibu,’’ katanya sambil sekali-kali bergurau.

Agak lama mencari, urat nadi ibu itu pun dapan. Ketika ditusuk, darah yang keluar dari kakinya sangat sedikit dan susah keluar. Darahnya juga hitam. Ketika saya perhatikan, kondisi kulit kaki ibu itu seperti kering. Ada informasi, ada seorang pasien yang ketika badannya ditusuk jarum, darah yang keluar hanya setetes. Sagnat sedikit. Begitu kotor darahnya, dan (mungkin) begitu banyak penyakit yang bersarang di badannya.

Dalam terapi ini saya sempat bertanya. Kalau donor darah, urat mana yang ditusuk? Lalu, kalau mau buang darah kotor, urat mana yang ditusuk? Rupanya letak darah kotor dan darah bersih untuk donor darah itu berbeda.

Logika saya, wajar penyakit banyak bersarang di badan. Kepala, badah, kaki, pinggang dan lainnya sering sakit. Lha bagaimana tidak sakit. Ibarat got (darah), maka got dalam tubuh kita itu sudah tersumbat karena berbagai kotoran yang wujudnya berupa minum obat-obatan kimia, makanan, minuman, dan lainnya. Lewat terapi ini, got tadi dibersihkan dari darah kotor yang menyumbat.

Saya menulis pengalaman ini, bukan untuk mempromosikan Miracle of Blood Therapy. Saya hanya ingin berbagi pengalaman, berbagi kebaikan. Caranya dengan mengajak saudara-saudari, bapak, ibu, adik-adik yang sempat belum tahu, belum dengar, dan kemudian membaca facebook saya ini, atau blog saya: suprizaltanjung.wordpress.com untuk berobat dengan cara mudah, murah, dan menyehatkan.

Silakan coba. Toh biayanya tidak lebih dari satu porzi makanan cepat saji, dan minuman kaleng yang biasa kita konsumsi di mall, supermarket, atau restoran.

Pengelola Miracle of Blood Therapy ini adalah Raja Bakhtiar. Bakhtiar seorang praktisi kesehatan yang memilih darah sebagai cara mengobati berbagai penyakit manusia.

Suami Siti Aminah itu akan membuang darah pasiennya dengan menggunakan jarum suntik yang masih baru, steril. Saat terapi, akan nampak jelas, darah yang penuh toksin, cairan asam urat atau asam lambung dan sebagainya. Itu sangat berbeda dengan darah sehat. Darah itulah yang akan menjelaskan kepada pemiliknya, apa saja yang telah mereka makan dan bagaimana pola hidup mereka selama ini.

Menurut Bakhtiar di dalam darah itulah semua penyakit bermuara.

‘’Dengan membuang darah kotor yang diambil dari kaki, maka semua toksin yang selama bertahun-tahun mengendap dalam tubuh akan terbuang,” tutur pria bertubuh tegap itu yang merupakan alumni Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Tanjungpinang tahun 1999 lalu itu akan memberikan air putih yang telah dido’akan.

“Tujuh puluh persen tubuh manusia itu terdiri dari air, maka media air inilah yang paling tepat untuk proses pengobatan,” sebut sarjana agama dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Miftahul Ulum Tanjungpinang itu.

Lewat kemampuan yang dimilikinya saat ini, anak penyadap getah karet itu tidak melupakan tanggungjawabnya sebagai anggota DPRD Provinsi Kepri. Karena jabatannya saat ini itu adalah amanah dari rakyat Kepri yang akan dimintai pertanggungjawabanya kelak. Bakhtiar tidak mematok biaya terapi pengobatan dari para pasiennya. Silakan bayar seikhlasnya. ***
.
.
.
Batam, Minggu 3 April 2016
.
.
.
http://www.batamtoday.com/berita65131-Ketika-Darah-Bicara&…
.
.
.

April 3, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: