Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kamp Pengungsi Terbaik Dunia, Kini Tak Terawat

Berkunjung ke Kamp Vietnam di Galang, Batam

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Sebagai sebuah destinasi wisata, lokasi Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan cukup tersembunyi. Butuh 1,5 jam lebih menjangkaunya dari pusat kota. Tapi inilah pertimbangan pemerintah ketika mencari tempat yang tepat untuk ikut membantu para pengungsi Perang Vietnam, 37 tahun silam.

Kisah itu berawal dari perang saudara yang pecah di Vietnam, tahun 1955-1975 lalu. Ribuan penduduk Negeri Paman HO itu berduyun-duyun meninggalkan tanah airnya. Berdesak-desakan mereka mengarungi ganasnya Laut Cina Selatan dalam perahu-perahu kayu.

Mereka pun digelari manusia perahu. Satu perahu diisi 40 hingga 100 orang. Di mana ada daratan, di situlah mereka berlabuh dan tinggal. Dan Natuna menjadi tempat persinggahan pertama mereka di Indonesia.

Kabar masuknya pengungsi korban perang Vietnam ke wilayah Indonesia segera saja tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali, masyarakat yang masih bermukim di wilayah bergolak. Para pengungsi mengarahkan perahunya ke Natuna. Presiden RI saat itu, Soeharto, segera bereaksi.

Ia mencari tempat terdekat untuk menampung para pengungsi. Sebuah pulau di dalam wilayah administrasi Kotamadya Batam dianggap cocok menjadi lokasi pengungsian. Pulau itu, Pulau Galang.

“Atas dasar kemanusiaan, Presiden Soeharto menyanggupi membuat kamp pengungsi,” kata Kepala Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan Galang, Said Adnan, Selasa (5/4/2016).

Pemindahan pengungsi dilakukan pada tahun 1979. Mereka masuk pertama kali pada tanggal 4 Oktober 1979. Presiden Soeharto meresmikannya pada 1 Januari 1980.

Terhitung, ada 250 ribu orang Vietnam dan Kamboja yang menetap di kamp. Komisioner Tertinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menggelontorkan dana untuk membangun fasilitas di kamp. Seperti, asrama pengungsi, tempat ibadah, rumah sakit, markas satuan Brigadir Mobil (Brimob) Polisi RI, hingga arena kebugaran.

Kamp ini juga dialiri listrik dan air bersih selama 24 jam penuh. Pendidikan para pengungsi pun diperhatikan dengan cara mendirikan sekolah bahasa Inggris dan Perancis. Bahasa Indonesia dipelajari secara informal. Sementara bahasa yang mereka pergunakan sehari-hari di sana itu bahasa Vietnam.

“Saya alhamdulillah masih bisa kalau diajak ngomong bahasa Vietnam,” kata Said lagi.

Presiden Soeharto telah memerintahkan daerah Galang ini sebagai daerah terisolir. Masyarakat dilarang masuk ke kamp, kecuali untuk barter barang dan berobat. Fasilitas kesehatan di kamp itu bisa dibilang paling canggih dan beroperasi 24 jam penuh.

Kamp itu dibangun di atas lahan seluas 80 hektare. Para pengungsi bebas melakukan kegiatan apapun di dalamnya. Hak asasi manusia (HAM) dijunjung tinggi. Kejahatan yang terjadi di kamp ini hanya termasuk kejahatan ringan. Seperti, misalnya, mencuri. Para pencuri dihukum dengan kurungan di kantor Brimob RI.

Para pengungsi juga bisa pelesiran ke pantai. Yakni, Pantai Melur yang berlokasi tepat di seberang Kamp Vietnam. Biasanya, para pengungsi itu pergi pagi dan pulang di sore hari.

“Karena kebebasan itulah, kamp ini menjadi kamp terbaik di Asia. Mengalahkan kamp di Malaysia, Hongkong, Filipina, dan Thailand,” tutur Said lagi.

Said sudah berada di kamp tersebut sejak pertama kali kamp itu dibangun. Ia menjadi karyawan PT Karya Titan. Ini perusahaan yang bertugas menyuplai listrik dan air untuk kamp.

Kondisi Vietnam berangsur-angsur pulih. Setelah memastikan kondisi Vietnam aman dan pemerintah setempat siap menerima penduduknya, UNHCR memutuskan para pengungsi layak pulang. Namun, sebagian besar pengungsi menolak kembali. Mereka merasa mendapatkan kehidupan baru di Galang.

Namun, proses pemulangan harus tetap berlangsung. Pada tahun 1996, pemulangan itu benar-benar dilaksanakan di bawah komando Satuan Tugas Kemanusiaan Galang. Proses pemulangan berlangsung sepanjang tahun hingga 3 September 1996. Sebanyak 4.750 orang dipulangkan dalam gelombang terakhir pemulangan saat itu.

“Kamp kosong. Pulau ini pun diserahkan ke ABRI (Angkatan Bersenjata RI),” ujarnya lagi.

Oleh pemerintah pusat, keberadaan kamp ini diserahkan ke Otorita Batam (kini Badan Pengusahaan/BP) Batam. Namun, kontrak dengan PBB baru berakhir setahun kemudian. OB menunjuk empat orang untuk mengelola secara teknis. Said Adnan menjadi salah satunya.

“Pada tahun 1997, kami langsung diambil jadi karyawan OB,” katanya.

Mulai saat itu, Said dan tiga orang lainnya diperintahkan untuk mengumpulkan barang-barang peninggalan para pengungsi. Pada tahun 1998, Jembatan Barelang berdiri menyambungkan tiga daratan pulau yang terpisah. Yakni, Batam, Rempang, dan Galang yang disingkat Barelang.

Dua tahun setelah itu, Kamp Vietnam diresmikan sebagai Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan di Galang. Sekolah bahasa Inggris dan Prancis diubah menjadi museum yang menyimpan segala peninggalan itu. Masyarakat boleh datang dan berkunjung.

“Reuni pertama para eks-pengungsi itu tanggal 24 Maret 2005. Waktu itu, ada 186 orang yang datang,” tutur Said.

***

Tak terasa, 16 tahun sudah usia Kamp Vietnam sebagai destinasi wisata sejarah di Batam. Setiap pengunjung yang masuk dikenakan biaya Rp 5 ribu. Mobil dihitung Rp 10 ribu. Kalau sepeda motor Rp 5 ribu per kendaraan.

Pembayaran dilakukan di pos masuk kamp itu. Selanjutnya, pengunjung bebas berkendara. Sayang, tidak ada peta atau brosur yang bisa dijadikan pegangan. Sebagian besar penunjuk jalan juga rusak. Satu-satunya media yang menggambarkan keseluruhan isi Kamp Vietnam itu maket kamp yang di simpan di museum.

Namun, pengunjung tidak akan tersesat di sana. Sebab, akses masuk dan keluar hanya ada satu. Kita akan bertemu pos penjagaan itu ketika keluar nanti.

Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan atau yang masih akrab disebut Kamp Vietnam ini asri dengan pepohonan, meskipun, jalannya telah beraspal. Pohon-pohon itupun menjadi habitat para monyet. Setiap kali ada mobil yang melintas, para monyet akan keluar dari persembunyian. Lalu menunggu makanan dilempar dari dalam mobil.

Sebuah monumen kemanusiaan berdiri tak jauh dari pintu masuk. Monumen yang berupa patung wanita itu dibangun atas dasar rasa simpati pada seorang pengungsi bernama Tinh Nhan. Patung itu menjadi semacam penghormatan untuknya.

Keterangan yang menyertai patung itu bercerita tentang Tinh Nhan. Ia perempuan yang kerap mendapatkan perlakuan tak senonoh dari para pengungsi pria di sana. Tak tahan dengan kondisi itu, Tinh Nhan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di lokasi itu. Beberapa pengunjung mengaku merasa merinding ketika melewati monumen itu.

Tak lama setelah melewati monumen tersebut, terbentang Pemakaman Nghia Trang. Pemakaman ini berisi sekitar 563 nisan. Ini tempat para pengungsi yang meninggal karena sakit atau tua dikuburkan.
Pemakaman ini terawat. Temboknya bercat putih dan bersih. Di altar makam masih tersisa buah-buahan dan hio yang terbakar separuh. Gulungan-gulungan kertas putih berserakan. Isinya, angka-angka. Ternyata, ada juga yang mencari peruntungan di makam ini.

Dua buah perahu tongkang akan merampok pemandangan di kelanjutan perjalanan. Konon, perahu ini perahu asli yang digunakan para pengungsi melintasi Laut Cina Selatan. BP Batam sengaja mempertahankan keasliannya supaya tidak mengurangi muatan sejarah di dalamnya.

“Kami hanya merenovasi bagian-bagian yang rusak,” kata Kepala Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan Galang, Said Adnan.

Ini seperti halnya Kantor Brimob RI dan ruang museum yang dipertahankan dan hanya dipercantik dengan cat. Sayang, tidak demikian dengan bangunan eks Rumah Sakit dan arena kebugaran. Kedua bangunan itu dibiarkan kosong dan tak terawat. Kesan angker terasa saat melewatinya. Sudah pernah ada televisi swasta yang menggunakan bangunan itu sebagai lokasi program misteri mereka.

Secara garis besar, pengelolaan Kamp Vietnam berada di bawah BP Batam. Namun, khusus untuk tempat-tempat ibadah, langsung diserahkan ke yayasan agama masing-masing. Seperti misalnya, Musala yang dikelola masyarakat sekitar, Kuil Quan Nam Tu dan vihara-vihara lain yang dikelola Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), serta Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem yang pengelolaannya diserahkan ke Yayasan Bentara Persada.

Tempat-tempat ibadah itu masih bisa digunakan hingga sekarang. Bahkan ketika hari-hari besar keagamaan, tempat-tempat itu juga ramai dikunjungi. Setiap tahun, setidaknya, ada 4.000 hingga 5.000 orang yang berkunjung. Baik itu warga lokal maupun asing.

Seperti yang dilakukan Cendri dan Darul. Mereka sengaja datang untuk berkunjung untuk mengetahui sejarah Kota Batam. Ia sudah berada di Batam setengah tahun yang lalu. Namun, baru sempat datang saat itu.

“Kata orang, belum ke Batam kalau belum ke sini,” kata Cendri. ***

April 6, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: