Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Orang Minang dan Sejarah Islam di Sulawesi

(Singgalang, 13 Juli 2014)
RVS Post / 13 Februari 2015

Pada tanggal 8 hingga 10 Mei 2014 yang lalu saya menghadiri sebuah pertemuan akbar mahasiswa sejarah se-indonesia yang termasuk dalam Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se Indonesia (IKAHIMSI).

Pertemuan waktu itu dilaksanakan di Indonesia bagian Timur, tepatnya di Universitas Dayanu Ikhsanuddin Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Banyak pelajaran, pengalaman dan cerita menarik yang saya temukan dalam acara yang bertajuk “Merayakan Ingatan, Melawan Amnesia Sejarah” itu. Terutama mengenai eksistensi orang Minang serta perannya dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi.

Awalnya saya sangat senang, karena memang sebagai orang Minang saya merasa sangat dispesialkan di sana. Soalnya, sebagai mahasiswa yang bergelut di bidang kesejarahan, mereka merasa bahwa orang Minang sangat berjasa di kampung halaman mereka, khususnya dalam penyebaran agama Islam.

Di sana, saya, Adil Akbar mahasiswa Universitas Negeri Makassar, Rendi, mahasiswa Universitas Tadulako Palu, menyempatkan diri untuk berdiskusi tentang hal ini.

“Roni, apa kau tahu nama Syekh Abdullah Raqie?” Rendi langsung bertanya kepada saya.

“Saya tidak tahu, memangnya siapa dia?” Saya balik bertanya.

“Dia itu adalah orang Minang, dia adalah orang yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Palu (Sulawesi Tengah). Masa iya kamu tidak tahu?”

Sebagai orang Minang saya merasa malu sekaligus bangga. Malu karena saya sebagai seorang Minang dan seorang mahasiswa sejarah tidak tahu dengan ulama tersebut. Dan bangga karena orang Minang mengambil peran penting di Sulawesi Tengah, khususnya di Palu.

Kemudian Adil Akbar, dia ikut-ikutan bercerita bahwa penyebar Islam pertama kali di Makassar (Sulawesi Selatan) juga berkat peran orang Minang. Saya tambah bangga dengan hal itu.

Tak hanya dalam diskusi itu, ketika kami berkunjung ke istana Kesultanan Buton pada Kamis Malam (8/5). Kami juga berdiskusi dengan Sultan Buton ke-40 Sultan La Ode Muhammad Izat Manarfa dan beberapa perangkat kesultanan. Lagi-lagi, di sini, dengan title “orang Minang,” saya juga merasa paling dispesialkan. Pasalnya dalam diskusi ini, ketika saya hendak bertanya kepada sultan, saya selalu didahulukan. Mungkin juga karena saya adalah peserta yang paling jauh kala itu.

Sultan La Ode Muhammad Izat Manarfa mengatakan kepada kami, bahwa peran orang Minang di Buton juga besar, khususnya dalam menyebarkan agama Islam. Dahulunya Buton merupakan sebuah kerajaan, kemudian, seiring masuknya Islam pada abad ke-16 ke Buton menjadikan kerajaan Buton berubah ke kesultanan. Hal ini juga ada peranan orang Minang. Hal ini semakin membuat saya bangga dan menambah keinginan yang besar untuk mempelajarinya sesampai di Padang.

Ya, sesampai di Padang, saya langsung membuka pustaka kecil saya untuk mencari buku-buku yang memuat eksistensi orang Minang di Indonesia Timur itu, serta referensi-referensi lainnya.

Ternyata benar, peranan orang Minang ketika itu tidak diragukan lagi. Amir Sjarifoedin Tj.A dalam bukunya yang berjudul “Minangkabau; Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain sampai Tuanku Imam Bonjol (2011)” mengatakan bahwa orang Minang telah ada di Gowa pada pertengahan abad ke-16. Namun, baru menunjukan hasil nyata pada awal abad ke-17. Yakni dengan kehadiran tiga orang Mubaligh Islam dari Koto Tangah, Minangkabau.

Mereka adalah Abdul Makmur Khatib Tunggal (Datuk Ri Bandang), Sulaiman Khatib Sulung (Datuk Patimang), Abdul Jawad Khatib Bungsu (Datuk Ri Tiro). Ketiga ulama Minang ini diutus oleh Sultan Aceh dan Sultan Johor untuk mengembangkan Islam di Sulawesi Selatan khususnya dalam wilayah kerajaan Gowa Tallo. Kemudian mereka menggunakan berbagai strategi hingga Islam berhasil dikembangkan di sana.

Sjarifoedin mengatakan bahwa setelah kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam, maka penyebaran Islam di Sulawesi dan Indonesia bagian Timur sangat pesat. Inilah yang agaknya membuat masyarakat Sulawesi menempatkan orang Minang dalam bagian yang spesial dalam kehidupan mereka. Karena dengan peranan ketiga orang ulama Minang itu, Islam berkembang pesat di Sulawesi hingga Indonesia Timur lainnya.

Di Palu sendiri, Islam memang dikembangakan pertama kali oleh Syekh Abdullah Raqie (Datuk Karama), orang Minang. Beliau mengembangkan Islam di sana pada abad ke-17, tepatnya di Tanah Kaili atau Bumi Tadulako, Palu.

Beliau merubah kebiasaan masyarakat yang animisme/dinamisme menjadi masyarakat yang punya kepercayaan Islam. Hal ini menempatkan beliau dalam wilayah yang spesial pada masyarakat tanah Tadulako tersebut.

Kemudian di Buton, penyebaran Islam juga berkat peranan orang Minang juga—walaupun dalam beberapa sumber bukan beliau yang pertama kalinya. Namun, dalam beberapa buku dan dalam diskusi saya dengan Sultan Buton ke-40 itu, bahwasannya peranan orang Minang dalam penyebaran Islam di sana juga sangat besar. Bahkan, dalam diskusi itu Sultan Buton sangat mengakui peranan orang Minang tersebut.

Tulisan ini sebenarnya bukan sekadar bercerita saja. Namun, lebih membawa masyarakat Minang untuk bangga dan belajar dari sejarah. Dari sejarah, kita mengetahui peranan orang Minang begitu besar dahulunya di negeri ini, mulai dari penyebaran Islam, peran melawan penjajah, peran merebut kemerdekaan, hingga dalam pembentukan negara ini, Indonesia. Oleh karena itu, kita mesti menghadirkan kembali peranan itu di zaman sekarang ini.

Padang, 08 Juli 2014

https://rvspost.wordpress.com/2015/02/13/orang-minang-dan-sejarah-islam-di-sulawesi-singgalang-13-juli-2014/

April 6, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: