Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

1.500 Warga Minangkabau asal Pesisir Selatan Merantau ke Papua

PESISIR SELATAN (Palantaminang.com) – Lalu peristiwa yang baru saja ter­jadi Minggu (16/8/2015) yakni kecela­kaan pesawat Trigana Air penerbangan dari Jayapura ke Osibil rupanya di dalam­nya juga terdapat dua orang Puluik Puluik yakni Epiardi (40) dan Armaita (38). Mata publik juga kembali tertuju ke Puluik Puluik, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang sela­ma ini dikenal dengan Titian Akarnya

Usut punya usut ru­pa­nya, Papua merupakan wilayah tujuan merantau bagi warga Puluik Puluik. Berdasar­kan data Kecamatan Bayang Utara jumlah warga Puluik Pu­luik yang merantau ke Tanah Papua melebihi separuh jumlah penduduk di nagari tersebut.

Camat Bayang Utara, Asril Pitir menyebutkan, berdasarkan pen­dataan baru-baru ini terhadap penduduk di kecamatan yang berbatasan dengan Alahan Pan­jang Solok itu, rupanya jumlah warga yang merantau ke Papua mencapai 1.500 orang. Bila dita­nyai dari rumah ke rumah maka penghuni rumah menyebutkan sebagian anggota keluarga di Papua.

“Biasanya yang menetap di kampung adalah para orang tua, anak usia sekolah. Jarang dite­mukan anak lulusan SMA di rumah penduduk karena telah pergi me­rantau ke Papua,” katanya.

Selanjutnya Akmal Bucok ( 58 ) salah seorang perantau Papua menyebutkan, merantau sudah menjadi kebiasaan bagi warga Puluik Puluik. Ada beberapa hal yang membuat warga di sini suka merantau, misalnya sempitnya lapangan kerja di Puluik Puluik. Lahan pertanian terbatas semen­tara jumlah penduduk besar. Ke­dua, sebetulnya topografi wilayah yang menjadi tujuan merantau di Papua ada kemiripan dengan sejumlah kampung di Puluik Puluik, misalnya Kam­puang Ca­lau yang berada di perbukitan.

Mereka tersebar di beberapa wilayah yang topografinya mirip dengan Calau misalnya Jaya Pura, Wamena, Puncak Jaya, Oksibil Jayapura, dan daerah lainnya. 1.500 jiwa yang tersebar empat wilayah itu mengandalkan eko­nomi dari dagang.

”Meski de­mikian sudah ada pula yang bekerja di instansi pemerintah dan jasa konstruksi,” katanya.

Sejarah Perantau Pertama

Tentu ada tokoh yang “mene­ruka” jalan ke Papua sehingga akhirnya banyak warga Puluik Puluik yang menaruh harapan di negeri paling timur Indonesia itu. Tokoh pertama yang mencoba me­ngadu nasib ke Papua adalah Mai­nus. Awal keberangkatan mai­nus ke Papua berawal ditahun 1966.

Tokoh Masrakat Bayang Uta­ra, Irjal sebelumnya menyebutkan, kondisi topografi daerah ini yang berbukit dan banyak lahan tidak bisa digarap membuat masyarakat memaksakan mencari nafkah di negeri orang. Manfaat merantau itu kemudian memang dirasakan oleh warga, hal ini dapat dilihat dengan kondisi rumah keluarga di sejumlah kampung bagus.

“Tetapi ada juga rumah warga yang sudah bagus, namun tidak ada yang menempatinya, karena selu­ruh anggota keluarganya per­gi me­rantau, baik  ke Jakarta, Pekan Ba­ru, Medan terutama Papua,” katanya.

Manius  kemudian setelah mencoba mengadu nasib pada tahun 1966 itu pulang pada tahun 1970 dan telah berhasil, karena keber­hasilan itu dia mengajak para warga daerah ini untuk mengikuti jejak­nya.

”Mata  pencarian Mainus di sana hanya pedagang,” katanya.

Disebutkannya, orang awak amat piawai dalam menjaga hubu­ngan dengan penduduk lokal, sehingga warga Puluik Puluik yang ada di sana dapat membaur tanpa ada masalah.

”Setiap Leba­ran mereka pulang bersama, dan satu persatu pemuda dan pemudi di Nagari Puluik Puluik yang te­lah tamat sekolah diboyong  oleh mereka yang sudah terlebih da­halu berhasil di Papua,” ujarnya

Diterangkannya, di Kota Wa­me­na Papua terdapat lebih 200 toko milik orang Puluik Puluik Bayang Utara. Para perantau  itu sudah ada yang menjadi milyader dan memberikan kontribusinya kepada daerah.

”Contohnya para perantau  yang berasal dari Papua ikut membantu pemba­ngunan jalan usaha tani, bantuan dana mereka kirim supaya kam­pung mereka bisa juga ikut maju,” tutupnya. (*)

sumber:harianhaluan

http://palantaminang.com/1-500-warga-puluik-puluik-pesisir-selatan-merantau-ke-papua/

April 7, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: