Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Dari Kupang Sampai ka Sarilamak

Rang Rantau Taragak Mamak, Kunjungi Alis Marajo

Dodi Syahputra, Limapuluh Kota
(Catatan Jurnalistik Dan Personal)

Kamanakan barajo ka mamak, Mamak barajo ka panghulu, Panghulu barajo ka mufakat, Mufakat barajo ka nan bana, Bana badiri sandirinyo. Seiring dengan itulah, perantau Luak Limopuluah dari Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) pulang kampung melihat Datuak Sori Marajo dilewa jadi Bupati Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Faizal Jufri, putra suku Kampai dan Anton Iskandar suku Pitopang tak terkira gembiranya, saat mendengar Alis Marajo Datuak Sori Marajo dilantik menjadi Bupati Limapuluh Kota. Sontak, keinginan pulang kampung halaman terbetik di hati kedua pengusaha rumah makan yang besar di Kota Kupang ini.

Rumah Makan Nan Bagonjong dan Rumah Makan Sari Bundo, kini menjadi trademark warga Minang yang merantau di Nusa Tenggara Timur. Provinsi yang berbatas langsung dengan negara Timor Leste ini penduduknya tersebar di puluhan pulau. Termasuklah, warga Minang yang 1.500 an jumlahnya di sana.

Alis Marajo benar-benar jadi panutan dan idola di Kupang. Betapa tidak, khasnya Urang Awak cepat pintarnya. Setengah pegawai dua rumah makan besar ini Urang Awak. Makanya, khas Minang begitu kental di pusat kota Kupang ini.

Bersama dengan dua seniman Minang, Titis Silvia dan Hendri Ikhwardi yang juga pulang kampung menyaksikan pelantikan paling sukses di Sumbar itu, kedua perantau Minang di Kupang itu menuturkan langsung ke Rakyat Sumbar Utara tentang persepsi mereka pulang kampung. Keduanya, mengaku bahwa kali keduanya bisa pulang ke Luak Limopuluah sebab pelantikan Datuak Sori Marajo jadi Bupati.

“Sungguh, kami sangat ingin, Gonjong Limo, adat serta budaya Minang ikut hidup kembali. Tali persaudaraan, tali silaturahmi ingin kami pererat terus,” ujar Faizal dan Anton berharap banyak.

Alis Marajo selaku niniak mamak yang kini juga Bupati kembali di Limapuluh Kota, menumpangkan harap dan keinginan agar masyarakat Minang di rantau, khususnya di Kupang bersatu, terkoordinir dan mampu berbuat banyak.

Rata-rata, orang Minang yang sekitar 700 KK dan rang rantau Luak Limopuluah yang sekitar 150 KK di NTT, selalu berkumpul sekali waktu. Jalinan pengajian dan arisan serta pemberdayaan adat dan tradisi terus dilakukan.

“Di Kupang ada organisasi Ikatan Keluarga Minang Saiyo Sakato, ada juga Gonjong Limo yang bersekretariat di Rumah Makan Nan Bagonjong. Kunjungan terakhir Urang Awak di Kupang dilakukan oleh Komisi D DPRD Sumbar yang kala itu dimotori oleh Arius Sampeno, tahun 2002. Kami ingin ikatan ini lebih erat, saling menguntungkan dan terjalinnya kerjasama ekonomi, pemeliharaan kebudayaan serta adat dan tradisi Minangkabau di Kupang,” tukas Faizal.

Meski di Kupang sendiri Bahasa Indonesia diiringi bahasa Rote, Sabu, dan bahasa lokal Timor, namun keluarga Minang terus menghidupkan tradisi berbahasa Minangkabau di antara sesama.

“Osan baraclos atau Osan Lahira,” ungkapan yang dalam bahasa lokal berarti tidak berduit sangat dihindari oleh Urang Awak di Kupang. Bahwa orang Minang harus mampu mandiri dan tidak menganggur betul-betul tertanam. Bahkan disemangati oleh pemuda Minang yang tengah berkuliah di Universitas Cendana Kupang.

20 Tahun merantau, Faizal dan Anton yang telah meninggalkan Luak Limopuluah menuju Kupang sejak 1987, merasa pentingnya bertemu muka dengan Alis Marajo. Perantau yang jauhnya, tiga kali naik pesawat terbang rela datang untuk menyapa Alis Marajo.

Panutan mereka, perantau Kupang salah satunya dosen Universitas Cendana, Asrial Khatib Sutan Sati yang mengajarkan kemandirian bagi pemuda Minang di Kupang sana. Bahkan, Rektor pertama Universitas Cendana disebutkan dari Minang.

“Mamak, kami kini sedang membangun Gedung Serba Guna, 20 x 16 meter untuk kegiatan Ikatan Keluarga Minang di Kupang. Insya Allah, 2011 kami undang Mamak untuk meresmikan,” ujar duet perantau ini ke Alis Marajo, malam tadi.

Seminggu sudah keduanya berdiam di kampung halaman. Rindu mulai terobati. Minggu besok keduanya kembali ke Kupang sambil membawa harapan akan makin eratnya persaudaraan dengan Luak Limopuluah khususnya, Minangkabau sebagai kampung tempat mereka kembali pulang kampung nanti.

“Disertai harap dan salam seluruh masyarakat Minang di Kupang, kami ingin Pak Bupati yang juga Mamak kami, Datuak Sori Marajo untuk datang melihat, menengok, sembari memberikan masukan, nasihat dan tauladan bagi kami,” pungkas Faizal Jufri dan Anton Iskandar di salam perpisahannya dengan Alis Marajo. ***

https://dodisyahputra.wordpress.com/2010/11/18/dari-kupang-sampai-ka-sarilamak/

April 7, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: