Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Leluhur Suku Ruteng di NTT dari Minangkabau

POSMETRO, NTT – Ruteng merupakan ibukota Manggarai, salah satu kawasan di Flores, Nusa Tenggara Timur yang cukup maju. Memiliki hawa yang sejuk dan jalan yang terhubung ke berbagai tempat menarik, seperti Maumere dan Labuan Bajo, membuat Ruteng kerap menjadi tempat persinggahan sebelum menjelajahi lebih banyak tempat di Nusa Tenggara Timur.

Sisi keunikan Ruteng bukan hanya tentang ditemukannya Homo Floresiensis, yang menghebohkan dunia ilmu pengetahuan, kawasan adat ini juga menjadi titik tersebarnya fenomena alam berupa Crop Circle yang banyak mencuri perhatian banyak orang. Jauh sebelum orang-orang mengenal Circle Corp, masyarakat Ruteng telah mengenalnya dari generasi ke generasi.

Masyarakat adat Ruteng mengenal sistem pembagian lahan pertanian yang dikenal dengan nama Lodok. Sesuai dengan tradisinya, sitem Lodok diawali dengan penanaman sebatang pohon di titik tengah lingko yang dikenal dengan nama ‘Hamparan’. Tetua adat kemudian membagi-bagikan lahan kepada para petani, dengan menarik garis dari titik tengah hingga ke titik batas luarnya, sehingga membentuk pola seperti layaknya Crop Circle.

Salah satu kawasan adat Ruteng yang masih menggunakan tradisi Lodok dalam pembagian lahan pertanian adalah Desa Adat Ruteng Pu’u. Menurut catatan, leluhur Ruteng Pu’u yang datang ke Flores berasal dari Minangkabau dan Gowa, Sulawesi Selatan. Desa ini menjadi unik lantaran terdapat altar dan makam batu para leluhur yang lokasinya berada tepat di tengah tengah desa. Selain berkebun kopi, masyarakat adat Ruteng Pu’u juga hidup dari hasil pertanian.

Asal usul orang Ruteng dan Runtu

Kampung Ruteng sejak dulu dihuni oleh dua klan yang berbeda, Ata Ruteng dan Ata Runtu. Suku Ruteng dikisahkan mempunyai leluhur orang Minangkabau, Sumatra Barat. Leluhur mereka terdiri dari Nggoang (yang memperanakan orang Ruteng), Roang yang memperanakan orang Pitak, dan Wulang yang memperanakan orang Leda.

Mereka datang dari Minangkabau melalui Goa (Sulawesi Selatan), kemudian menyusur melewati Bima (NTB), dan pada akhirnya mendarat di Warloka(Manggarai Barat). Bersama juga ada leluhur orang Todo menepi di Satar Mese. Ketika tiba di Nte’er atau Pela , leluhur orang Todo dan leluhur orang Ruteng berpisah. Orang Ruteng meneruskan perjalanan menuju arah timur dan menetap di Ndosor (sebuah wilayah pegunungan di bagian selatan Kota Ruteng, sekarang di sebut poco Nenu)

Sementara historigrafi orang Runtu hanya diceritakan melalui cerita rakyat yang diturun-temurunkan. Ada kisah bahwa leluhur mereka adalah Sawu. Ia berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Setibanya di Manggarai Sawu menempati wilayah Mando Sawu.

Ia memiliki dua anak, Sawu Sa yang laki-laki dan Riwe yang perempuan ( Robert Syukur, Adak Penti Compang Ruteng: Sebuah Simbol Ziarah Pencarian Diri Orang Ruteng, unpublicated, hal. 12). Ada keyakinan bahwa mereka yang pertama menempati kampung itu dan membangunnya, yang mereka sebut Beo Ruteng atau kampung Ruteng. ***

(liputan6.com)
(fianroger.wordpress.com)

http://www.posmetro.info/2015/07/leluhur-minangkabau-di-ntt-sejak-dulu.html

April 7, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: