Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Filipina Bentrok dengan Kelompok Abu Sayyaf

Pemerintah Yakinkan Keselamatan 10 WNI

JAKARTA (BP) – Militer Filipina terlibat bentrok dengan ratusan kelompok Abu Sayyaf, kemarin pagi.  Konfrontasi dengan kelompok separatis di Filipina Selatan tersebut dilakukan di tengah upaya pembebasan sandera, termasuk 10 WNI anak buah kapal (ABK) Brahma 12. Meski ada intervensi militer, pemerintah Indonesia menyatakan keadaan WNI yang disandera masih selamat.

Bentrok terjadi antara Batalyon Infanteri 44 Filipina dengan tak kurang dari 120 orang yang dipercaya sebagai kelompok Abu Sayyaf. Sedikitnya 22 orang tentara Filipina terluka.

”Bentrokan itu terjadi di Distrik Banguindan, Kota Tipo-tipo, Pulau Basilan. Waktu kerjadian sekitar 08.00 pagi (waktu setempat),” ujar juru bicara Komando Mindanao Barat Filemon Tan, sebagaimana dilansir Inquirer.com, Sabtu (9/4/2016).

Pulau Basilan merupakan sasaran yang menjadi fokus otoritas Filipina. Sebelum bentrokan terjadi, aparat Filipina sudah melakukan penangkapan dua tersangka yang diduga terkait kelompok Abu Sayyaf. Kedua penangkapan itu dilakukan di Pulau Basilan.

Sedangkan pergerakan aparat di markas Abu Sayyaf lainnya, yakni di Pulau Sulu, masih belum diketahui. Pulau Sulu diyakini sebagai tempat penyanderaan WNI. Satu-satunya aktivitas yang diketahui adalah penjemputan Rolando del Torchio, sandera asal Italia, di pelabuhan Jolo, Kepulauan Sulu.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Arrmantha Nasir mengaku masih belum mendapatkan laporan resmi terkait hal tersebut. Namun, dia menegaskan koordinasi dengan pemerintah Filipina untuk memastikan keselamatan 10 WNI terus dilakukan.

”Komunikasi itu dilakukan secara personal oleh Ibu Menlu (Retno Marsudi). Dan sesuai pernyataan sebelumnya, kami masih memastikan bahwa kondisi 10 WNI masih dalam keadaan selamat” terangnya.

Upaya pembebasan 10 WNI yang menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina juga terus dipantau ketat Istana. Hampir setiap hari, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dipanggil ke Istana untuk melaporkan langsung proses pembebasan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Kantor Staf Presiden (KSP) pun ikut menjadi pihak yang secara khusus memberikan kajian dan masukan kepada presiden. Deputi KSP bidang Politik, Hukum, Keamanan, dan HAM Jaleswari Pramodhawardhani mengatakan, negosiasi tetap menjadi opsi utama karena opsi operasi militer terhalang regulasi pemerintah Filipina.

”Tapi, negara tak boleh kalah dan tampak lemah menghadapi teroris,” ujarnya.

Jaleswari yang berlatar belakang pengamat militer dan intelijen menyebut, dirinya tak bisa membeber detil masukan yang disampaikan KSP kepada presiden karena terkait keselamatan sandera. Namun, dia memastikan bahwa pemerintah Indonesia tidak diam saja.

”Semua terus bergerak untuk memastikan perlindungan pada warga negara,” katanya.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, upaya diplomasi memang menjadi prioritas. Namun, pemerintah akan mendukung langkah Filipina dalam upaya pembebasan. Termasuk jika harus dilakukan melalui operasi militer.

”Kalau Filipina mengizinkan, TNI Polri sangat siap,” ucapnya.

Politikus PDIP itu menyebut, pemerintah Filipina terus memutakhirkan informasi perkembangan upaya pembebasan sandera. Termasuk informasi pasukan militer Filipina sudah mengatahui lokasi kelompok Abu Sayyaf.

”Jadi kita harapkan hasil terbaik dan sandera bisa selamat,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen Tatang Sulaiman mengatakan, pihaknya masih memantau perkembangan sandera WNI melalui otoritas di Filipina. Menurutnya, saat ini pihat angkatan bersenjata Filipina tengah berusaha berbagai cara membebaskan sandera.

”Kita berharap semua berjalan sesuai keinginan, yaitu cepat dan aman,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Sementara terkait kesiapan TNI, Tatang menegaskan pihaknya dalam posisi siap.

Bahkan, berbagai skenario telah dipersiapkan TNI yang kini berada di Tarakan, Kalimantan Utara. Namun, dengan alasan keamanan, mantan Kapala Staf Kodam (Kasdam) XVII Cendrawasih itu enggan membeberkannya.

Kepala Staf TNI AU, Marsekal Agus Supriatna yakin TNI mampu melakukan operasi pembebasan.

”Kita mampu memantau gerak orang pada satu titik. Mau sembunyi di mana kita bisa tangkap,” ujar Agus, kemarin. (jpgrup)

Namun, mengingat belum ada izin dan permintaan bantuan oleh otoritas Filipina, TNI belum bisa melakukan upaya operasi pembebasan. ”Kita sudah siap. Semua sudah ada di Tarakan. Tinggal menunggu mandat dari Filipina,” tutur Marsekal kelahiran Bandung tersebut. (bil/owi/far/sof/jpgrup)

April 10, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: