Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Sani adalah Teladan tentang Pengabdian

Melihat Sosok Almarhum Sani dari Sudut Pandang Seorang Veteran

FARADILLA, Tanjungpinang

Muhammad tak beranjak dari kursinya, Jumat (8/3/2016) malam di bawah tenda yang berdiri Jalan Cempedak, Tanjungpinang. Ia sudah berjanji menanti kedatangan jenazah Gubernur Kepri H Muhammad Sani, rekan yang menemaninya mengurus pengungsi Vietnam puluhan tahun silam.

Kenangan berkesan tidak mungkin atau tidak akan pernah hilang dalam ingatan. Terlebih sebuah kenangan yang tidak dipunya banyak orang. Muhammad merasakan peristiwa susah-legah mengurus pengungsi Vietnam dekade 1970-an lalu, seolah baru kemarin.

Bersama mendiang Muhammad Sani, yang kala itu menjabat sebagai Wali Kota Administratif Tanjungpinang, duo Muhammad ini bertekad memberikan yang kerja terbaiknya.

”Maklum saja. Saat itu, adalah penugasan saya pertama di Tanjungpinang dan Pak Sani baru kali pertama menjabat sebagai kepala daerah,” kenang Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kepri, Muhammad pada Batam Pos, di sela-sela melayat almarhum Muhammad Sani di rumah duka.

Mengurus pengungsi Vietnam yang notabene warga negara asing bukan urusan yang terbilang gampang. Muhammad ingat betul. Saat itu, Sani sampai dihadapkan kepada masalah yang dilematis.

Mengurus pengungsi yang memang secara hukum internasional dilindungi jadi keharusan. Di sisi lain, rupanya kedatangan mereka cukup menguras ketersediaan bahan-bahan pokok penduduk Kota Tanjungpinang.

Situasi ini yang kemudian menampakkan kedigdayaan sekaligus kebijaksaan Sani sebagai pemimpin. Muhammad menyebutkan, tidak ada keraguan maupun kerisauan Sani atas kondisi genting ini.

”Beliau tegas meminta satu hal, atasi permasalahan ini,” kata Muhammad menirukan aksen bicara Sani yang dikenal lugas.

Ketegasan serta kepiawaian Sani melangsungkan lobi-lobi pula yang kemudian pemerintah daerah kala itu bergabung dengan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) menyiasati situasi dilematis dan memastikan proses pengurusan pengungsi Vietnam sebelum dipindahkan ke Pulau Galang, Batam menjadi lebih tertata dan terjamin. Tanpa ragu, Muhammad menyebut semua itu berkat peran besar Sani sebagai pemimpin.

Inilah perkenalan dan persentuhan langsung Muhammad seorang utusan dari daerah yang menangani pengungsi dengan Sani, pejabat yang bertanggung jawab terhadap daerah tujuan para pengungsi. Awal mula yang tidak habis manis sepah dibuang. Duo Muhammad ini semakin waktu semakin erat jabat tangannya sebagai sahabat.

”Di beberapa kesempatan kami pun sering bekerja sama,” kata Muhammad.

Semakin lama mengenal Sani, semakin kagum pula Muhammad dengan sosok kepala daerah tulen yang usianya terpaut enam tahun lebih muda darinya itu. Sebagai pemimpin, Muhammad kagum akan pengabdian Sani terhadap masyarakatnya. Seakan sulit bagi Muhammad untuk mencari penggambaran seorang Sani dalam satu kata. Hanya sepasang jempol di tangan yang mewakili kata-kata Muhammad.

”Pengabdian ke masyarakat dan bangsa itu sulit dicari. Saya belum pernah menemukan orang seperti beliau. Pengabdiannya tak pilih bulu,” beber Muhammad.

Perhatian seorang Sani yang, kata Muhammad, tanpa pandang bulu itu juga menyentuh nasib para legiun veteran. Tanpa ragu, Muhammad menyebut Sani sebagai orang nomor satu yang memberikan perhatian terhadap veteran di Indonesia dan bahkan terbaik tiada tandingan.

”Di Indonesia, dia nomor satu,” ucapnya saat ditanyai kesannya terhadap Sani dalam lingkup veteran.

Nomor satunya Sani, ia katakan atas perhatian gubernur tertua se-Indonesia ini terhadap veteran. Tak hanya menghadiahi kantor yang paling ideal dan bagus se-Indonesia, Sani selama masa jabatannya juga tak pernah lepas perhatian terhadap kesejahteraan para pejuang negara. Terbukti dengan komitmen Sani yang mengalirkan dana ekstra teruntuk veteran dan para janda veteran.

”Perhatiannya itu tidak tanggung-tanggung,” ucap Muhammad dengan bayang air tipis di pelupuk matanya.

Kepergian Sani, jelas menyisakan rindu bagi kerabat, rekan kerja, dan tak terlepas bagi para veteran yang selalu mendapatkan limpahan perhatian dari pemimpinnya itu. Kini, Sani hanya dapat dikenang dengan jasanya, kegigihannya, kejenakaannya, pengabdiannya.

Satu pesan Muhammad, tak ada lain selain pengabdian, ketulusan hati, dan perhatian Sani terhadap masyarakatnya adalah teladan yang amat patut ditiru oleh pemimpin Kepri di masa hadapan.

”Mengabdilah seperti seorang Sani,” ucap Muhammad yang masih setia menanti kedatangan jenazah Sani sambil sesekali merapal surah Al-fatihah buat rekan kerja terbaiknya itu.

Terpukul Kehilangan Tokoh Pemersatu

Tidak hanya veteran kehilangan, tim sukses pemenangan Muhammad Sani dan Nurdin Basirun (Sanur) saat pemilihan Gubernur Kepri lalu juga terpukul dan kehilangan. Salah satu yang terpukul adalah  pemuda Indonesia Timur, Hubertus LD yang juga salah satu tim pemenangan Sanur merasakan hal yang sama. Menurutnya, Sani bagaikan Ayah yang mengayomi keanekaragaman yang ada di Kepri.

”Pak Sani itu orangnya santun, selalu mengedepankan silaturahmi dan musyawarah. Semua persoalan seakan cair di tangan pak Sani,” kata Hubertus.

Tak lupa, kata Hubertus, pemuda Indonesia Timur mengucapkan belasungkawa yang dalam atas kepergian Muhammad Sani.

”Doa kami semoga Ayah mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan,” katanya. ***

April 10, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: