Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Tersesat 7 Hari di Gunung Merapi Sumatera Barat

Artikel ini ditulis oleh Muhammed Andre Raberta, seorang mahasiswa-aktivis di Kota Padang , Sumatera Barat. Dia mengidolakan habis-habisan Che Guevara. Dia telah nakal sejak lama. Waktu kelas 1 SMP dia memukul gurunya karena baginya sang guru adalah penjilat.

Hutan 11 2

Memasuki hutan.

Ia pernah bekerja sebagai wartawan di koran lokal di Padang , tapi kemudian mengundurkan diri karena dia merasa dijadikan budak oleh pemilik media.

Lalu dia sempat menulis secara freelance di koran-koran lokal.Kini, sembari menyelesaikan studinya di Universitas Andalas, Andre mencari uang dengan bekerja menjaga warnet pada malam hari, sementara waktu luangnya yang lain dipakai untuk beternak kambing.

“Abang datanglah ke Padang , biar kita sembelih kambingku itu,” katanya saat kami mengobrol lewat chat.

Artikel berikut adalah kisah nyata yang dia alami sendiri saat masih SMA, dan sempat menjadi headline koran-koran terbitan Padang  berhari-hari. Sebenarnya dia sudah menjanjikan artikel ini padaku sejak beberapa bulan silam, tapi baru sempat sekarang. Dia menuliskannya tengah malam, sembari menjaga warnet, dan dikirimkannya ke emailku.

***

Pada tahun 2001, di waktu itulah ada 7 hari dalam perjalanan hidupku, yang membuat aku harus berhadapan dengan maut, meski ada sedikit hal yang terlupa dari rentetan kronologis waktu tersesat tersebut itu karena mauku yang ingin mengubur kenangan pahit itu, tapi akan kuupayakan untuk mengingat keras, sekaligus akan disempurnakan dalam bentuk buku dengan mengambil “cerita” dari kawan-kawan ku yang ikut dalam pendakian tersebut.

Dan tentu saja sahabatku yang menemaniku selama 7 hari hingga keluar dari cengkeraman maut Gunung Merapi dan inilah versiku:

Namaku Andre, ayahku bekerja di sebuah perusahaan BUMN, beliau termasuk orang yang keras dalam mendidik anak terutama anak lelaki, namun demikian dia sangat demokratis, menurutku.

Sayangnya ketika kelas 1 SMP aku mengecewakannya karena aku terpaksa di-DO dari sekolahku karena aku adu tinju dengan salah seorang guruku, yang menurutku tipe penjilat sejati.

Dari kenakalanku inilah aku harus menerima konsekwensi pindah ke Padang , agar bisa naik ke kelas 2 alias tidak mengulang.

Di Padang  aku selesaikan masa SMP ku dengan lancar hingga kelas 2 SMU. Aku dan Noviandi yang seterusnya kupanggil Nopeng membuat geger satu sekolah dan jadi pemberitaan di beberapa media massa karena sepupu papaku ketua PWI, di mana kami tersesat selama 7 hari di gunung merapi Sumatera Barat.

Awal aku mulai mencintai dunia mendaki dan bergiat di alam bebas dimulai sejak kelas 1 SMA dan aku telah mendaki gunung Singgalang 2 kali, dan kegilaanku dengan hobi ini makin menjadi sejak aku bergabung dengan salah satu ekstra kurikuler Siswa Pencinta Alam (SISPALA), hobi yang ditentang tanteku dan keluarganya.

Setiap kali aku minta izin untuk mendaki gunung aku tidak pernah dapat izin, dan aku tetap mendaki karena aku cinta alam rimba. Mencium bau tanah hutan, sejuknya rimba, gemericik air, sambil minum kopi susu di puncak gunung sunggu nikmatnya.

3 hari sebelum kejadian tersebut aku dengan 4 orang kawanku, Nopeng, Uncu, Firman, dan Iwan yang juga tergabung dalam Sispala di sekolahku, berencana akan mendaki Gunung Merapi, gunung yang memilki ketinggian 2891 Mdpl (meter dari permukaan laut). Gunung merapi ini adalah gunung kedua yang sangat ingin kudaki setelah 2 kali berhasil mendaki Gunung Singgalang, yang rutenya lebih berat dibandingkan Gunung Merapi.

Segala persiapan untuk mendakipun mulai dikumpulkan, hingga tibalah harinya, kami berangkat dari Padang  ketika matahari mulai terbenam, dengan naik bus menuju koto baru yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan, rute normal untuk mendaki gunung merapi. Setelah tiba di koto baru, udara dingin mulai menusuk tulang, kami makan dulu untuk mengumpulkan energi, dilanjutkan dengani shalat Isya di masjid Koto baru.

Sesudah shalat kami mulai melakukan pendakian. Baru 15 menit perjalanan, salah satu kawanku menanyakan kaca mata yang kukenakan, dan aku sadar kalau kaca mata itu telah tertinggal di masjid tempat kami shalat tadi, dan salah satu dari kami pergi mencek ke mesjid tersebut,dan anehnya sudah tidak ada lagi?

Dan perjalananpun dilanjutkan, kami juga mendaftarkan nama dipos pasanggrahan, tempat memulai pendakian gunung tersebut sekaligus membayar retribusi kepada penjaga pos, perjalananpun dilanjutkan. Sebenarnya sudah banyak hal aneh yang terjadi dalam perjalanan tersebut.

Ketika aku berada di barisan paling belakang, seperti ada suara-suara yang ribut di belakangku, dan setiap aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa dan hal tersebut juga dirasakan kawanku Firman, dan dia langsung menemaniku berjalanan beriringan di posisi belakang dan ketika menmpuh jalan sempit dia yang mengantikan posisiku di belakang, kawanku ini punya kelebihan seperti indra keenam, tapi dia tidak membahasnya dalam perjalanan tersebut.

Matahari pagi mulai bersinar kami sudah sampai di batas vegeatasi atau cadas, puncak merapi pun telah kelihatan, iwan dan aku yang pertama kali sampai di cadas tersebut, disusul Nopeng, firman dan uncu, yang selama perjalanan aku terus perang mulut dengannya. Kami beristirahat, masak dan mengisi energi, aku sendiri saat itu merasa tidak bisa mengontrol emosiku, aku lupa penyebabnya, hingga aku membuang salah satu periuk yang kami gunakan untuk memasak.

Kemudian membawa tas sandang yang agak kosong, karena perlengkapan logistic kami, sudah di keluarkan semuanya, aku membawa beberapa batang rokok. Kubilang pada keempat kawanku kalau aku mau ke puncak, aku mulai menapaki jalan yang lebih kurang setengah jam menuju puncak merapi, kemudian terdengar Nopeng memanggilku, ”Ndre aku ikutlah, taik lah kau pergi sendiri-sendiri aja,” katanya.

Aku jawab, ”Huss, mulut Peng, di gunung ini, jaga mulutmu,” kataku.

“Astaghfirullah,” Nopeng menjawab sambil menutup mulutnya. Di apun kemudian menyusulku yang baru setengah jalan menuju puncak.

Akhirnya kami tiba di kawasan puncak gunung tersebut, aku takjub, dan bahagia hilang segala penat letih setelah berjalan hampir sepuluh jam, aku melihat ada tugu salah seorang pendaki yang meninggal di Gunung Merapi namanya Abel Tasman.

Menurut cerita dari pendaki-pendaki lain dia meninggal karena menyelamatkan seseorang yang terjebak di kawah gunung tersebut” secara reflek aku mencium tugu tersebut. Banyak pendaki-pendaki lain yang tersenyum kecil melihat ekspresi berlebihan ku itu.

Akhirnya aku dan Nopeng berjalan-jalan mengitari puncak yang banyak kawah-kawah hingga menuju puncak merpati salah satu puncak yang top di gunung merapi, beberapa menit kami di atas puncak sambil menikmati suasana merapi sejauh mata memandang terdampar permadani hijau, betul-betul menenangkan.

Setelah menghabiskan rokok, aku dan Nopeng melanjutkan perjalanan ke ladang bunga eidelweis. Di sinilah awal kisah nyata yang membuktikan bahwa Tuhan punya rencana sendiri terhadap kami berdua.

Kami mulai menuruni puncak Merpati, dan menuju ladang eidelweis, tumbuhan misterius yang tumbuh di kawasan puncak gunung, dan setiap gunung menampilkan bentuk dan ciri khas masing-masing. Aku dan Nopeng dengan sigap dan penuh antusias memetik bunga abadi tersebut, pada saat itu ada beberapa pendaki lainya yang juga memetik bunga tersebut, kami memetiknya seperti lupa waktu. Setiap mata memandang kearah bunga tersebut, bunga tersebut terus memikat kami.

“Peng sudahlah cuma tinggal kita yang ada diladang ini” kataku pada Nopeng yang tetap semangat memetik bunga, hingga bunga tersebut penuh hampir setengah tas. Ketika kami ingin kembali turun, turunlah awan gelap yang membuat kami sulit mengingat kembali jalan balik tersebut, kami berputar di sekitar kawasan puncak gunung merapi.

Perasaanku mulai tidak enak, Nopeng yang berada paling depan sibuk berputar-putar mencari jalan keluar aku yang berada di blakangnya memanggilnya untuk berhenti dan tenang.

”Peng berhenti dulu, ayo kita berpikir dan menenangkan diri, kita panik saat ini.”

Nopeng pun akhirnya menunggu ku dan kami duduk terdiam, ”Gimana selanjutnya Ndre?” tanyanya.

“Aku pun tak tahu, kita coba tunggu saja, mudah-mudahan kabut ini menghilang,” jawabku pasrah.

Kabut mulai hilang sedikit, Nopeng kembali memimpin perjalanan. Kami berputar mencari jalan untuk turun ke bawah. Sampai suatu ketika kami melihat ada sekelompok pendaki jumlahnya aku lupa, mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Akupun bertanya pada mereka, ”Pak (panggilan khas ala pendaki) mau kemana? Kami juga lagi kehilangan arah,” sambungku lagi.

”Kami mau turun Pak, lewat jalur Simabur, kalau Bapak mau ikut, boleh gabung bersama kami,” tawarnya.

Jalur Simabur adalah jalur yang naik lewat daerah Simabur Batusangkar. Sementara aku naik lewat koto baru daerah Padang  Panjang. Kemudian aku menayakan pendapat si Nopeng ”Gimana Peng kita gabung saja?” tanyaku.

“Gak usah Ndre, perasaanku tidak enak,” jawab Nopeng yang berdiri di belakangku.

Aku melihat ke kelompok tersebut, aneh juga, aku liat satu persatu pendaki itu yang laki-laki seperti tersnyum-senyum, sementara yang cewek menangis sesenggukan. Dan dengan berat hati aku mengikuti keputusan Nopeng, untuk tidak ikut bergabung turun gunung bersama kelompok tersebut.

Perjalanan mencari jalan keluar kembali dipimpin oleh Nopeng, setelah lebih kurang 4 atau 5 jam (aku tak bisa memberi tahu waktu pasnya, meski si Nopeng memakai jam, tapi aku, dan dia pun tak ingat lagi perihal waktu, Karena panik) Nopeng menemukan satu jalan turun, yang menyerupai jalan cadas seperti waktu kami naik tadi. meskipun kami sadar bahwa itu bukan jalannya tapi aku ikuti saja.

Setelah penuh perjuangan dan beberapa kali aku terjatuh kami tiba di sebuah jurang yang tidak begitu tinggi, tapi tetap saja kalau langsung lompat kaki bias cedera, Nopeng yang turun pertama berhasil sampai ke bawah.

Dalam hatiku terbersit kuat sekali anak ini, aku bingung tidak tahu mau turun lewat jalan mana. Akhirnya Nopeng menunjukkan jalan mana yang harus kulewati, disaat itu timbul keisengan si Nopeng, di dalam tas yang kami ambil ada tustel, dia mengeluarkan tustel dan membiarkan ku tergantung di bibir jurang.

“Ndre ku foto kau dulu. Ayo senyumlah,” sebutnya.

Kujawab, ”Peng sudahlah gak usah becanda. Kita udah hilang di gunung gini kau masih sempat becanda,” kataku.

”Kalau gak mau kau senyum gak kupegang kakimu supaya kau bisa turun,” katanya.

Aku ikuti saja kemauan si Nopeng, dengan tersenyum kecut dengan gaya memelas “klik”, dan aku pun di bantu turun sama si Nopeng, kemudian gantian dia yang meminta difoto olehku.

”Nah sekarang gantian aku lagi yang kau doto Ndre,” lagi-lagi aku ikuti kemauanya, sesi poto-poto pun selesai.

Perjalanan pun di lanjutkan berkali-kali kami temui jalan curam namun mampu kami lewati, hingga kami bertemu lagi jurang kebawah yang lumayan tinggi. Nopeng yang pertama kali mencoba untuk turun, berhasil melewati jurang tersebut. Aku terdiam, kali ini aku benar-benar tak mampu melewati jurang ini.
saat mencoba berpikir bagaimana agar bias turun, ketika itu tepat di sebelah kananku di sebuah pohon tinggi, entah ilusi atau nyata, aku melihat sesosok tubuh hitam.

Awalnya aku tidak mengira kalau itu adalah sebangsa makhluk halus. Aku melihat ke arahnya, dia kemudian berdiri (aku menulis ini sambil bulu kudukku berdiri, inilah alasannya aku mau mengubur kenangan ini dalam-dalam, meskipun akhirnya kucoba untuk menulis ini, tidak lebih hanya karena ingin berbagi Pengalaman).

Nopeng yang awalnya senang karena mendengar informasiku ada orang di sana, ”Peng ada orang di atas pohon tingginya sama kayak manusia normal,” kataku.

”Ya udah panggil Ndre,” ujarnya.

Belum selesai dia menyuruhku memanggil, aku langsung melanjutkan, ”Peng badannya hitam semua, dia menunjuk-nunjukku seolah-olah ingin menyuruhku balik arah,” sebutku.

Nopeng langsung menjawab, “Ndre jangan dengar kan orang itu. Turunlah kau segera, dia bukan makhluk baik,” katanya.

Di tengah kepanikanku, “Aku tidak tahu mau turun, dari mana Peng? Cepatlah dia mau turun seperti ingin menyusul kita, dia marah Peng” tambahku lagi.

Nopeng yang sudah di bawah tak bisa melihat si makhluk hitam tersbut, langsung menjawab,  ”Lewat sini Ndre”.

Jalan yang ditunjuk Nopeng di sisi kiri jurang tersebut ada rumput dan tanaman yang tumbuh menjalar ke bawah. Tanpa pikir-pikir lagi aku nekat turun melewati jalan yang ditunjukkan Nopeng tersebut.

Karena gravitasi aku meluncur turun dengan tangan yang terus berpegang pada tanaman yang menjalar tersebut, entah bagaimana kejadiannya, posisiku langsung terbalik, kepalaku arah ke bawah dan kakiku ke atas.

Nopeng dengan sigap menyambutku dan sampailah aku di bawah dengan tangan lecet dan seluruh tubuhku dipenuhi tanah dan rerumputan yang menempel di tubuhku.

”Syukurlah kau masih selamat” kata si Nopeng, “Ayo kita lanjutkan perjalanan ini,” kata Nopeng yang langsung berjalan di depanku.

Akupun mengikutinya. Tak lama berjalan lagi-lagi kami bertemu jurang. Kali ini Nopeng mencoba turun ke bawah untuk melihat kondisi jurang tersebut, kemudian Nopeng kembali sambil mengucapkan ayat Kursi (ayat dalam kitab suci Alquran).

“Ada apa Peng?” tanyaku.

Nopeng mulutnya sambil berkomat-kamit, menyebutkan bahwa dia barusan melihat (Ya Allah, kembali bulu kudukku berdiri) ada sesosok tubuh perempuan rambutnya keriting Ndre.

”Dia pakai rok tidak pakai baju, tidur tengkurap di dasar jurang,” katanya.

Aku pucat, dan terpaku, dalam hatiku, “Ya Tuhan. Apa lagi ini?” keluhku.

Nopeng di tengah kepanikannya berkata, “Ndre kita ke bawah yuk, mana tau itu mayat yang dibuang orang Ndre, kita selamatkan jasadnya,” ajaknya.

Langsung kujawab, ”Peng, tunggu dulu, tadi dia kau bilang pakai rok kan? Mana mungkin ada pendaki gunung pakai rok Peng. Mana tahu itu jebakan makhluk halus di sini. Kita berdoa saja Peng, mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada kita,” harapku.

Lalu aku sambil terus memohon agar tidak dihantui makhluk gunung. Nopeng yang tetap mengambil posisi mencari jalan keluar dari gunung yang mulai menakutkan ini. Kami tak melewati jurang itu tapi mengambil sisi kiri di bibir jurang melewati rimba belantara tidak bertuan.

Berjalan makin cepat, berkali-kali aku tertinggal di belakangnya dan terus menyorakinya agar berjalan pelan-pelan. Di tengah perjalanan aku pun mulai pasrah, aku tanyakan ke si Nopeng, ”Masih jauh Peng?”

Nopeng menjawab, “Gak Ndre, sebentar lagi kita sampai, di bawah ini ada jalan raya, kita sampai nanti, bertahanlah, kalau sudah sampai di bawah ada nasi goreng, teh manis. Kita nanti pulang numpang saja sama truk. Aku pernah lewat sini Ndre percayalah” katanya meyakinkanku yang sudah putus asa.

Awalnya aku percaya saja, tapi akhirnya aku tahu, bahwa kawanku ini berbohong. Dia hanya tidak ingin melihat aku putus asa dan menyerah.

Lalu langsung kulepaskan sandalku kedua-duanya, kemudian kubuang. ini kulakukan karena kulihat si Nopeng sudah tidak pakai sandal lagi dan dia hanya pakai baju tanpa lengan, dan celana lapangan yang pendek. melihat tingkahku ini Nopeng bertanya “kenapa kau buang sandal kau Ndre?

“kan kita sudah dekat, lanjut aja gak pa-pa, lagian kau juga udah gak pakai sandal, biar sama kita” jawabku. sandalnya putus waktu dia jalan di depan untuk membuka jalan.

tak lama kemudian aku yang masih di belakang, mendengar suara “brukk”. ternyata Nopeng terjatuh ke jurang (kami berjalan di punggungan bukit-bukit, sehingga tak nampak kalau ada jurang yang demikian dalam dan Nopeng terjatuh kebawah) “Peng…!” teriakku, dan kudengar jawaban dari bawah sana yang lumayan jauh suara tersebut kudengar. “jauh Peng?” tanyaku

“lumayan Ndre, turunlah pelan-pelan” jawab Nopeng.

akhirnya aku turun dengan bertahan pada satu batang kayu kecil yang menempel di tanah, dan beberapa detik kemudian, aku terjatuh. masih sempat kurasakan ada yang benda yang menghantamku dari belakang, lalu kemudian semua putih (ini masih kuingat jelas).

Aku seperti bermimpi ada di rumah tanteku, berbicara dengan salah satu penyanyi organ tunggal, aku memanggilnya Uni, dia seperti sosok kakak bagiku. Kemudian aku merasa seperti terguncang-funcang, kurasakan mataku agak terbuka, kulihat ada seseorang di atas tubuhku yang mencoba membangunkan dan memanggilku, “Ndre, Ndre, bangun, jangan mati,” katanya.

Aku menjawab ”oh kak, ada apa?

“Bukan Ndre, kau lupa sama aku’? kata suara tersebut,

“Ah iya, angah kan, ada apa Ngah?” jawabku lagi

“Ya ampun Ndre, sadarlah, aku Nopeng, kawan kau, Nopeng Ndre” kata Nopeng sambil menguncang-guncang kepalaku,

“Oh iya, ada apa Peng?, kenapa?”

“syukurlah Ndre kau gak mati, coba kau tengok sekeliling?”

Aku pun melihat sekeliling, kulihat semua hijau, dan kudapati aku sedang berada di pinggir sungai di dekat bebatuan yang airnya mengalir deras. “Kita tersesat di gunung Ndre, ayolah ingat semuanya,” paparnya.

Cepatlah hari mau gelap, kita cari tempat untuk istirahat,’ kata si Nopeng yang keningnya berdarah, karena terjatuh ke jurang tadi, dan karena kebesaran Tuhan, dia tidak pingsan sepertiku. Namun ketika aku hendak berdiri, tanganku sebelah kiri tak bisa digerakkan.

“Peng. Tanganku tidak bisa bergerak. Ttolong Peng” kataku.

Nopeng langsung berbalik arah dan memegang tangan ku, serta menyentakkannya, krak! “Udah tuh, coba berdiri dan cepat jalan, hari udah gelap,” kata Nopeng. Dan ajaibnya, tanganku langsung kembali normal.

Aku menyusul Nopeng dari belakang, dan kami naik kearah atas, dan tidur di batang kayu yang udah tumbang. di tengah istirahatku, aku kembali mengajak Nopeng berbicara.

“Peng, aku haus, gimana neh?”

Ya selama kami tersesat kami tidak membawa golok, senter, baju ganti, sepatu, semuanya kami tinggalkan bersama ketiga rekan kami yang di bawah. Di dalam tas hanya ada tustel, garam, 3 siung bawang merah yang tidak sengaja terbawa, 2 batang rokok kretek, dua sachet ekstra jos yang habis kami makan.

Tanpa air di tengah gelapnya rimba, aku merasa haus sekali, “Udahlah Ndre, istirahat aja dulu, besok aja minum, atau kalau kau berani turun lah kebawah, di bawah ada sungai, minumlah, kalau aku tak berani Ndre,”

Aku pun terdiam mendengar jawaban kawanku ini, tiba-tiba aku langsung kebelet pipis, dan timbullah ide untuk minum urine ku sendiri. Tanpa menunggu lama-lama, tanganku sudah penuh air kencing, dan langsung kuminum semuanya. Ini nyata, dan juga kuceritakan pada salah satu wartawan yang meliput ketika aku berhasil keluar dari cengkeraman rimba merapi.

Akhirnya, setelah kita membaca kisah menegangkan dalam tiga bagian artikel sebelumnya, inilah akhir dari kisah petualangan dua anak SMA yang tersesat selama tujuh hari di gunung Merapi yang ditulis oleh Muhammed Andre Raberta dari Padang , Sumbar.

“Apa?” jawab Nopeng pelan.

“Oh, kupikir kau mati Peng. Itu di kening mu ada lalat besar-besar, hinggap,” kataku.

“Biar ajalah Ndre, aku capek.”

Dan kami pun akhirnya terlelap, hujan pun terus turun turun.

Paginya ketika terbangun di sekeliling mata memandang hanya hijau, air sungai yang mengalir. Di sini aku masih melewati jalan-jalan yang semakin terjal, fisik sudah sangat melemah, tangan bengkak. Entah berapa puluh duri yang masuk ke tangan kami, kakipun juga bengkak, karena menempuh medan berat tanpa alas kaki. Terutama kawanku Nopeng, celana yang dia kenakan pertama kali mulai mendaki gunung ini, terlihat pas di pinggang, namun saat itu sudah hampir turun setengah.

Teriakan-teriakan minta tolong sudah jarang kami keluarkan. Berjalan terus menatap dan berharap ada setitik asa di hari keempat ini, kami melewati jalan –jalan rimba. Nopeng paling depan, dan selalu cepat jalannya, aku terus tertinggal di belakang. barang kali, ini yang membuat kami rajin perang mulut.

Hingga kami bertemu lagi dengan jurang yang tidak begitu tinggi, air mengalir deras ke bawah, di sinilah aku dan Nopeng terpisah hampir 2 jam. Nopeng yang jalan pertama mencoba mendaki sisi jurang sebelah kiri, karena kemampuan climbingnya baik. dia pun lolos ke atas sisi jurang tersebut, dengan berpegangan pada rumput yang tumbuh di sisi jurang tersebut. namun aku masih tetap di bawah, dia sudah tak nampak dari pandanganku.

“Peng… gimana aku mo lewat, jalan keatas rumputnya sudah tak kuat lagi” teriakku,

“Lewat aja dari sungai itu Ndre, lompat aja,” jawab Nopeng denga suara menggigil.

“Gak mungkin Peng, aku takut air sungai ini dalam, arusnya cukup besar” jawabku. Kami terdiam beberapa saat.

”Ndre lewat ajalah, nanti gak bisa kita mencari tempat istirahat, lompat ajalah, kalau kau mati, aku juga mati”

Aku tak punya pilihan, kukumpulkan semua nyaliku, kututup hidungku, “Bismillah..” aku pun meloncat.
Sepersekian menit aku dibawa arus. Kupaksakan untuk berdiri. Ternyata air sungai itu dangkal. Mataku langsung menjelajah, ke segala penjuru, mencari Nopeng. Ternyata dia duduk di atas sisi jurang yang agak datar sambil menggigil dan tersenyum melihatku basah-basah.

“Peng aku selamat,” kataku penuh semangat, “Alhamdullillah, tapi bajuku basah semua Peng,” sebutku.

Kemudian kami mulai mencari jalan untuk mencari tempat istirahat. Kami menemukan batang pohon yang sangat besar, berdiri kokoh, dan di bawah batang itu ada lubang. Langsung aja kami memutuskan di tempat ini akan beristirahat. Dengan kondisi yang semakin melemah, namun anehnya kalau dipaksakan, tubuh ini terasa kuat saja…

Nopeng langsung tertidur, maklum dia pimpin jalan, sambil sesekali mengigau, ”bu… bu…”, dia memanggilku ibunya.

Aku masih belum tertidur saat itu, aku duduk menangis sejadi-jadinya, kukeluarkan scraft sispalaku, kusapu semua air mataku hingga scraft itu basah. aku ikat ke salah satu batang pohon yang ada di tempat kami akan tidur malam itu, dalam hati ”jika nanti aku harus mati di perjalanan ini, maka scraft ini adalah bukti, bahwa aku pernah tersesat di gunung ini” lalu aku tertidur, malam itu lumayan tenang tidur kami.

Hingga hari kelima, aku lagi-lagi patah semangat, pasrah dan merasa tak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan. tapi argument Nopeng hari itu sangat membangkitkan semangatku.

“Ndre, kita sama-sama tidak tahu apa ujung perjalanan kita, kita hanya berusaha, dan nanti jika harus mati, kalau dapat kita mati di tepi jurang, biar Tim SAR kerja keras untuk mengangkat jasad kita, kalau cuma kita ditemukan disini, nampak kali kita tak berusaha , ayolah kawan, perasaanku udah agak dekat ini”

Aku langsung semangat lagi, dengan susah payah kupaksakan berdiri, di ujung mataku, tahi mata udah bercampur dengan tanah, benar-benar kumal, aku ikuti langkah sobatku, sambil terus mencoba berusaha memakan yang aku rasa bisa dimakan. ternyata jalan belum juga kami temukan, aku dan Nopeng mulai menikmati perjalanan ini, walau dengan terpaksa.

Sepanjang perjalanan, aku bernyanyi sekuat-kuatnya, mulai dari satu album lagu Band Padi, hingga lagu Rossa ” Gapai Semua Jemariku” melankolis memang. Tapi lagu itu merupakan lagu yang paling sering kunyanyikan, karena betapa rindunya aku bertemu orang-orang, minum teh, dan berharap ada tangan atau jemari yang membantu kami berdua keluar dari rimba belantara merapi yang mulai tak lagi nampak indah.

Malam kelima kami kembali tidur di tepi sungai, untungnya tidak hujan malam itu, dengan beralaskan daun-daunan, dan beratapkan langit. kami melepas penat setelah berjalan seharian. Malam itu aku tidur terakhir, Nopeng sudah terlelap lebih dulu. Aku mencoba rebahan untuk tidur….

Tiba-tiba entah halusinasi atau tidak, dari atas langit aku melihat ada 4 cahaya dengan bentuk yang berbeda-beda turun ke bawah. Cahaya ini tak menakutkanku, malah begitu dia hilang dari pandangan, aku langsung tertidur, dan bermimpi.

Malam itu papaku datang menyusulku, mengajakku pergi, tapi dia tidak bicara, hanya diam saja. Aku kejar papaku itu, namun dari sebelah kiri dan kanan banyak yang menawariku untuk singgah dan minum kopi bersama mereka.

Ajakan itu kutolak dan aku terus mengejar papaku, hingga aku tersandung dan terbangun. Hari sudah mulai agak terang, walau belum begitu terang karena sinar metahari tertutup tingginya hutan belantara.

Hari keenam, kondisi benar-benar lemah, namun Nopeng seperti tiada lelahnya, dia tetap semangat memotivasiku untuk terus bertahan hidup. Tiada pilihan. Perjalanan pun dilanjutkan dan kami tetap mengikuti arah sungai.

Namun hari keenam itu sekitar 3 jam perjalanan aku dan Nopeng dapat merasakan hangatnya sinar mentari penuh. Aku makin kuat bernyanyi, seolah-olah yakin akan adanya kehidupan dan aku masih di beri kesempatan untuk hidup.

Begitu juga Nopeng, banyolan-banyolannya, membuat perjalanan yang sedih dan mengharukan, jadi lebih indah, namun karena banyak istirahat malam itupun kami belum menemui ujung aliran sungai tersebut.

Kami menemukan banyak batang pisang di hari keenam itu. Aku yang begitu semangat mengambil pisang tersebut, namun di dalamnya banyak sekali benda-benda keras seperti batu kecil, dan tak bisa dimakan. Kami beristirahat beralaskan pelepah daun pisang.

Paginya ketika kami terjaga, di atas pohon sepertinya kami ditonton oleh beberapa binatang seperti monyet, namun bulunya berwarna kuning, dia meloncat kesana kemari. Aku bangunkan Nopeng, “Peng banyak monyet di atas sana, warnanya kuning,” jelasku.

Aku coba menjelaskan pada Nopeng. Nopeng melihat keatas, dan melihat monyet-monyet itu begitu ribut, dia pun melanjutkan tidurnya.

“Telungkup saja Peng, biar pas kalo monyet itu terjatuh, dia tak menerkam muka kita,” ajakku. Namun Nopeng cuek aja, aku langsung telungkup dan melanjutkan tidurku.

Kemudian aku tersentak, dan kulihat Nopeng menumbangkan sebatang pohon pisang yang aneh itu, dia mencoba memakannya, namun tak jadi karena banyak batu-batu di dalamnya, “Pisang apa ini?” katanya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami,

“Sudah dekat ini Ndre” Nopeng berkata penuh semangat.

Aku tidak membantah, memaksa bangun dan melanjutkan perjalanan kami. baru sekitar 5 jam kami berjalanan, Nopeng yang paling depan teriak di atas jurang. ”Ndreeeee… ada perumahan penduduk, disini akhir jalan kita Ndre, tapi jalan turun sudah tidak ada lagi, kayanya kita mati Ndre,” katanya.

Kami mendapati jurang air terjun yang sangat tinggi, tak mungkin untuk dituruni. Aku semakin melemah, Nopeng tetap berusaha mencari jalan keluar, dan di sebelah kiri jurang tersebut ada pohon-pohon bamboo. Nopeng naik ke atas hutan bamboo itu, namun memang jalan turun tidak nampak lagi. akhirnya kami pasrah.

”Kita mati juga akhirnya” kataku.

Tak lama berselang kami mendengar dari arah bawah, seperti ada suara orang lagi memotong batang bamboo. klutak klutak. Nopeng menginstruksikan aku supaya berteriak karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk teriak. Ddadanya sakit.

“Tolongggg…,” teriakku.

Aku terdiam sambil menunggu jawaban. “Huuuuu” terdengar dari bawah.

“Pak, tolong kami Pak, kami yang hilang di Gunung Merapi Pak!!” Nopeng berteriak sambil memegang dadanya.

”Polongggg Pak….,” sambungku lagi lebih keras.

”Siapa tuuuuuuu,” suara dari bawah itu menyahut lagi.

”Kami Pak.. yang hilang di Gunung Merapi pak, tolong lah Pak..!” teriakku lagi.

“Iya, bakar celana kalian biar kami susul kesana” jawab suara itu.

“Tak ada pak, korek api tidak ada,”

“Ya udah, goyang-goyangkan tempat kalian sekarang,”

Nopeng langsung mengoyang-goyangkan batang bamboo itu, “Sdah nampak Pak?”

“Oooi…, naik kalian sedikit lagi ke atas, di bawah itu jurang,” jawab suara itu lagi.

Kami saling pandang, lalu naik pelan-pelan ke atas. kami berdoa dalam hati, sambil terus berkomunikasi dengan si suara dari bawah.

Sekitar 2 jam kami menunggu, dari sebelah kiri kami, akhirnya kami melihat 1 orang bapak, dengan keponakannya 4 orang yang badannya tinggi dan tegap. mereka terkejut melihat kami.

“Pak, kami manusia Pak, kami yang hilang di gunung selama beberapa hari ini,”

“Iya, kami tahu, syukurlah kalian masih hidup,”

Dia mendekati kami lalu mengeluarkan bungkusan nasi. Nopeng memakannya dan kemudian dadanya sakit. Pas aku mencoba makan, ternyata aku tidak apa-apa, namun air minum tidak ada.

“Sekarang kita turun ke bawah, bagaimana, kalian masih kuat jalan?” tanya si bapak.

Kami coba berdiri dan ternyata tak mampu. Akhirnya kami digendong di punggung si bapak, dan keempat ponakannya secara bergantian. Kami pasrah dan senyum-senyum sendiri.

“Terima kasih Tuhan, kau beri kesempatan sekali lagi,”

Kemudian kami diantar ke rumah sakit, dan kembali ke kerasnya kehidupan. ***

.

Diposkan oleh ricardo asri di 5:35 AM
.

http://ricardoasri.blogspot.co.id/2013/01/7-hari-tersesat-di-gunung-merapi-sumbar.html

April 10, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

1 Comment »

  1. […] Source: Tersesat 7 Hari di Gunung Merapi Sumatera Barat […]

    Pingback by Tersesat 7 Hari di Gunung Merapi Sumatera Barat | Zulheldimz's Blog | April 10, 2016 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: