Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Lebih Dekat dengan Mustafa Widjaja, Mantan Ketua BP Batam

”Pelari Estafet Tidak akan Sampai ke Finish”

Setelah berkarir selama 34 tahun di Otorita Batam/Badan Pengusahaan Batam, termasuk sepuluh tahun sebagai kepala, Mustafa Widjaja menyerahkan tampuk kepemimpinan BP Batam kepada Hatanto Reksodiputro. Kemana Mustafa setelah tak menjabat lagi?

SOCRATES, Batam

Hari sudah senja. Suasana di lantai delapan kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam, masih seperti biasa. Beberapa karyawan masih di kantor, karena sang ketua, Mustafa Widjaja belum pulang. Tinggal sehari lagi, Mustafa Widjaja berkantor di sana. Hari ini, ia menjadi mantan Ketua BP Batam. Berkemeja putih, raut wajah Mustafa berseri-seri, sebelum serah terima jabatan.

Lelaki kelahiran Kediri 15 Desember 1951 itu, menghabiskan lebih separuh umurnya mengabdi di BP Batam yang dulu bernama Otorita Batam. Ia menjadi pegawai BP Batam sejak tahun 1982. Sebelumnya, Mustafa pernah bekerja di PT IPTN tahun 1979 dan 2 tahun di PT PAL Indonesia.

“Saya mulai bekerja di Batam sejak masih bujangan. Kini sudah punya menantu,” katanya, tersenyum, Rabu (13/4/2016).

Jabatan Pelaksana Tugas Ketua Otorita Batam disandangnya sejak 28 April 2005 selama setahun dan sejak 8 Juni 2006 menjadi Ketua BP Batam. Praktis, sepuluh tahun lebih Mustafa jadi Ketua BP Batam. Mustafa adalah ketua BP Batam terlama, setelah Habibie.  Selama 34 tahun bekerja di BP Batam, banyak hal yang berkesan bagi Mustafa. Sebab, Batam kota yang sangat dinamis. Dan Mustafa mengikuti derap langkah Batam sampai seperti sekarang.

”Banyak hal-hal baru di sini. Bandara Hang Nadim termasuk yang terbaik, dan landasannya masih yang terpanjang di Indonesia. Batam yang pertama bangun jembatan di atas laut, lebih dulu dari Suramadu. Batam harus punya infrastruktur yang bagus, baik ke dalam maupun keluar pulau. Saya ingin Batam punya jalan tol dan prosesnya masih berjalan. Jalan layang sudah dimulai, meskipun belum jadi,” paparnya.

Jalan tol dan jalan layang, kata Mustafa, akan memperlancar arus transportasi di kota pulau ini. Sehingga, kendaraan berat seperti trailer, tidak bercampur dengan sepeda motor dan kendaraan umum.
Ia mengaku bangga pernah menjadi ketua BP Batam. Sebab, perhatian pemerintah pusat terhadap Batam sangat besar. Selain itu, harapan terhadap Batam juga sangat tinggi.

”Saya bangga karena Batam ini satu-satunya di Indonesia,” katanya. Kawasan yang menggunakan label FTZ hanya di Sabang, Bintan, Karimun dan Tanjungpinang. Begitu juga yang termasuk KEK seperti Bitung, Tanjungapi-api. Tapi, Batam infrastruktur dan SDM-nya lebih siap, dan diharapkan lebih maju dan berskala internasional.

Mustafa juga membantah kabar soal penyerahan aset yang dikelola BP Batam selama ini seperti bandara, pelabuhan, rumah sakit ke Pemko Batam. Termasuk soal penghapusan Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO).

”Biarlah pimpinan BP Batam yang baru menjelaskan,” ujarnya, mengelak.  Soal isu karyawan BP Batam akan dipindahkan ke Pemprov atau Pemko Batam, juga tidak benar.

Pekerjaan rumah yang akan dilanjutkan Hatanto Reksodiputro bersama para deputinya, kata Mustafa, antara lain menyelesaikan jalan tol, pelabuhan kontainer dan infrastruktur lainnya seperti pembangunan terminal baru Bandara Hang Nadim. Ditanya masalah listrik dan air bersih yang masih jadi masalah, menurut Mustafa jika pembangkit listrik di Tanjunguncang beroperasi, bisa mengatasi masalah listrik. Lalu, siapa yang mengurus air bersih lantaran kontrak ATB habis tahun 2020.

”Harus ada tender dan tidak bisa ditunjuk lagi,” katanya.

Pembangunan pelabuhan kontainer di Tanjungsauh yang belum terwujud, Mustafa membantah rumor karena campur tangan Singapura. ”Negara tetangga itu ingin juga Batam maju. Kalau dia bertetangga dengan yang baik ekonominya, dia akan dapat manfaat. Begitu juga kalau tetangganya jelek ekonominya, maka akan jadi beban,” katanya.

Mustafa mengingatkan, apa yang terjadi di Batam segera menjadi perhatian nasional dan internasional. Termasuk aksi demo yang belakangan marak di Batam.

”Kalau mau demo boleh, dan ada tempatnya, jangan anarkis. Sebab, sekali demo anarkis, investor akan pergi dan mereka dapat cerita dari mulut ke mulut. Kita jangan bersumbu pendek dan gampang tersulut,” tuturnya.

Meski diganti, Mustafa mengaku tidak merasa gagal jadi Ketua BP Batam. Sebab, sering muncul isu ia bakal diganti, tapi tak jadi-jadi. ”Saya jadi ketua BP Batam sudah sepuluh tahun. Ibarat pelari estafet, dia tidak akan berlari sampai garis finish. Dia akan kalah sama tim yang lain. Prinsip saya, begitu saya naik, suatu saat saya akan turun. Saya menyerahkan tongkat estafet agar tim lain bisa berlari lebih cepat,” katanya.

Bagaimana perasaan Mustafa setelah diganti?

”Secara pribadi saya lega. Anda bisa bayangkan, memimpin 2.500 orang karyawan dengan segala problemanya. Ada karyawan di bandara, pelabuhan laut, rumah sakit, Ditpam dan pemadam kebakaran, kantor air dan ada yang di kantor BP Batam,” katanya.

Lalu, kemana Mustafa Wijaya setelah ini? ”Saya ingin menulis tentang Batam dari sisi seorang pelaksana mulai dari staf, hingga jadi pimpinan. Ada juga yang minta saya mengajar dan jadi dosen. Yang jelas, saya mau santai dulu,” katanya.

Kepada ribuan karyawan BP Batam, Mustafa berharap mereka terus meningkatkan kemampuan dan kualitas kerja. Kepada kalangan pengusaha, ia berpesan agar tetap berinvestasi di Batam karena Batam masih tetap menjanjikan sebagai kawasan bisnis.

”Pupuklah rasa memiliki Batam karena Batam adalah proyeknya Indonesia,” katanya. ***

April 14, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: