Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kekal dalam Ingatan; Gubernur Kepri Muhammad Sani (1942-2016)

Bisnis yang Tak Merugi Adalah Bisnis Kebaikan

Berkesambungan dengan konsep komunikasi silaturahmi hati, mendiang Gubernur Kepri Muhammad Sani juga punya cara memimpin tiada dua. Tak peduli apa diperbuat orang padanya, berbuat baik adalah keharusan.

BATAM POS, Tanjungpinang

Tahun 1999. Sani menemui Gubernur Riau Saleh Djasit. Ada hasrat yang ingin disampaikan. Penerbitan Surat Keputusan (SK) Gubernur tentang mutasi kerjanya cukup menerbitkan kegelisahan. Bukan tentang kenaikan pangkat dari Eselon III.a menjadi Eselon II.a. Bukan tentang itu. Saat itu, Sani menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Kodya Batam dan SK itu memindahkannya ke Pekanbaru sebagai Inspektur Daerah Riau.

“Pak Gubernur,” kata Sani, “Kalaulah mau mempromosikan saya, kenapa tidak di Batam saja?”

Sani merasa perlu mengungkapkan ini. Sekali lagi bukan karena tentang kenaikan golongan pegawainya. Melainkan, karena Sani merasa tidak mampu bila harus bekerja sebagai inspektur daerah yang punya kewajiban memeriksa kesalahan-kesalahan orang. Baginya ini bukan pekerjaan yang sesuai dengan hatinya.

“Karena memeriksa kesalahan kawan dan orang paling tidak saya sukai,” kata Sani kepada Gubernur Saleh.

Namun, gubernur sudah bulat keputusannya. Ia berkata kepada Sani sambil menunjuk garis tangannya.

“Awalnya memang begitu. Tapi retak tangan membawa awak ke situ,” katanya.

Sani tidak punya jawaban lain. Keputusan atasan sudah diteken. Tidak ada lagi alasan untuk menolak. Hanya satu yang pasti, jabatan adalah sebuah amanah dan harus ditunaikan sebaik mungkin. Selama tiga tahun Sani menjabat sebagai Inspektur Daerah Riau.

Kepada masing-masing kepala bidang di bawah pimpinannya, Sani berpesan,

“jangan mencari-cari kesalahan. Lakukanlah pembinaan-pembinaan,” ucapnya.

Prinsip enggan menabur angin karena menuai badai ini yang menjadi seni Sani memimpin. Mulai dari jabatan sebagai Bupati Karimun, Wakil Gubernur Kepri hingga Gubernur Kepri selama dua periode, Sani selalu sebisa mungkin menolak usaha-usaha menabur angin.

“Teruslah berbuat baik kepada siapapun,” begitu tegasnya dalam setiap pidato.

Berbuat baik bukan sekadar keharusan manusia terhadap sesama. Di mata Sani, berbuat baik adalah sebuah bisnis yang senantiasa menuai laba. Untuk mendulang laba besar, kata dia, tidak perlu banyak-banyak pertimbangan dalam menjalani bisnis ini. Cukup dengan selalu mengupayakan diri berbuat baik kepada setiap orang.

“Kalau semua bisnis memang ada peluang ruginya, tapi bisnis kebaikan ini yang tidak pernah merugi,” ucapnya.

Karena gemar berbisnis kebaikan ini pula yang membuat sulit bagi Sani menyimpan dendam. Ketika ada orang lain berbuat tidak baik padanya, haram baginya membalas dengan perlakuan yang sama. Karena apa pun keadaannya, kata Sani, membahagiakan orang lain merupakan keharusan.

Berlagak sombong dan mengerdilkan orang lain sudah pasti sekali-kali jangan.

“Jangan pernah jadi ancaman untuk orang lain,” ungkap Sani.

Cara berpikir ini pula yang kemudian membuat Sani punya analogi menarik dan banyak dikutip orang.

“Orang lempar dengan batu, kita balas dengan pisang.”

Sebagai birokrat yang punya riwayat kerja cukup panjang, Sani menilai pekerjaan seorang pegawai bukan minta dilayani. Karena birokrat sejatinya adalah pelayan rakyat. Karena itu ketika mengabdi dengan pola pikir sebagai pelayan rakyat, timbul hasrat untuk selalu melayani dengan baik. Kalau perlu yang paling baik.

“Kita ada karena rakyat. Oleh karena itu kita harus banyak buat kebaikan untuk rakyat. Berbisnislah kebaikan. Ini bisnis yang tak pernah rugi. Walaupun kadang kala perbuatan baik kita belum tentu diterima orang lain,” kata Sani dalam berbagai kesempatan, ketika dia memotivasi pegawainya.

Mental minta dilayani ini, kata Sani, memang sudah mengakar sejak lama. Tapi bukan berarti tidak benar-benar bisa dihilangkan. Sani percaya itu. Kadang, kata dia, mereka tidak sadar bahwa mereka adalah abdi masyarakat.

“Kalian sebagai pegawai yang harus melayani masyarakat,” begitu tegasnya.
Keinginan bagi Sani untuk terus tetap berbuat baik berkaca dari pengalaman masa kecilnya.

Betapa tanpa kebaikan orang semacam Pak Simanjuntak, guru matematikanya, L Utomo, Kepala Penjara Pekanbaru, hingga pujangga Riau, Soeman HS, tidak akan pernah ada kita bisa melihat sosok Gubernur Muhammad Sani yang hingga akhir hayatnya tetap bekerja membangun daerahnya. Karena bagi Sani sebagai anak jati Kepri, mengabdi kepada negeri adalah sebuah keharusan. Harus! ***

April 15, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: