Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kacamata Sani Setia Menatap Kesejahteraan dan Maritim Kepri

Kekal dalam Ingatan; Gubernur Kepri Muhammad Sani (1942-2016)

Laut adalah keniscayaan. Bagi Sani, ombak ada bukan untuk ditakuti. Gelombang ada bukan untuk dihindari. Konektivitas andal dan kesejahteraan masyarakat pesisir senantiasa membayang di balik kacamatanya. “Ini harus jadi,” begitu tegasnya.

BATAM POS, Tanjungpinang

Apakah berlebihan menyebut laut adalah laman bermain Gubernur Sani? Jadi begini, laman bermain adalah tempat anak-anak bersenda gurau, bersuka-riang, dan mencari kebahagiaan. Sehingga seganas apa pun gelombang, tidak ada anak kecil yang meninggalkan laman bermainnya. Sedemikian Sani selama menjabat sebagai orang nomor satu di Provinsi Kepri.

Tinggal di sebuah kampung nun jauh di pelosok, Sani belajar tentang laut. Tentang ketenangannya. Tentang keganasannya. Tidak pernah ada kegusaran menyeberangi lautan. Tak heran ketika kapal Hok Sun yang ditumpanginya bersama Tarmizi, karib kecilnya, sandar di Belakangpadang, Batam, tak terbetik panik. Padahal niat dua bocah ini hendak berplesir ke Moro, yang jaraknya tiga jam dari Tanjungbatu.

“Tapi malam itu, karena terkena embusan angin laut, kami tertidur pulas di kapal. Ketika matahari terbit, kami sudah ada di Belakangpadang,” kenang Sani dalam otobiografinya Untung Sabut.

Sani percaya laut tidak pernah berkhianat. Laut adalah ibu. Sedangkan Sani adalah anaknya. Ibu mana yang berbuat jahat kepada putranya. Keyakinan semacam ini kepalang mengakar dalam sanubari Sani.

Tak heran, antusiasme Sani selalu membuncah manakala mesti berkunjung dari pulau ke pulau. Menemui masyarakat yang tersebar di ujung utara hingga ujung timur Provinsi Kepri.

Untuk ke Natuna, Sani rela terombang-ambing dalam kapal selama 27 jam 40 menit. Ombak di garis Laut Cina Selatan jangan dianggap sepele. Bisa mencapai enam meter. Sani tidak pernah gentar. Sepanjang perjalanan ada saja hal-hal yang bisa Sani lakukan guna mengusir kebosanan.

Bercanda dengan istri dan penumpang lain. Kadang ikut bernyanyi. Bila sudah letih dengan itu semua, Sani memilih mengaji. Alquran adalah barang bawaan yang tidak pernah lepas dari Sani selama melakukan perjalanan ke mana pun.

Hal yang sama berlaku ketika mengunjungi Kecamatan Tambelan yang menempuh waktu 18 jam perjalanan laut. Selama segalanya masih memungkinkan, Sani enggan diwakilkan.

“Baginya, semua Pak Sani tempuh demi bisa bertemu masyarakat Kepri di pelbagai pulau. Pak Sani selalu ingin berdiskusi, menjemput aspirasi, dan sebisa mungkin memenuhi keinginan itu. Terutama yang bermuara bagi peningkatan kesejahteraan,” kata salah seorang Staf Gubernur Kepri, Jumat (14/4/2016)

Sani ingin melihat kondisi terkini masyarakatnya dengan mata kepalanya sendiri. Tidak dengan laporan lisan maupun tulisan kepala-kepala dinas. Mata sendiri tidak pernah berbohong. Itu pula yang membulatkan tekadnya sebagai pemimpin Kepri berkeinginan mengupayakan segalanya demi penuntasan kemiskinan.

“Apa pun itu,” begitu Sani selalu menegaskan.

Rehabilitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dilirik sebagai salah satu cara terbaik. Sani tidak asal omong. Anggaran pusat dijoloknya. Anggaran daerah diprioritaskannya. Sani berkeinginan masyarakat pesisir yang tinggal di tepi laut itu bisa punya rumah bagus.

Dari 35 ribu RTLH di lima tahun pertama masa jabatannya, Sani telah mempersolek lebih dari 21 ribu rumah. Sejalan dengan itu, angka kemiskinan di Provinsi Kepri juga berhasil ditekan. Di tahun 2010 angka kemiskinan mencapai 8,13 persen. Empat tahun kemudian, angka ini sudah menyusut menjadi 6,40 persen.

Siapa yang paling bahagia? Masyarakat! Tak ayal, dalam setiap kunjungan ke pulau-pulau, Sani selalu beroleh ucapan selamat dan terima kasih tidak terpermanai.

“Terima kasih Pak Gubernur rumahnya,” begitu dan begitu yang terus terdengar. Sani hanya menanggapinya dengan senyum khasnya. Soal senyum, punya Sani memang tiada dua.

Rumah nelayan di pesisir yang bagus, kata Sani suatu kali, adalah citra keberhasilan pembangunan daerah. Wilayah Kepri yang 96 persen berupa laut membuat kawasan pesisir adalah gerbang utamanya. Sani tidak ragu untuk itu. Terbukti, dalam banyak kesempatan ia tak kenal lelah menyusur lorong-lorong seputaran hunian nelayan maupun pelantar dermaga.

“Saya memimpikan rumah di pulau-pulau yang menghadap laut ini harus bagus. Bagus di kala siang maupun malam,” ucapnya.

Setelah mengupayakan segala hal yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan, Sani juga punya mimpi lain yang berbayang di kacamata sebalah kiri. Yakni, pembangunan kekuatan maritim Indonesia mesti dimulai dari Provinsi Kepri.

“Konektiviti,” begitu Sani membahasakannya. Ketika Presiden Jokowi mencanangkan bakal menjadikan Indonesia sebagai negara yang berjaya di bidang maritim, bukan main girang hati Sani. Mimpinya selama ini seolah mendapat lunas untuk meluncur jadi kenyataan.

Bersama bestfriend-nya, Rida K Liamsi, Sani selalu berdiskusi mengenai menjadikan Provinsi Kepri sebagai poros maritim Indonesia. Tidak ada keraguan bagi keduanya atas potensi Kepri menjadi tolok ukur pembangunan maritim di Indonesia, bahkan dunia.

“Sejak dulu keinginan itu kami bahas, bahkan saat Pak Sani maju pada periode pertama, saya juga sudah menyampaikan hal ini. Dan saya dijadikan Wakil Ketua Tim Asistensi Bidang Ekonomi. Ini jauh sebelum Pak Jokowi ngomong kemaritiman,” ungkap Rida dalam obituari mengenang Sani.

Kerja besar membangun konektivitas andal di laut Kepri dimulai Sani dengan menyambungkan listrik antarpulau dari Batam ke Bintan. Bagi Rida, ini bukan sembarang kerja. Tak dipungkiri bahwasanya listrik adalah masalah klasik Pulau Bintan.

“Begitu dia dilantik jadi gubernur periode pertama, dia menelepon saya, minta difasilitasi bertemu Pak Dahlan Iskan yang saat itu Dirut PLN. Begitu dilantik, besok langsung ke Jakarta ketemu Pak Dahlan. Jadi prioritas pertama memang listrik,” kenang Rida.

Rampung urusan listrik, kini kembali membangun tol laut. Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah dua kantor yang tak bosan-bosan dihubungi Sani. Lobi Sani jitu sekali. Provinsi Kepri beroleh banyak bantuan. Mulai dari pembangunan pelabuhan-pelabuhan representatif di berbagai pulau hingga kapal yang menjadi penghubung.

Kerumitan membangun aksebilitas tol laut Kepri tetap menjadi cita-cita besarnya. HIngga penghujung hayat, Sani tetap punya konsentrasi besar di sektor ini. “Konektiviti, konektiviti, konektiviti,” begitu selalu Sani membahasakannya. Cara berucap penuh ketegasan dan optimisme yang tidak mungkin lagi bisa terdengar dan terlihat hari ini.

Kendati belum sempat menyaksikan kemewahan konektivitas laut Kepri sebagaimana yang dicitakannya, bukan berarti mimpi Sani mati. Semangatnya justru tetap ada dan berlipat ganda.

Sani adalah inspirasi tentang pembangunan maritim yang selamanya lekat dalam kepala. Terima kasih, Ayah Sani! ***

April 17, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: