Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kisah Jumiatin, Petani Semangka di Kampung Goba, Sembulang

Pernah Gagal Tiga Kali, Kini Untung Hingga Rp 50 Juta Tiap Panen

Berulang kali gagal panen semangka, Jumiatin tak pantang menyerah. Prinsipnya tegas, modal yang sudah dikeluarkan harus kembali dari hasil panen semangka pula. Bagaimana Jumiatin berhasil mengelola perkebunan semangkanya, hingga meraup keuntungan Rp 50 juta per panen?

CHYNTYA, Batam

‘Bendera’ hitam terbuat dari lembaran plastik tampak berkibar kencang di hamparan kebun milik Jumiatin, 45. Bendera inilah yang menandakan bahwa kebun itu milik Mak Kembar, sapaan akrab Jumiatin. Sapaan Mak Kembar karena Jumiatin memiliki anak laki-laki kembar yang sudah berumur 10 tahun.

Selain anak kembar, Jumiatin telah mempunyai anak laki-laki yang kini telah duduk di bangku SMP kelas 3, dan anak perempuan kelas 1 SMP.

Meski tampak ngos-ngosan, namun ia mengaku tak kelelahan. Masih ada sekitar dua hektare lebih tanaman semangka siap panen yang menunggu untuk dipanen.

“Ini belum ada setengahnya mbak, di sana masih banyak lagi,” ucapnya sambil menunjuk ke hamparan pohon semangkanya yang cukup luas di Goba, Kecamatan Sembulang.

Kamis (17/3/2016) siang itu memang merupakan hari keberuntungan baginya. Setelah dua tahun lalu mengalami gagal panen terus menerus, perempuan asal Jawa Timur ini tampak sibuk menghitung satu per satu semangka yang sedang dilempar oleh ketiga pekerjanya. Ini merupakan musim panen ketiganya sejak Juli tahun lalu, setelah ia berhasil menguasai trik penanaman buah semangka.

Tampak beberapa tumpukan semangka yang telah dipetik di hamparan kebun seluas 3 hektare lebih itu. Satu tumpukan itu diperkirakan Jumiatin beratnya mencapai 300 hingga 400 kilogram (kg). Tumpukan-tumpukan semangka telah ditutupi dengan pelepah daun. Maklum, cuaca siang hari saat itu sedang terik-teriknya.

“Kalau gak ditutupi gini, nanti semangkanya alum (layu),” ungkap perempuan yang telah  menjanda ini.

Sebagai petani perempuan, Jumiatin merupakan sosok pekerja keras dan tekun. Dengan ketekunannya, ia mampu menepis cibiran orang lain yang dulu melihatnya kerap gagal panen. Tekadnya sudah bulat, ia harus sukses demi menghidupi keempat anaknya yang masih bersekolah.

“Hidup itu gak boleh mengeluh, harus diterima apa adanya. Dijalani dengan ikhlas, pasti ketemu jalannya,” ujarnya.

Meski telah memiliki tiga orang pekerja, Jumiatin yang mengenakan baju berwarna biru dengan dilapisi sweater kuning itu tetap membantu meringankan pekerjaan anak buahnya itu. Saat dihampiri, Jumiati langsung mengajak Batam Pos untuk berteduh. “Kita ke bawah pohon itu aja, di sini panas,” ucap perempuan yang mengenakan topi itu.

Melewati onggokan tanah, lengkap dengan pohon semangka yang telah di panen, Jumiatin mulai menceritakan kualitas semangka di kebunnya.

“Ini lihat mbak, walaupun begini tapi semangkanya merah kan,” ucapnya sambil mengambil semangka merekah yang belum dipetik.

Selain sebuah semangka merekah itu, ia juga menunjukkan semangka unggulannya.

“Ini lihat mbak, ini beratnya 10 kilogram,” ucapnya.

Keberhasilan yang dimiliki Jumiatin saat ini merupakan hasil kegagalan yang membuatnya ketagihan untuk terus mencoba. Kesadarannya yang belum menguasai karakter tanaman semangka saat pertama, membuatnya menyerahkan proses penanaman pada orang lain sepenuhnya.

Namun ternyata tak berhasil. Jangankan modal kembali, untuk menikmati hasil semangkanya sendiri pun ia tak bisa.

Sebabnya, hama berupa lalat buah telah mengobrak-abrik semangkanya. “Sampai gak bersisa,” ucapnya.

Mak kembar jadi tak enak hati. Pengetahuannya yang kurang tentang tanaman merambat ini membuatnya merasa berutang budi pada orang yang telah memodalinya berkebun.

Gagal dipanen pertama, Jumiatin kembali mencoba. Kali ini ia mencari lahan sewa seluas satu hektare di daerah Goba, Sembulang dengan pekerja yang sama. Jumiatin melihat pekerjanya tidak bekerja secara profesional. Mulai dari pemupukan hingga cara penyemprotan, semuanya dilakukan secara melampaui batas.

“Yang kedua ini, modal pun tak kembali juga,” ungkapnya. Begitupun dengan kegagalan ketiga, bentuk semangka menjadi keriting tak karuan.

Mengalami tiga kali kegagalan, Mak kembar menanyakan penyebab gagal panen pada para pekerjanya. Namun jawaban mereka tak memuaskan hatinya.

“Aku tanya ke mereka kenapa semangkanya kok pada keriting semua, mereka bilang alasanya ini itu, tapi sebenarnya aku sudah tahu. Kalau terlalu banyak pupuk kandang, sedangkan siraman air kurang, otomatis buah jadi keriting,” tuturnya.

Setelah berulang kali mengalami kegagalan, Jumiatin pun mulai membekali diri dengan berkonsultasi kepada petani lain yang sudah dulu berhasil. Dengan semangat yang masih sama saat pertama kali berkebun, ia terus mempertanyakan semua penyebab gagal panen yang ia alami.

“Mulai di sini, bos kita udah mulai nyerah, gak bisa ngatasin lagilah,” ucap Mak kembar.

Meski tanpa bantuan lagi, ia semakin bertekad untuk berhasil. Menurutnya, utang budi harus dibalas dengan keberhasilan.

Bergerak dengan kaki sendiri. Kata itulah yang terus ada di benaknya. Ia percaya, proses tidak akan mendustai hasil. Saat mulai bangkit seorang diri, akhirnya bertemu dengan tiga orang lelaki lain yang hingga saat ini menjadi pekerja di kebun sewaannya.

Ia menganggap ketiga lelaki ini adalah ‘jodohnya’ dalam bertani, karena akhirnya ia bisa merasakan hasil panen semangka dengan kualitas super. Ketiganya memiliki karakter perawatan dan cara pemupukan yang sangat berbeda dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa berhasil,” ucap Jumiatin.

Jumiatin memperlakukan ketiga pekerja layaknya anak sendiri. Semua keperluan mereka ia penuhi. Baginya, kesejahteraan pekerja harus diutamakan. Di mata pekerjanya, Mukono, wanita berusia 45 tahun ini merupakan sosok yang pekerja keras, ramah dan juga bertanggung jawab.

“Ia memperlakukan kami berbeda dengan tauke yang lain, sangat perduli,” ucap pria asal Jawa Tengah itu.

Meski sudah ada pekerja, namun setiap hari Jumiatin  tak pernah absen untuk mengecek kebun semangkanya. Ia mengakui bahwa kesulitan dalam menanam buah yang masih sesuku dengan ketimun-timunan ini terdapat pada cara merawatnya. Semuanya harus dilakukan secara jeli, sebab jika tidak maka penyakit akan menyerang. Dalam sehari, lima liter air dihabiskan untuk keperluan menyiram tanaman.

Jumiatin kini sudah menguasai tentang perawatan dalam penanaman buah semangka. Jika kebutuhan air mencukupi, maka perkembangan buah semangka akan cepat pula. Bahkan jika musim hujan tiba dan menyebabkan semangka cepat membusuk, ia menyuruh anak buahnya untuk menyiram tanaman dengan obat  daun selepas hujan deras. Menurutnya, semua perlakuan terhadap tanaman harus dilakukan secara jeli.

“Semua orang bisa nanam semangka, tapi caranya yang gak semua orang punya,” ucap Jumiatin dengan nada yang tegas.

Setiap panen, Jumiatin bisa meraup keuntungan hingga Rp 15 juta per hektarenya.
Hasil buah semangka dari kebun Jumiatin diakui para pembeli sebagai buah dengan kualitas yang baik.

“Buahnya besar-besar, harganya pun murah,” kata A Ralo, anak buah tengkulak yang saat itu tengah menyusun semangka di bak lori. Tumpukan semangka itu selanjutnya dibawa ke SP Plaza untuk dipasarkan.

Awalnya Jumiatin hanya sanggup menanam semangka di tanah seluas satu hektar. Hingga kemudian ia bertemu dengan Ketua Yayasan Yatim Batam, Tika Kurdianti sekitar lima bulan lalu.

Tika bersama suaminya yang juga merupakan pembina yayasan kerap berkeliling mencari anak yatim yang berada di daerah Jembatan Satu hingga Jembatan 6 Barelang untuk dibina. Selain daerah itu, anak yatim binaan mereka juga ada yang berada di Tanjunguma, Bengkong, dan Jodoh. Namun yang terbanyak itu ada di Tanjunguma, mencapai 72 anak.

Awalnya, Tika mengira bahwa Jumiatin merupakan pembuat makanan biasa, karena di daerah itu memang banyak pengusaha makanan ringan. Hingga dua bulan perkenalan mereka, barulah ia mengetahui bahwa Jumiatin memiliki perkebunan semangka.

Dari cerita Jumiatin, ketua yayasan yang telah memiliki 150 anak didik ini berniat untuk membantu memperluas hamparan kebun yang dikelola Jumiatin dengan membeli lahan seluas 3.000 meter miliknya sebesar Rp 60 juta untuk pembangunan pesantren.

Dengan uang itu, Jumiatin bisa menambah modal untuk memperluas kebunnya menjadi tiga hektar.

Selain mendidik anak yatim, fokus binaan yayasan ini adalah ibu yatim. Tika berharap Jumiatin bisa menjadi motivator bagi ibu yatim lainnya yang masih suka mengeluh.

“Orang yang punya anak yatim itu jangan suka kalau ada donatur datang. Aku kalau ada yang nyuruh anak saya datang, nyuruh baris, dapet uang, dalam hati saya menangis betul mbak,” ucap Jumiatin yang matanya mulai berkaca-kaca.

Jumiatin mengaku anaknya masih sering mendapatkan sumbangan, namun uang itu ia serahkan pada anaknya.

“Kemarin dapat Rp 1 juta 2 ratus, saya tanya mereka maunya apa. Kalau kurang pasti saya tambahin,” ucapnya.

Meski begitu, wanita yang dikenal dengan ketegasannya ini lebih senang mengajarkan anaknya untuk berdagang, daripada mengharapkan sumbangan dari orang lain.

“Anak saya keempat-empatnya jualan di sekolah mereka mbak. Yang paling kecil, kembar kelas empat SD mereka jualan gorengan di sekolahnya,” jelas Jumiatin.

Prinsip yang ia pegang ternyata sejalan dengan Yayasan Pesantren Mini Yatim Batam yang menginginkan para janda bisa hidup mandiri seperti Jumiatin, tanpa mengharapkan bantuan orang lain.

“Kemarin pernah ada donatur dari Singapura, habis begitu saja. Kalau uangnya diinvestasikan di kebun bu Jumiatin ini misalnya, tiap tiga bulan bisa terus berkembang,” ucap Tika yang berharap ada investor lain.

“Kalau dulu, kita yang bantu ibu Jumiatin. Tapi sekarang, malah kita yang butuh bantuan ibu itu,” seloroh Tika sambil tertawa.

Selain itu, dari hasil keuntungan investor di perkebunan semangka Jumiatin ini akan dijadikan sebagai pendapatan untuk memberi makan anak yatim yang akan tinggal di pesantren yang akan dibangun sebanyak 10 ruang itu. Nantinya, setiap ruangan itu dihuni oleh 10 orang anak.

“Kita berharap ada investor yang datang ke sini. Jika ia menanam modal Rp 50 juta, maka ia akan mendapatkan keuntungan hasil panen sebesar Rp 15 juta. Selain berinvestasi, mereka juga bisa beribadah, kan,” sambungnya.

Rencananya pembangunan pesantren itu dimulai Minggu (20/3) di Sembulang, Kecamatan Galang, Batam. (Chyntya)

April 17, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: