Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Yang Badan Gede Tak Dipasangkan dengan Beagle

Mengintip Pelatihan Tim Khusus Pengendus Narkotika Bea Cukai

Tim K-9 Bea Cukai dilatih mengenali berbagai bau narkotika yang beredar di Indonesia sembari bermain. Hasilnya, ratusan penyelundupan dapat digagalkan. Yang paling sulit diendus narkotika dengan bobot paling ringan.

SEKARING RATRI A, Jakarta

DENGAN penuh semangat, Caesar berlari-lari kecil menuju koper-koper yang disusun memanjang itu. Satu per satu diendus. Belum ketemu yang dicari, diulanginya lagi dari awal.

”Find it, find it (temukan, temukan, Red),” ujar Galih Adyarangga yang menemani Caesar Jumat sore (15/4/2016) itu.

Terus diendusnya koper-koper itu. Sampai akhirnya kemudian Galih mengakhirinya dengan teriakan, ”good boy.”

Di halaman Unit Pelatihan dan Pendidikan Anjing Pelacak Narkotika Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Jakarta, Jumat sore itu, Caesar tengah menjalani latihan rutin. Anjing jenis golden retriever tersebut adalah bagian di antara 27 anjing operasional Tim K-9 DJBC.

Tak seperti Tim K-9 kepolisian yang memiliki tugas beragam, sejak dibentuk pada 1981, Tim K-9 Bea Cukai khusus bertugas mengendus narkotika. Di Jakarta, area tugas mereka meliputi Pelabuhan Tanjung Priok, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, dan Kantor Pos Pasar Baru.

Selain itu, tim tersebut ada di Kantor Wilayah (Kanwil) Sumatera Utara, Batam, Jatim 1, dan Bali.

”Yang sebentar lagi beroperasi ada Kanwil Jateng DIJ dan Kanwil Kalimantan Bagian Timur,” kata Galih yang menjadi handler (pelatih anjing) sejak 2013 itu, Sabtu (16/4/2016).

Hingga saat ini, tim tersebut sudah berulang-ulang berhasil menggagalkan peredaran narkotika di Indonesia. Tahun lalu DJBC berhasil mematahkan penyelundupan 699 kilogram narkoba yang mayoritas berjenis sabu-sabu.

Jumlah tersebut naik dua kali lipat daripada 2014 yang hanya 316 kilogram. Dalam dua bulan terakhir saja, Tim K-9 Bea Cukai berhasil menangkal penyelundupan 400 dan 500 gram sabu-sabu.

”Yang 400 gram itu ditaruh di selangkangan. Kalau yang 500 gram di sepatu,” katanya.

Khusus si Caesar, kata Galih, juga tercatat berhasil menemukan 3,4 gram pasta ganja di Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta Pusat. ”Sekitar dua bulan lalu kejadiannya,” kata dia.

Kemampuan tersebut tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Hasil latihan rutin, didukung kedisiplinan para handler seperti Galih.

”Ketika latihan, kami berusaha membuat anjing merasa mereka diajak bermain agar mood-nya bagus. Padahal, sebenarnya yang mereka jalani adalah pelacakan narkotika,” kata Galih.

Sebanyak 23 di antara 27 anjing berjenis labrador retriever. Sisanya beagle dan golden retriever, masing-masing dua ekor. Mereka ditangani 21 pelatih.

Menurut Galih, anjing pelacak jenis retriever atau beagle cenderung memiliki emosi yang lebih stabil daripada anjing pelacak tipe penyerang seperti doberman atau herder. Dua jenis yang terakhir itu biasanya lebih responsif sehingga mudah menarik perhatian.

Karena sasaran bea cukai adalah para penumpang penerbangan internasional, jenis anjing pelacak yang digunakan adalah anjing dengan kecenderungan lebih tenang.

”Dulu kami ada herder, tapi sekarang sudah tidak ada. Kami lebih memilih anjing jenis retriever karena selain lebih cerdas, secara emosi juga lebih stabil,” ujar Galih.

Galih melanjutkan, jenis retriever juga relatif lebih gampang dilatih dan ramah. Mereka gampang beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Jadi, tidak berisik seperti doberman atau herder saat melakukan pelacakan.

Pria kelahiran 7 November itu menuturkan, satu handler dikhususkan melatih satu anjing pelacak. Setiap hari handler beserta anjing pelacaknya selalu berdua. Karena itu, bonding atau ikatan emosional yang terjadi antara keduanya cukup kuat.

Para handler tersebut juga tidak sekadar melatih. Mereka mengurus pula seluruh kebutuhan si anjing pelacak, termasuk memandikan, memberi makan, mengecek kondisi kesehatan, sampai grooming.

”Pokoknya, udah kayak di salon, kami nyisir bulu-bulu mereka, membersihkan telinga, sampai memotong kuku mereka. Khusus Caesar, karena bulu-bulunya panjang-panjang, jadi nyisirnya lebih lama,” urainya.

Pria asal Kudus, Jawa Tengah, itu menuturkan, bonding antara handler dan anjing biasanya cukup kuat. Dengan demikian, mood sang majikan yang kurang baik bakal berpengaruh pada si anjing. Begitu juga ketika si anjing sakit, handler yang lebih dulu tahu.

”Misalnya, tiba-tiba dia kok perilakunya nggak kayak biasanya, langsung kami cek suhu badannya. Karena itu, anjing-anjing pelacak di sini rutin cek ke dokter seminggu dua kali,” tuturnya.

Galih mengungkapkan, dirinya tertarik bergabung dengan Tim K-9 Bea Cukai karena penyayang binatang. Itu memang salah satu persyaratan yang diminta. Untuk bisa lolos menjadi anggota tim, ada empat tes yang harus dijalani: tes administrasi, tes kebugaran dan fisik, psikotes, dan wawancara.

”Fisik kami juga prima karena setiap hari harus melatih anjing yang larinya lebih kencang daripada kami. Setiap pagi kami juga rutin berlari, baik sendiri maupun sama si anjing. Karena itu, Tim K-9 nggak ada yang badannya gendut,” ujar Galih, lalu terbahak.

Setelah terjaring seleksi, sejumlah orang langsung dipasrahi masing-masing satu anjing yang bakal menjadi asuhan mereka. Proses ”perjodohan” antara majikan dan anjing tersebut disesuaikan dengan karakter fisik keduanya.

”Misalnya, teman saya yang badannya tinggi dan gede, dia tidak akan dipasangkan dengan anjing jenis beagle yang kecil,” paparnya.

Galih melanjutkan, proses perjodohan tersebut berlangsung setidaknya 3,5 bulan. Selama itu, keduanya sama-sama dibentuk sehingga memiliki bonding yang kuat. Keduanya pun berlatih teknik pelacakan bersama. Biasanya mereka berlatih mengenali bau. Si anjing akan berkali-kali dikenalkan pada bau jenis-jenis narkotika yang kerap diedarkan di Indonesia. Misalnya, ganja, ekstasi, heroin, dan sabu-sabu.

”Pengenalan bau itu dilakukan berulang-ulang agar anjing familier dengan bau tersebut. Proses pengenalan bau itu juga dilakukan sambil bermain karena dalam mindset anjing tersebut ya ini (pelatihan, Red) adalah bermain,” paparnya.

Tantangan paling berat bagi Tim K-9 Bea Cukai adalah menemukan narkoba dengan berat yang paling ringan. Para anjing tidak akan mudah mengendusnya.

”Rekor yang sampai saat ini belum terpecahkan adalah senior saya yang menemukan sabu-sabu seberat 0,28 gram. Tapi, itu bercandaan kami saja. Yang jelas, kalau kami berhasil menemukan barang haram itu, rasanya seneng luar biasa sampai kadang lupa makan, hehehe,” katanya. (*/c10/ttg)

April 17, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: