Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Tamu Disuguhi 23 Menu Kuliner Khas Batam

Dari Kemeriahan HUT Ke-44 REI di Movie Town Nongsa

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Perayaan HUT ke-44 REI, Kamis (14/4/2016) malam lalu, sungguh meriah. Sebanyak 23 jenis kuliner khas Batam disuguhkan. Kembang api bersahut-sahutan. Para pejabat dan pengusaha properti se-Indonesia larut dalam kemegahan pesta.

Iring-iringan mobil itu berjalan lambat. Pemeriksaan di pintu masuk Infinite Studio di Jalan Hang Lekiu, Nongsa menjadi penyebabnya.

Sebelum masuk, petugas keamanan mengelilingi setiap mobil dengan metal detector di tangan. Mobil-mobil yang tak menimbulkan bunyi berisik pada alat pendeteksi itu akan lolos dan diperbolehkan masuk.

Di dalam, area parkir sudah penuh dengan mobil. Orang-orang keluar dan berjalan menuju bagian belakang. Di sanalah sebuah ‘pusat kota’ berdiri. Ada bar, kedai makan, depot jamu, bengkel sepeda, hingga bioskop.

Lampu-lampu oranye berpendar di setiap kedai. Rangkaian lampion berpendar di antara bangunan. Hiruk pikuk manusia memenuhi jalanan yang telah diubah bak restoran raksasa. Mereka duduk di meja-meja bundar yang disusun sepanjang jalan. Sebuah panggung besar berada di sudut persimpangan jalan.

Sepasang pria dan wanita dengan setelan atasan licin motif bunga-bunga berwarna ungu dan celana cutbray berdiri di panggung tersebut. Di belakang mereka alat-alat musik khidmat mendengarkan. Sebuah kain lebar terpasang sebagai latar, Dirgahyu Real Estat Indonesia.

“Selamat datang! Sekali lagi kami mengingatkan bahwa di sini sudah ada 23 makanan dan minuman khas Batam yang bisa Anda nikmati. Gratis,” kata pemandu acara pria itu.

Tepuk tangan membahana. Inilah jamuan makan malam ala DPD REI Khusus Batam untuk memperingati hari besar organisasi Real Estat Indonesia (REI). Hari kelahiran ini selalu diperingati setiap tahunnya di kota yang berbeda. Dan tahun ini, DPD REI Khusus Batam menjadi tuan rumahnya. Mereka memilih menyelenggarakan acara itu di area Movie Town Infinite Studio.

Area itu pernah menjadi lokasi syuting film-film besar garapan Infinite Studio. Satu contohnya, serial drama Serangoon Road yang diputar secara berkala di channel televisi HBO. Nuansa tahun 60-an terasa kental. Nuansa itulah yang diusung sebagai tema Perayaan HUT ke-44 REI.

Beberapa tamu undangan tampil dengan kostum tahun 60-an. Tempat-tempat makan yang biasanya hadir sebagai restoran, kala itu, membuka warung tenda. Misalnya saja, Sop Ikan Yongkee, Sop Ayam Kampung Tua Poh Ti, juga de Sampan. Aneka jajanan disebar dalam gerobak-gerobak dagangan. Ada makanan khas Melayu seperti laksa dan roti kirai, luti gendang, tetapi ada juga kue-kue tradisional nusantara seperti putu ayu.

Makanan tanpa minuman, nggak mungkin dong. Di beberapa gerobak tersaji air mineral dan minuman kaleng. Ada juga gerobak yang khusus melayani bandrek susu, teh tarek, dan kopi susu. Di sudut yang lain, gerobak es sekoteng diserbu para tamu.

“Jangan lupa, seperti kebiasaan kita, ada durian juga di sudut sana,” kata pemandu acara lagi. Semuanya pun bersorak.

REI Batam membebaskan para tamu mengambil makanan dan minuman sesuka mereka. Mereka juga bebas duduk di manapun mereka mau. Atau malah hendak berjalan-jalan dan mengabadikan nuansa kota lama itu dalam gambar? Boleh-boleh saja.

Di atas panggung, acara terus berlangsung satu demi satu. Orang-orang penting yang datang ke acara itu didapuk memberikan sambutan. Mulai dari tuan rumah, Mike Wiluan, lalu Ketua Panitia Acara, Ketua Umum REI Eddy Hussy, serta Plt Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun.

Tari-tarian dan penampilan kesenian mengiringi pidato sambutan tersebut. Hingga kemudian sampai pada acara pengumuman penghargaan Wira Bhakti Praja. Ini penghargaan tahunan ini didedikasikan kepada insan pelaku pembangunan yang dianggap berjasa di bidang properti

Penghargaan ini terbagi menjadi dua. Wira Bhakti Praja Madya dan Wira Bhakti Praja Utama. Penghargaan pertama diberikan kepada tokoh-tokoh di tingkat kota, kabupaten, maupun provinsi.

Sementara penghargaan yang kedua diberikan untuk tokoh-tokoh nasional.

Malam itu, Wali Kota Batam M Rudi menjadi satu dari lima tokoh penerima penghargaan Wira Bhakti Praja Madya. Empat penghargaan lainnya diberikan kepada Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wali Kota Semarang Hendar Priadi, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, dan Bupati Jayapura Mathius Awoitauw.

Sementara untuk Wira Bhakti Praja Utama diberikan kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimulyono, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, dan Pengusaha Sofjan Wanandi.

“Terimakasih atas penghargaan ini. Ini agak kebalik-balik, harusnya saya yang memberikan penghargaan,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimulyono.

Dalam kesempatan itulah, Basuki lantas berjanji untuk membalasnya. Tapi bukan dengan penghargaan. Melainkan dengan permainan drum.

Setelah penghargaan diberikan, DPD REI Khusus Batam kemudian meluncurkan buku. Judulnya, Batam Real Estate Directory 2016. Ini merupakan buku edisi ketiga. Edisi pertama rilis pada tahun 2010 dan edisi kedua rilis pada tahun 2015 lalu.

“Buku ini mampu menjadi pegangan para investor dan pengembang properti di Batam. Isinya perjalanan REI dari dulu sampai sekarang hingga perizinan yang harus diurus sebelum membangun properti,” tutur Ketua DPD REI Khusus Batam, Djaja Roeslim.

Buku ini dibagikan secara simbolis kepada para pejabat yang hadir. Serta seluruh kepala DPD REI Kota yang datang ke acara jamuan makan malam tersebut. Sesaat setelah penyerahan buku, panitia membawa keluar sebuah kue ulang tahun berbentuk persegi panjang yang besar.

Lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ dari band Jamrud mulai mengalun. Nyanyian mengiringi lilin-lilin yang dinyalakan. Acara tiup lilin berlangsung meriah sembari seluruh tamu undangan melambaikan bendera plastik bergambar logo REI.

Kembang api pun menyusul meletus. Setelah sebelumnya terbang tinggi ke atas panggung. Para tamu undangan terpukau dengan aksi yang berlangsung sekitar 10 menitan itu. Tak sedikit yang mengabadikannya dengan kamera ponsel.

Lalu lagu pun beralih. Betotan bass membentuk rangkaian nada yang sudah tidak asing di telinga. Hingga kemudian sang vokalis berteriak, “Namaku Bento!”

Lagu Bento berhasil membuat para tamu bergoyang dan berdendang. Apalagi setelah tahu, penabuh drum itu bukan anggota band The Dongos. Tetapi Menteri PUPR Basuki Hadimulyono. Ia menepati janjinya.

Para tamu terpukau. Terlebih lagi anggota DPD REI Kota lainnya. Mereka memadati panggung dan berjoget di sana.

Bukan hanya satu lagu saja yang Pak Menteri mainkan. Ia tak berhenti bermain meskipun para penyanyi bergantian naik-turun panggung.

Ia mengiringi Plt Gubernur Kepri Nurdin Basirun menyanyikan lagu Balada Pelaut yang dipopulerkan Tantowi Yahya. Ia juga mengiringi Kepala Polisi Daerah Kepri Brigjen Pol Sam Budi Gustian menyanyikan lagu Broery Marantika yang berjudul Angin Malam.

Lagu mendiang Chrisye yang berjudul Merpati Putih dibawakannya bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan. Lalu lagu Hey Jude milik The Beatles ia bawakan bersama Ketua DPP REI Eddy Hussy.

Tak kurang dari sepuluh lagu ia bawakan. Peluh mengaliri wajahnya. Tapi ia tak berhenti. Bibirnya terbuka dan menyunggingkan senyum.

“Main drum ini hanya main-main saja. Saya nggak belajar,” tutur Menteri PUPR Basuki Hadimulyono.

Kebiasaannya bermain musik itu sudah digelutinya sejak kuliah. Namun, alumnus Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu mengaku baru memiliki band ketika menjadi menteri.

Bersama staf Kementerian PUPR lainnya, ia manggung di Jumat terakhir di setiap bulannya. Mereka menyanyikan banyak lagu. Pegawai Kementerian PUPR siapapun boleh datang, mengobrol, dan berdendang.

“Ada kopi, teh, dan rebusan. Mereka datang, tepuk tangan, nyanyi, lalu pulang,” kata Basuki lagi.

Ia merasa tidak ada yang istimewa dengan kemampuannya bermain drum. Ia sebenarnya bisa memainkan semua alat musik. Tetapi ia lebih menyukai drum. Alasannya sederhana, ketika bermain drum, seluruh anggota tubuhnya bergerak.

“Sambil olahraga,” ujarnya.

Keberadaan musik, bagi Basuki, sangatlah penting. Terutama bagi mereka yang bekerja di bidang pekerjaan umum (PU). Sebab, orang PU itu menurutnya harus berani, kuat, dan berjiwa seni. Dengan seni, seseorang mampu berimajinasi dan berinovasi. Inovasi dan improvisasi sangat diperlukan di lapangan.

“Kalau nggak ada jiwa seni, bikin jembatan itu kaku. Cuma lurus gitu aja,” katanya sambil tertawa.

Perhelatan HUT ke-44 DPP REI tersebut ditutup dengan acara menyanyi bersama dan pesta durian. Perlahan para tamu meninggalkan pusat kota kecil itu dengan senyum tersungging. Mereka menyeka keringat sambil tertawa dan mengobrol. ***

April 20, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: