Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Beli Buku dengan Uang Pribadi dan Donatur Singapura

Piter Pureklolong, Bangun Lima Rumah Baca dan PAUD untuk Warga Miskin

Berstatus pegawai honor di Pemko Batam tak membuat langkah Piter Pureklolong untuk membantu warga miskin mendapatkan pendidikan yang layak, surut. Kini dia sudah membangun lima rumah baca dan Pendidikan Anak Usia Dini di lima pemukiman liar di Batam.

ALFIAN, Batam

Mentari bersinar begitu terik, akhir pekan lalu. Cuaca panas ini membuat warga Kampung Air, Batamcenter, lebih banyak memilih bergerombol di bawah pohon-pohon rindang di depan rumah mereka. Mencari angin.

Menyusuri pemukiman ini memang butuh tenaga ekstra. Selain jalannya yang masih berupa tanah, kondisi pemukiman Kampung Air terkesan kumuh. Maklum, ini merupakan pemukiman ilegal atau sering disebut perumahan liar (Ruli).

Sehingga sebagian besar rumah di kawasan itu dibangun seadanya. Ukurannya pun relatif kecil untuk sebuah rumah. Rata-rata hanya 4×6 meter. Itupun dengan atap dan dinding yang kurang layak dan umumnya merupakan bangunan semi permanen.

Namun setelah masuk lebih dalam, ada dua bangunan permanen dengan ukuran masing-masing sekitar 4×8 meter. Di depan bangunan itu terpampang plang nama bertuliskan

”Rumah Baca Kampung Air”.

Salah satu dari bangunan itu dimanfaatkan untuk sekolah bagi anak-anak usia dini atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sementara satu gedung lagi merupakan perpustakaan.

Seorang ibu muda terlihat berada di dalam perpustakaan itu. Mengenakan setelan baju putih dan rok hitam, dia tampak sibuk merapikan buku koleksi perpustakaan yang berserakan di lantai. Sesekali dia melakukan pekerjaan itu sambil membaca sampul buku yang hendak dikembalikan ke dalam rak perpustakaan.

”Bentar lagi mau masuk anak PAUD, makanya harus dirapikan dulu,” kata wanita itu kepada wartawan koran ini.

Agustina, nama wanita itu. Dia adalah guru pembimbing yang merangkap penjaga Rumah Baca Kampung Air. Meski memiliki tugas ganda, Agustina mengaku sama sekali tidak mendapat gaji atau honor dari pekerjaannya itu.

”Saya di sini mengabdi sudah lama. Tak ada penghasilan dari sini, karena kami memang tulus mengabdi,” katanya, Senin (25/4/2016).

Agustina mengaku sudah bekerja di Rumah Baca Kampung Air itu sejak 2008 lalu. Ini merupakan rumah baca yang dibangun oleh Piter Pureklolong, seorang honorer di Pemko Batam.

”Jujur kami di sini murni untuk mengabdi, sama dengan Pak Piter,” katanya.

Agustina mengatakan, di Rumah Baca Kampung Air ini ada sekitar 1.000 koleksi buku. Jenis bukunya beragam.

”Buku ini bisa untuk anak-anak PAUD, bahkan ada juga untuk masyarakat umum. Kita gratiskan dan tidak dipungut biaya,” katanya.

Sementara PAUD di sana sudah memasuki tahun ke enam. Ada sekitar 95 anak yang belajar di PAUD itu. Setiap siswa yang belajar di PAUD itu hanya diminta membayar uang bulanan sebesar Rp 15 ribu. Uang itu untuk membayar tagihan listrik dan air.

”Bahkan kalau ada orang tua yang kesulitan dan tidak sanggup bayar tidak apa-apa. Itu bukan menjadi kewajiban. Karena kita tahu, PAUD dan perpustakaan ini dibuat untuk pengabdian ke masyarakat,” katanya.

Hanifa, seorang ibu dari anak PAUD di sana mengaku bersyukur ada orang-orang yang perduli dengan pendidikan anak-anak miskin. Ia berharap PAUD dan perpustakaan tersebut bisa terus berkembang.

”Kami sangat terbantu. Kalau di luar, PAUD itu biayanya ada yang sampai lebih dari Rp 100 ribu. Di sini kami tidak diwajibkan,” katanya.

Pendiri dan penggagas rumah baca dan PAUD untuk warga miskin ini, Piter Pureklolong, mengaku bangga bisa melakukan aksi nyata membantu warga kurang mampu, khususnya di bidang pendidikan. Menurut dia, membantu pendidikan warga miskin merupakan keinginannya sejak ia masih kecil.

”Karena saya juga dari keluarga kurang mampu,” katanya.

”Saya sangat bangga bisa membantu orang. Saudara-saudara kita yang di Ruli berhak untuk pendidikan yang layak. Berhak untuk mendapatkan pengetahuan,” imbuh Piter.

Rumah Baca Kampung Air itu ia bangun pada 2005 lalu. Hati Piter merasa tergerak melihat anak-anak Ruli itu masih jauh dari pendidikan dan buku.

”Ini juga untuk merangsang minat anak-anak untuk membaca buku,” katanya.

Untuk pengadaan buku di sana, awalnya ia membeli dengan uang pribadi. Kemudian ia membangun relasi dengan mencari donatur. Bahkan jaringan donatur Piter sampai ke Singapura.

”Makanya dari Singapura banyak juga menyumbang buku di sini. Terkadang kami sama belanja ke toko buku, dan mereka yang bayar. Tapi kami yang pilih buku,” katanya.

Setelah dari Kampung Air, Pieter kemudian membuka empat rumah baca lainnnya. Semuanya di pemukiman rumah liar. Di antaranya di Ruli Bukit Timur di depan DC Mall. Selain PAUD, rumah baca itu juga merangkap sebagai perpustakaan. Jumlah buku di sana juga sudah ada sekitar 1.000 buku.

”Sama semuanya, untuk warga miskin. Silahkan dipinjam dan dibaca. Untuk PAUD, kalau memang tak sanggup bayar, jangan dibayar,” katanya.

Kemudian rumah baca lainnya adalah di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur, di Ruli Kampung Baru Sei Panas, dan di Teluk Lengung.

”Sudah ada lima perpustakaan. Saya senang bisa membantu masyarakat. Walau memang saya akui, saya rugi dari segi materi,” katanya.

Ia mengaku masih akan terus mengembangkan dan menambah perpustakaan untuk warga miskin. Ia berharap jangan ada warga miskin yang tidak bisa membaca dan menulis.

”Saya ingin kalau memang tidak sanggup sekolah tinggi, paling tidak anak-anak itu bisa membaca dan menulis,” katanya.

Ia berpesan kepada semua pimbimbing dan relawan untuk tetap bisa membantunya untuk mengembangkan perpustakaan untuk warga miskin ini. Di mana akan semakin banyak anak warga miskin yang suka untuk membaca dan menulis. ***

April 26, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: