Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Marina, Potret Nelayan Perempuan Tangguh di Batam

30 Tahun Melaut, Lebih Aktif Melaut dari Sang suami

Di usianya yang senja, mestinya Marina asyik bermain dengan cucunya di rumahnya. Namun, dia mengaku tak betah jauh-jauh dari laut. Maka dari itu hingga kini Marina masih aktif berburu kepiting di hutan-hutan bakau.

YULIANTI, Seibeduk

Udara panas menerpa wajah saat bertandang ke Kampung Tua Tanjungpiayu, Batam, Jumat (11/3/2016).

Siang itu kampung tua yang berada di ujung Kecamatan Seibeduk ini terlihat lengang, hanya ada beberapa warga di sebuah warung kecil sedang mengais-ngais hasil tangkapannya. Wajah mereka tertunduk, fokus dengan pekerjaannya. Sementara itu, jauh mata memandang, riak-riak ombak memutih berbuih.

Tak jauh dari lokasi tersebut, rumah warna biru pekat terlihat sepi. Di dalamnya seorang wanita tua duduk, jari kanannya mengapit sebatang kretek yang sudah terhisap setengah, sedangkan tangan kirinya bergerak-gerak mengayunkan balita yang sedang terlelap di atas ayunan.

Dengan wajah sumringah penuh kehangatan, perempuan itu menyambut salam dari Batam Pos. “Ayok nak, silahkan masuk,” ujarnya sambil menyalami.

Wanita itu bernama Marina, ia adalah satu dari sekian wanita senja di Kampung Tua TanjungPiayu yang masih aktif melaut. Yah, 30 tahun sudah ia menjalani pofesinya sebagai nelayan kepiting.

Subuh sebelumnya, seperti biasa saat fajar benar-benar belum muncul, selepas salat, tangannya menenteng bekal yang telah dibungkus plastik. Langkah kakinya meninggalkan rumah menuju sampan kecil miliknya yang tak jauh dari rumah.

Dia melaut seorang diri, hanya sepotong dayung tua, kopi pahit dan sebungkus kretek yang membuatnya tetap terjaga.

“Setiap hari mulai Subuh sampai petang saya mencari kepiting,” ujar perempuan satu cucu ini.

Di atas sampannya, belasan jaring bubu korea terlihat, katanya jaring-jaring itulah alat perangkap untuk menangkap kepiting dengan daging ikan loha sebagai umpannya.

Mengarungi lautan bersama derunya angin pagi sudah barang biasa baginya. Segala kondisi yang terjadi di laut ia tepiskan, seperti angin menembus kulitnya, matahari yang menyengat wajahnya, hujan serta ular yang kerap ia temui di hutan bakau.

“Kulit saya sudah kebal dengan angin,” ujarnya terkekeh.

Benar saja, tak ada penyakit kulit yang singgah di tubuhnya, malahan tubuhnya terlihat masih segar.

“Alhamdulillah, belum ada penyakit yang singgah di tubuh saya,” katanya.

Jika wanita tua lainnya menghabiskan waktu bermain dengan cucunya di rumah, wanita berusia 55 tahun ini memilih untuk melaut, mencari penghasilan yang akan mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Saya gak bisa pisah dengan lautan,” ucapnya.

“Suami saya juga ikut melaut, tapi hanya sekali seminggu, gak seaktif seperti saya,” imbuhnya.

Sosok nenek tangguh ini memang melekat dalam dirinya. Sendiri mengarungi lautan, ia tidak hanya menyisir hutan bakau di Tanjungpiayu, namun ia juga mengunjungi pulau-pulau yang ada di sekitar Rempang dan Galang, seperti pulau yang ada di jembatan empat.

“Saya jarang melaut yang dekat-dekat.”

Dalam sehari, saat angin utara seperti sekarang, wanita tangguh ini hanya mampu membawa pulang beberapa ekor kepiting yang masih kecil-kecil, namun masih memiliki nilai rupiah yang cukup tinggi.

Jika bernasib kurang berpihak ia hanya bisa membawa kepiting rajungan yang dihargai Rp 50 ribu saja.

“Kalau anginnya lagi kencang-kencang, saya hanya bawa pulang kepiting sedikit,” katanya.

Namun jika sedang mujur, dalam sehari ia bisa membawa pulang kepiting 2 hingga 3 kilo dengan bobot yang gemuk yang dapat dihargai hingga Rp 200 ribu yang dijualnya di restoran.

“Biasa kalau bulan Maret atau Juni kepitingnya banyak dan gemuk-gemuk,” ungkapnya.

Marina mengatakan dari hasil melautnya itu, uang tersebut ia pakai untuk mentupi kebutuhan keluarganya.

“Menantu saya juga melaut, ya kami keluarga nelayan,”katanya.

Menjalani profesi sebagai nelayan, bukanlah tanpa alasan, Tanjungpiayu sebagai salah satu kampung tertua di Batam, sebenarnya punya sejarah yang panjang dalam bidang perikanan.

“80 persen warga sini adalah nelayan,” imbuhnya.

Masyarakat Melayu yang menetap di sana telah lama menggantungkan hidup dari hasil laut. Tidak hanya itu, alasan lainnya juga yakni belum pernahnya ia mengecam pendidikan.

“Orang dulu kan gak ada yang sekolah, mau gak mau jadi nelayan aja,” katanya.

Tidak hanya itu,  alasan lain ia menjalani profesinya adalah kurangnya memiliki keterampilan  yang dimiliki sebagian ibu-ibu seusianya seperti berjualan sayur maupun bekerja sebagai tukang masak.

“Saya pernah jadi tukang masak di sebuah restoran, tapi saya kabur dan kembali melaut,” ungkapnya.

sebelum mengenal laut, ketika masih muda hidupnya ia habiskan untuk berkelana di dalam hutan bersama dengan keluarga dan kawannya. Dia mencari kayu untuk dijual ke Singapura.

“Berbekal sampan kecil, kayu itu menyebrangi Selat Malaka menuju Singapura,” paparnya.

Ia menyebutkan, kayu-kayu sebesar paha tersebut ia jualkan dengan harga Rp 150 hingga Rp 200 rupiah. Untuk memotong kayu tersebut ia dan kawannya hanya menggunakan parang.

“Penduduk sini nyari kayu dulu, karena masih banyak hutan,” ujarnya.

Meskipun berprofesi sebagai seorang nelayan, ibu dari Sima ini pernah bermimpi untuk menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perguruan. Namun anak semata wayangnya memilih untuk mengakhiri masa lajangnya.

“Kasiannya sama ibu, ibu sudah pontang-panting di laut cari buat makan, apalagi untuk kuliahin saya,” ujar Marina mengulang kata anaknya dulu.

Ia juga menceritakan putrinya tersebut pernah meminta untuk bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, hal tersebut ia minta agar Marina tidak lagi melaut dan hanya menghabiskan masa senjanya di rumah.

Namun dengan mentah-mentah ia menolak keinginan anaknya. “Yang saya takutkan itu ia bawa motor sendiri, karena sepupu saya dulu pernah patah kaki karena jatuh dari motor, dan saya takut jika anak saya ngalamin juga,” jelasnya.

Dan Sima pun tidak pernah memintanya lagi, dan memilih untuk menikah saja.

Suaminya hanya mencari ikan seperti kerapu, ikan dingkis, yang dapat dikomsumsi dan sedikit untk dijual. ***

April 26, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: