Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kriminalitas Anak Mencemaskan

9 Anak SD Tertangkap Mencuri Diduga Terinspirasi Game Online

YOFIE-JUANDA, Batam

Aksi kriminal oleh anak-anak di Batam kian mencemaskan. Sabtu (30/4/2016) lalu, sebanyak sembilan anak yang masih duduk di bangku kelas IV SD di Batam Center tertangkap tangan mencuri barang berharga di dalam mobil yang terparkir di Perumahan Plamo Garden Blok L Nomor 12, Batamcenter.

Dari sembilan pelaku itu, tujuh di antaranya merupakan murid di SD yang sama. Mereka adalah Da, Dv, An, Di, Ap, Aw, serta Dn. Sementara dua pelaku lainnya, Sa dan Ga berasal dari SD yang berbeda.

Dalam aksinya, para pelaku menggasak uang tunai senilai jutaan rupiah, uang dolar Singapura, serta hape milik korban. Mirisnya lagi, aksi ketujuh murid yang masing-masing berinisial  itu bukan yang pertama kalinya. Berdasarkan rekaman CCTv di perumahan tersebut, mereka sudah tiga kali mencuri.

”Mereka baru saja pulang sekolah. Awalnya tak mengaku, tapi ditunjukkan rekaman CCTv baru mengaku,” tutur Naim, petugas keamanan di Perumahan Plamo Garden, Selasa (3/5/2016).

Namun apes bagi para pencuri cilik itu. Aksi mereka pada Sabtu lalu diketahui oleh korban.

”Mereka ditangkap pemilik mobil. Lalu diserahkan kepada kita,” ujar Naim.

Dia menjelaskan, saat mencuri para pelaku masih mengenakan seragam sekolah. Layaknya pencuri profesional, mereka berbagi tugas saat beraksi. Ada yang bertugas berjaga, mengawasi, dan mengambil barang di dalam mobil. Seluruh aksi kesembilan pelaku terekam CCTv.

Sementara itu, kepala SD tempat tujuh pelaku sekolah, Firdaus membenarkan tujuh siswanya terlibat pencurian. Namun, kasus tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan antara orangtua siswa dan korban atau pemilik mobil.

”Korban menerimanya. Kejadian itu di luar jam sekolah,” ujar Firdaus.

Dia menduga ke tujuh muridnya mencuri karena faktor coba-coba atau pengaruh game. Sebab menurutnya, mereka umumnya berasal dari keluarga yang mampu, bahkan ada yang tinggal di perumahan elite.

”Mereka iseng-iseng saja dan belajar dari game. Lagian uang dolarnya masih ada dan dikembalikan ke pemiliknya,” jelasnya.

Dengan kejadian ini, sambung Firdaus, pihaknya akan memberikan teguran terhadap sang anak dengan cara pembinaan. Seluruh murid ini juga dipastikan tetap mengikuti proses pembelajaran dan Ujian Nasional (UN) yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

”Tetap belajar. Kalau sanksi pasti ada dalam bentuk pembinaan. Kita setiap Jumat juga ada pembinaan terhadap murid,” katanya.

Hiburan dan Kepuasan

Komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Mahmud Syaltut menilai pencurian yang dilakukan sembilan murid SD itu hanya untuk hiburan. Bahkan ia menilai setiap anak mendapatkan kepuasan setelah mencuri dan melakukannya secara berulang.

”Ada kepuasan untuk membuka mobil dan mengambil barang. Awalnya tidak kepergok dan akhirnya ketagihan,” ujar Mahmud.

Dia menjelaskan, biasanya kasus seperti ini harus dicegah dengan cara pembinaan dari orangtua dan guru. Menurutnya, dalam hal ini harus ada komunikasi antara guru, orangtua, dan anak.

”Dan nanti akan kita bantu dengan bimbingan psikologisnya. Hal seperti ini perlu ditindak lanjuti,” terangnya.

Menurutnya, pihak sekolah harus memberikan sanksi atau efek jera kepada sang anak atau siswa. Namun, sanksi yang diberikan bukan dalam bentuk label (tudingan pelaku pencurian). Hal itu nantinya dapat menganggu mental anak.

”Harus ada efek jeranya. Misalkan pembinaan yang dilakukan di dalam sekolah dan di luar sekolah. Jangan ada label terhadap anak,” paparnya.

Sementara psikolog anak, Efendi Asmawi, mengaku kaget mengengar kasus ini. Menurutnya ini merupakan efek dari maraknya game online dan kurangnya interaksi di keluarga, serta pengaruh masyarakat yang individual.

”Ini adalah kemerosotan mentalitas pelajar,” katanya saat dihubungi Batam Pos, kemarin.

Ia mengatakan bahwa untuk mencegah ini, ada poin-poin penting yang perlu diperhatikan oleh orangtua, guru, masyarakat, dan pemerintah. Poin pertama, orang tua harus menjalin interaksi yang intensif dengan anaknya.

”Kalau yang sekarang terjadi, anak main HP orangtua juga begitu. Walau saling hadap-hadapan, orangtua dan anak saling sibuk sendiri,” ucapnya.

Kata Efendi hal-hal seperti ini perlu dihindari. Dengan membangun interaksi, orangtua dapat menghindarkan anaknya dari hal-hal negatif. Peran guru adalah memberikan pemahaman mengenai pendidikan moral.

”Contoh ke warnet boleh, asalkan itu untuk menambah pengetahuan. Bukan main game,” ujarnya.

Menurut Efendi pemerintah juga harus berperan aktif. Dengan meminta pengelola warnet, agar tidak membolehkan anak-anak di bawah umur bermain, terutama pada jam sekolah. Apalagi bermain hingga larut malam.

”Masyarakat harusnya jangan apatis kalau melihat hal-hal negatif pada anak-anak. Langsung saja ditegur. Jangan apatis, karena itu bukan anak sendiri atau kerabat,” ungkapnya.

Kapolresta Barelang, Kombes Pol Helmy Santika, berpendapat kasus pencurian yang melibatkan sembilan anak SD ini merupakan tanggung jawab orangtua.

”Perlu interaksi yang baik antara orangtua dan guru. Jangan semuanya diserahkan kepada guru,” ujar Helmy, kemarin.

Dia menambahkan selain mengawasi, orangtua perlu mengetahui perkembangan anak. Termasuk membatasi pergaulan di lingkungan yang bisa memengaruhi perilaku sang anak.

”Perkembangan anak perlu diperhatikan. Orangtua harus bertanggung jawab penuh kepada anak,” tuturnya.

Menurutnya, untuk anak-anak yang tersandung hukum, pihaknya akan menangani sesuai undang-undang. Dimana undang-undang itu mengacu kepada UU nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA).

”Kita akan menerapkan dan mengacu kepada undang-undang ini,” tegas Helmy.

Dia juga mengimbau kepada anak-anak untuk terus mematuhi anak-anak dan mengutamakan pelajaran di sekolah. Agar seluruh anak bisa membatasi diri dari hal negatif yang ada lingkungan maupun di pergaulan.

”Pelajar tugasnya belajar dan patuh kepada orang tua. Mari kita membangun negeri ini dan membangkitkan pendidikan,” paparnya. ***

May 4, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: