Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Melihat Keseharian Napi di Lapas Anak Kelas IIB Batam

Wajib Ibadah, Tetap Bisa Sekolah

Menjadi narapidana (napi) tak membuat 44 anak penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Kelas IIB Batam kehilangan kesempatan untuk belajar. Setiap hari, mereka dijejali dengan rutinitas yang positif. Mereka juga digembleng menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri.

ALFIAN, Batam

Suara riuh terdengar dari tengah lapangan Lapas Anak Kelas IIB Batam, Senin (2/5/2016) sekitar pukul 09.00 WIB. Pagi itu, mereka baru saja mengikuti upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Sejumlah napi terlihat cukup santai, saling ngobrol satu dengan yang lainnya. Mereka cukup menikmati pagi itu dengan penuh keceriaan. Seolah mereka tidak sedang di dalam area penjara. Sampai akhirnya suara lantang petugas Lapas menghentikan keriuhan pagi itu.

”Ayo olahraga dulu, yang ditugasin untuk bersihkan taman segera kerjakan,” kata petugas lapas itu setengah berteriak.

Tanpa menunggu aba-aba berikutnya, para napi bergegas meninggalkan lapangan. Ada yang langsung mengambil raket badminton. Ada juga yang segera membuat barisan dan bersiap untuk senam pagi. Sementara sebagian lainnya terlihat masuk ke dalam sel dengan tertib.

”Itu yang ke sel itu mungkin persiapan untuk (latihan) keterampilan,” kata Ammam Saifullhaq, Kepala Lapas Anak Kelas IIB Batam, kemarin.

Ammam berdiri di dekat pintu gerbang menuju sel. Sambil memperhatikan satu persatu anak binaannya masuk sel, sesekali dia memberikan arahan kepada anak-anak yang bertugas membersihkan taman. Meskipun sebenarnya taman tersebut masih terlihat bersih, karena setiap hari dibersihkan.

”Ayo, cepat dikerjakan, biar nanti siang langsung istrahat. Yang mau keterampilan silahkan masuk, sudah mulai tuh,” katanya.

Di taman itu terlihat ada dua napi. Adalah Ag, 17, napi yang mendapat vonis empat tahun penjara dalam kasus narkotika. Dia terlihat bergegas mengambil sapu lidi.

Bersama Ag ada Pt, 17. Remaja yang dipenjara karena kasus asusilan ini mengambil gunting taman. Keduanya lantas menuju taman untuk tugas bersih-bersih.

Pt divonis 3 tahun enam bulan penjara dalam kasus asusila itu. Dia sudah merasakan dinginnya jeruji besi sejak 2014 lalu. Jika tak ada perubahan, Pt akan bebas pada akhir Juni mendatang.

”Beginilah pekerjaan kalau di pagi hari. Setelah olahraga harus bersihkan taman, nanti siang makan, salat dan istrahat. Sore olahraga, kemudian salat dan tidur,” katanya.

Menurut Pt, sejak ia masuk Lapas, waktu itu di Lapas Barelang-Tembesi, ia merasa kehilangan semangatnya. Dia menganggap hidupnya sudah ancur dan berakhir. Namun setelah beberapa lama menjadi warga binaan di Lapas Anak Kelas IIB Batam, ia merasakan semangat hidupnya kembali lagi.

”Kami selalu diajari disiplin di sini. Tak boleh terlambat makan, tak boleh terlambat bangun, dan harus serba disiplin,” katanya.

Hal senada disampaikan Ag. Meski berada di dalam penjara, dia merasa mendapatkan perlakuan yang sangat layak. Layaknynya anak-anak pada umumnya. Bahkan dia mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga selama di dalam penjara. Terutama pelajaran untuk disiplin.

”Mandi saja di sini harus tepat waktu. Makan juga ada etikanya. Banyak yang kita pelajari di sini,” katanya.

Bahkan ia mengaku sangat banyak mendapatkan nasihat dari petugas Lapas. Terutama dari Ammam Saifullhaq, kepala Lapas.

”Pak Ammam itu tak pernah bosan menasihati kami. Bapak itu memang sangat disiplin. Setelah bebas dari sini, sudah ada modal disiplin yang kita punya,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku sangat tidak enak hidup di penjara. Dia mengaku kapok. Dia juga berharap tidak ada anak-anak lain yang mengalami nasib serupa dengan dirinya.

”Sangat tak enak, jauh dari keluarga. Tidak bebas kemana-mana. Meski memang kami diperlakukan manusiawi di sini,” katanya.

Kepala Lapas Anak Kelas IIB Batam, Ammam Saifullhaq mengakui, saat ini fasilitas untuk anak di lapas tersebut sudah cukup memadai. Sebanyak 44 napi anak menempati dua blok. Masing-masing kamar hanya menampung sekitar enam orang saja.

”Jadi masih sangat longgar. Mereka masih sangat nyaman untuk tidur. Dua blok lagi masih kosong itu,” katanya.

Dari 44 napi anak yang ada di sana, tidak satu pun perempuan. Rata-rata kasusnya adalah tindak pidana narkoba, pencurian, kekerasan dan kasus asusila.

”Lapas ini sudah mulai beroperasi sejak Januari (2015) lalu. Tetapi jumlah anaknya masih sedikit. Seharusnya dari lapas yang ada di Kepri, napi anak harus dititip di sini,” katanya.

Sekitar lima bulan membina anak-anak di sana, Amam mengaku tidak ada hambatan berarti. Padahal saat ini hanya ada tujuh petugas Lapas.

”Gampang kok membina anak-anak ini, karena memang karakter mereka belum terbentuk sepenuhnya. Jadi masih mudah bagi kita untuk membimbing dan membina mereka,” katanya.

Bagi anak yang baru masuk penjara, maka akan digembleng pola kedisiplinan. Mereka akan diajari untuk bisa disiplin di dalam kamar, disiplin saat makan, disiplin saat di luar sel, saat olahraga, dan saat beribadah.

”Jadi jam 06.30 WIB harus bangun. Persiapan, mandi dan sebagainya. Pukul 07.30 haru serapan dan pukul 09. 00 harus apel. Baru ambil kesibukan masing-masing,” katanya.

Setelah azan maghrib para napi yang muslim salat dan kemudian makan malam, kemudian masuk kamar dan sekitar pukul 22.00 WIB harus tidur.

”Jadi akan kita cek, siapa yang melanggar. Ibadah menjadi keharusan. Tidur malam harus teratur,” tambahnya.

Untuk pembinaan keimanan, pihak lapas bekerja sama dengan majelis taklim untuk yang beragama Islam. Sementara untuk napi nasrani, pihak Lapas bekerjasama dengan lembaga Kristen.

”Pendikan agama ini sangat penting bagi anak. Makanya sebelum tidur harus ibadah. Paling tidak berdoa. Yang muslim harus saolat Maghrib,” katanya.

Sementara untuk pembinaan keterampilan, anak-anak mulai diberikan bimbingan kerajinan tangan dan bertani. Ada juga yang diberikan keterampilan musik.

”Ini yang sedang terus kita kembangkan. Kita juga menjalin kerjasama dengan berbagai relawan dari luar,” katanya.

Pendidikan dan pengetahuan anak juga tak kalah pentingnya. Untuk itu pihak Lapas menyediakan perpustakaan untuk anak-anak. Dalam hal ini pihak Lapas bekerja sama dengan Yayasan Suluh Terang Indonesia.

”Saat ini baru buku-buku umum yang banyak. Alquran, Alkitab dan majalah-majalah. Kita merasa ini sangat penting buat anak,” katanya.

Pihak Lapas juga selalu memfasilitasi anak-anak untuk tetap ikut ujian yang digelar oleh negara.

”Waktu UAS kemarin ada tiga anak binaan yang ikut ujian, tetapi digabung di Lapas Barelang. Bagi yang mau terus sekolah kita akan bantu dan fasilitasi,” katanya. ***

May 5, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: