Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Ziarah Buya HAMKA ke Penyengat dan Daik (1954 dan 1957)

Mentjari Hikmat Sedjarah

Kolom: Aswadi Syahri

DUA kali Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau (HAMKA) mengujungi Kepulauan Riau. Dalam dua kunjungan yang dilakukan pada dua waktu yang berbeda itu, beliau menziarahi dua tempat yang penting artinya dalam sejarah peradaban Alam Melayu.

buya-hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

Kedua tempat yang berbeda letaknya itu adalah Pulau Penyengat di Tanjungpinang dan Daik di Pulau Lingga: kunjungan Hamka di kedua tempat ini bukanlah ziarah biasa. Beliau datang tersebab kebesaran dan peranannya yang sangat terkenal dalam sejarah dan tamadun Melayu-Islam di Alam Melayu.

Dalam kunjungan pertamanya ke Kabupaten Kepulauan Riau pada tahun 1954, Buya Hamka menziarahi Pulau Penyengat. Bukan tanpa sebab Hamka menziarahinya. Tentulah Hamka telah lama mendengar nama pulau yang tak dapat dilepaskan dari nama pujangga Raja Ali Haji ini.

Tentulah beliau sangat familiar  dengan kebesaran sejarah tamadun Melayu-Islam di pulau kecil itu setelah membaca sekian banyak buku sejarah dan kebudayaan ketika menyusun empat jilid buku Sejarah Umat Islam yang penulisannya dilakukan dalam rentang waktu antara tahun 1938 hingga tahun 1950. Karena itu beliau datang berkunjung: berziarah ke makam-makam diraja, masjid, dan bekas-bekas istana di Pulau Penyengat.

Seorang penduduk Pulau Penyengat mencatat peristiwa kunjungan Buya Hamka ke Pulau Penyengat dalam catatan hariannya. Dalam catatan harian itu disebutkan bahwa Buya Hamka berkunjung ke pulau bersejarah itu pada tarikh 13 Maret 1954. Selengkapnya, dalam catatan harian itu tertulis sebagai berikut: “Pada 8 Raja 1373 bersamaan 13 Maret 1954 jam pukul 9 pagi Tuan Hamka pengarang tasawuf datang ke Penyengat melihat-lihat bekas istana raja dan mesjid dan makam-makam”.

Selain mengungjungi situs-situs peninggalan sejarah kerajaan Riau-Lingga, satu hal yang menyita perhatian Buya Hamka selama kunjungan di Pulau Penyengat adalah kitab-kitab milik Kutubkhanah (Perpustakaan) Marhum Ahmadi peninggalan Yamtuan Muda Riau X, Raja Muhammad Yusul al-Ahmadi, yang masih tersimpan dalam dua almari antik di Masjid Jamik Pulau Penyengat.

Menurut Buya Hamka, di antara kitab-kitab dalam almari itu antara lain tersimpan sebuah kitab langka dan penting berjudul Al-Qanun, karya cendekia besar Islam, Ibnu Sina.

Lebih jauh tentang  kitab ini, Buya Hamka menuliskannya dalam sebuah catatan yang kemudian dicantumkan oleh pengarang Dada Meuraxa dalam bukunya yang berjudul, Keradjaan Melaju Purba, yang diterbitkan oleh penerbit Kalidasa, Medan, tahun 1971: “…Dan jang menarik hati ialah sebuah Kutubchanah (Bibliotheek). Ah, sajang sekali! Kitab2nja, termasuk kitab2  jang mahal dan sangat berharga.

Dari berbagai tjabang ilmu pengetahuan dalam Islam. Fikih, Tafsir, Tasauf dan Filsafat. Diantaranja terdapat kitab “Al-Qanun” karangan Ibnu Sina…”, tulis Hamka dengan penuh kakaguman yang berbancuh dengan kecemasan seorang intelektual zamannya.

Tampaknya, ziarah Hamka ke Pulau Penyengat adalah untuk melengkapi informasi yang diperolehnya dalam Konggres Bahasa Indonesia di Medan pada tahun 1954, yang antara lain menyebutkan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Ia berkepentingan untuk bertandang langsung ke pusat sumbernya. Dan selama di Pulau Penyengat, tentulah diperlihatkan kepada Hamka sejumlah manuskrip dan buku cetakan lama tentang bahasa dan sastra Melayu  karya-karya Raja Ali Haji dan pengarang-pengarang Riau-Lingga.

Berbagai informasi penting tentang bahasa Melayu Riau yang diperoleh Hamka selama berziarah ke Pulau Penyengat diluahkannya tujuh belas tahun kemudian dalam Seminar Sejarah Riau yang diselenggarakan di Pekanbaru pada tahun 1970.

Tentang bahasa Melayu Riau dari Pulau Penyengat ini, Hamka menjelaskannya  dalam kertas kerja yang berjudul Pandangan Tentang Sejarah Riau yang dibetang dalam Seminar Sejarah Riau yang pertama itu. Dalam kertas kerjanya yang kemudian dihimpunkan dalam buku kumpulan tulisan sejarahnnya yang diberi tajuk Dari Perbendaharaan Lama itu (Pustaka Panjimas, Jakarta 1982), Hamka antara lain mengatakan:

“…dalam konggres Bahasa Indonesia di Medan tahun 1954, telah dijelaskan bawa bahasa Indonesia adalah berdasar dan berasal dari bahasa Melayu. Dari segi itu seminar ini sangat penting. Karena dari Riau (Pulau Penyengat) inilah datang apa yang disebut “Bahasa Melayu Riau”, yang dijadikan bahasa persuratan, bahasa ilmu pengetahuan…”

***

Kunjungan Buya Hamka untuk kedua kalinya ke Kepulauan Riau berlangsung sekitar tiga tahun kemudian, atau tepatnya pada bulan Juli 1957. Dalam kunjungan yang kedua ini, Buya Hamka yang tiba dari Jakarta, terus bertolak dari Tanjungpinang ke Daik-Lingga di belahan Selatan Kabupaten Kepulauan Riau ketika itu.

Sama seperti kunjungan sekitar tiga tahun sebelumnya ke Pulau Penyengat, di Daik-Lingga, beliau juga menziarahi situs-situs sejarah di bekas ibukota kerajaan Riau-Lingga yang mewarisi kebesaran Bukit Siguntang-Bintan-dan Melaka.

Hanya sehari-semalam Buya Hamka di Daik-Lingga. Namun dalam waktu yang singkat itu, beliau telah menziarahi situs-situs sejarah, dan berdiskusi tentang kitab-kitab dengan cendekia tempatan. Dengan ditemani oleh tokoh-tokoh Daik-Lingga ketika itu, seperti, Tengku Muhammad Saleh, Encik Muhammad, Encik Muhammad Saleh, S. Mahmud, dan S. Ralib, Buya Hamka keluar masuk hutan belukar Daik-Lingga  “mentjari hikmat sedjarah”.

Menurut Buya Hamka, dengan ditemani oleh tokoh-tokoh masyarakat Daik seperti Tengku Muhammad Saleh yang merupakan seorang ulama keturunan Sultan Lngga, Encik Muhammad, Encik Muhammad Saleh, Said Mahmud, dan Said Ralib, beliau menghabiskan jarak tempuh sejauh 10 Km keluar masuk hutan belukar untuk “mentjati hikmat sedjarah” itu.

Kekaguman Buya Hamka terhadap Daik-Lingga dan kebesaran masa lalunya itu, diungkapkannya dalam sepucuk kartu pos ucapan terimakasih kepada Tengku Muhammad Saleh dan pemuka masyarakat yang dikirim dari Jakarta pada 24 Juli 1957, dan diterima oleh Tengku Muhammad Saleh di Daik-Lingga pada 11 Agustus 1957.

Dalam sepucuk kartu pos yang ditulis dengan mesin tik yang salinan alih medianya dalam bentuk microfilm koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negera Malaysia yang dibuat oleh Virginia Matheson dan Viviene Wee pada tahun 1984 itu, Buya Hamka antara lain mengatakan: “…Maka kedatangan saya ke Daik ini, meskipun hanya sehari semalam, samalah dengan berladjar setahun. Banjak ilmu pengatahuan bertambah…”.

Demikianlah ungkapan Buya Hamka tentang dziarah singkatnya ke Daik-Lingga pada bulan Juli tahun 1957. Hingga beberapa waktu kemudian, silaturahim Buya Hamka dengan Tengku Muhammad, yang sisilahnya bersambung lurus dengan Sultan-Sultan Lingga itu, masih terus berlangsung.

Bahkan, kemudian Hamka juga sempat mengirimkan kitab Silalamul Ushul karya almarhum ayahnya, Dr. H. Abdul Karim Amrullah, kepada Tengku Muhammad Saleh. Buku yang sempat mereka diskusinya dalam pertemuan  singkat tersebut, yang disebutkan Buya Hamka dalam sepucuk kartu pos dari Buya Hamka kepada Tengku Muhammad Saleh, hingga masih ada dalam simpanan keluarga Tengku Muhammad Saleh di Daik-Lingga.

Berikut ini, adalah salinan lengkap isi kartu pos dari Buya Hamka di Jakarta kepada Tengku Muhammad Saleh di Daik Lingga. Disalin sebagaimana ejaan aslinya, dengan tambahan keterangan dalam kurung oleh penyalin:

“Assalamu ‘alaikum w.w. Sjukur Alhamdulillah, hari sabtu 20 Juli saya selamat sampai di Djakarta, Maka kedatangan saja ke Daik ini, sekalipun hanya sehari semalam, samalah dengan belajar setahun. Banjak ilmupengetahuan bertambah.

Terutama karena tjinta-mahabbah yang tertumpah daripada Tengku dan Al-Ichwan semua, jang telah bersusah pajah, bermandi keringat menemani saja berjalan sampai 10 Km, masuk hutan belukar, mentjari hikmat sedjarah. Kepada bapa2 dan saudara2 saja semua sampaikanlah salam dan terimakasih saja. Kepada E.(Encik) Muhammad, E,(Encik) Muhammad Saleh, S, Mahmud, S. Ralib dan lain-lain. – Darihal kitab “Silalamul Ushul” pena pusaka Al-Jauhar Guru dan Ayah Sjech (Dr.) H. A. Karim Amrullah akan segara disalin kehuruf  latin dan didalam beberapa bulan ini akan ditjetak. Selesai tjetakan Insya Allah saja kirim kepada Tengku”. ***

May 8, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

1 Comment »

  1. […] Source: Ziarah Buya HAMKA ke Penyengat dan Daik (1954 dan 1957) […]

    Pingback by Ziarah Buya HAMKA ke Penyengat dan Daik (1954 dan 1957) | Zulheldimz's Blog | May 9, 2016 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: