Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Siti Aisah Juga Ingin Menjajal Dunia Lain

Menjadi Sosok Membanggakan Keluarga

Oleh Agnes Dhamayanti, Batam

Dia hanya dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang nelayan asli Melayu, ibunya pedagang keturunan Tionghoa. Tapi kini ia menjadi sosok perempuan yang membanggakan bagi keluarga besar almarhum H. Zahari bin Machmud dan Maharah binti Ali.

Kini, Siti Aisyah (42) sudah memiliki perusahaan body repair mobil terkenal di Batam dan menjadi komisarisnya. Perusahan itu dirintis bersama sang suami Sujak Widodo (56) sejak tahun 1996.

Sebagai seorang gadis lulusan SMKK Jurusan Kecantikan. Saat ke Batam, niatnya hanya satu, merantau, mencari pekerjaan, sambil membuka salon di rumah.

”Sejak ibunda Maharah meninggal, saya sudah tidak lagi tinggal di Sungai Buluh Dabo Singkep. Saya sekolah SMKK Negeri di Tanjungpinang. Karena saya pikir nantinya saya bisa usaha sendiri membuka salon kecantikan. Jadi ngak perlu melanjutkan ke perguruan tinggi,”kata Siti di kantornya Sujak Motor di Ruko Taman Niaga, Batam Center.

Berdagang bagi Siti bukanlah hal baru. Sejak SD ia sudah diajarkan berdagang oleh ibunya. Ibu saya orang Cina, dia menurunkan bakat jualan untuk kami. Apa saja pernah saya jual. Baju, jilbab, aksesoris di DC Mall. Setiap ada bazar saya ikut di beberapa mall. Bahkan bedak yang saya pakai juga bisa jadi barang dagangan, ”ujar Siti sambil tersenyum.

Ternyata, Siti tak ingin hanya jago jualan, ia ingin menjajal dunia lain. Suatu saat seorang teman menawarkan pekerjaan di bengkel yang baru saja buka. ”Saya ambil tawaran itu. Untuk cari pengalaman. Kebetulan yang dibutuhkan bagian administrasi. Tapi memang jalannya, disinilah saya juga bertemu suami saya, Sujak Widodo,”kata wanita yang pernah menjadi nominator Batam Pos Enterpreneur Award tahun 2013.

Di bulan Mei tahun 1996, akhirnya Siti bersama suami mendirikan perusahaan sendiri yaitu PT. Surya Sejahtera (ss) yang merupakan kepanjangan dari Sujak Siti.
”Alhamdulillah kami dibantu pembiayaan oleh PT. Sarana Riau Ventura untuk membeli gedung dan oven serta peralatan lainnya,” katanya lagi.

Kami berdua, ujar Siti, bersama-sama menjalankan usaha ini. Suami lebih menguasai lapangan sedangkan saya di administrasi dan keuangan. Setiap ada pekerjaan dan proyek kami selalu buat presentasi. Supaya kami bisa bersama-sama memahami kegiatan usaha yang akan kami jalankan.

Dari mulai bisnis bengkel, pusat pelatihan otomotif modern (ppom), mengerjakan sampah kota  Batam. Kini suami saya, sedang menangani limbah sawit menjadi listrik dan listrik dengan tenaga surya. Termasuk merehabilitasi TPA Muara Pajar Pekanbaru dari tahun 2013 sampai saat ini.

‘Kami mempunyai tugas masing-masing. Namun tetap menjaga profesionalitas di dalam tubuh perusahaan.  Kedudukan di struktur perusahaan saya Komisaris Utama, bapak Direktur Utama,” kata Siti.

Walau bekerja bersama suami dalam satu perusahaan, Siti tetap membuat manajemen waktu.
”Sampai jam 5 sore saja untuk pekerjaan. Karena sudah dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore waktu dicurahkan untuk bekerja. Setelah itu waktunya buat keluarga terutama anak-anak.

”Anak saya yang pertama Putri Yusitalia, sedang kuliah di Fakultas Hukum semester 2. Dia menuruni bakat saya berdagang. Dia jualan jilbab dll di online, bbm dan instagram. Yang kedua Muhammad Ukrisna Madani kelas 2 SMP. Kalau ini ikut bakat papanya,”ujar Siti.

Tak hanya sibuk mengurusi perusahaannya, Siti ternyata senang berorganisasi. Tahun 2006 aktif di organisasi  Wanita Islam, KPPI juga Pemberdayaan Perempuan. Siti juga baru saja terpilih sebagai ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) cabang Batam, dan pengurus di Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Peduli Kepulauan Riau.

” Berorganisasi saya anggap penting. Karena dapat mempererat tali silaturahmi. Kita bisa sama-sama memberikan ilmu pengembangan diri menuju pola pikir yg positif, ”kata Siti yang pilkada beberapa waktu lalu mencoba menjadi calon wakil kepala daerah di kabupaten Lingga.

Pencalonan saya menjadi wakil Bupati Lingga untuk meningkatkan harkat dan martabat serta derajat khususnya wanita. Di kabupaten Lingga, saya perempuan pertama,”kata Siti.

Disaat ada keuntungan, Siti tetap menyisihkan untuk CSR perusahaannya. Kegiatan sosial Sujak Motor salah satunya adalah membuat pelatihan di lapas untuk narapidana yang 3 bulan lagi akan  bebas.

”Kami memberi pembekalan skill selain ke panti asuhan,”kata Siti lagi.

Keberhasilannya ini tak lepas dari didikan orangtuanya. Kini kakak-kakaknya sudah menjadi guru, bekerja di perusahan asuransi, pedagang juga perias pengantin.

”Alhamdulillah kami sukses dengan profesi masing-masing. Ibu saya sangat disiplin dan tegas pada anak-anaknya. Semoga orang tua saya bahagia disisi Allah dengan keberhasilan anak-anaknya. Walaupun saya tidak sempat mendapatkan kasih sayang sampai dewasa dari ibu. Karena kelas 1 SMP ibu sudah di panggil yang Kuasa. Tapi, saya selalu ingat pesannya, kami harus bangun sebelum sholat subuh dan tidak boleh iri dengan keberhasilan orang lain,” tutur Siti yang merupakan anak keempat dari 7 bersaudara. ***

http://mahiraqil.blogspot.co.id/2016/05/stop-jam-5-untuk-pekerjaan.html

May 16, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: