Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Masjid Baiturrahman Saksi Tumbuhnya Batam

Aset BP Batam yang Diserahkan ke Pemko Batam (2)

Ukurannya tak besar tetapi istilah Masjid Raya masih melekat. Sebab inilah masjid besar pertama yang dibangun Badan Pengusahaan (BP-dulu Otorita) Batam.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Dengung suara orang mengaji lirih terdengar di antara deru air hujan yang menjatuhi komplek Masjid Raya Baiturrahman di Sekupang, Batam, Rabu (9/6). Belum banyak orang di dalam masjid, kala itu. Apalagi hari sedang hujan.

Satu, dua orang tengah berbincang di sudut teras masjid. Dua hingga tiga orang meringkuk di sudut lainnya. Tiga hingga lima orang lainnya berada di dalam masjid, salat.
Edward Hasbullah melintasi teras sambil menenteng sebundel kertas. Ia masuk dari pintu dekat tempat wudhu pria. Lalu meletakkan kertas itu di atas rak buku berisi mushaf Quran.

“Ini buletin Risalah Ramadan. Selama Ramadan, kami menerbitkannya setiap hari,” ujar Edward, Selasa (14/6/2016).

Ia membuatnya sendiri. Kebiasaan ini sudah ia mulai sejak hampir 10 tahun lalu. Ini hanya sebuah upaya mengulang-kaji saja. Mengi­ngatkan umat muslim tentang hal-hal seputar Ramadan yang mungkin mereka lupakan.

“Saya juga menyebarkan buletin ini ke 32 masjid dan musala di Sekupang,” tambahnya.

Edward menjabat sebagai pelaksana harian dalam kepengurusan Masjid Raya Baiturrahman Sekupang. Selain dia, masih ada 17 orang lain yang duduk sebagai pengurus. Semuanya karyawan Badan Pengusahaan (BP – dulu Otorita) Batam. Namun, hanya enam orang saja yang aktif. Yang lainnya, ada yang sudah meninggal ataupun sudah terlalu tua.

Namun, untuk masalah perawatan, pengurus Masjid Raya Baiturrahman mempekerjakan 12 orang karyawan. Lima di antaranya berasal dari BP Batam. Mereka-lah yang sehari-hari membersihkan bagian dalam maupun luar masjid.

“(Tugasnya) dibagi rata. Yang paling saya tekankan adalah kebersihan,” ujarnya.

Masjid Raya Baiturrahman tergolong masjid tua. Masjid ini dibangun pada tahun 1986. Inilah masjid besar pertama yang berdiri di wilayah Sekupang, waktu itu. Namun, untuk ukuran Batam, masjid ini menjadi masjid kedua terbesar setelah Masjid Raya Baitusysyakur di wilayah Jodoh.

Menurut kisah Edward, cikal bakal masjid ini adalah Masjid Al Furqon yang berada di samping SD Kartini. Di masjid itulah, awalnya, karyawan BP Batam melaksanakan salat berjamaah.

“Dulu, Kantor BP dan Pemko pusatnya di Sekupang. Di tempat itulah kami salat. Lama-kelamaan tidak cukup lagi,” tuturnya.

Kepala Badan Pelaksana BP Batam, Soedarsono, mendapat banyak permintaan akan masjid yang berukuran lebih besar. Hingga kemudian ia menyetujui untuk membuat sebuah masjid besar. Dan dipilihlah lokasi di atas bukit yang beralamat di Jalan Tiban Koperasi, Sei Harapan.

Masjid Raya Baiturrahman menempati lahan seluas 3.000 meter persegi. Luas bangunannya saja mencapai 1.000 meter persegi. Ia mampu menampung hingga 2.000 jamaah. “Itu di lantai satu dan dua ya,” tutur pensiunan BP Batam itu lagi.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, Masjid Raya Baiturrahman tidak banyak mengalami perubahan. Bentuk bangunannya seperti rumah joglo. Badannya berbentuk balok bujur sangkar. Sementara atapnya berupa limas tiga lapis.

Atap tiga lapis ini memiliki makna simbolik. Atap paling atas melambangkan iman kepada Allah SWT. Atap lapisan kedua melambangkan hubungan manusia dengan manusia. Sementara atap lapis ketiga melambangkan hubungan manusia dengan alam.

“Atap-atap seperti ini dipakai juga oleh masjid-masjid yang dibangun di tahun itu juga,” ujar pria berusia 60 tahun itu.
Masjid bernuansa hijau ini dibangun berdasarkan gambar arsitektur karyawan BP Batam. Proses pembangunannya memakan waktu yang lama. Namun, sejak awal, struktur masjid ini adalah semen.

Nuansa Jawa memang terasa kental. Selain atap, bentuk terasnya yang lebar serta bentuk kusen jendelanya pun khas Jawa. Hingga kini, kusen jendela yang terbuat dari kayu kapur itu belum lapuk.

“Kami hanya mengganti pintunya saja. Tadinya pintu kayu yang biasa itu. Sekarang kami ganti jadi pintu geser,” ujarnya.

Masjid Raya Baiturrahman masih menjadi aset negara -di bawah Menteri Keuangan yang dikelola oleh BP Batam. Anggaran pengelolaan datang langsung dari pusat. Namun, menurut Edward, tidak semua perbaikan di masjid tersebut menggunakan anggaran pusat.

“Kalau ada perbaikan kecil-kecil, kami pakai uang infak masjid,” ujarnya.

Ketika berhembus isu pengelolaan masjid ini akan dialihkan ke Pemerintah Kota Batam, mantan Kepala Bagian Komersil Bandara Hang Nadim Batam itu menolak berkomentar banyak. Menurutnya, isu itu sudah muncul bahkan sejak ia masih aktif bekerja di BP Batam.

BP Batam, menurutnya, tidak terlalu risau jika Pemko mengambil alih pengelolaan aset itu. Karena aset itu milik negara. Namun, ada proses yang harus dilalui.

“Nah, yang diurus itu tidak sedikit. Orang Pemko melihat daftar itu lalu merasa ada yang sulit, mereka meninggalkannya. Ya sudah, tidak terurus-urus,” katanya lagi.
Perlu orang yang rajin untuk mengurus proses pengalihan pengelolaan aset tersebut. Dan setelah itu selesai, Pemko juga harus menunjuk orang khusus untuk menjadi pengurus Masjid Raya Baiturrahman ini.

“Mengurus rumah ibadah itu unik lho. Harus orang yang serius dan merasa menjadi bagian dari rumah ibadah itu yang dipilih sebagai pengurus,” ujarnya.
Edward yakin, Pemko Batam memiliki orang-orang serius seperti itu. Ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Jikapun Pemko yang mengambil-alih pengelolaan masjid tersebut, ia berharap masjid itu bisa terawat dan makmur.

“Biarlah mereka (para pejabat, red) yang pikirkan itu,” ujarnya.

Seperti halnya Masjid Raya Batam, Masjid Raya Baiturrahman juga perlu dimakmurkan. Inilah masjid yang menjadi saksi tumbuhnya Kota Batam. Sejumlah karyawan lama BP masih kerap menyambangi masjid ini untuk bernostalgia. Mereka akan mengingat masa-masa ketika Batam masih banyak ditumbuhi bakau.

“Apakah ini hal yang unik atau tidak. Dulu itu, kami sering diminta ikut gotong royong untuk membangun masjid ini. Dan orang Kristen pun ikut membantu sampai angkat-angkat semen segala,” pungkasnya. ***

Advertisements

June 15, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: