Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Masjid Raya Dirancang Maestro Arsitek Indonesia

Aset BP Batam yang Diserahkan ke Pemko Batam (1)

Masjid Raya Batam bukan sekadar tempat menyalurkan rindu pada Ilahi. Masjid yang berlokasi di pusat kota ini juga rutin menjadi tujuan wisata para turis karena bentuknya
yang tidak biasa.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Imam Bahroni membuka kotak memori lamanya di tahun 1991. Itu tahun yang menjadi awal munculnya wacana pembuatan masjid besar di Batam Centre.
Ketika itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam (dulu Otorita Batam/OB) sudah berkantor di Batam Centre. Gedung Wali Kota Batam berdiri di seberangnya. Ketika tiba waktunya salat Jumat, semua pegawai OB memadati lobi di lantai dua di gedung OB.

Ruangan itu sejatinya tak cukup untuk menampung jamaah salat Jumat. Para jamaah harus maklum dan mau berbagi tempat. Namun, setiap kali selesai salat, mereka mengobrol tentang keberadaan sebuah masjid.

Obrolan itu juga terjadi di kalangan pejabat tinggi. BJ Habibie, yang kala itu memimpin OB, menyetujui pembangunan sebuah masjid besar. Rencana-rencana dibuat termasuk penentuan titik lokasi dan penerbitan pengumuman lelang.

“Lokasi awalnya itu ada di depan Pos Polisi yang ada di Engku Puteri itu. Sebelah timur itu Gedung Wali Kota, sebelah barat Masjid Raya dan menjadi segitiga dengan kantor BP,” kata Imam Bahroni, Senin (13/6/2016).

Namun, ternyata, lahan di sana tak cukup besar. Si arsitek membutuhkan tanah yang lebih lebar. Maka lokasi itu pun bergeser sedikit menjauh dari Kantor BP Batam.

Lokasi itulah yang kini didiami Masjid Raya Batam. “Waktu Pak Ismeth (Abdullah) jadi Kepala (OB), direalisasikanlah lahan dua hektare di sana (di lokasinya kini),” kata pria yang kini menjabat sebagai Direktur Perencanaan dan Teknik BP Batam itu lagi.

BP Batam menerbitkan pengumuman lelang pembangunan masjid ini. Namun, meskipun masuk dalam proses lelang, BP Batam telah memilih seorang arsitek untuk mendesain masjid itu. Namanya, Ir Achmad Noe’man. Ia memang terkenal sebagai seorang arsitek masjid. Ia dijuluki ‘Arsitek Seribu Masjid’ dan ‘Maestro Arsitektur Masjid Indonesia’.

Achmad Noe’man dipilih lantaran masjid-masjid hasil karyanya selalu unik. Beberapa di antaranya, Masjid Syekh Yusuf di Cape Town -Afrika Selatan, Masjid Muhammad Suharto di Sarajevo -Bosnia, Mimbar Masjid Al Aqsa Palestina, juga Masjid Salman di Kampus ITB Bandung.

“Dialah yang memiliki pemikiran, (bahwa) masjid itu nggak harus pakai kubah,” tuturnya.

Arsitek kelahiran Garut 10 Oktober 1926 itu mengawali proses menggambarnya dengan salat Tahajud. Seusai salat tahajud, barulah ia menarik kertas dan pensil. Seperti sesuatu yang sakral, ia menggoreskan pensilnya penuh penghayatan.

“Ia membuat beberapa alternatif dan menyerahkannya ke Pak Habibie. Pak Habibie memilih yang sekarang ini,” ujarnya.

Achmad Noe’man memadukan balok bujur sangkar dan limas sama sisi sebagai bentuk dasar tiga dimensi masjid. Balok bujur sangkar menjadi badan bangunan dan limas sama sisi menjadi atapnya.

Balok bujur sangkar dipilih karena bentuknya yang kompak dan kokoh. Ini memenuhi syarat fungsi masjid dalam membentuk keimanan yang kuat. Selain itu, bentuk ini juga mampu menampung jamaah salat yang lebih besar. Dengan ruang salat seluas 2.515 meter persegi itu, Masjid Raya dapat menampung hinggga 3.500 jamaah.

Sementara bentuk limas dipilih sebagai atap karena cocok untuk denah bangunan bujur sangkar. Selain itu, limas juga mempunyai persepsi vertikalisme yang menuju satu titik di atas. Ini simbol hubungan manusia dan Tuhannya.

Namun, Noe’man tak membiarkan atap itu polos saja. Pria yang menjadi satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia itu mengiris atap Masjid Raya menjadi tiga irisan. Ketiga irisan itu menjadi simbol perjalanan hidup manusia sebagai hamba Tuhan dalam tiga alam. Yakni, alam rahim, dunia, dan akhirat. Bentuk atap ini kemudian menjadi pernik untuk bagian-bagian masjid lainnya. Seperti, mimbar masjid yang berbentuk atap limas yang terbalik, kolam air wudhu di bagian selasar masjid, lampu-lampu penerang yang tergantung di bagian dalam ruang salat utama, serta kotak infak di dalam masjid.

Komplek Masjid Raya Batam berdiri di atas lahan seluas 75.000 meter persegi. Masjid Raya dilengkapi dengan menara setinggi 66 meter untuk menyimpan peralatan pengeras suara serta selasar yang dikelilingi kanopi. Kanopi itu beratap limas.

Selasar ini biasa digunakan untuk perluasan ruang salat utama ketika jamaah membludak. Yakni, ketika pelaksanaan salat Idul Fitri atau Idul Adha. Ditambah selasar, Masjid Raya mampu menampung sebanyak 15.000 orang. Nah, uniknya, batu bata merah yang digunakan sebagai lantai selasar ini sumbangan dari Vihara Maitreyawira. “Kalau saya melihat ini sebagai bagian dari kerukunan umat beragama saja,” masih kata Imam Bahroni.

Pria yang menjabat sebagai Ketua I Masjid Raya Batam itu mengatakan, Masjid Raya Batam belum pernah mengalami perombakan bangunan. Namun, masjid yang pertama kali menggelar salat tarawih di tahun 2000 itu pernah mengalami perbaikan di bagian atap. Perbaikan itu berupa penggantian material tembaga menjadi logam enamel. Perbaikan itu berlangsung pada tahun 2012.

“Paling ya penambahan kios-kios di selasar itu ketika MTQ kemarin,” tuturnya.

Kios-kios itu rencananya untuk para pedagang yang membuka tokonya di lantai 1 masjid. Seperti toko busana muslim, toko buku, toko obat herbal, juga toko makanan dan minuman ringan.
Setelah itu, ruangan-ruangan di lantai 1 itu akan murni digunakan sebagai perkantoran. Beberapa ruangan itu sudah digunakan untuk perpustakaan, Kantor Lembaga Amil Zakat (LAZ) MRB, Klinik As Syifa, dan Kantor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Batam.

“Jadi masjid itu bukan hanya untuk salat saja. Tetapi juga untuk berkegiatan,” ujarnya.

Masjid Raya Batam kini sudah menjadi ikon yang tak terpisahkan dari Batam. Para turis tak bisa melewatkan kunjungannya ke masjid ini. Dari selasar masjid, mereka dapat berfoto dengan latar signboard Welcome to Batam. Tak jarang, mereka juga berfoto dengan latar bangunan masjid.

Namun, sejak tahun 2010, masjid ini punya panggilan baru. Yaitu, Masjid Agung Batam. Pergantian nama ini ditetapkan Kementerian Agama pada Juli 2010 yang kemudian dikuatkan dengan Surat Keputusan Wali Kota Batam.

Pergantian itu berdasarkan peraturan Kementerian Agama yang mengatur nama sebuah masjid sesuai dengan wilayahnya. Masjid Raya merupakan sebutan untuk masjid yang berada di wilayah provinsi. Sementara untuk tingkat kota, masjid besar dinamai Masjid Agung. “Tapi kami dan orang-orang masih menyebutnya Masjid Raya. Karena di dokumen-dokumen lama pun namanya masih tetap Masjid Raya,” kata seorang petugas Masjid Raya.

Masjid Raya menjadi satu dari tujuh aset BP Batam yang ingin dikelola Pemerintah Kota Batam. Ketua I Masjid Raya Batam Imam Bahroni yang juga pejabat BP Batam itu sama sekali tak memusingkan pengelolaan aset tersebut. Menurutnya, siapapun pengelolanya, Masjid Raya Batam harus tetap bisa mengakomodir kebutuhan jamaah.

“Lha sekarang saja kan pengurusnya sudah dari beragam organisasi. Yang penting, pengelolanya itu harus bisa memakmurkan masjid,” katanya. ***

June 15, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: